Ayolah ... jangan berharap yang muluk-muluk pada Zean ataupun Ken. Kencan kata Zean? Yang benar saja. Dia ataupun kakaknya tak akan bersikap layaknya pacar pacar manusia yang lain.
Kalina berniat masuk ke dalam mobilnya, tapi Ken malah menghentikan niat gadis itu. Udahlah ... udah cukup kemarin cowok ini membuatnya mati begadang, sekarang jangan lagi. Karena sungguh, rasanya agak menyakitkan kalau diingat.
“Kenapa, Kak?”
“Bareng mobilku.”
“N-nggak usah, Kak. Aku bawa mobil sendiri aja,” tolaknya dengan benar benar yakin.
Jika berdua dengan Ken di dalam satu mobil, yakin saja jika dia akan bersikap aneh aneh lagi. Jantungnya cuman satu, kalau yang satu berhenti berdetak karena tak tahan akan sikap sikap Ken, bisa meninggoy dirinya.
Plisss ... jangan lagi ia harus menerima cobaan untuk berhadapan langsung dengan Ken. Cobaan banget buat hatinya yang kaitannya juga seakan mau terlepas saja.
“Kalau gitu aku bareng Kalina aja,” respon Eren.
“Jangan lupakan, pacarmu di sini,” sahut Zean yang sudah membukakan pintu mobil untuk Eren.
Seriuslah, ini entah hanya ia yang baru menyadari kalau Zean ternyata punya sikap agresif begini. Atau, justru memang beginilah sikap aslinya.
“Jadi?” tanya Ken.
Kalina memutar bola matanya seolah tak ingin menjawab lagi.
“Udahlah, Kal ... nurut aja. Kalau dia ngelakuin hal aneh-aneh, tonjok aja. Dia nggak akan berani ngelawan,” peringatkan Eren sebelum akhirnya berjalan menghampiri Zean.
“Bocah,” gerutu Ken menanggapi perkataan adiknya.
Jadilah ... yang tadinya ia menolak, mau tidak mau lagi-lagi ia menurut saja dengan perkataan Ken. Berharap sangat, saat perjalanan Ken kumat dan seolah tak ingin bicara. Jujur, ia benar-benar merasa ngeri bersama Ken yang seperti ini. Apalagi ini malah berada dalam satu mobil, lagi.
“Kalau aku yang lakuin hal aneh-aneh ke kamu, gimana?” tanya Zean sambil bersidekap d**a dihadapan Eren.
Eren langsung mengancungkan tinjunya dihadapan Zean. “Berlaku buatmu juga Kakak.”
“Itu menakutkan,” respon Zean kembali fokus mengemudi.
Hari minggu, kencan. Rasanya seolah tak percaya kalau ia kencan dengan Zean dan ini tuh mendapatkan ijin dari Ken. Tapi sepertinya ada yang aneh. Feelingnya mengatakan kalau ini bukanlah kencan seperti kebanyakan yang orang lain lakukan.
“Kenapa?” tanya Zean.
“Aku mencium aroma ... sesuatu yang menyebalkan akan terjadi,” jawab Eren sedikit berpikir.
“Maksudmu?”
“Lihat nanti, seperti apa feelingku.”
Zean berusaha menahan tawanya saat Eren sepertinya mengetahui niatnya dan Ken.
Mobil berhenti di sebuah parkiran. Langsung, Eren manatap kesal pada Zean di sampingnya.
“Tuh, kan ... meskipun bodoh, tapi untuk feeling, aku masih lebih pintar dari pada Kak Ken. Menyebalkan,” umpatnya.
Bagaimana tidak, kata Ken dan Zean, ini adalah kencan. Iya, kencan menurut mereka berdua, tapi tidak baginya. Bagaimana mungkin kencan di toko buku begini. Yang benar saja mereka berdua.
“Kenapa, sih, Sayang?”
Jujur, ya ... saat Zean bilang sayang begitu., hatinya seakan sedang dipijit pijit mesra, tapi kembali sadar kalau ia sedang kesal.
“Kak Zean ... kalau kamu mau kencan di sini, kencan aja. Aku mau pergi aja sama Kalina. Sungguh ... ini tempat yang paling paling menyebalkan buat kami yang bukan maniak buku.”
Eren hendak turun begitu saja, tapi ternyata Zean belum membuka kunci pintu otomatisnya.
“Kak Zean.”
Menatap Eren fokus. “Apa kencan itu harus ke restoran mewah, cafe, tempat-tempat romantis. Begitukah?”
“Tentu saja.”
“Agar apa?”
Eren tak menjawab.
Zean menanggalkan sefety belt yang masih melingkar di badannya. Kemudian menarik Eren agar semakin mendekat padanya. Bersiap mencium bibir gadis itu, tapi tak terjadi karena dirinya justru malah mencium pipi Eren.
Merasa ter-php, Eren mendorong Zean agar menjauh darinya.
“Apa ini tak membuatmu merasa deg-deg’an?”
Bukan hanya sekadar deg-deg’an lagi yang ia rasakan, tapi malah jantungnya justru seakan mau copot mendapatkan perlakuan seperti itu dari Zean.
“Udah, buka pintunya,” pintanya memasang wajah kesal. Kesal karena ujung-ujungnya ia tetap kalah atau justru karena kesal tak jadi ciuman.
“Jadi, membuatmu merasakan moment seperti itu nggak harus ke tempat romantis, kan? Lain kali kita lakuin di kamarmu,” goda Zean saat hendak turun.
Bola mata Eren melebar saat mendengar perkataan Zean. Apa apaan dia bicara seperti itu. Tindakan mesumnya sepertinya semakin meningkat saja.
“Kak Zean gila,” umpatnya.
Dan kegilaan ini akan berlanjut berapa jam lagi? Lihat ... di manakah dirinya dan Zean berada? Yap ... toko buku dengan jutaan buku yang antah barantah asal, penulis dan pembahasannya.
Dengan langkah gontai dan tak bersemangat, ia mengekori Zean. Demi apa ia memiliki pacar yang doyannya makan buku ... bukan, maksudnya baca buku. Dan demi apa, ia malah kencan di tempat seperti ini. Ayolah ... berharap tadi nyampenya ke cafe, atau tempat-tempat romantis. Tapi sungguh, endingnya justru tak mengenakkan. Ini mah namanya bukan happy ending, tapi justru sad ending.
“Kak ... nggak capek? Ini aku hanya mengekori saja berasa capek banget, loh,” umpatnya kesal sambil menghentakkan kakinya saat berjalan mengekori Zean yang muter muter rak buku.
Zean masih fokus dalam pencariannya.
“Bentar, Ren ...”
Bentar, bentar, bentar ... ia sampai lupa entah sudah berapa kali kata itu dia sebut. Harusnya tadi pas pertama kali, ia catat hingga pas keluar dari sini ia berikan hasil totalannya.
“Kak, aku bosan.”
Zean hanya tersenyum menanggapi perkataan Eren.
“Kakak ... aku haus.”
“Nanti kita makan di luar, ya.”
“Aku haus, bukan lapar.”
“Kan nanti bisa pesan minuman juga.”
“Aku kesal, nih ... nanti ku kacangin selama sebulan,” ancamnya.
Mendengar itu, Zean menghentikan langkahnya dan berdiri dihadapan Eren.
“Yakin, mau lakuin itu? Yakin bisa bertahan? Jangan lupa, kemarin aku nggak menemuimu selama seminggu aja udah ...”
“Iya ... iya ... lanjut aja cari bukunya. Cari sampai menemukan jodoh yang cocok buatmu,” kesalnya langsung menimpali perkataan Zean. Karena ia tahu betul apa yang akan dikatakan cowok nyebelin ini padanya. Ancamannya berbalik pada dirinya sendiri.
Zean tersenyum melihat wajah cemberut Eren. Kemudian menyambar tangan gadis itu agar mengikutinya.
“Begini, sudah romantis, kan?” tanyanya pada Eren.
Tak menjawab, tapi Eren malah menghadang langkah Zean. Tersenyum, kemudian langsung memeluk Zean.
“Begini yang romantis,” ujarnya.
“Hanya mengujimu untuk melakukannya lebih dulu,” bisik Zean.
Mendengar itu, Eren berniat melepaskan pelukannya dari Zean, tapi Zean malah menahannya.
“Ada CCTV di sekitar kita, nggak?” tanya Zean yang masih memeluk Eren.
Eren mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seolah mencari keberadaan benda yang di maksud Zean.
“Sepertinya nggak ada.”
“Bagus,” respon Zean melepaskan Eren dari pelukannya.
“Kenapa bagus?”
Zean tak menjawab pertanyaan Eren, tapi malah merangkul dia agar semakin mendekat padanya.
Reaksi Eren mulai cemas. “Kakak mau ngapain?”
“Melakukan sesuatu yang romantis, mungkin.”
Belum sempat Eren berpikir, tiba-tiba saja Zean mencium bibirnya. Kaget, shock ... jujur saja sikap cowok ini membuat jantungnya seakan mau copot.
Perlahan ciuman itu dihentikan Zean dan tersenyum menanggapi reaksi kaget Eren. Lagi, ciuman itu ia berikan. Tapi kali ini sepertinya dia sudah mulai membiasakan diri dengan sikapnya. Terlihat dan bisa dirasakan saat dia membalas ciuman itu.
---000---
Sedangkan Kalina yang saat ini berada di dalam mobil Ken, malah sibuk celingak-celinguk nggak jelas ke arah jalanan.
“Loh, Eren sama Kak Zean tadi mereka kemana?” tanya Kalina karena tak melihat penampakan mobil Zean lagi. Padahal tadi masih beriringan.
“Zean sudah bilang, kan ... kalau dia sama Eren mau kencan. Trus, kamu mau ngikut gitu?”
Pandangan Kalina seketika mengarah pada Ken, padahal tadinya ia mencoba menghindari.
“Kalau Eren sama Kak Zean kencan, trus kenapa Kakak malah mengajakku jalan juga. Kalau tahu begini, mending tadi aku pulang saja. Tidur nyenyak, mumpung sekarang minggu,” berengutnya. Apalagi semalam ia tak bisa tidur karena mikirin cowok ini, kan lumayan siangnya bisa tidur pulas.
Ken tiba-tiba menghentikan laju mobilnya dan menatap tajam pada gadis yang sedari tadi hanya diam, tapi makin ke sini justru makin cerewet saja.
“Boleh ku komentari sesuatu?” tanya Ken.
Dengan raut takut-takut dan sedikit cemas, Kalina mengangguk. Ya, meskipun ini meragukan. Ragu kalau Ken akan bertidak wajar, karena dari beberapa hari ini, kakak dari sahabatnya ini pemikiran dia sedikit bermasalah, mungkin.
Saat ia berpikir, tiba-tiba saja Ken melakukan tindakan itu lagi. Dan untuk kedua kalinya ia masih kaget.
“Sudah ku bilang, kan ... jangan mengikat rambutmu lagi.” Ken menarik ikatan rambut Kalina untuk kedua kalinya. “Apa kamu tidak mendengar perkataanku waktu itu, Atau justru memang berniat agar aku yang melepaskannya?”
Apa yang harus ia lakukan? Ken kembali bersikap seperti kemarin. Sungguh, kalau benar ini mimpi, ia lebih baik bisa secepatnya terjaga. Karena kalau tidak, takutnya ia keburu nyaman dan ternyata malah mimpi.
“Kak, aku ...”
Berniat mengambil ikatan rambutnya, tapi apa yang terjadi ... Ken malah menurunkan kaca mobil dan melempar benda itu ke jalanan.
Kalina sampai menelan salivanya dengan susah, melihat reaksi Ken. Tak sampai di situ, tiba-tiba dia malah memasangkan sebuah jepitan rambut agar helaian rambutnya tak berantakan.
“Begini lebih cantik,” gumam Ken tersenyum setelah benda itu terpasang di kepala Kalina.
Kalina merasa badannya mengalami kesemutan. Bukan ... ini lebih tepatnya seperti mati rasa yang akut. Bayangkan ... muka Ken barusan berada tepat dihadapannya. Bahkan aroma cowok ini menusuk indera pikirannya. Dan, apa-apaan dengan pujian dia barusan. Auto nggak bisa tidur nyenyak lagi, nih, entar malam. padahal besok sekolah.
Tak ada komentar, bahkan ia merasa tak ada kata-kata yang sanggup diucapkan lidahnya atas kelakuan Ken.