Setelah hal menghebohkan terjadi di kamar Ken, Eren memilih untuk kembali mendekam di kamar sambil nonton TV. Mumpung kakaknya sedang punya urusan pribadi dengan Kalina, jadi ia bisa tidur tanpa gangguan.
Sebuah ketukan pintu tiba-tiba membuatnya kembali terjaga.
“Non!!”
“Sepertinya tak ada hari libur di kehidupan gue,” berengutnya segera bangun dan beranjak dari tempat tidur ... kemudian berjalan malas menuju pintu.
Pintu terbuka, mendapati bibik yang sudah ada di depannya.
“Apa, bik?”
“Di bawah ada Den Zean, Non,” jawab Bibik.
“Oke,” responnya berjalan gontai menuju lantai bawah.
Yap, cowok dengan tampang yang bisa membuat cewek manapun akan dibuat meleleh, ia dapati duduk di ruang tamu. Ya, dia masih kurang kerjaan seperti sebelum sebelumnya, yang pagi pagi buta sudah datang ke rumah. Mau siang, malam, pagi ... dia sudah seperti anggota rdalam rumah ini saja.
“Apa, Kak?”
Zean mentap fokus ke arah Eren, kemudian memasang wajah bingung.
“Aku nyariin Ken,” ungkapnya.
Apa-apaan ini? Sepertinya Zean memang berniat menambah kekesalannya hari ini. Bibik memanggilnya karena ada Zean, tapi ternyata dia malah nyariin kakaknya.
“Nyebelin,” umpatnya memasang tampang kesal dan kembali beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi.
“Ren!” panggil Zean yang malah tak dihiraukan oleh gadis itu.
“Kak! Ada yang nyariin!” teriaknya di depan kamar Ken.
Panggilannya tak mendapatkan respon, ia pun akhirnya membuka pintu kamar itu. Dan apa yang ia dapatkan, ternyata Kalina masih berada di cengkeraman Ken. Tawanya langsung pecah, melihat penampakan itu.
“Ren, help me,” rengek Kalina dengan tampang memelasnya.
Bagaimana tidak, Ken malah meminta dirinya mengetik tugas yang jumlahnya begitu banyak. Sungguh ... ia paling benci berhadapan dengan hal ketik mengetik.
“Ngapain lu?” tanya Eren mendekati sobatnya yang nangkring di depan Laptop, dengan Kakaknya yang sibuk dengan ponsel.
“Gara-gara elu, nih. Gue disiksa lahir bathin,” gerutunya melirik Ken.
Mendengar perkataan Kalina, Ken malah memukul kepala gadis itu dengan sebuah buku. Hingga dia meringis.
“Lahir bathin? Memangnya aku lakuin hal apa, hah?”
“Lahir-nya, jariku pegal, Kak. Bathin-nya ...” Ia bingung juga mau ngasih jawaban apa.
Ken bersidekap d**a dihadapan Kalina, memberikan tatapan tajam, seolah menunggu kelanjutan dari perkataan gadis itu.
“Yakin, aku menyiksa bathin-mu?”
“Bukan, bukan ... lebih tepatnya, meresahkan bathinku, Kak,” ralatnya. Tapi ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan saat kata itu justru semakin membuat Ken berpikiran aneh-aneh tentang dirinya.
“Maksudmu?”
“Eng-nggak, hanya saja ...”
“Jangan bilang kalau malam ini lo juga nggak akan bisa tidur karna berada dalam kamar Kak Ken,” terang Eren sambil tertawa meledek sobatnya.
“Ngapain mikirin aku?” tanya Ken mengarah pada sang adik.
“Kak, Kalina itu katanya semalaman nggak bisa tidur karena mikirin Kakak,” ungkap Eren.
Seketika Kalina merasa dirinya ingin terjun dari lantai dua. Anjir banget lah punya sobat kayak Eren, masa dia buka kedoknya di depan Ken langsung. Berasa panas otak ini. Siapapun, tolong.
“Bohong, Kak,” ujar Kalina beranjak dari posisi duduknya. “Aku nggak segila itu juga, kok,” tambahnya menarik Eren dari sana. Kalau dibiarkan terlalu lama, bisa-bisa dirinya benar-benar akan memilih lompat dari balkon kamar.
Kalina menyeret Eren kembali ke kamar. Sampai di kamar, ia langsung heboh nggak karuan.
“Ren ... lo udah bikin muka gue hancur di depan Kak Ken. Bisa-bisa dia malah mikir kalau gue segila itu sama dia. Gue pengin nyekek elo, Ren!!!” hebohnya pada Eren sambil mewek-mewek nggak jelas.
Eren malah semakin dibuat tertawa dengan sikap Kalina.
“Ayolah, Kal ... bukannya elo memang tergila-gila sama Kak Ken. Jadi sekarang, bagus dong. Tu cowok udah tahu apa yang lo rasain. Biar dia tahu, segila apa, sih, seorang Kalina pada dia,” jelasnya.
“Gila aja, jangan pake tergila-gila,” bantahnya. Bisa-bisa ia gila beneran ini.
Tiba-tiba Eren menghentikan tawanya dalam sekejap. Menatap penuh telisik ke arah Kalina.
“Kal ... gue penasaran. Lo dibawa kemana kemarin sama Kak Ken? Atau, apa yang terjadi kemarin?”
“Nggak kemana-mana, cuman pindah restoran,” jelasnya.
“Trus?”
Kalina duduk dihadapan Eren dan memasang wajah serius.
“Kemarin kita pindah restoran aja. Trus, di sana dia nanya, bisa nggak bantuin dia.”
“Ngapain?”
Seketika Kalina kembali merebahkan badannya denga kasar di kasur.
“Jadi pacar bohongannya dia,” jawabnya dengan nada kesal.
“Lo nggak bohong, kan?”
“Yang benar aja gue bikin kebohongan yang menyakitkan ini. Sumpah ... rasanya nyesek banget, tahu, nggak. Tapi lagi-lagi gue mikir, nggak dapat aslinya, jadi pacar bohongan sesaat pun juga udah syukur,” jelasnya.
Ini antara mau berduka cita atau justru bersuka cita. Ngeselin juga kakaknya sampai jadiin Kalina pacar bohongan.
“Mesti gue omelin, nih,” emosi Eren hendak melangkah pergi, tapi Kalina justru malah menahannya.
“Nggak usah,” larangnya. “Kemarin ada cewek yang datang nyamperin, dia bilang suka dan cinta sama Kak Ken. Sepertinya bingung harus memberikan penolakan seperti apa, makanya dia minta bantuan ke gue.”
Eren malah memandang penuh kasihan pada Kalina.
“Tapi gue lumayan senang juga, sih,” ungkapnya dengan wajah sumringah. “Biasanya Kak Ken nggak pernah mengarahkan pandangannya ke gue, tapi kemarin ...”
“Iya ... iya ... pandangannya bikin mata lo nggak bisa tidur nyenyak. Iya, kan.” Eren menebak karena itulah penyebab dia datang pagi pagi.
Kalina tertawa dan menghambur memeluk Eren. “Hwaaa ... calon adik ipar gue tercinta!!!” pekiknya.
Tadinya Eren tak ingin pergi kemana-mana, tapi berhubung ada Kalina, keduanya malah berniat untuk shooping. Serius, ini list pembelian sudah antri di kepala masing-masing.
“Ren, lo yakin bakalan diijinin sama Kak Ken?” tanya Kalina karena seolah tak yakin jika cowok itu akan memberikan ijin. “Jangankan shooping, pulang sekolah aja elo disuruh langsung pulang tanpa ada waktu melipir kemana-mana.”
Eren sedikit berpikir juga, sih, tapi setidaknya ada Zean di rumah ini. Bujukannya biasanya mempan untuk cowok yang sudah berstatus sebagai kekasihnya itu.
“Ih, malah bengong,” gerutu Kalina.
“Tenang ... ada Kak Zean. Sebagai kekasih, pasti dia ngasih ijin.”
“What! Demi apa lo udah jadian sama Kak Zean.” Langsung heboh, karena ia juga baru tahu.
“Sok kaget lo.”
“Kemarin masih berstatus lajang dengan tingkat kekepoan maksimal karena tak ada kabar dari dia. Kemarin ketemuan, langsung jadi gitu?”
Eren mengangguk cepat.
“Salute.” Bertepuk tangan atas keberhasilan Eren yang sudah memiliki seorang kekasih dan miris karena ia masih jomblo.
Eren menyambar tak ranselnya, begitupun dengan Kalina yang mengekorinya menuju ke ruang kerja. Ya, ruangan di mana biasanya papanya akan menyelesaikan hal yang berhubungan dengan pekerjaan, begitupun dengan Ken yang malah sering nangkring di ruangan itu.
Kadang ia suka heran dengan papanya dan kakaknya, ditambah lagi dengan Zean yang ikut serta ... kenapa mereka menyukai tempat menyebalkan itu? Padahal isinya hanya rak rak penuh buku.
Tanpa mengetuk, ia pun membuka pintu. Membuat dua manusia dengan tampang bak pinang dibelah dua itu langsung mengarahkan pandangan padanya dan Kalina.
Kalina tetap saja dibuat ciut jika mendapatkan tatapan mengerikan itu dari Ken dan memilih untuk berdiri di belakang Eren.
“Apa?” tanya Ken. Sedangkan Zean kembali fokus dengan laptopnya.
“Hmm ... aku mau ijin,” jawabnya.
Mendengar perkataan Eren, Zean kembali beralih menatap ke arah gadis itu.
“Kemana?” Giliran Zean yang bertanya.
“Jalan sama Kalina, aku mau ...”
“Nggak ada shooping,” timpal Ken langsung seolah tahu niat adiknya yang sudah hapal di dalam otaknya.
“Kakak, aku nggak shooping, kok. Beneran,” rengeknya berharap diberi ijin.
“Yakin?”
Eren tak menjawab, tapi ia malah menghampiri Kalina yang masih diam di dekat pintu dengan wajah cemas, kemudian membawa sobatnya itu menghadap Ken.
“Kita nggak shooping, Kak ... Kalina jaminannya,” ujarnya menyodorkan Kalina dihadapan Ken.
Kalina langsung memasang wajah kaget dan menyikut sobatnya itu. “Kenapa malah jadiin gue jaminan,” umpatnya atas tindakan Eren. Perkara tadi aja masih berasa keram di badan, sekarang malah membuatnya dalam masalah lagi. bener bener minta dibacok sobatnya ini.
Eren mengedipkan matanya pada Kalina agar sobatnya itu bisa pasrah, paham dan mengerti dengan apa yang sedang ia lakukan. Setidaknya dirinya bisa keluar dulu lah dari rumah ini, dan dapat transferan.
“Tetap nggak boleh,” respon Ken.
“Kakak ... jangan pelit dong,” rengeknya lagi. “Dan aku tuh bosan di rumah terus, mendekam dengan dirimu. Aku butuh refereshing, biar otakku nggak buntu. Enggak kayak kalian berdua yang kalau refreshing bisa melihat rak-rak buku menyebalkan ini. Aku masih menyadari kalau diriku hanyalah manusia, sedangkan kalian berdua ...”
Perkataan panjangnya seketika terhenti saat menyadari dirinya sedang mendapat tatapan tajam dari Zean dan Ken. Padahal ia punya stok penjelasan lagi, loh, tapi tiba-tiba jadi takut.
“Hmm ... jadi, boleh, kan?”
“Boleh,” jawab Zean mengangguk.
“Serius?”
“Mumpung minggu. Yok, jalan,” respon Ken menutup laptopnya ... beranjak dari kursi dan berlalu keluar dari sana.
“Loh, Kok ...” Eren sampai heran sendiri dengan dua makhluk itu. tadi bukannya melarang, trus kenapa sekarang malah ikutan.
Zean beranjak dari duduknya dan menghampiri Eren. “Kencan, Sayang,” bisiknya hendak mencium Eren, tapi tak jadi karena mengingat ada Kalina di situ.
“Njirrr lah ... mata gue terkontaminasi,” berengut Kalina langsung menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan melarikan diri dari ruangan itu.