Kalina dengan langkah cepat mendahului Eren dan menghentikan niat sobatnya yang sudah siap membuka pintu kamar Ken.
Wajah Kalina sudah terlihat pucat, pasi, dan cemas.
“Ren ... jangan bilang kalau di dalam ada Kak Ken?”
“Lo pikir gue mau ngapain lagi kalau bukan ngelabrak tu cowok!”
“Beb ... sepertinya ini ada something problem deh di antara kita berdua. Kuyy, gue jelasin lagi. Dia nggak ...”
Belum sempat perkataan Kalina selesai, tiba-tiba pintu dibuka dari arah dalam, membuat ia yang tadinya menghambat langkah Eren di depan pintu, malah jatuh. Bukan, lebih tepatnya jatuh bersandar ke badan si pemilik kamar.
Menyebalkan, bukan ... ini masih pagi dan dua bocah ini sudah heboh di depan kamarnya. haruskah ia ikat mereka di tiang agar kehidupannya sedikit tenang?
Kalina dan Ken fokus pada masing-masing, tapi Eren yang kesal, malah langsung menarik sobatnya yang masih nemplok di badan kakaknya.
“Kak Ken, kamu benar-benar keterlaluan!”
Sebuah tonjokan langsung ia arahkan tepat di ulu hati kakaknya, hingga dia langsung mengaduh. Belum sempat mengelak, kini dengan cepat ia menendang kaki cowok itu. Maafkan saja jika ia melupakan kalau manusia yang satu ini adalah kakaknya, tapi ia keburu emosi dan kesal.
“Hei ... kamu apa-apaan, sih? Kenapa bersikap begini?” tanyanya yang seolah tak dilepaskan oleh sang adik yang tampak kesal memberinya pukulan.
“Aku kesal sama Kakak, aku marah sama Kakak! Kenapa harus lakuin itu? Apa nggak bisa berpikiran lebih sehat! Kamu itu lebih pintar dari aku, tapi kenapa sekarang tiba-tiba otakmu ada di dengkul, sih, Kak!”
“Kamu sakit, ya ... kesambet setan apaan, sih, barusan.”
“Ren, udah ...” Kalina yang melerai seolah tak dihiraukan oleh sobatnya itu. Bisa bisanya Eren memikirkan hal aneh dengan semua penjelasannya tadi. Yang benar saja Ken melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Dengan cepat Ken malah menahan tangan Eren yang terus memukulinya. Iya, tangan adiknya ini memang kecil, tapi kalau memukul saat kesal, jujur saja rasanya lumayan menyiksa. Perutnya saja masih terasa sakit bekas tonjokan barusan.
“Sakit, Kak,” kesal saat tangannya justru dicengkeram balik oleh kakaknya
Ken mengambil lakban yang ada di laci meja dan mengikat kedua tangan Eren. Tak hanya itu, ia juga menutup mulut rempong adiknya dengan benda itu agar tak terus heboh dan mengomel.
Menghembuskan napasnya lega saat dunia kembali terasa tenang dan damai. Tapi kini pandangannya justru memandang tajam dan horor ke arah Kalina.
“H-hai, Kak,” sapanya tersenyum penuh ragu-ragu. Bukan hanya ragu, ini sebenarnya hatinya sudah tak karuan bentukannya. Matilah ia di tangan Ken. Belum juga dekat, ia sudah merasa mau mati di tempat.
Beranjak dari posisi duduknya dan berdiri dihadapan Kalina yang membatu.
“Kamu ngomong apa sama dia?” tanya Ken pada Kalina.
“A-aku nggak ngomong apa-apa.”
“Bohong!”
“Serius, Kak,” balasnya sambil mengancungkan dua jarinya membentuk huruf V. “Aku belum ngejelasin apa-apa, tiba-tiba Eren udah ... heboh duluan.”
Ken semakin berjalan mendekat, membuat posisi keduanya benar-benar dekat.
Eren yang kedua tangannya dililit lakban dan mulutnya ditutup lakban, malah menendang kaki Ken agar membuka benda-benda menyebalkan ini.
“Jangan berteriak,” peringatkan Ken yang mendapatkan anggukan oleh sang adik.
“Kak aku kesal padamu. Nanti ku bilang sama mama papa kalau kamu mengikatku seperti ini,” hebohnya kesal saat lakban menyebalkan itu enyah dari mulutnya.
“Jelasin,” pinta Ken mengarah pada Kalina dan Eren bergantian.
Dua gadis itu saling pandang, saat merasa posisi ini justru lebih cocok disebut interogasi.
“Dia bilang nggak bisa tidur gara-gara perlakuan Kakak padanya dan dia minta pertanggung jawaban. Noh, tanggung jawab!” Pengin nyakar muka Ken. Sayangnya tangannya masih dililit lakban.
Kalina menelan salivanya dengan susah. Benar-benar, ya ... sepertinya ia dihadapkan pada situasi yang menakutkan. Sepertinya ken nggak akan marah pada Eren, justru pada dirinya yang sudah membuat kekacauan ini.
“Ren ... lo salah paham. Kak Ken nggak lakuin apa-apa, kok,” ujar Kalina mengarah pada Eren. Enggak sanggup kalau menatap Ken yang ada di depannya.
“Tapi, kan ...”
“Belum jelasin apa-apa, tapi waktu gue bilang minta pertanggung jawaban, lo udah main serobot aja. Kan gue jadi nggak enak hati.” Melirik sebentar pada Ken. “Malah mikirnya Kak Ken udah lakuin hal aneh-aneh lagi.” Memelankan suaranya.
Eren memasang wajah kesalnya. Padahal ia sudah memaki-maki, menendang dan menonjok kakaknya dengan bersemangat, tapi ternyata apa? Ini hanya sebuah kesalahpahaman.
Kalina beranjak dari hadapan Ken dan membuka lakban yang melilit tangan Eren.
“Gue kesal sama lo,” umpatnya.
“Lah, salah gue apaan coba?” tanya Kalina.
“Kenapa malah berpikir aku melakukan hal sampai seburuk itu? Kamu sadar, nggak, sih ... kalau sampai mama papa tahu tentang semua ini, mereka juga bakalan bilang aku salah, loh.”
Eren tersenyum manis. “Ya maaf, Kak. Soalnya Kalina kalimatnya bikin aku ambigu. Kan aku jadi mikir anu anu.”
“Gue lagi yang salah. Padahal elunya yang nggak ngedengerin penjelasan gue,” gerutu Kalina ketika Eren melimpahkan semua kesalahan pada dirinya yang lemah ini. Iya, semakin lemah ini saat berurusan dengan Ken.
“Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan di kamarku?” tanya Ken bersidekap dadaa dihadapan dua gadis SMA itu. “Ini benar-benar membuang-buang waktuku dengan percuma!”
“KalinaEren!!” keduanya malah saling tunjuk.
Takut bermasalah dengan Ken, apalagi jika sudah perkara sita menyita atm ... Eren yang paham situasi langsung pasang langkah seribu melarikan diri dari ruangan menakutkan itu.
“Eren!” teriak Kalina hendak ikutan kabur, tapi langkahnya terhenti saat Ken menyambar tangannya ... membuat langkahnya tertahan seketika.
“Kak, aku mau pulang saja,” ujarnya saat dirinya tak dibiarkan lepas oleh Ken. Bahkan melepaskan tangan Ken yang memegangi pergelangan tangannya saja terasa tak bisa.
“Apa ... pulang? Yang benar saja. Kamu sudah buat Eren berpikir yang tidak-tidak tentang aku, membuatku dihajar habisan-habisan, kamu udah bikin pagiku berantakan, dan sekarang boleh dong, aku minta pertanggung jawaban dari kamu?”
Bolehkah ia berharap untuk pingsan saja saat ini? Rasanya bermasalah dengan Ken, lebih mengerikan daripada bermasalah dengan nilainya yang anjlok.
Kalina berusaha melepaskan pegangan tangan Ken, tapi lagi-lagi saat berhasil lepas, cowok ini justru malah kembali menahannya.
“Kak, lepasin dong. Ini kayaknya mamaku nelepon deh,” ujarnya memberi alasan seolah hendak merogoh tas nya.
“Bagus,” respon Ken cepat. “Sekalian biar ku bilang kalau kamu melakukan tindakan tak sopan karena masuk kamarku sembarangan.” Senyuman sinis tercetak di sudut bibirnya. “Bisa dibayangin, kan, bagaimana respon mamamu.”
Jangan membayangkan, tentu saja itu sesuatu yang sangat mengerikan. Bisa didepak dirinya dari silsilah keluarga dan dilempar ke kutub utara.
“Iya, aku minta maaf, Kak. Aku nggak akan ngelakuin hal ini lagi,” ucapnya memasang wajah bersalah. Ya, meskipun ia merasa kalau dirinya tak bersalah.
“Tanggung jawab.”
“Jangan minta yang tidak-tidak,” respon Kalina cepat.
“Dan jangan berpikiran yang aneh-aneh,” sahut Ken.