BAB : 17

1308 Kata
Ini adalah hari minggu, tapi justru ia malah bangun lebih awal. Bahkan kini dirinya sudah berada di kamar Ken. Apalagi kalau bukan meminta penjelasan tentang kekesalannya pada Zean semalam. “Kak, bangun dong.” Berusaha menerjang Ken dengan rengekan dan suara berisiknya. “Ini masih pagi buta dan kamu sudah membuat kehidupan kakakmu itu terganggu,” respon Ken masih di posisi tidurnya. Dia tak tahu saja, jika semalam kakaknya ini tidur sudah dini hari gara gara ngerjain tugas kampus dan sekarang datang kaum hawa yang mengganggu tidurnya yang baru beberapa detik berlangsung. “Aku butuh penjelasan, Kak. Kalau enggak, aku bakalan terus mengganggumu. Bahkan aku akan mengganggu sampai ke dalam mimpimu,” ancamnya tak putus asa. Sudah menutupi telinganya dengan bantal, tapi tak mempan sama sekali menghindarkan ocehan Eren. Apa semua wanita selalu begini, mengganggu lewat suara. Ken bangun dan duduk dihadapan Eren. Bahkan matanya saja berasa begitu berat untuk dibuka. “Tanya Zean aja, Dek. Ini hari minggu dan kamu sudah membuat hari liburku buruk. Enggak berharap kalau uang jajanmu ku potong, kan?” Eren mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya dan memperlihatkan pada Ken dengan penuh kemenangan. “Taraaa! Sebelumnya aku sudah mendapatkan kartu-kartu gold ini.” Menaikturunkan alisnya saat senjata yang biasa digunakan Ken, sudah ia ambil lebih dulu. “Balikin,” pinta Ken menengadahkan telapak tangannya. Dengan cepat Eren menjauhkan benda yang ada dalam pegangannya dari Ken. “Ayolah, Kakakku tersayang, tercinta, tertampan ... jelasin dulu. Kalau enggak, ini isinya ku kuras habis tanpa meninggalkan satu rupiah pun.” Ken malah terkekeh, kemudian kembali merebahkan dan menutupi badannya dengan selimut. “Ambil aja kalau bisa.” Eren beranjak dari tempat tidur dan berniat keluar dari kamar Ken. Tapi saat sudah di dekat pintu, ia menghentikan langkahnya. “013342!” teriaknya. Ken yang tadinya seolah tak perduli, saat mendengar angka yang diteriakkan Eren membuatnya terancam punah. Bukan, lebih tepatnya isi atm nya yang akan punah, habis dan pupus tinggal ampas. “Serena!!!” pekiknya. Segera beranjak dan keluar dari kamar mengejar sang adik yang turun ke lantai bawah. Saat sampai, di bawah, ia dapati gadis itu sudah duduk manis di sofa. “Balikin,” pintanya. “Jelasin dulu.” Ken merebahkan badannya di sofa. Serius, ini tuh masih pagi buta. Bisa bisanya gadis manja ini membuatnya ingin mengamuk. “Ya ... Zean nyium kamu.” Secara tiba-tiba sebuah bantal menghantam kepalanya. Astaga! Ini adiknya kenapa jadi ganas gini, sih. Dikasih apaan sama Zean semalam sampai sampai dirinya ditimpuk begini. “Kapan?” tanya Eren penasaran. “Mana aku tahu, Ren ... tanya Zean aja,” jawabnya. “Dan Kakak juga tahu, kan, kalau Kak Zean itu ...” “Iya,” timpal Ken langsung seolah tahu apa yang akan dibahas Eren. “Aku tahu dari awal bagaimana perasaan dia ke kamu. Bukan hanya aku ... bahkan Papa sama Mama dan keluarganya Zean juga tahu akan hal ini. Udah, apalagi yang mau kamu tanyain, hem?” “What!?” “Jangan kaget.” “Gimana aku nggak kaget. Ini di sini aku sebagai si pemeran utama yang seolah tak tahu apa apa. Hingga pada akhirnya ...” Ken langsung membekap mulut Eren saat omelan demi omelan bocah ini sudah merusak pendengarannya. Heran ... ini anak habis makan apa, sih, sampai kecerewetannya jadi meningkat tajam begini. “Udahlah ... sekarang udah jadian sama Zean, kan. Jadi, nikmati saja bagaimana sikap asli dia yang mungkin akan lebih posesive dari biasanya. Larangan pacaran memang ada, tapi terkhusus untuk Zean ... jangankan izin pacaran, izin nikah pun langsung dikasih sama Mama Papa.”  Ken langsung merebut dompetnya yang ada di tangan Eren dan dengan cepat berlari kabur kembali menuju kamarnya. Eren menghempaskan badannya di sofa dengan rasa kesal yang berlipat ganda. “Menyebalkan semuanya. Gue nggak tahu apa-apa. Dasar! Kak Zean pencuri. Bibir gue udah nggak perawan lagi,” hebohnya berteriak teriak di sofa. “Ya ampun, Non ... kok bisa?” Pertanyaan itu membuat Eren kaget. Tiba-tiba mendapati bibik sudah berada di dekatnya. “Apa, sih, Bik,” lenguhnya saat bibik tiba-tiba nimbrung. “Non bilang barusan udah nggak perawan lagi. Non bilang kalau Den Zean yang udah mencurinya. Duh, Non Eren ... kok bisa sampai kejadian gitu, sih? Bisa dibacok Bibik sama tuan dan nyonya karena nggak bisa menjaga Non di sini.” Eren sampai heran, ini bibik kenapa ngomongnya jadi aneh gini, sih. “Bibik apaan dah, nggak jelas banget,” umpatnya kesal dan berlalu meninggalkan bibik yang masih terlihat heboh. “Non!!” Eren kembali ke kamarnya, ketika hendak bersiap mandi, tiba-tiba ponselnya berdering. Saat ia lihat, ternyata ada pesan dari Kalina. “Ren, Kak Ken hari ini kuliah, kan?” “Dasar! Kirain mau ngapain chat pagi-pagi, tahunya malah nanyain Kak Ken,” berengut Eren. “Iya, dia kuliah. Kenapa?” “Gue udah di depan rumah lo, nih. Gue mau curhattt!” “Lo yakin mau masuk? Ini dia masih ada di rumah, loh.” Eren berdecak saat tak mendapatkan balasan lagi. Itu berarti Kalina sudah lanjut masuk. “Dia kesambet apaan dah, masih pagi buta begini udah nongol,” gumamnya kembali melangkah menuju kamar mandi, melanjutkan niatnya untuk mandi. Mungkin hanya sekitar lima menit lah, ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka dari arah luar. “Lo di kamar mandi, ya?” Panggilan itu terdengar di depan pintu kamar mandinya. “Iya, gue lagi mandi. Bentar!” sahutnya sedikit berteriak saat yakin kalau itu adalah Kalina. Benar sekali, keluar dari kamar mandi ia dapati Kalina sudah tiduran di kasur. Lengkap dengan wajahnya yang terlihat tak baik-baik saja. “Lo sehat, kan, Kal?” tanyanya menatap fokus pada sobatnya yang duduk di kasur. “Lo pikir gue sakit?” “Ya elo ... pagi-pagi buta udah nongol di sini. Apalagi kalau bukan sakit.” Kalina menatap Eren tajam.  “Kenapa?” “Gara-gara Kakak lo, tuh, bikin mata gue nggak bisa tidur semalaman suntuk. Ini otak, seolah-olah mikirin dia terus,” ungkapnya heboh. Awalnya Eren diam, seolah memahami ... tapi seketika ia langsung tertawa. Apa sampai segitunya pengaruh Ken pada sobatnya ini? “Lo di apain sama Kak Ken, sampai nggak bisa tidur gitu? Dan ... gue penasaran kemarin lo dibawa kemana?” tanya Eren memasang wajah kepo sambil mengeringkan rambutnya dengan hair-dryer. Bukannya langsung menjawab, tapi Kalina justru kembali merebahkan badannya di kasur dan mewek nggak jelas. Udah kayak sesuatu yang besar telah terjadi. Pikiran Eren mulai memikirkan hal yang tidak-tidak, apalagi melihat ekspressi Kalina. “Kal ... jangan bikin gue mikir yang aneh-aneh deh.” “Kemarin dia bawa gue. Trus ...” Lagi-lagi Kalina menghentikan perkataannya dan merengek-rengek nggak jelas. “Gimana ini, Ren. Haruskah gue minta pertanggung jawaban sama Kak Ken?” Eren mencubit kaki sobatnya saat mendengr kata ‘pertanggungjawaban’ yang dia lontarkan. Otaknya langsung memikirkan ke arah paling buruk itu. Yang benar saja jika kakak yang ia bangga banggakan itu sudah melakukan tindakan yang buruk. “Lo serius?” “Iya, gue serius lah,” jawab Kalina. “Lo nggak nolak?” “Gimana gue mau nolak coba, dianya tiba-tiba gitu.” “Kakak!!!!!” teriak Eren seakan menggemparkan seisi rumah dan berlalu cepat keluar dari kamar. Rasanya ini tanduk sudah nongol di kepalanya dan bersiap menyeruduk kakaknya. Awas saja, jika benar ini terjadi ... akan ia lemparkan di kandang buaya sekalian. “Lo mau kemana?” tanya Kalina yang mengikuti langkah Eren. “Masih nanya lo? Ya minta kakak gue bertanggung jawab sama lo lah. Apa-apaan, sih, dia. Mau jadi cowok b******k!” Mendengar u*****n demi u*****n yang dilontarkan Eren, Kalina malah bingung sendiri. Ini dirinya yang nggak bisa tidur semalaman, kenapa efeknya justru lebih besar yang dirasakan sobatnya. Sumpah! Baru kali ini ia merasa kesal jadi adik seorang Ken. Sebelum-sebelumnya ia justru malah bangga. Mata Kalina melebar saat menyadari kemana langkah kaki Eren mengarah. Ya ... ke kamar Ken. Astaga! Bukannya dia bilang tadi cowok itu kuliah.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN