BAB : 16

1402 Kata
Setelah adegan yang mengundang jantungnya jadi tak beraturan itu, Ken mengantarkannya menuju mobilnya terparkir di restoran yang pertama. Berharap ini nyata. Ya, memang nyata ... tapi kenyataan pahit yang harus ia terima karena semua kejadian barusan hanyalah permainan yang dibuat oleh Ken demi menghindari gadis bernama Siska. “Maaf, Kak ... yang tadi itu aku nggak bermaksud apa-apa, kok. Soalnya aku bingung mau ngasih jawaban apa pada dia, dan Kakak juga nggak ngasih tahu sebelumnya,” jelas Kalina tak enak. Ken malah menatapnya dingin. Apa dia berniat mengeluarkan kebiasaan itu lagi. Menatap bagaikan seekor beruang kutub utara yang kelaparan. Lagi lagi membuatnya salah tingkah. “Aku memang sengaja melakukannya,” respon Ken. “Sengaja?” bingung Kalina. “Sengaja mendengarkan jawaban yang pertanyaannya tiba-tiba. Karena jawabannya pasti berasal dari hati, tanpa harus membolak-balik buku.” Kalina makin dibuat pusing menghadapi pernyataan demi pernyataan yang diberikan Ken padanya. Sudah tahu otaknya pendek, masih saja terus memberondonginya dengan kata-kata sulit. Apa dia tak bisa bicara dengan sebuah inti saja. “Paham?” “Enggak,” jawab Kalina. “Jangan dipahami, kalau ada waktu ... pikirkan saja apa maksudku.” “O-oke.” Ken semakin mendekat pada Kalina, hingga jarak keduanya tak sampai satu meter. “Aku suka gadis dengan rambut panjang. Tapi maaf, ikat rambutmu ku tahan. Digerai begini lebih manis.” Ayolah ... turun hujan. Tak tahukah otaknya terasa panas mendengar pujian Ken barusan. Atau, sekalian turun salju untuk mendinginkan suasana biar beku. “Aku membenarkan semua jawaban yang kamu berikan tadi.” Kalina malah tertawa girang mendengar perkataan Ken. “Serius, Kak?” “Hmm,” angguk Ken. “Lain kali ku traktir makan,” tambahnya berlalu dari hadapan Kalina. Sepeninggal Ken, ia langsung melompat-lompat kegirangan. Anggaplah ia aneh, karena harus berlebihan seperti ini menanggapi sikap cowok itu. Tapi memang begitulah kenyataan yang ia rasakan. Enggak pernah terpikirkan yang sampai bisa bersama Ken, bahkan mendapat pujian demi pujian. “Sepertinya setelah kejadian ini bikin mata gue nggak bisa tidur nyenyak. Hwaaa ... Kak, Ken. Dirimu meresahkan.”   ---000---   Zean mengantarkan Eren pulang ke rumah. Saat sampai, keduanya naik ke lantai atas dan duduk di ruang keluarga. “Kenapa?” tanya Zean mendapati wajah masam Eren. “Aku nggak mau jadi pacarmu,” ujar Eren. “Apa?!” Kaget dong. “Aku nggak mau jadi pacarnya Kak Zean.” “Kenapa?” Eren menyandarkan punggungnya di sofa. “Kakak tahu, kan, Kak Ken itu nggak ngijinin aku pacaran. Sekarang, tiba-tiba aku malah punya hubungan itu denganmu, sahabatnya sendiri. Bisa bisa aku digantung dan kamu dibacok.” Seketika otaknya langsung membayangkan hal itu terjadi. Zean malah tersenyum menanggapi perkataan Eren. Jujur, ini dia polos banget atau benar-benar polos, sih, yang nggak paham dengan sikap Ken dan sikap yang ia berikan selama ini. “Nanti dia marah, trus ngomel-ngomel padaku. Serius ... kupingku nggak kuat mendengar omelannya itu. Yang kemarin saja masih berbekas tu omelan, sekarang udah datang lagi satu lagi.” Zean menyentuh lembut wajah Eren. “Jadi, gimana, nih ... kita nggak jadi pacaran? Aku harus patah hati gitu?” tanya Zean. Eren memberengut menanggapi pertanyaan Zean. Tak tahan melihat wajah itu, Zean malah memeluk Eren. “Maaf ... aku hanya bercanda. Tenang saja, Ken tahu semua ini, kok. Dia nggak bakalan marah apalagi sampai mengomelimu.” “Apa?!” Melepaskan diri dari dekapan Zean ketika perkataan itu dia ucapkan. Maksudnya apa coba? “Padahal aku sudah mengungkap rasaku padamu lewat sikap dan di sela-sela perkataanku. Bahkan Ken pun sudah pernah, kan, membahas perasaanku ke kamu, tapi kamu malah nggak mengerti.” Eren hanya mengerjap ngerjapkan matanya, ketika mendengar omongan Zean yang jujur saja, membuatnya kaget. “Aku menyukaimu.” Menganggu perlahan. “Dan Ken tahu masalah itu.” “Kakak tahu tidak, apa yang ku rasakan selama ini?” “Apa?” “Aku bukannya nggak paham dengan sikap yang kamu berikan, tapi hanya takut baper sendiri ... sedangkan kenyataannya kamu hanyalah memberikan sikap layaknya seorang kakak pada adiknya.” Menangkup wajah gadis itu agar fokus menatap ke arahnya. “Ku pastikan kamu nggak akan pernah sakit hati apalagi sampai menangis. Tapi untuk status hubungan kita, aku nggak mau jadi pacar ataupun kekasihmu,” ungkap Zean. Mata Eren melebar saat mendengar perkataan Zean. Apa ini artinya ia yang akan patah hati? “Status pacar itu masih ada batasannya. Saat didekati cowok lain, aku nggak punya hak dan kewajiban untuk mempertahankan kamu. Aku nggak mau hubungan seperti itu. Aku mau bersamamu tanpa ada batasan.” “Tanpa ada batasan?” Seketika mode bingung kembali ia rasakan. Maksud Zean apa. “Seperti ini.” Zean tiba-tiba mencium bibir Eren sekilas. Saking kagetnya, Eren merasa napasnya seolah berhenti berhembus dan jantungnya berhenti berdetak saat menerima ciuman dari Zean. Diam, dengan tatapan shock. Bahkan tangannya hanya bisa mencengkeram pinggiran sofa saking kagetnya dengan apa yang ia terima dari Zean. “A-apa yang Kakak lakuin?” “Menciummu,” jawab Zean santai. “Aku mau punya kebebasan saat aku melakukan itu padamu.” Tak tahukah Zean kalau ini adalah ciuman pertamanya? Berani-beraninya dia mengambil tanpa ijin. “Pencuri!” kesalnya memukuli Zean dengan bantal sofa. “Kamu marah?” “Aku kesal, aku marah, pengin nyakar mukamu, Kak!” hebohnya terus menyerang Zean dengan terjangan bantal yang ia layangkan pada cowok ini. Serius, ya ... kenapa dia seberani itu, sih, menciumnya? Apa dia nggak takut jika ia sampai benar benar marah? Pengin nangis, ciuman pertamanya direnggut tiba tiba. Untung saja tak ada yang melihat, bisa heboh satu rumah kalau sampai itu terjadi. Zean malah tertawa melihat reaksi berlebihan dari Eren. “Udah, aku minta maaf, Ren. Serius.” Menjauh dari gadis yang sedang kesal dan memukulinya. “Aku kesal padamu, Kak Zean!” “Kalau nggak berhenti menyerangku, aku cium lagi, loh,” ancam Zean malah balik menghampiri Eren. Mendengar itu Eren langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menjauh saat Zean mengikutinya. Baru tahu, jika Zean yang ia pikir aklem mode aktif ini, ternyata m***m. “Kak Zean m***m,” hebohnya saat Zean mengejarnya dan berputar-putar sekeliling sofa. “Pencuri first kiss ku.” Terus menjauh agar Zean tak bisa menangkapnya, tapi apa yang terjadi? Kesialan menimpanya hingga ia nyaris jatuh karena menyandung karpet. Untungnya Zean dengan cepat menyambar tangannya. Matanya mengerjap-ngerjap saat mendapati Zean ada dihadapannya. Kesenggol dikit, auto kiss lagi, nih. “Tetap, kan ... kamu itu akan jatuh di pelukanku,” bisik Zean. Berniat melepaskan diri, tapi justru Zean makin mengeratkan pelukannya. “Saat aku tak ingin melepaskanmu, jangan mencoba untuk lepas. Paham?” Eren mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Zean, dan dengan sedikit berjinjit sebuah ciuman ia berikan di pipi cowok itu. Zen tersenyum. “Sangat manis,” ucapnya. Di saat yang bersamaan, terdengar suara deru mobil. Membuat Eren langsung melepaskan rengkuhan Zean di badannya. “Kak Ken pulang,” ujarnya langsung pasang muka panik. Melihat reaksi heboh Eren, Zean hanya menahan tawanya sambil duduk di sofa. Entah apa yang dipikirkan gadis ini tentang perkataan tadi. Padahal sudah jelas jelas ia bilang kalau Ken tahu tentang perasaannya pada dia, tapi tetap saja heboh nggak karuan karena panik. “Trus, kalau Ken pulang kenapa, sih?” Eren menghempaskan bokongnya duduk di samping Zen. “Kok kenapa, sih, Kak? Nanti malah ...” “Sudah ku bilang, kan ... Ken itu tahu segalanya. Dia sahabatku. Dia tahu saat aku cinta sama kamu, tahu saat aku patah hati saat kamu bilang nggak merasakan apa-apa saat bersamaku, dan tahu saat aku sudah menciummu saat kamu tidur.” “Apa?!” Eren sontak kaget mendengar semua pengakuan Zean.. Zean mendapatkan pelototan tajam dari Eren. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum berat. “Hmm ... itu, Ren. Aku pulang dulu.” Sebuah ciuman ia berikan di pipi Eren dan langsung kabur dengan langkah cepat. Daripada ia kena amukan lagi, ada baiknya menyelamatkan diri. “Kak Zean!!” Sampai di anakan tangga paling bawah, ia berpapasan dengan Ken. “Heh ... kalian berdua lagi ngapain?” tanya Ken. “Kak Zean!” teriak Eren heboh seakan ingin mencabik cabik muka ganteng Zean. “Gue pulang dulu, ya ... Adik lo ngamuk,” pamit Zean langsung pergi melangkah cepat pergi meninggalkan Ken yang masih memasang wajah heran. Mengarahkan pandangan menelisik ke arah Eren, tapi adiknya itu justru seolah mengalihkan pandangan ke arah lain. “Terjadi sesuatu?” Menggaruk kepalanya yang tiba tiba terasa gatal. “Hmm, anu ... aku mau mandi dulu, Kak.” Langsung kabur tanpa aba aba.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN