BAB : 15

1539 Kata
Anggaplah ia hanya berani bicara di belakang, tapi berhadapan langsung dengan Zean, jujur saja ia tak seberani itu. Kalau berani, sudah ia telepon Zean dari kemarin-kemarin. Tapi nyatanya apa, ia malah dengan bodohnya malah bertanya pada ken ... yang nyatanya malah membuatnya merasa malu saja. Saat Eren hendak menghentikan sebuah taksi, Zean menyambar tangan gadis itu dan langsung menarik ke pelukannya. “Aku merindukanmu,” ucap Zean langsung. Seketika Eren dibuat diam saat Zean memeluknya erat. Tapi saat sadar, dengan cepat ia melepaskan diri dari pelukan Zean. “Maksud Kakak apa?” tanyanya. Zean menangkup wajah Eren, agar fokus gadis ini hanya padanya. “Kamu memang adik dari sahabatku. Tapi, status itu bisa berubah, kan? Hatiku nggak bisa berbohong, saat rasa sayangku melebihi rasa yang diberikan Ken padamu. Saat kamu sedih, aku berharap jadi tempat pertamamu bersandar. Aku mau kamu terus merasa nyaman saat di dekatku. Tapi ternyata aku salah, saat kau bilang tak ada rasa.” Eren diam, seolah dirinya mencerna satu persatu penjelasan yang diutarakan oleh Zean. Jujur, ia ingin mendengar satu persatu, bukan langsung diberondongi oleh sebuah penjelsan. Zean sedikit menunduk. “Harapanku terlalu berlebihan, bukan. Ini memalukan ... ku pikir kamu memang merasa nyaman bersamaku, padahal tidak sama sekali. Mungkin kamu hanya berpikir aku sebagai seorang cowok menyebalkan yang hanya merecoki setiap gerak-gerikmu.” Zean melepaskan tangannya yang berada di wajah Eren, kemudian tersenyum miris. “Lalu, kenapa beberapa hari ini kamu nggak datang ke rumah lagi?” tanya Eren. “Mencoba menghindar,” jawabnya. Mendengar jawaban Zean, Eren malah langsung memeluk cowok itu erat. Bahkan ia berharap dia tak pergi menjauh lagi. Entah kenapa ia merasa cowok ini seperti sebuah maghnet yang dengan gampang menariknya untuk terus berada di sisi dia tanpa punya kekuatan untuk lepas. “Jangan menghindar lagi,” pinta Eren. “Aku memang punya Kak Ken yang menyanyangiku, tapi aku juga butuh Kak Zean di sampingku. Katamu, sayang Kak Ken dan sayangmu padaku berbeda. Aku mau itu darimu. Nggak boleh memberikannya pada cewek lain.” Padahal tadinya ia tak bersemangat saat Ken bilang akan makan siang diluar dan mengajak Eren. Karena ia yakin, toh ketemu pun malah membuatnya patah hati. Tapi ternyata tak sia-sia ia datang. Tersenyum puas dan membalas pelukan Eren. “Aku cinta sama kamu.” “Hah?” Telinganya tak salah mendengar, kan. Apa yang dia bilang barusan? “Aku cinta sama kamu, Serena,” ulang Zean dengan pengakuannya. Ia tak berharap kalau Zean akan menyatakan cinta padanya, tapi ... sejujurnya memang inilah yang ia harapkan. Rasanya memang berbeda, ya ... saat berada di dekapan Zean. Seolah-olah diri ini terasa terlindungi. Tersenyum, kemudian semakin menenggelamkan wajahnya di dekapan Zean. Tempat yang beberapa hari tak bisa ia temukan. Sekarang kembali. Apakah ini yang di maksud Zean kemarin/ Cinta bisa datang dengan sendirinay, ketika rasa nyaman dan aman bisa didapatkan. ---000---   Kalina seakan-akan mau mati saja. Ia nggak tahu akan dibawa kemana oleh Ken. Jangankan bicara, melihat dan menatap wajah Ken saja ia takut. Harusnya tadi dari rumah membawa kaca mata hitam untuk mengalihkan silau Ken yang menerpa penglihatannya. Keduanya berada dalam satu mobil dan duduk juga berdampingan, tapi seolah olah hanya seperti seorang supir taksi pada penumpangnya. Diam seribu bahasa dan perbuatan. Sampai di sebuah tempat. Ya, dari luar juga terlihat jelas kalau ini sebuah cafe. Keduanya turun, setelah Ken membukakan pintu untuk Kalina segera turun dari mobil dan membawa gadis itu memasuki area cafe. “Aku butuh bantuanmu,” ujar Ken saat duduk di sebuah meja dengan kursi yang berdampingan. Kalina malah menghindari pandangan Ken yang fokus padanya. Sampai sampai beberapa kali menarik kursinya untuk sedikit menjauh dari dia yang seolah makin mendekat saja. Kalina hanya diam, tanpa berani menoleh pada Ken. Fokusnya bukan pada perkataan ken, tapi justru pada perasaannya saat ini. Ken yang menyadari itu, malah dengan sengaja menyentuh wajah Kalina. Sontak, membuat gadis itu langsung menatapnya dengan tatapan kaget. “Aku sedang bicara padamu, Kal.” “A-apa, Kak?” Melepaskan tangan ken yang berada di kedua pipinya, tapi dia malah tak mau lepas. “Mau membantuku?” Masih diam membisu. Siapapun, pasti tahulah, ya ... seperti apa mulut cerewet dan hebohnya Kalina. Tapi saat dihadapkan dengan seorang Ken, malah jadi diem. Kayak ular cobra ketemu pawangnya. Kalem, anteng, tunduk, pasrah, dan mati gaya. “Oke ... diam berarti mau,” responnya melepaskan tangannya dari wajah Kalina. Kalina bingung, sebenarnya apa yang tengah direncanakan Ken saat ini? Bantuan apa yang dia maksud. “Maaf, Kak ... ini sebenarnya kita mau ngapain, sih? Bantuan apa maksud Kakak?” Ken tersenyum di sudut bibirnya. “Akhirnya kamu bicara juga.” Membuatnya mati kutu. Dikira dirinya tak mau bicara dari tadi, padahal ia tuh berasa lidahnya berasa kelu. Memang menyukai Ken, tapi enggak sampai yang sikap ini cowok bikin dirinya jantungan juga kali. “Aku punya masalah dan kamu harus bantuin. Gampang ... cuman ikutin permainanku saja. Cukup jawab, iya iya dan iya.” Kalina sampai menggaruk kepalanya saking bingung dengan apa maksud dari bantuan yang diminta Ken. Saat ia masih berpikir panjang, tiba-tiba Ken dengan sengaja menarik ikatan rambutnya hingga tergerai. “Kak ....” “Begini lebih manis,” ujar Ken saat rambut sepinggang Kalina tergerai begitu saja. Fiks ... pulang dari sini ia akan terserang sebuah virus yang bernama baper akut. Ada apa dengan Ken, kenapa sikap cowok ini terus membuat dirinya tak bisa berkedip. Tiba-tiba seorang gadis menghampiri meja keduanya ... membuat pandangan Kalina dan Ken fokus pada dia. “Aku senang banget, loh, Ken ... akhirnya kamu mau ngajakin aku makan siang. Itu berarti, kamu udah terima aku,” ujarnya langsung heboh menatap Ken dengan tampang sumringh. Ken tersenyum sinis, seakan sedang meledek omongan gadis itu. “Siska, aku memang ngajakin makan siang, tapi siapa bilang aku terima kamu?” tanyanya balik. “Tapi, kan ...” Ken meminta gadis itu mengarahkan pandangan ke arah Kalina. “Dia siapa?!” Memandang penuh rasa tak suka pada Kalina. Kalina yang tak tahu apa apa, tentu saja hanya membalas dengan senyuman. Setidaknya kesopanananya juga patut diacungi jempol. Karena kalau lagi kumat, tingkat sopannya juga akan lenyap begitu saja tanpa pandang manusia. “Dia pacarku,” ungkap Ken pasti. “Apa?!” Tak hanya wanita bernama Siska itu yang kaget, bahkan Kalina saja dibuat kaget dengan jawaban Ken. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Bahkan menelan salivanya saja berasa kesat. Hingga akhirnya ia menyadari maksud dari bantuan yang diminta Ken barusan. “Oo ... jadi dia yang membuat kamu nggak menerima cintaku? Keterlaluan! Aku itu udah sabar dari jaman SMA sampai sekarang kita mau selesai kuliah dan kamu masih belum mau membuka hatimu untukku! Kurang ku apa, sih, Ken? Kenapa memilih dia, bukan aku?!” Ken menatap tajam ke arah Kalina. “Kal ... kamu dengar, kan, pertanyaan dia. Jadi sekarang bisa kamu beri jawaban, kenapa aku harus memilihmu daripada wanita lain.” Oke ... menjawab iya, iya, dan iya seperti yang dikatakan Ken tadi sudah ia lakukan. Tapi sekarang, kenapa juga menanyakan perihal ini? Padahal tadi Ken tak memberikan contoh jawaban untuk pertanyaan semacam ini. Jadi, ia kudu apa. Benar-benar, nih, cogan ... membuatnya seakan memilih pengsan. “Hmm ...”           Kebingungan haqiqi sedang menerpanya. “Kalina ...” Desak Ken. “Aku nggak tahu pasti jawabannya apa. Tapi mungkin Kak Ken itu nggak suka sama cewek agresif.” Setidaknya ia lumayan tahulah seperti apa sikap ni cowok. “Itu yang pertama,” respon Ken membenarkan jawaban Kalina. Gila kan cowok ini. Padahal ngasih satu jawaban itu udah mikir berat otaknya. Dan sekarang minta yang kedua. “Hmm ... Dia nggak suka sama cewek yang bilang ‘suka dan cinta’ secara blak-blak’an padanya.” Ken mengangguk akan jawaban yang diberikan Kalina. “Itu yang kedua.” “Dan ...” Berasa badannya sedang keringatan dingin memikirkan kalimat yang akan diucapkannya. “Dan ... dia suka cewek yang pintar.” Nyesek di bagian ini, karena otaknya tak masuk list pintar. Bagaimana bisa dirinya bisa masuk dalam list cewek pihan Kenzie. Pengin terjun bebas ke dalam jurang terdalam rasanya, ketika apa yang ia masukkan ke dalam kategori cewek pilihan Ken, justru ia sendiri tak masuk ke dalam list itu. “Cukup,” komentar Ken. “Agresif? Apa menurutmu aku agresif, Ken?” tanya Siska. “Sangat!” “Tapi aku pintar. Setidaknya waktu di sekolah aku masuk lima besar di kelas dan nilai akademik di kampus juga tinggi. Jadi, masalahnya apalagi?” Ken menghela napasnya, saat harus menjelaskan maksud Kalina secara detail. “Pintar, bukan berarti aku mempermasalahkan nilai pendidikanmu, Sis. Tapi yang ku maksud adalah saat dia pintar membawakan perasaannya sendiri. Ketika bersedih, dia tetap tersenyum. Ketika dia suka, tetap memendam. Ketika sakit, berusaha tegar. Dan kamu tak seperti itu.” Kalina seketika mengarahkan pandangannya pada Ken. “Sepertinya dia masih anak SMA,” pikir Siska memandang licik ke arah Kalina. “Itu berarti dia masih berpikiran singkat, belum dewasa dan nggak tahu apa-apa. Aku lebih unggul dari segi apapun dibandingkan dia, Ken.” Ken mengangguk, kemudian tersenyum manis. “Sengaja mencari yang masih polos, agar bisa ku atur sesukaku,” jawab Ken sambil bersidekap dadaa. Kalina sampai bengong mendengar pernyataan Ken. Apa-apaan maksud dia. Sengaja nyari yang polos, biar bisa diatur? Cowok macam apa, sih, Ken ini. Apa tampangnya doang yang kalem, tapi aslinya justru kebalikan?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN