BAB : 14

1435 Kata
Pulang sekolah, ia diantar oleh Kalina. Bukan, lebih tepatnya ia yang meminta, sekalian mau mengajak sobatnya itu menemaninya di rumah. Sebelumnya Kalina jarang mau, tapi kali ini atas paksaannya, akhirnya dia mau. Alasan dia menolak hanya satu, sih ... apalagi kalau bukan takut sama kakaknya. Padahal Ken itu nggak ngapa ngapain dia, loh, ya ... tapi dia bilang saat Ken menatapnya, rasanya kok nakutin. “Kak Ken nggak di rumah, kan?” tanya Kalina memastikan, saat sampai di rumah Eren. “Belum pulang, mungkin sore. Katanya ada kuliah tambahan.” Ini entah jawaban yang ke berapa kali ia berikan. Lagi lagi dia memastikan dengan terus bertanya. “Syukurlah,” leganya. “Kenapa juga jadi takut begitu sama dia, sih ... kakak gue nggak makan orang, kok.” Iya, nggak makan orang ... tapi tatapan dia saja mampu membuat otaknya berhenti bekerja. “Ngeri gue. Ditatap sama Kak Ken aja, itu nyali gue langsung menciut kayak kerupuk kesiram air. Berasa lagi ditatap dewa Yunani.” “Sama siapa? Zeus, Poseidon, Ares, Hermes, Helios atau Apollo?” tanya Eren meledek sobatnya. “Ish, gue beneran loh,” berengut kalina yang fokus mengemudi. Eren menghela napasnya berat saat perkataan Kalina tentang kakaknya yang terlalu aneh. “Nanti gue tanya Mama sama Papa, Kak Ken itu sejenis makhluk seperti apa? Atau, jangan-jangan dia memang benar.” Pasang mimik sok kaget. “Benar apanya?” “Kakak gue merupakan reinkarnasi dari Dewa Yunani,” jawab Eren dengan tawanya yang meledak saat itu juga. Kalina memberengut kesal saat sobatnya malah mempermainkannya. Dia tak tahu saja ... efek Ken baginya memang berpengaruh besar. Terakhir dihadapkan saat ia tak jadi mendapat pukulan Glenn dan Ken menolongnya. Duh, semakin dibuat kesemsem diri ini oleh sosok Ken. Berasa mau dikekepin. Ponsel milik Eren berdering ketika mobil berhenti. Ternyata Ken lah yang menelepon. “Ya, Kak?” “Udah pulang?” “Udah, ini baru nyampe. Aku minta Kalina yang nganterin.” “Belum makan, kan?” “Ya belum lah, Kak. Orang aku baru nyampe.” “Makan di luar yuk,” ajak Ken. “Tumben,” responnya. Karena bisa di bilang Kakaknya ini nggak pernah ngajakin makan di luar. Ya, sebelumnya ada, cuman bareng sama orang tua. “Mau atau enggak?” Masih berpikir. “Ajak Kalina,” tambah Ken. Saking kagetnya, ia sampai bengong dengan pandangan matanya mengarah pada sobatnya yang justru bingung dengan tatapannya. “Gimana, Kal?” “Apaan?” tanya Kalina bingung dengan pertanyaan yang ditanyakan Eren. “Kak Ken ngajakin makan di luar.” Kalina menggeleng cepat. Astaga! Demi dewa Yunani yang katanya memang ganteng. Meskipun Ken mengajaknya, ia nggak akan mau. Takut! “Kalina nggak mau, Kak,” ujar Eren pada Ken. “Nolak gitu?” “Iya, dia nolak.” “Speaker’in ponselmu.” Eren pun langsung melakukan apa yang diminta kakaknya. “Kalau nggak mau, urusanmu denganku akan ku perpanjang. Akan ku buat sampai matamu tak bisa tidur nyenyak!” Ancam Ken, kemudian langsung memutus sambungan telepon. Kalina sampai dibuat kaget saat mendengar ancaman Ken. Ribet amat urusan sama ni orang. Dia nggak tahu saja, ia menolak bukan karena nggak suka dan nggak ingin. Tapi justru karena ia suka pada Ken, makanya nggak berani bertemu. Tapi ancaman ini, malah membuatnya semakin takut. Jantung, semoga dikau baik baik saja di dalam sana. Jangan sampai copot, karena ini belum waktunya. Eren malah tertawa puas saat mendengar ancaman yang diberikan kakaknya pada Kalina. Serius, ini muka sobatnya sudah seperti ditabok pake cinta. Merah merah merona euyy. “Meresahkan, ya,” ledek Eren melihat tampang Kalina. “Iya,” jawabnya. “Kakak lo meresahkan hati gue,” rengeknya. “Udah, tenang aja ... ini bukan dinner, Beb ... ada gue.” Jadilah, keduanya kini menuju ke sebuah restoran yang sudah diberikan Ken alamatnya. Eren masih memasang tampang santai, tapi tidak dengan Kalina. Jantungnya berasa mau copot. Ia tahu ini bukan kencan, hanya saja ketemu dengan Ken membuatnya jadi semakin nggak jelas. Dari kejauhan Eren sudah melihat posisi Ken. Sampai di sana, keduanya langsung duduk di kursi yang sudah berhadap-hadapan dengan Ken. “Wow ... Kakak paling the best. Nyampe sini dah disiapin makanan. Tahu aja kalau kita lagi mode laper banget, ya, Kal,” ungkap Eren mulai menikmati makanan yang sudah tersedia. “I-iya,” jawab Kalina tiba tiba gagap. Yakali laper, bahkan ia merasa perutnya akan mengalami kekenyangan untuk tujuh hari ke depan saat disuguhi Ken di depan matanya. Pandangan Ken menatap tajam, mengarah pada Kalina yang terlihat sekali tampang ciutnya. Perasaan, ia tak bersikap semenakutkan apa yang dipikirkan sobat adiknya ini, kan. “Jangan menatapnya seperti itu, Kak. Nanti tatapanmu bisa-bisa beneran bikin mata Kalina nggak bisa tidur nyenyak,” ledek Eren di sela-sela makannya sambil tertawa. Rasanya pengin nabok kepala Eren. Kenapa juga sobatnya ini malah meledeknya sampai sejelas itu. Hwaa ... jadi pengin kabur. Siapapun, help me. “Padahal aku hanya bercanda,” respon Ken. “Atau, nanti sekali-sekali bisa ku coba,” ralatnya. Kaget dengan balasan Ken, ia merasa otaknya seakan panas. Saking panasnya itu satu gelas jus jeruk, diseruputnya hingga habis tanpa sisa. Ini benar-benar terasa sulit. Saat seseorang yang kita suka ada dihadapan, rasanya mata ini seolah tak mau beralih pandang pada titik lain. Tapi mau menatap bebas, nanti bisa terlihat jelas jika ia memang suka. Ken melirik waktu di jam tangannya sambil celingak-celinguk seolah menunggu seseorang. “Kakak nungguin seseorang?” tanya Eren. “Iya, orang yang penting,” jawab Ken. Entah kenapa pikiran Kalina malah melipir ke antartika. Orang yang penting? Apa dia sedang menunggu kekasihnya? Padahal Eren bilang Ken tak memiliki kekasih, tapi kenapa sekarang malah dia bilang begitu. “Maaf, aku telat.” Eren yang mendapati siapa yang kini ada dihadapannya, langsung kaget. Seketika suapan makanan yang hendak sampai di mulutnya, terlepas begitu saja dan balik ke piring. “Kak Zean!!!!” hebohnya. Entah saking kaget atau saking rindunya, hingga tanpa berpikir dia malah menghambur memeluk Zean. Sedangkan Zean malah bingung mendapatkan sikap begitu dari Eren. Ini di luar dugaannya. Ken sampai heran sendiri dengan reaksi tak biasa adiknya. Padahal tadinya berpikir jika Eren akan sok jaim, sok tak perduli dan hal sejenisnya. Tapi, kok malah yang terjadi justru sebaliknya. “Ren ... inikah yang kamu bilang hanya sekadar bertanya?” Sontak, pertanyaan Ken membuat Eren langsung melepaskan pelukannya pada Zean. Memasang wajah salah tingkah dan kembali duduk di kursinya. Demi apa ia sampai bereaksi terlalu berlebihan begini. Sungguh, ini memalukan. Kalina malah terkekeh dengan tingkah Eren. “Gue mau balas dendam,” ujar Kalina tertawa puas, karena tadi ia yang jadi bahan ledekan, tapi sekarang justru Eren. Jadilah, mereka semua duduk dalam diam. Kalina dibuat ciut karena Ken duduk di depannya, sedangkan Eren ciut karena ada Zean. Jujur, dari rumah tadi ia bahkan tak kepikiran bakalan ketemu sama Zean. Keterlaluan sekali kakaknya, melah mendatangkan Zean secara tiba tiba. Kalau tidak, ia kan bisa mempersiapkan hatinya dulu. “Ren, aku nungguin kamu bicara loh,” ujar Ken mengarah pada sang adik. Eren menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” Ken mengangguk. “Semalam bilang apa padaku? Sampai sampai membuat matamu nggak bisa tidur dan menghajarku di tengah malam?” Tuh, kan ... kakaknya ini benar-benar luchnut. Kenapa juga dia harus membahas masalah itu. Apa dia memang berniat membuatnya semakin terlihat memalukan di depan Zean. “Jangan-jangan ini masalah yang lo bilang tadi pagi, ya.” Kalina ikut-ikutan melabrak Eren. “Nggak ada apa-apa, kok ... aku cuman mau nanya, Kakak baik-baik aja, kan?” tanya Eren pada Zean dengan sedikit canggung. Apalagi efek perkataan Ken dan Kalina barusan, membuat rasa canggungnya semakin parah. Padahal sebelumnya ia bersikap bebas pada Zean. Zean masih memasang tampang dinginnya. “Bisa baik, bisa tidak,” jawab Zean. Ken beranjak dari kursinya, kemudian menarik lengan Kalina. “Bantuin aku sebentar,” ujarnya membawa sobat adiknya itu pergi dari sana. “I-ini kita mau kemana, Kak/” tanya Kalina mode gugup, seakan lidahnya berasa kelu. Tolong, selamatkan nyawanya jika jantungnya tak bisa menahan perasaan ini. Sikap Ken seakan-akan ia merasa kalau ini tuh seperti mimpi. Ken memegang tangannya? Hwaa ... ini moment langkah. Kameramen mana ... kamera. Mohon abadikan!! Tinggal Zean dan Eren berdua. Semakin dibuat salah tingkah lah ia jadinya. Apa yang akan ia katakan? Bahkan Zean saja seolah tak ingin memulai pembicaraan. “Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Aku nggak tahu harus membicarakan apa denganmu, Kak. Toh, ini juga Kak Ken yang ngatur. Lebih baik aku pulang duluan saja, ya,” ujarnya langsung menyambar ranselnya dan berlari meninggalkan restoran. “Ren!!” panggil Zean yang bahkan diabaikan oleh gadis itu. ia segera menyusul dengan langkah cepat, ketika dia keluar dari restoran.                                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN