BAB : 13

1519 Kata
Pagi ini Eren turun dari anak tangga dengan perlahan. Apalagi kalau bukan karena kakinya yang masih terasa ngilu untuk diajak berjalan cepat. Bisa-bisa memaksakan ia malah berguling-guling di tangga. Endingnya bakalan patah, bukan terkilir lagi. Mendapati Ken sudah duduk di kursi menikmati sarapan yang sudah disiapkan Bibik. “Pagi, Kak,” sapanya. “Gimana kakimu?” “Udah baikan, hanya dikit ngilu aja.” Ia mulai menikmati sarapannya, tapi tiba-tiba terhenti saat merasakan kalau Ken menatapnya terus. Membuatnya risih saja, meskipun yang memperhatikan adalah kakaknya sendiri. “Kenapa ngeliatinnya gitu amat, sih?” tanyanya masih terus menikmati makanannya. Ken menyandarkan punggungnya di kursi, sambil bersidekap dadda, menatap sang adik dengan tatapan penuh selidik. “Bicara apa semalam sama Zean?” tanya Ken. “Bicara apa?” “Aku lagi nanya, Ren,” keluhnya. “Nggak ada apa-apa.” “Jangan berbohong.” Eren sedikit bingung harus mengatakan apa. Ia menghentikan aktifitas makannya dan mengelap bibirnya dengan tisu. Menatap serius ke arah kakaknya. “Jangan menganggap kali ini aku bercanda lagi,” peringatkan Eren sebelum ia mengatakan semuanya. Karena Ken biasanya begitu, kan. Saat serius, dia malah membalas dengan lelucon. “Hmm,” angguk Ken. “Aneh, nggak, sih ... akhir-akhir ini dia sering membahas tentang perasaanku dan perasaannya. Aku jadi bingung apa yang sedang dia pikirkan. Dan semalam, dia nanya gimana perasaanku saat dekat dengannya. Kan aku jadi bingung sendiri dibuatnya.” Ia bersidekap dadaa seolah juga sedang berpikir. “Dan jawabanmu?” Eren malah terkekeh mendengar pertanyaan Ken. “Ya apalagi yang harus ku jawab, sih, Kak. Kak Zean itu sahabatmu, aku adikmu. Jadi, apa bedanya sikapku padamu dan pada dia.” “Kamu nggak peka sama sekali, atau memang nggak paham, sih? Udah kelas tiga SMA, loh, Dek.” “Maksudnya?” “Udahlah ... semuanya sudah terlambat.” “Apanya?” Ken tak menjawab pertanyaan Eren. Toh, Zean sudah mundur dari semua ini. Meskipun ia tahu, kalau sobatnya itu terpaksa mundur. Mengantar Eren ke sekolah, kembali jadi jadwal rutinnya. Terlebih setelah Zean mulai mundur. Biasanya ia akan meminta untuk menggantikan dirinya mengantar jemput adiknya ini, tapi sekarang mau minta tolong justru ia malah mulai merasa tak enak. “Kaki mu beneran nggak apa apa, kan?” tanya Ken memastikan, ketika membantu adiknya itu turun dari mobil. “Iya, nggak apa apa. Seperti katamu ... ini hanya terkilir, bukan patah tulang,” balasnya tertawa puas. Mencium punggung tangan Ken dan langsung pamit. Berjalan perlahan dengan sedikit rasa tak nyaman di kakinya . “Lo kenapa?” tanya Kalina yang menyambut Eren di dekat gerbang dan membantu sobatnya itu berjalan menuju kelas. “Nggak kenapa-kenapa,” jawabnya. Keduanya lanjut berjalan menuju kelas, tentunya masih mode siput ... karena kaki Serena tak bisa diajak kompromi untuk jalan cepat. “Gue tahu, lo pasti masih mikirin Glenn sama Sandra. Benar, kan?” Eren menghentikan langkahnya dan duduk di sebuah kursi di dekat pintu masuk kelas. Kalina pun mengikuti dan duduk di sebelahnya. “Serius ... gue cuman kepikiran sama kejadian itu dalam waktu sehari. Ya, memang, sih ... gue nangis nangis nggak berhenti sampai mata gue sembab. Tapi setelah itu, enggak lagi.” Kalina terkekeh. Dimana-mana orang kalau putus cinta, minimal nangis bombay tujuh hari tujuh malam lah, ya. Ini malah cuman sehari. “Ren ... lo habis putus cinta loh, bukan sendal jepit lo yang putus,” respon kalina dengan candaannya. Eren malah menyikut Kalina saat sobatnya yang satu ini terus saja menyelipkan candaan dalam setiap keseriusan. “Ish ... nggak percaya banget, sih, lo.” “Oke ... dan sekarang kalau bukan mikirin masalah itu, apalagi yang lo pikirin?” Menatap Kalina lekat, seolah bingung dengan perasaannya sendiri. “Kok tiba-tiba gue kepikiran sama Kak Zean, ya,” ujarnya. “Kembaran bebeb gue,” respon Kalina. Sumpah! Ini Kalina kalau sudah membahas Zean, atau Ken langsung, ini sobatnya pasti otaknya langsung eror. “Kalina, gue serius. Bisa kasih solusi atau komentar tentang apa yang gue rasain, nggak sih. Jangan malah fokusnya sama Kak Ken terus,” umpatnya. “Ren ... bukan apa-apa, ya. Tapi sepertinya lo suka, ya, sama Kak Zean.” Syukurnya ia saat ini tak sedang minum. Kalau sedang minum, yakinlah dirinya akan langsung tersedak saat mendengar perkataan Kalina. “Gue nebak doang, loh, ya. Tapi setelah mendengar sebelum-sebelumnya tentang sikap dia yang mulai aneh sama elo, gue jadi berpikir ... jangan-jangan dia suka sama lo, tapi seolah tak ingin mengakui,” terang Kalina. “Intinya?” “Intinya, Kak Zean suka sama lo. Tapi berharap lo juga merasakan apa yang dia rasakan. Jadi, dia nggak langsung bilang ‘Eren, ai lop yu’. Mungkin dia tipe-tipe merasuk dalam hati lo dulu secara perlahan. Bukan langsung tembak dan lo co.id.” “Serius?” Kalina mengangkat kedua bahunya. “Nggak pasti, sih ... cuman dari semua yang lo bilang tentang sikap dia, kesimpulan gue, ya, itu.” Di saat keduanya sedang serius bicara, tiba-tiba seseorang yang tak diharapkan muncul di depan mereka. Yap, Sandra. Si pengkhianat. “Gais, gue ...” Sontak, Kalina menarik Eren masuk segera menuju kelas. Jujur saja, semenjak kejadian Glenn bertindak kasar pada Eren dan Sandra malah seolah diam, ia justru semakin tak menyukai Sandra. Meskipun yang mengalami bukanlah dirinya, tapi sikap Sandara ia keburu tak suka. “Ini masih pagi ... jangan bikin mood kita ambyar, Ren,” berengut Kalina yang memang sengaja menyindir Sandra. Sampai di kelas, Sandra kembali menghampiri keduanya. Dengan sedikit menunduk dia meminta maaf atas semua yang terjadi. Eren, maafin gue,” ucap Sandra lagi. “Udah gue bilang, kan ... gue udah rela, kok. Dan kalian udah gue maafin.” Menatap tajam pada Sandra. Tergurat senyuman di bibir Sandra saat mendengar perkataan Eren. “Jadi, kita sahabatan lagi, Kan.” “Terkecuali yang itu,” sahut Eren cepat, dengan wajahnya yang tampak emosi. “Harusnya lo sadar, Sand. Kesalahan yang lo lakuin, itu melibatkan perasaan. Bukan luka fisik yang jika sudah mengering, rasa sakitnya akan hilang. Tapi lo udah merusak sebuah hunungan. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus.” Giliran Kalina yang menambahkan.   ---000---   Tengah malam, matanya justru tak bisa tidur. Gila, kan ... otaknya malah terus memikirkan Zean. Ayolah ... ini sudah lebih dari satu minggu, cowok itu tak main ke rumah. Saat ia tanya pada Ken, katanya dia masuk kuliah. Mau mengubungi lewat telepon atau sekadar chat pun, rasanya kok takut, ya. “Apa dia marah sama gue, ya,” pikirnya. Ya gimana nggak berpikir begitu, pasalnya Zean tak lagi menemuinya setelah kejadian malam itu. Bahkan saat pergi pun dia nggak mengatakan apapun. Beranjak dari tempat tidur, kemudian keluar dari kamarnya. Melangkah menuju kamar Ken yang ada di sebelah kamarnya dan masuk tanpa mengetuk. “Kakak,” rengeknya malah menghambur langsung di atas punggung Ken yang sedang tidur. “Astaga! Ren ... kamu apaan, sih. Ini udah larut malam dan kamu masih berniat mengangguku,” umpatnya saat bocah ini malah nemplok di punggungnya layaknya cicak. “Aku nggak bisa tidur,” ungkapnya. “Pejamin mata,” suruh Ken tak berniat membuka matanya yang begitu mengantuk. “Tapi nggak bisa tidur.” “Mumpung belum ngatuk, sana belajar,” suruh Ken. Eren malah memukuli kepala Ken dengan kesal. Orang nggak bisa tidur, malah disuruh belajar. Kan benar-benar menyebalkan makhluk yang satu ini. Ini udah larut malam, loh ... yakali otaknya bisa berfungsi dengan baik ketika belajar. “Aku mau nanya sesuatu. Tapi jangan mikir yang aneh-aneh dulu.” “Hmm ...” “Kak ...” “Aku dengar, Ren ... dengar.” “Kak Zean mana?” Seketika mata Ken langsung melek saat mendengar pertanyaan yang diutarakan adiknya. Apa ia tak salah dengar? Eren menanyakan Zean, kan? Ken bangun dan merubah posisi tudirnya. Menatap lekat sang adik. “Dek ... kamu serius nanyain Zean?” “Nggak mau nanya, sih, sebenarnya ... tapi aku pengin nanya,” balasnya. “Jadi?” “Kok dia nggak pernah main ke sini lagi? Lagi sibuk kuliah atau gimana?” Ken tertawa mendengar pertanyaan adiknya ini. Kenapa dia baru bertanya sekarang, padahal Zean sudah hampir semingguan tak pernah datang ke rumah. “Dia masih kuliah dan jadwal kuliah masih sama. Dan kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Zean? Di tengah malam begini lagi.” Eren tak menjawab, ia malah merebahkan badannya di kasur dan menutupi wajahnya dengan selimut. “Tiba-tiba pengin ketemu,” jawabnya. Ayolah ... ia tak ingin wajahnya yang mungkin akan terlihat aneh begini, dilihat oleh Ken. Tahu sendiri, dia pasti akan meledeknya habis habisan. Dan benar, karena Ken memang seakan ingin tertawa mendengar pengakuan adiknya. Tapi ia tahan, takut dia kesal dan dirinya tak jadi tempat curhat lagi. “Yaudah ... besok aku bilang Zean kalau kamu merindukannya.” Seketika Eren bangun dan menatap Ken kesal. “Ish ... apaan, sih, Kak. Aku nggak bilang merindukan dia loh, ya. Aku cuman nanya dia kemana, kan. Jangan memutar balikkan perkataanku, bisa bisa nanti dia malah mikir yang aneh aneh.” “Iya, iya. Nanti ku bilang gini... Ze, Eren kangen sama lo.” Jadilah, malam ini adalah malam yang mengenaskan bagi Ken saat adiknya ini menghantamnya dengan pukulan-pukulan itu. Dia tak memandang status, kalau dirinya adalah seorang kakak.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN