BAB : 12

1386 Kata
  Sampai di rumah, Ken kembali menggendong adiknya itu dan mendudukkan di sofa. Ia bukan orang yang suka pasrah saat adiknya ditindas dan disakiti begini, tapi untuk membalas, dirinya juga punya cara tersendiri. Eren menanggalkan sepatunya dan memeriksa kakinya yang sakit. Bukan luka, ini lebih ke rasa ngilu karena terkilir. Ken kembali dari dapur dengan sebuah mangkok berisi air hangat dan handuk berukuran kecil. “Bagian mana yang sakit?” tanyanya pada Eren. “Ini,” tunjuknya pada bagian pergelangan kakinya yang mulai terlihat membengkak. “Pelan-pelan, ini sakit,” rengeknya saat tangan kakaknya mulai mengompres bagian yang sakit itu. “Ini juga pelan,” komentar Ken. Rengekan demi rengekan makin menghantam pendengaran Ken. Kadang Eren malah memukul tangannya agar menghentikan aksinya itu. “Kalau nggak dipijat begini, kamu mau kakimu nggak bisa dibawa jalan?” Ken mulai mengoceh. “Tapi ini benar-benar sakit, aku berasa mau nangis.” “Udah, nangis aja sesukamu,” respon Ken kembali berfokus pada kaki adiknya. Tadinya mengompres, sekarang ia malah memijit agar otot kakinya kembali normal. Kali ini Eren benar-benar menangis. Rasanya benar-benar sakit, kakinya seolah dipatahkan oleh Ken, tapi dia seolah mengabaikan tangisan dan teriakannya. Menyebalkan sekali cowok yang satu ini. Kebayang, kan ... saat kaki terkilir, dan dengan santainya dia memijit seolah ia tak memiliki perasaan sakit saja. Di saat yang bersamaan, terdengar suara deru mobil yang berhenti di halaman. Tak lama, seseorang datang menghampiri keduanya yang ada di ruang tamu. “Kenapa?” “Kakinya patah,” jawab Ken pada sobatnya yang tiba tiba datang. Eren melempar Ken dengan bantal. “Patah apaan, sih,” berengutnya masih dalam tangisnya. “Kamu tuh, yang mau matahin kakiku, Kak.” “Ini hanya terkilir, Dek ... dan kamu hebohnya terlalu lebay seperti orang patah tulang,” ledek Ken. “Pake perasaan dikit dong, Kak. Kamu nggak tahu, kan, ini tuh sakit. Sakitnya sampe ke otakku seakan mau meledak.” Ken menghentikan tangannya yang memijit kaki Eren, kemudian beranjak dari posisi duduknya. “Lo urus, tuh, Ze,” suruhnya pada Zean. Jadi gregetan sendiri dengan sikap Eren. Zean mengambil alih tugas Ken. “Ini kenapa, sih ... jatuh,” tebak Zean perlahan memijit kaki Eren. “Efek dilarang pacaran, tapi masih ngeyel. Diputusin, sakit hati, nangis, dan sekarang main fisik. Lain kali, ngulang lagi, gih. Kali aja yang sekarang efek sakitnya masih belum berasa.” Eren hanya diam sambil menunduk, saat sindiran demi sindiran yang dikatakan Ken benar semua. Sementara Zean, dia seolah hanya diam dengan senyuman tapi tak berkomentar dan fokus pada pergelangan kaki Eren. “Kak Zean ... sepertinya dia harus belajar cara memijit seorang cewek yang benar dan lembut darimu, Kak. Ini tak semenyakitkan saat dia yang memijit. Kakiku seolah dipatahkan dengan sengaja.” Saat mengucapkan kata ‘dia’ Eren malah melirik ke arah Ken. “Tentu saja aku dan Zean beda. Mijitnya juga beda perasaan. Aku kakakmu, tapi Zean ...” “Ken ...” Bisa-bisanya Ken malah terpancing sendiri dengan perkataan Eren. “Apanya yang beda? Kalian kan sama saja, tapi dibagian rasa pengertian, sepertinya Kak Zean lebih unggul darimu, Kak,” balasnya pada Ken sambil bersidekap d**a. “Trus, apalagi?” tanya Ken. “Kadar nyebelinmu 100%.” “Ada lagi?” “Saat aku mau memelukmu, kamu malah mikirin kesterilisasian.” “Dan Zean?” “Nggak.” “Nggak apa?” “Nggak nolak waktu ku peluk.” “Hanya itu?” “Waktu aku ijin mau kencan, Kak Zean ngijinin. Sedangkan Kak Ken, ijin shooping aja nggak dikasih.” Ken beranjak dari duduknya, menatap lekat pada adiknya yang sekarang sedang dipijit oleh Zean. “Sekarang, coba tanya Zean lagi. Ngebolehin kamu nyari pacar lagi atau enggak.” Eren diam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Zean yang ada dihadapannya. Berharap ada komentar yang akan diberikan cowok ini, tapi ternyata tidak. Eh, tapi ... kenapa juga ia harus bertanya pada Zean, toh dia juga bukan siapa-siapanya. Ken berlalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan Zean dan Eren. “Gimana, masih sakit?” Eren mulai berdiri, tapi Zean masih memeganginya, sih. “Udah agak mendingan, Kak,” jawabnya. “Tapi, masih agak sedikit rasa ngilu, sih.” “Makin sering dibawa jalan, makin cepat sembuhnya.” Eren mengangguk. “Kenapa sampai begini?” tanya Zean yang masih memegangi Eren saat dia mencoba melatih kakinya untuk berjalan. “Glenn yang dorong sampai aku jatuh,” jawabnya. Zean diam, tapi dari raut wajahnya terlihat sekali kalau ia kesal karena cowok itu memperlakukan Eren sampai begini. “Kakak kenapa?” tanya Eren. Kedua tangan Eren yang tadinya bergelanyut di lengannya sebagai pegangan, kini ia pindahkan ke tengkuknya. Sedangkan kedua tangannya, ia lingkarkan di pinggang gadis itu. “Bagaimana perasaanmu saat bersamaku?” tanya Zean. “Hah?” Eren sampai kaget mendengar pertanyaan Zean. Oke, ia sudah beberapa kali berada dalam jarak yang sedekat ini dengan Zean. Tapi, kenapa sekarang malah jadi aneh gini, ya. Ia tiba-tiba merasa deg-deg’an. Biasanya Zean juga tak pernah menatapnya dengan seintens ini. “M-maksud Kakak apaan, ya?” tanyanya balik. “Aku tanya, bagaimana rasanya saat kamu bersamaku?’ “Hmm ... nggak berasa apa-apa. Biasa aja,” jawabnya seolah sedang berpikir keras. “Kamu kan sahabatnya Kak Ken. Jadi, perasaan apalagi yang kamu harapkan dariku?” “Benarkah?” Eren mengangguk yakin. Yakin, bohong maksudnya. “Saat hati nggak bisa sinkron dengan perkataan, itu terlihat jelas efeknya ke wajah. Jadi, tanpa menjawab, aku tahu apa yang kamu rasakan,” terang Zean tersenyum. Seakan mati kutu, bahkan untuk membantah pun rasanya ia seperti kehabisan kata-kata. Berniat melepaskan diri dari Zean, tapi apa yang terjadi? Cowok ini malah dengan sengaja merangkulnya agar semakin dekat. “Jadi, ku harap berkatalah dengan jujur.” “Kamu kenapa, sih, Kak? Lagi kurang sehat atau apa? Tumben sekali sikapmu jadi ...” “Aku sehat, aku baik-baik saja. Hanya saja, kamu baru menyadari sikapku ini, bukan.” Kali ini Eren dengan kuat melepaskan rengkuhan Zean di badannya, tapi saat terlepas, ia justru malah tak bisa menahan badannya sendiri. Ujung-ujungnya, ia malah hilang keseimbangan dan nyaris jatuh. Tapi Zean dengan cepat menangkapnya. “Ku antar ke kamar saja, ya,” ujar Zean membawa Eren ke kamar. Ditatap dengan begitu intens, dipeluk dengan sebuah kehangatan penuh rasa nyaman, dan sekarang malah menggendongnya menuju kamar. Sumpah! Rasanya seolah semua rasa sedang bergejolak di dalam hatinya. Sungguh, ini ia bingung dengan hatinya sendiri. Perasaan apa yang sedang menggerogotinya, hingga berada dalam gendongan Zean membuat jantungnya seakan mau copot. Kenapa tiba-tiba cowok ini membuat hatinya resah dan gelisah. Sampai di kamar, ia dudukkan Eren di tempat tidur. “Jangan dipaksakan buat jalan, ya,” ujar Zean. Eren hanya mampu mengangguk saat menjawab pertanyaan Zean. Lidahnya kelu dan mati rasa. Sikap sahabat kakaknya ini membuatnya bingung. Tak berkata lagi, Zean berlalu dari kamar Eren. “Astaga! Dia pergi gitu aja tanpa pamit, tanpa bilang apapun juga.” Merebahkan badannya di kasur, seolah sedang mengatur detakan jantungnya yang seakan akan berdetak lebih cepat. “Tiba-tiba tu cowok bikin gue jadi aneh. Bukan ... bukan hanya gue yang aneh, dia pun juga ikutan aneh.”   ---000---   Zean menemui Ken di kamar yang saat itu sedang sibuk di depan laptopnya. “Udah selesai?” tanya Ken saat tahu saja kalau yang masuk adalah Zean. “Apanya?” Ken tak menjawab. Ia memutar posisi duduknya dan mengarah pada Zean yang duduk di sofa. “Lo ada masalah?” tanya Ken saat melihat tampang sobatnya yang seperti sedang memikirkan sesuatu. “Nggak ada.” “Sama Eren?” Berbohong pun, tetap saja ia paham kapan Zean akan berkata jujur dan kapan dia berbohong. Zean beranjak dari duduknya, kemudian bersidekap d**a dihadapan Ken. “Besok gue berangkat,” ujarnya. “Ze, loe yakin?” “Dan masalah Eren, gue berpikir untuk mundur,” tambahnya. “Eh, lo nggak serius, kan?” tanya Ken tak percaya dengan pernyataan sobatnya. “Gue serius,” responnya. “Sepertinya ini nggak bisa dilanjutkan lagi. Urusan sama Om dan Tante, nanti biar gue yang bicara dan jelasin,” tambahnya langsung berlalu pergi dari sana. Ken hanya menyandarkan punggungnya di kursi saat menerima keputusan yang dibuat sobatnya itu. Padahal sudah sejauh ini dan dia memutuskan untuk mundur. Ini sama saja dengan balik pulang setelah menempuh perjalanan jauh karena sudah pasrah. “Tahu ngak rasanya seperti apa? Itu kayak gue udah kerja keras, tapi nggak dapat gaji,” gerutu Ken.                                
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN