Tahu tidak, ini rasanya memasuki area sekolah, seakan-akan ia seperti murid baru tanpa mengenal siapapun di sini. Semua itu karena permasalahannya dengan Glenn dan Sandra. Ia tahu jika dirinya tak salah, tapi rasanya tak tahan jika nantinya harus bertemu dengan dua manusia pengkhianat itu.
Masuk kelas, ia dapati Kalina dan Sandra sedang ngobrol, seperti biasa ... masih seperti sebelum adanya masalah. Sedangkan sekarang status keduanya sudah berbeda. Satu adalah sahabatnya dan yang satu adalah pengkhianat.
“Pagi, Ren,” sapa Kalina dengan riang.
Ya, seperti biasa, selalu ceria meskipun ini masih pagi. Hanya saja dia sepertinya tak tahu tentang permasalahan yang sedang ia hadapi dengan Sandra.
“Ren ... lo kok duduk di depan?” tanya Kalina saat Eren malah duduk di kursi depan, di samping kursinya dengannya. Kan, biasanya dengan Sandra di belakang.
Tak ada jawaban yang diberikan Eren. Seolah-olah ia enggan untuk mengeluarkan suaranya di dekat Sandra.
Kalina bingung dengan apa yang terjadi pada Eren. Pandangan aneh juga ia arahkan pada Sandra yang duduk di sampingnya. Sepertinya dua sahabatnya ini sedang bermasalah. Atau, satu masalah yang dihadapi?
“Kalian berdua kenapa, sih?” tanya Kalina pada Sandra dan Eren bergantian. Apa gue melupakan sesuatu atau justru ketinggalan sesuatu yang penting?”
Seolah tak perduli, Eren malah menyibukkan dirinya dengan membaca sebuah buku. Setidaknya hatinya tak akan ia buat sakit lagi, hanya karena memikirkan hal-hal tak penting itu.
“San ...”
Jujur, ia merasa ada yang terjadi, tapi posisinya ia tak diberitahu. Atau, memang menganggap dirinya tak terlalu penting untuk diberi tahu.
“Kalian berdua ngeselin, tahu nggak,” umpat Kalina saat dirinya merasa diabaikan oleh sahabatnya sendiri.
Jam pelajaran di mulai, baik Sandra ataupun Eren seolah tak saling mengenal satu sama lain, sedangkan Kalina merasa jadi orang yang serba salah. Bertanya pada Sandra, diabaikan. Bertanya pada Eren, hasilnya juga sama. Dan itu semua terjadi sampai jam sekolah berakhir. Bahkan saat istirahta pun, Erean memilih untuk diam duduk di kelas, sedangkan Sandar keluar dan kembali saat jam masuk lagi.
Pulang sekolah, Eren dengan cepat keluar terlebih dahulu dari kelas. Begitupun dengan Sandra yang sepertinya ingin menyusul. Kalina yang penasaran, dengan cepat ikut mengikuti langkah kedua sobatnya yang hari ini benar-benar aneh.
Keluar dari gerbang sekolah, Eren berniat menghentikan sebuah taksi. Ia memang dijemput oleh Ken, tapi saat harus bertemu dengan Sandra ... membuat hatinya sakit lagi dan memilih untuk langsung pulang daripada harus menunggu Ken yang masih belum datang.
“Ren, gue mau ngomong,” ujar Sandra menyambar pergelangan tangan Eren saat hendak menghentikan sebuah taksi.
Dengan cepat ia hentakkan tangan Sandra yang memegangi tangannya.
“Gue nggak mau bicara sama pengkhianat!”
“Gue mau jelasin semuanya. Pliss,” harap Sandra.
Kalina sampai di depan keduanya.
“Kalian berdua kenapa, sih? Jangan bikin posisi gue seolah diabaikan di sini. Kita sahabatan, kan,” ujar Kalina pada keduanya.
Eren bersidekap d**a, kemudian memasang wajah sinis. “Sahabat macam apa yang ternyata berkhianat? Apa ada, sahabat yang membuat hati sahabatnya sakit?”
“Maksud lo apa, Ren?” tanya Kalina makin dibuat bingung.
“Jangan tanya gue, tapi tanya sama dia yang masih lo anggap sahabat.” Menunjuk ke arah Sandra. “Karena bagi gue, dia adalah pengkhianat!”
“Iya, gue salah. Gue salah, Ren. Tapi ...”
“Lo lakuin apa, Sandra?” tanya Kalina.
Sandra menundukkan kepalanya. Jujur, ia salah. Hanya saja, ia juga tak bisa berbohong kalau ia cinta pada Glenn. “Gue jadian sama Glenn di belakangnya Eren,” ungkap Sandra perlahan.
“A-apa?!” Kalina kaget atas pengakuan Sandra. “Lo tahu, kan, kalau Eren sama Glenn pacaran. Tapi lo malah ... Sumpah! Gue bingung harus bersikap gimana sama lo, San.”
“Gue minta maaf ... jujur gue nggak bisa membohongi hati gue sendiri, kalau gue juga cinta sama Glenn.”
Kalina sampai tak habis pikir, haruskah Sandra main belakang seperti itu. Demi apa sebuah persahabatan yang sudah terjalin lama, malah mendapatkan masalah yang rumit begini.
Hatinya sakit, apalagi jika yang melakukan adalah sahabatnya sendiri. Orang yang ia percayai dan tempatnya curhat.
“Apa harus menusuk gue dari belakang?” tanya Serena. “Oke ... lo cinta, kan sama dia. Tak bisakah mengakui semua itu? Tak bisakah lo jujur ke gue? Dan lo tahu, kan, apa arti sahabat buat gue ... bahkan status itu lebih berarti dari seorang pacar. Gue rela, melepaskan dia hanya untuk kebahagaiaan lo. Tapi sekarang sepertinya itu nggak berlaku lagi.”
“Gue takut lo marah,” sahut Sandra.
“Dan menurut lo saat gue tahu setelah kejadian begini, gue nggak marah. Begitukah? Jangan berpikir sepicik itu, San. Gue punya hati, punya perasaan dan gue juga punya kebencian!”
Glenn tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Sandra. Bahkan dengan tanpa rasa bersalah, dia malah merangkul gadis itu agar semakin mendekat padanya.
Penampakan yang benar-benar membuat Eren merasa hatinya seolah sedang ditarik paksa. Bahkan Kalina saja yang bukan korban, bisa tahu apa yang dirasakan Eren saat ini.
Tersenyum sinis. “Kalian benar-benar pasangan yang cocok, ya ... cocok untuk jadi pengkhianat!” ketus Eren.
Mendengar perkataan Eren, Glenn merasa muak. Dengan sengaja ia malah mendorong gadis itu kuat, hingga jatuh di jalan. Bahkan saat sandra berniat membantu, tak dibiarkannya.
Kalina dengan segera membantu Eren yang terlihat kesakitan pada bagian kakinya. Sepertinya sesuatu terjadi, karena saat berdiri, dia meringis.
“Lo nggak apa-apa, kan, Ren?” Pertanyaannya tak dijawab oleh Eren.
“Harusnya lo tahu, Ren ... kalau elo, bukan yang terbaik. Sudah gue bilang, kan ... Sandra lebih dari segalanya dari lo!”
Eren hanya bisa menahan tangis dan menahan hati. Karena kalau menangis lagi, akan terlihat sekali kebodohannya di depan dua pengkhianat ini.
Tangannya seolah ingin memberikan pukulan pada mulut Glenn yang dengan gampangnya mengatakan hal itu. Tapi saat hendak melakukan, tiba-tiba saja Kalina malah mendahului niatnya itu.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Glenn dengan kuat dari Kalina. Menatap tajam ke arah cowok yang jadi penyebab hubungan mereka bertiga jadi berantakan. Bahkan kini dengan sengaja menyakiti Eren.
“Glenn ... sebenarnya itu bukan buat lo, tapi buat Sandra. Tapi gue yakin, meskipun lo yang menerima, pasti rasa sakit itu sampai ke hati dia.” Beralih menatap Sandra. “Pengkhianat!”
Glenn dibuat semakin emosi, apalagi dengan sikap Kalina yang seolah ikut campur tentang masalah ini. Berniat menampar balik, tapi tak terjadi saat seseorang menahan tangannya dan menghentakkan dengan kasar.
Kalina hanya bengong, saat tadi berpikir pipinya akan terasa sakit akan tamparan yang akan diberikan Glenn, justru kini ia dihadapkan dengan tampang keren Ken di depan matanya. Hingga akhirnya ia sadar dan berdiri di dekat Eren yang tampak kesakitan.
“Jadi, ini cowoknya?” tanya Ken bergumam dihadapan Glenn.
Mendapati siapa yang ada dihadapannya kini, jujur, Eren kaget. Sepertinya masalah akan berlanjut jika kakaknya ini muncul. Padahal ia berusaha agar semua ini terhenti, jangan lagi berlanjut dan terlupakan begitu saja.
“Kak, kita pulang aja, yuk,” ajak Eren pada Ken dengan sedikit meringis.
“Dasar cewek tukang ngadu. Masa masalah ini saja lo bawa-bawa sampai keluarga!” Intinya ia memang sedang meledek sikap Eren yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.
Pandangan Ken mengarah pada Sandra. Entah karena memang tahu salah, membuat gadis ini bahkan tak berani menatapnya. “Setidaknya dia bukan golongan manusia pengkhianat,” responnya santai. “Hanya demi cowok jenis ini.” Beralih menatap tajam ke arah Glenn.
Tangan Glenn mengepal, tapi Ken malah terkekeh melihat itu.
“Ck, dasar bocah! Sorry ... gue nggak suka main otot, karena otak lebih menguntungkan. Dan gue yakin, itu tangan pasti nggak steril. Jadi, simpan saja otot lo buat ngangkat galon di rumah. Intinya, gue main halus, tapi berkesan!”
Oke ... ini situasinya serius, loh, ya. Tapi perkataan Ken justru malah membuat tawa Kalina langsung meledak seketika. Astaga! Sungguh, rasanya tak bisa ditahan. Hingga akhirnya ia sampai menutup mulutnya saat Eren menyikutnya, karena tak ingin Ken sampai kesal akan sikapnya itu.
Dengan santai, Ken berbalik dan menghampiri Eren yang berpegangan pada kalina.
“Jangan tunjukkan wajah cengeng itu padaku,” ujar Ken pada Eren.
“Tapi ini beneran sakit, loh. Sebagai Kakak yang baik, nggak mau menggendongku?”
Menghela napasnya berat, saat mengingat sikap adiknya yang suka bikin esmosinya naik turun dalam sekejap. Bisa bisanya dia merengek saat kondisi seperti ini. Yap, inilah kenapa ia tak ingin jika Eren sampai jatuh ke tangan yang salah.
Eren sudah masuk ke dalam mobil, tapi ia justru dikagetkan dengan Kalina yang masih ada di situ.
“Dan kamu, mau apalagi?” tanya Ken sambil bersidekap d**a.
“Hmm ... aku mau bilang makasih.”
“Atas?”
“Karena Kakak, aku nggak jadi dapat tamparan itu."
“Hanya kebetulan,” responnya singkat.
“Itu saja?”
“Mau mendapatkan sesuatu yang lebih?” tanya Ken balik.
Dengan cepat Kalina mengangguk. Mimpi apa ia semalam, sampai dihadapkan dengan cowok keren seperti Ken. Sebelumnya, jangan ditanya lagi. Jangankan bicara, dia saja seolah abai saat dirinya datang berkunjung ke rumah. Seolah-olah diri ini hanya sebuah pisau dapur yang sudah karatan.
Melangkah dan berdiri semakin mendekat pada Kalina. ”Hadiah dariku,” ujarnya langsung menyentil dahi gadis itu, hingga dia meringis mengusap-usap bekas sentilannya.
“Itu hadiah buatmu karena membuatku kesal. Saat aku serius, jangan anggap bercanda. Aku tak suka itu.”
Setelah mengatakan itu, Ken segera berlalu dari hadapan Kalina. Memasuki mobil dan dengan cepat melajukan kendaraan itu.
“Hwaaa ... Kak ken meresahkan,” ujar Kalina menatap kepergian cowok itu sambil mengusap dahinya yang mendapatkan hadiah dari Ken.