Zean duduk di samping Serena yang masih menangis. Bahkan sekeluarnya Ken, dia makin menjadi-jadi tangisnya. Jujur, ia kasihan ... hanya saja ia juga tak bisa berbuat apa apa. Setidaknya hanya bisa melerai sobatnya agar tak terlalu menunjukkan emosi pada Serena.
“Belum puas menangis dari sore?”
“Kak Zean, nggak mau memelukku?” tanyanya pada Zean.
“Sudah ada Ken, kan,” balas Zean.
Eren malah langsung saja memeluk Zean. “Aku mau dipeluk sama kamu saja. Kak Ken begitu menakutkan kalau lagi marah. Jantungku seakan mau copot,” jelasnya memeluk Zean sambi menangis.
Zean malah terkekeh mendengar penuturan Eren. “Dia begitu karena sayang dan memikirkanmu. Bukan karena marah atau membencimu. Itu yang harus kamu ingat.”
“Jangan-jangan kamu kalau lagi marah juga begitu, Kak ... kalian kan couple sejati.”
“Saat orang yang ku cinta dan ku sayang dibuat menangis, hal yang sama juga ku lakukan. Tapi tentunya dengan cara yang berbeda.”
Lagi-lagi Zean membuatnya kesal. Apa cowok ini sengaja membuatnya sakit hati? Karena setiap memeluknya pasti malah membicarakan dia, dia, dan dia yang entah siapa makhluknya.
Eren melepaskan pelukannya pada Zean. Tapi baru saja lepas, dia kembali menariknya.
“Saat dia yang ku sayang dan ku cintai sedang menangis atau merasa sedih, mungkin aku akan memeluknya seperti ini.” Mengeratkan pelukannya pada Eren, agar dia tak lepas. “Berharap ada didekapanku dia akan merasa lebih nyaman dan tenang,” lanjutnya berbisik.
Seperti dihipnotis, sikap dan perkataan Zean seakan-akan membuatnya tak bisa berkutik. Bukan hanya itu, rasanya saat dia memeluk erat, jantungnya diajak deg-deg’an parah. Apa ini? Kenapa ia jadi bersikap seperti ini? Ingin melepaskan diri, tapi benar ... pelukan Zean benar-benar membuatnya nyaman dan tenang.
Lagi, kini ia melepaskan diri dari Zean.
“Kak Zean ... aku mau bicara jujur,” ujarnya.
“Bicaralah,” balas Zean sambil menghapus bekas air mata di kedua pipi Eren dengan jemarinya.
“Kamu membicarakan perihal rasa nyaman dan tenang, kenapa aku malah merasakan dua hal itu saat di dekatmu. Aneh ... sepertinya otakku sedang bermasalah,” terangnya.
“Bukan otakmu yang bermasalah, tapi hatimu yang mulai bermasalah.”
“Maksudmu?’’
Zean tak menjawab pertanyaan Eren. Helaian rambut yang menutupi wajah gadis itu ia sisipkan dibalik telinga dia.
“Mending kamu sekarang tidur, ini sudah malam. Besok sekolah, kan.”
Ia penasaran, tapi Zean seolah menghindari apa yang sedang ia bahas. Tapi benar apa yang dia bilang, ini sudah larut malam dan ia tak ingin besok sampai menguap nggak jelas di sekolah hanya gara gara masalh mantan pacar dan mantan sahabat nya itu.
“Ku harap besok saat kamu bangun, jangan memikirkan hal-hal ini lagi. Jangan mengeluarkan air mata lagi.”
Eren mengangguk cepat. “Good night,” ucapnya mulai merebahkan badannya dan memejamkan mata. Sekalian, ia berharap besok pas bangun dirinya mengalami amnesia, hingga tak akan mengingat masalah yang sedang ia rasakan.
Awalnya ia masih merasakan belaian tangan Zean di kepalanya, hingga akhirnya semua itu tak terasa lagi. Alam mimpi mulai ia masuki, karena memang sudah mengantuk juga.
“Good night,” ucapnya saat mendapati Eren sudah tidur dengan tenang. “Jangan ada lagi air mata setelah ini.”
Mencium bibir manis itu dengan lembut. Ini bukan yang pertama kali ia lakukan, tapi sudah beberapa kali. Hanya mampu melakukan di saat dia tidur. Karena saat terjaga, tentu saja dirinya mungkin akan digampar habis habisan.
Keluar dari kamar Eren dan menghampiri Ken yang ada di ruang keluarga.
“Gimana Om sama Tante?” tanyanya.
“Mereka sehat,” jawab Ken meletakkan ponselnya di meja, kemudian menatap Zean dengan tanjam.
“Apa?” tanya Zean melihat tatapan aneh sobatnya itu.
“Lo nggak kesal atau marah gitu?”
“Atas apa?” tanya Zean balik atas pertanyaan yang diberikan Ken padanya. Entah ini pertanyaan menjurus ke pembahasan apa.
“Dia punya kekasih.”
Zean menyenderkan punggungnya di sofa, seolah mencari penjelasan yang pas untuk diutarakan pada Ken.
“Tadi pagi dia ijin mau kencan sama cowok itu dan gue ijinin,” terang Zean.
“Lo bodoh atau kebal, sih?”
“Kebal untuk mendapatkan sesuatu, mungkin, ya,” jawab Zean tersenyum hambar. “Setidaknya ngedapetin sesuatu, nggak harus dengan paksaan, kan.”
“Gue kesal kalau ngeliat dia nangis, berasa pengin bacok tu cowok.”
“Dan gue juga kesal saat elo ngomelin dia tadi,” timpal Zean akan perkataan Ken.
Ken malah melempar Zean dengan bantal sofa. “Apaan, lo ... nggak jelas. Itu gue saking kesalnya, yakali gue ngomelin dia sampe pake emosi.”
“Ya ... tapi setidaknya semua ini lumayan berhasil, sih.”
Ken menyambar minuman yang ada di meja ... kemudian meneguk hingga habis.
“Jangan lakuin yang aneh-aneh sama adik gue. Awas lo,” peringatkan Ken.
Zean beranjak dari kursinya dan menghampiri Ken. “Sedikit aneh, boleh kan,” balasnya berbisik dan berlalu pergi sambil tertawa meninggalkan Ken yang mengumpat.
---000---
“Masih mau tidur?”
Pertanyaan tiba-tiba seperti itu langsung membuatnya melek seketika dan bangun. Mendapati Ken sudah ada dihadapannya.
“Kakak, aku ...”
Ken mengacak rambut adiknya itu dengan gemas. “Aku nggak marah padamu, hanya saja aku kesal pada dia yang membuatmu menangis. Aku menjaga agar kamu nggak pernah bersedih, tapi orang lain justru yang melakukan itu,” jelasnya.
“Aku yang salah,” lirihnya mengakui.
“Iya, aku yang salah karena ternyata masih belum bisa menjagamu,” lanjut Ken.
Serena ingin memeluk kakaknya itu, malah niatnya dia hentikan.
“Aku ingin memelukmu,” ujar Eren dengan tampang meweknya.
“Baru bangun tidur, belum mandi, kan? Jangan memelukku. Masih bau. Sana, sterilkan dulu badanmu.”
Tampang Eren langsung berubah kecut. Bisa bisa nya Ken membahas masalah kebersihan di saat kondisi yang jujur saja ia butuh pelukan.
“Ya ampun ... ternyata kakakku tak mengalami perubahan sama sekali. Hwaaa ... masih nyebelin, ngeselin.”
Ken menyentil dahi Eren, berharap adiknya sedikit bersikap waras. Dikira dirinya apaan, pake acara berubah segala.
“Tetap saja, kesterilan suatu benda atau makhluk, merupakan jalan menuju sehat. Lihatlah dirimu sekarang, jangan jangan cuman dipegang tangan doang sama tu cowok, langsung kelepek klepek nggak jelas. Yakin nggak, itu sentuhan dia steril?”
Andai semua orang di dunia ini tahu kalau ia memiliki seorang kakak yang bangetnya kebangetan ini, yakinlah ... cewek yang naksir sama tampang kerennya ini, juga bakalan ikutan ngacir melarikan diri.
“Kak Zean aja nggak komentar waktu ku peluk. Kalian berdua kan seperti pinang dibelah dua,” umpatnya dengan nada kesal.
Ken menatap Eren dengan senyuman aneh dan penuh telisik. “Wahh ... kamu meluk Zean?”
“Bukan, bukan. Maksudku ...”
“Ren ...” Memberikan lirikan tajam penuh hawa menelisik.
“Bukan yang meluk gitu juga, tapi ...”
Melihat tampang songong Ken, membuatnya jadi kesal. Apa-apaan pikiran kakaknya ini tentang dirinya.
“Ish ... Kakak nyebelin!”
Segera, ia beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Bisa-bisa kalau terus dihadapkan dengan Ken, dirinya malah melupakan kalau dia adalah kakaknya.
Sedangkan Ken ... melihat ekspressi Eren, ia malah tertawa. Rasanya begitu menyenangkan saat melancarkan aksinya dan hasilnya berhasil. Setidaknya dia bisa melupakan hal yang membuat dia menangis semalam.
---000---
Sampai di dekat gerbang sekolah, Serena malah seolah tak berniat untuk turun. Ia hanya memandang lurus mengarah ke area sekolahnya itu.
“Kesal, karena yang nganterin bukan Zean?”
“Ih ... apaan, sih, Kak. Aku juga nggak sebegitu kurang kerjaannya hingga mikirin Kak Zean,” berengutnya.
“Trus, kenapa itu muka dari rumah ku liatin masih jelek aja nyampe sini.”
Eren mengubah posisinya jadi menghadap Ken.
“Menurut Kakak, aku harus bersikap seperti apa?”
“Sama siapa?”
Eren menghela napas saat kakaknya yang katanya pintar ini, tapi seolah tak paham siapa yang sedang ia bicarakan.
“Ya, mantanku itulah. Dan juga, Sandra.”
“Ooo ... jadi, Sandra,” gumam Ken. Setidaknya ia tahulah, siapa saja teman adiknya ini. Sandra dan Kalina. Duo gadis yang terkadang saat ke rumah, bikin rumah berasa heboh.
“Kenapa? Senang, ya ... karena ternyata bukan Kalina. Berharap, kan ... digodain terus sama dia.” Giliran dirinya yang meledek Ken.
“Abaikan,” respon Ken.
“Siapa?”
“Maksudku, abaikan saja mereka berdua,” jawab Ken. “Jangan memperlihatkan muka sedihmu itu. Nggak mau, kan, terlihat begitu menderita karena dikhianati dan terlihat lemah? Sekali-sekali, pasang muka jutek apa salahnya, sih?”
“Apa aku kurang jutek menurutmu?” Bertanya dengan wajah penuh keseriusan.
“Paling beraninya masang muka jutek padaku doang, karena nggak dikasih ijin shooping,” respon Ken.
Eren menghempaskan punggungnya saat mendapat jawaban Ken.
“Aku serius dan kamu bercanda terus, Kak. Kalau nanya sama Kak Zean, pasti pertanyaanku dia tanggapi dengan serius. Sampai sampai aku kadang jadi bingung sendiri menanggapi penjelasan dia,” terangnya sambil bersidekap d**a, membandingkan duo cowok tampan itu.
“Zean lagi,” komentar Ken melirik ke arah Eren. “Apa dia meresahkan hatimu ... hingga membuatmu jadi sering menyebut dan mengingat namanya? Aku lupa ngitung, dari bangun tidur kamu udah berapa kali menyebut nama Zean.” Tersenyum penuh makna.
Pertanyaan penting ditanyakan Ken padanya. Benar juga, ya ... kenapa akhir-akhir ini ia malah fokus ke Zean. Padahal ia habis putus, loh, ya. Otomatis harusnya kan mengingat masa-masa sama Glenn. Lah ini, otaknya malah seolah mentok di Zean.
“Hello,” seru Ken saat menatap Eren yang terlihat bengong.
“Aku mau curhat,” ujarnya langsung.
“Jangan-jangan perihal Zean lagi,” tebak Ken.
“Mungkin,” sahutnya dengan senyuman aneh.
“Kenapa dia?” Ingin tertawa rasanya dengan sikap adiknya yang begini. Jarang jarang dia mau curhat padanya. Bisanya ia cuman jadi tempat rengekan.
“Aku mimpi aneh, tapi bukan aneh-aneh banget, loh, ya ... cuman di mimpi itu, masa aku di ...” Agak ragu untuk menjelaskan.
“Di?”
“Tapi jangan marah. Aku kan cuman mimpi.”
Ken menarik napasnya berat saat ia menunggu apa yang akan dikatakan Eren, adiknya itu malah menunda-nunda perkataannya.
“Aku tahu,” balasnya santai. “Pasti kamu mimpi dicium sama Zean, kan.”
Mata Eren melebar saat mendengar apa yang dikatakan kakaknya.
“K-kok Kakak bisa tahu. Aku belum bilang, loh, ya. Apa jangan-jangan kamu bisa membaca pikiranku, Kak?” Keren sekali kalau memang benar begitu.
“Dia menciummu?”
“Mimpi,” ujar Eren.
“Bukan,” balas Ken.
“Kamu lagi nanya atau apa, sih, Kak?” Membangongkan sekali kan perkataan Ken.
“Aku lagi ngasih tahu, kalau itu beneran, bukan mimpi, Eren Sayang.”
“Ish ... kamu nggak waras, Kak,” umpatnya kesal.
Menyambar dan mencium punggung tangan kakaknya itu dan langsung keluar dari mobil. Padahal ia sedang curhat aneh, malah dia bilang yang tidak-tidak. Yakali Zean menciumnya.