Eren duduk di samping Zean dengan sebuah guling yang ia bawa dari kamar. Menatap fokus pada cowok yang saat itu sedang bicara di telepon dengan seseorang. Hanya jadi pendengar yang baik, saat cowok itu terkadang hanya mengeluarkan kata-kata singkat saat bicara di telepon. Sungguh ... itu yang jadi lawan bicaranya pasti merasa gregetan.
“Kak Zean nggak pulang?” tanya Eren saat Zean selesai bicara di telepon.
Zean menatap dingin ke arah Eren.
“Suka sekali mengusirku.”
“Aku, kan, lagi nanya, Kak.” Menghela napasnya berat, saat pertanyaannya justru dikira pernyataan.
Zean menyandarkan punggungnya di sofa.
“Maaf, merepotkanmu,” ucap Eren memasang wajah bersalah.
“Tak apa, jika itu membuatmu senang,” balas Zean.
Serena malah merebahkan badannya begitu saja, dengan kedua paha Zean sebagai bantalan dan kemudian memeluk guling.
“Jadi, menurutmu gimana, Kak?” tanya Serena.
“Apanya?” Tiba tiba bertanya begitu, tentu saja membuatnya bingung.
“Ya, aku.”
“Aku nggak tahu,” respon Zean singkat.
“Kasih solusi atau apa gitu.”
“Jalan pikiran dan perasaanku denganmu berbeda, Ren ... jadi nggak akan nyambung meskipun ku kasih solusi. Kamu nggak pernah mendengarkan setiap apa yang ku katakan, kan ... apalagi jika aku memberikan sebuah solusi, Itu sepertinya akan sia sia.”
Eren seketika bangun dan duduk dihadapan Zean. Menatap fokus pada cowok itu. “Kalau gitu, buat pikiran dan perasaanku sama denganmu. Gimana?”
“Hah?”
“Kenapa?”
“Tak bisa dipaksakan, harus datang dengan sendirinya,” balas Zean.
Eren memasang wajah malas dan kembali ke posisi tidurnya. Biasanya jam-jam segini ia sibuk chat’an sama Glenn, tapi sekarang tidak lagi. Rasanya hidup benar-benar terasa sendiri. Yang ada di sisinya sekarang justru Zean, dengan segala kekaleman. Berasa nggak nyambung kalau diajak ngobrol pun.
Sentuhan Zean tiba-tiba membuyarkan kegalauan hatinya. Iya, hanya usapan di kepalanya dengan begitu lembut, mampu membuatnya lupa akan masalah yang tengah dirasakan. Apa ini? Kenapa rasanya pengaruh Zean begitu besar pada hatinya.
“Masih memikirkan dia?” tanya Zean.
“Enggak,” jawabnya pasti.
“Baru putus loh, masa bisa melupakan dengan secepat itu.”
“Entahlah. Tapi rasanya juga aneh. Tadi aku juga masih merasa sedih, sakit hati dan pengin nangis terus ... tapi kenapa pas di dekatmu malah semuanya jadi hilang, ya.”
Tangan Zean yang tadinya mengelus lembut kepala Eren, tiba-tiba terhenti saat mendengar penjelasan gadis itu. Apa yang dia katakan, sih ... membuatnya jadi bingung mau bersikap.
Zean tersenyum. “Itu berarti aku mengalahkan mantanmu.”
Eren yang tadinya tidur dengan posisi miring, kini memilih menengadah. Hingga posisinya kini tepat berada dihadapan Zean.
“Kak Zean, aku mau nanya sesuatu.”
“Silahkan.”
“Kakak nggak punya pacar?”
“Kamu menebak atau sedang bertanya?”
“Kak,” rengeknya saat dirinya selalu dipermainkan oleh cowok ini hanya lewat kata-kata.
“Untuk apa pacaran, sih ... kalau juga ujung-ujungnya malah putus. Udah buang-buang waktu, buang buang air mata.” Melirik Eren yang ada dihadapannya.
“Jangan menyindirku,” berengut Serena ketika dengan langsung disindir oleh Zean.
“Itu bukan sindiran, tapi aku memang sengaja menjadikanmu contoh.”
Eren tak membalas lagi perkataan Zean. Sejujurnya ia awalnya ingin meledek Zean karena status jomblo dia itu, tapi justru malah dirinya yang kena. Kan, senjata makan tuan jadinya.
“Jadi, menurutmu gimana?”
“Tanpa status pacaran, melihat dia tersenyum saja sudah membuat hati lega. Meskipun rasanya justru terasa sakit, saat dia yang dipikirkan, malah memikirkan orang lain. Mungkin itulah yang sedang ku rasakan. Tapi ...”
“Seketika aku miris dengan diriku sendiri.” Menimpali perkataan Zean dan menatap cowok itu dengan rasa kesal. “Tolong jauhkan tanganmu dari kepalaku, saat otakmu sedang memikirkan dia!” kewtus Serena.
Dahi Zean sampai berkerut dengan perkataan Eren. Kenapa tiba-tiba dia jadi aneh. Apa dia marah akan perkataannya yang justru malah terkesan biasa.
“Kenapa?”
“Jangan tanyakan kenapa, karena aku juga nggak tahu apa sebabnya,” responnya cepat.
Menyingkirkan tangan Zean yang masih berada di pucuk kepalanya, kemudian segera bangkit dari posisi tidur dan langsung beranjak berlalu pergi dari sana dengan langkah cepat menuju kamar. Tiba-tiba ia merasa kesal sampe ke ulu hati. Kenapa juga dia curhat sampai sebegitu dalamnya pada dirinya yang sedang mengalami patah hati ini. Dasar! Enggak prihatin sama sekali itu cowok.
Zean hanya menatap langkah Serena dari kejauhan, kemudian tersenyum puas. Ia tahu apa yang dirasakan gadis itu kini.
“Wajah dan ekspressi mu yang seperti inilah yang ku harapkan,” gumamnya beranjak dari duduknya, berniat menyusul Serena, tapi niatnya terhenti saat mendengar sebuah deru mobil yang memasuki area rumah.
Tanpa melihat, ia tahu pasti siapa yang datang. Yap, siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Ken. Tepat seperti yang dia katakan, hanya bolak balik sekadar mengantarkan sebuah file.
Ia berdiri di depan pintu sambil bersidekap d**a.
“Gue kira lo nggak bakalan balik-balik,” ujarnya menyambut Ken yang turun dari mobil.
“Iya ... ntar kalau tu anak dah gue alihin tanggung jawabnya sama elo,” balas Ken menonjok perut Zean dengan sengaja.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, Ken celingak-celinguk seperti mencari seseorang.
“Dia di kamar,” ujar Zean saat tahu kalau yang dicari Ken adalah Serena.
“Tumben jam segini dia dah masuk kamar? Girang banget pasti dia kalau gue nggak ada di rumah.”
“Putus cinta,” ujar Zean langsung.
Seketika ken kaget. “Maksud lo?”
“Lo nggak tahu kalau dia punya pacar?” Zean malah balik bertanya.
Ken menggeleng.
“Dia lagi uring-uringan karena habis putus cinta. Bukan, lebih tepatnya tu cowok dua’in dia sama sahabatnya sendiri.”
Ken dengan cepat berlalu menuju ke lantai atas. Ya, apalagi kalau bukan menemui adiknya itu. Terlebih, masalah pacaran yang di maksud Zean.
“belum juga ngasih penjelasan, itu makhluk dah gerak jalan duluan,” keluh Zean atas sikap sobatnya.
Tanpa mengetuk pintu kamar, langsung saja Ken masuk ke ruangan dengan nuansa putih yang mendominasi. Pintu terbuka, ia dapati adiknya tengah tiduran dengan menyembunyikan kepalanya dibalik bantal. Ayolah, tangisan itu bisa ia dengar loh.
“Eren,” panggil Ken dengan sengaja memukul bantal yang menutupi kepala adiknya itu.
“Apalagi, sih, Kak?!”
Ia langsung bangun dan duduk sambil mengumpat kesal. Matanya tiba-tiba melebar. Berpikir jika yang masuk dan menghampirinya adalah Zean, tapi justru macan kedua yang ada dihadapannya kini.
“Kak Ken!!!” histerisnya langsung berdiri di atas tempat tidur dan menghambur ke pangkuan kakaknya itu. Serius, ia kangen dengan cowok nyebelin ini.
Ken yang mendapat perlakuan itu merasa kaget. Kenapa adiknya tiba-tiba jadi aneh begini. Apa yang terjadi dengan otak dia saat ia tak ada di sini?
“Aku merindukanmu, Kak,” ujarnya masih berada dalam gendongan Ken.
“Otakmu lagi bermasalah, ya?”
Mendengar pertanyaan Ken, membuat tampang Eren berubah kecut.
“Gara-gara temanmu, otakku jadi sakit. Lain kali jangan menitipkanku padanya,” berengutnya sambil melirik Zean yang sedang bersidekap d**a di dekat pintu.
“Kalau sakit hati, jangan menumbalkan aku,” respon Zean.
“Nyebelin!” umpatnya turun dari gendongan Ken.
Tiba-tiba saja ia kesal pada Zean entah apa sebabnya.
“Kenapa menangis?”
Eren tak menjawab, seolah-olah ia dengan sengaja menutup rapat bibirnya. Kemudian menatap tajam ke arah Zean yang justru malah mengabaikan pandangannya. Pasti dia sudah bicara sesuatu pada kakaknya ini. Matilah ia di tangan Ken. Bukan karena dibunuh, tapi justru karena dia terlalu ganas kalau memberikan omelan.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawabnya kembali duduk di pinggiran tempat tidur.
“Bohong atau aku yang cari tahu sendiri?” tanya Ken menatap tajam pada Eren.
Kalau sudah seperti itu kata kakaknya, ia harus apalagi kalau bukan pasrah. Karena kalau dia cari tahu, tentunya masalahnya jadi panjang, berbelit-belit dan bukan tidak mungkin dia bakalan menemui Glenn apalagi Sandra. Padahal ia berniat menutup semua masalah ini.
“Maaf, aku pacaran tanpa sepengetahuanmu,” gumamnya lambat dengan menundukkan kepalanya.
Ken tak terlalu kaget, karena tadi Zean sudah mengatakan hal itu. Hanya saja ia kesal, kenapa adiknya malah melakukan apa yang tak ia ijinkan.
“Tahu, kan ... apa yang membuatku atau mama dan papa melarang kamu pacaran?”
Sedikit menundukkan kepalanya karena jujur, ia ngeri juga kalau Ken sedang marah. “Kata Kak Zean ...”
“Jangan kata Zean, karena ini urusannya denganmu!” bentak Ken yang seketika membuat perkataan Eren terhenti. “Tanpa dia bilang pun, kamu harusnya paham dong, Ren, apa ruginya.”
Ia akui masalah omelan, kakaknya ini sukses membuatnya ingin menangis. Apalagi jika ia merasa benar-benar salah. Stok air matanya yang melimpah, tak bisa ditahan untuk tak keluar. Anggaplah ia cengeng, tapi jika dengan ken, jujur saja ia tak berani.
“Aku cuman nggak mau kamu menangisi hal yang nggak penting seperti itu. Lihat, kan ... kamu akan terlihat bodoh karena terlalu polos bagi mereka yang penghianat!”
Zean sebenarnya tak tega karena Ken terus mengomeli Serena, tapi setidaknya dengan begini, mungkin akan lebih baik.
“Kalau bukan memikirkanmu, untuk apa aku tetap di sini. Orang tua kita, mereka sibuk. Tak punya waktu untuk mengurus aku ataupun kamu.” Buakn menyalahkan kedua orang tuanya, tapi begitulah nyatanya. Ia yang dewasa, setidaknya bisa menjaga adik satu satunya agar tak merasa kekurangan kasih sayang.
Eren hanya diam, sambil menahan tangisnya yang seakan ingin meledak. Bahkan menatap wajah kakaknya saja ia tak berani.
“Aku cowok, karena itu aku tahu seperti apa watak seorang cowok. Aku tak membebaskanmu untuk hal-hal itu, bukan karena ingin membelenggumu, Dek. Sebagai Kakak, aku hanya berusaha menjaga agar adikku tak tersakiti. Itu saja. Jika sudah begini, aku kembali berpikir ... ternyata selama ini aku tak berhasil menjagamu dengan baik. Kerja kerasku sia sia.”
“Aku minta maaf, Kak ... sungguh,” isaknya menatap kakaknya.
Zean berjalan mendekati Ken, memberi kode agar sobatnya itu segera menghentikan omelannya.
“Sampai di rumah, malah dapat sambutan seperti ini!” umpat Ken berjalan keluar dari sana meninggalkan Zean dan Serena dengan wajah memerah.