Dinner

2451 Kata
Hari ini aku sedang berada di puncak kebahagiaan. Rezky mengajak aku untuk dinner. Malam pertama dinner setelah malam penembakan itu, plus malam Minggu pertama aku. Syukurnya, walau pun sulit akhirnya aku dapet izin dari Mami untuk keluar bersama Rezky malam ini. Dan itu pun berkat bantuan dari Risa. Wah..., Risa memang sepupu yang the best deh pokoknya! Rezky, entah kenapa nama itu kini jadi nama paling indah yang aku tahu di sepanjang hidup aku. Seiring dengan berjalannya waktu sejak aku mengenal dia. Tak ada sedetik pun juga waktu tanpa memikirkan nama itu, Rezky. Berpikir apa saja yang dia lakukan tanpa ada aku di sampingnya. Berpikir tentang kapan dia akan menelepon, dan sekedar untuk mengirim sms. Dan berpikir tentang kapan kami akan bersama lagi. Berpikir tentangnya adalah pemikiran terindah. Berkhayal tentangnya adalah khayalan paling indah. Rezky.... __ Risa baru saja pulang dari rumahku sejak kami pulang dari sekolah tadi, dijemput bundanya, Tante Risa. Dia juga datang bermaksud untuk ketemu dengan Mami. Dan akibatnya Risa juga jadi punya waktu banyak untuk ngobrol sama aku. Dia juga puas meledek aku yang sudah tak sabar menunggu nanti malam untuk dinner. Sepertinya, lamban sekali waktu merayap. Rasanya ini adalah malam yang paling terlambat datang bagiku. Akhirnya, datang juga waktu yang dinanti. Lega banget rasanya! Aku buru-buru berganti pakaian yang paling bisa membuat aku terlihat cantik. Atau elegan itu lebih penting deh, kayaknya. Saat aku membongkar isi lemari, mencari mana di antara gaunku yang pantas untuk aku kenakan malam ini di hadapan dia. Dan di malam yang paling spesial ini. Tiba-tiba Mami datang dengan selembar gaun yang sangat anggun. Dan cukup membuat aku takjub melihat itu. "Aih..., Mami kapan bikinnya...?" tanyaku dan langsung menyambar dari tangannya. "Nggak bikin kok!" jawab Mami santai saja. "Hm? Beli maksudnya?" selidik aku. "Iya, memang beli. Itu... baju Mami waktu dinner pertama dengan Papi. Tapi waktu itu umur Mami udah 19 tahun. Nggak seperti kamu malam ini, masih anak sekolah," balas Mami setengah meledek. "Sumpah Mi, ini kayak baru banget Mi!" ucapku berseru excited. "Iya, dan sudah Mami modifikasi. Untung warnanya putih, jadi nggak terlalu terlihat pudar," katanya sambil memperhatikan dengan cermat. "Ini cantik banget, terimakasih ya, Mi!" mencium pipi Mami. "Oke. Mami sudah ngerasa ..., akan punya putri cantik, makanya Mami simpen gaun itu." "Hmm... Mami..., jadi terharu deh, dengernya." Aku yakin saat seperti ini Mami pasti sangat merindukan Papi, melihatku tumbuh menjadi gadis remaja tanpanya. Tanpa Papi.... "Ya udah, kamu siap-siap! Mami tinggal ya." "Oke." Setelah Mami keluar dari dalam kamar, aku dengan semangat yang berkali lipat segera mengenakan gaun yang sudah menunggu sekian tahun untuk aku pakai ini. Gaun yang berbahan lembut seperti renda, katun, satin, dan rajutan yang berlubang (eyelet). Sangat berkesan anggun dan sentuhan klasik. Feminin membiaskan kesan romantis. Sedikit terlihat lebih dewasa, tapi tetap girly. Gaun ini membuat aku merasa sangat percaya diri. Aku memadu padankannya dengan pita putih buatan Mami, lalu aku jepitkan di atas telinga kiri. Dan memakai sepatu yang diberikan oleh Rezky waktu itu. Aku menatap diri sejenak di balik cermin. Berlatih memamerkan senyum terindahku. Cukup dengan tampilan make -up sederhana saja. Cukup. Rezky menjemput dengan mobilnya. Kali ini tanpa utusan, melainkan ia sendiri yang datang dan meminta izin dengan Mami. Dan saat berpamitan dengan Yansen, mereka punya gaya sendiri khas anak cowok. Mereka sudah cukup dekat, karena beberapa kali Rezky datang mereka selalu main bola. Aku terkesan, dia yang beraliran basket masih mau mengimbangi Yansen dengan sepak bola. Keteganganku pun memuncak saat kami hanya berdua saja di dalam mobil. Entah mengapa aku sendiri tak tahu apa alasannya. Karena ini bukan kencan yang pertama dan juga..., bukan pertama kalinya kami berdua. Apa hanya karena ini malam Minggu pertama aku dengannya? Aku tak yakin tap..., itu jawaban satu-satunya. Sampai di sebuah kafe. Tapi, di kafe seramai ini ada sebuah tempat yang sepertinya dan kosongkan dan dipersiapkan khusus. Apakah Rezky yang memesan tempat ini? Batinku. "Ini aku pesan khusus untuk kita berdua." Katanya, selalu seperti bisa membaca pikiranku. "Ayo, hati-hati!" pintanya saat membimbing aku menuju tempat yang indah. Lilin sengaja diberikan sebagai pengganti lampu, mengelilingi meja makan dan kursi tempat kami duduk. Terpaksa harus melangkahi lilin yang melingkar ini. "Kamu romantis banget, sih!" ucapku. Kami saling tatap setelah melewati lingkaran api itu. Senyumku masih tak mau pergi, begitu juga senyumnya. "Karena kamu," katanya. Lalu menarik kursi untukku. Rezky pun duduk. "Sejak punya pacar kamu, aku jadi romantis gini," katanya lagi. "Berlebihan deh, kamu!" pelayan datang memberikan daftar menu. "Terima kasih...!" ucapku. "Kamu aja yang pilih, aku ikut aja!" "Ehm, tapi aku juga bingung nih!" "Ya udah deh. Kamu suka nggak makanan Palembang?" "Suka banget! Mami aku orang Palembang," jawabku. Aku melirik pelayan yang sabar menunggu kami dan tetap tersenyum. "Mantap deh, kalo gitu! Aku juga suka banget pempek selam. Kamu suka?" "Banget!" "Ya udah kita pesan itu aja, Mas!" kata Rezky pada pelayan. "Minumnya?" tanya pelayan lagi. "Es kacang merah aja deh!" jawabku Rezky mengangguk. Terserah deh, makan malam apa ini, selam dan es kacang merah? Yang penting sama dia. "Ehm Mas, sekalian dessert -nya aku minta ... mousse cokelat. Kamu mau apa?" tanya Rezky dengan lembut. "Hm, samain aja, deh!" terserah, liat kamu aja udah dessert buat aku. "Terima kasih!" ucap kami pada pelayan. "Bisa dibilang selera makan kita sama." "Iya, aku harap bukan cuma kebetulan," kataku. Suasana dinner romantis ini makin terasa ketika kami hanya berdua saling tatap dan saling bicara. Kali ini kami kompak dengan pakaian putih, meski tak disengaja. Kali ini apa yang akan dia berikan untuk menambah keromantisan. Dan lagi-lagi seperti bisa membava pikiranku. Rezky mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dari balik punggungnya. Dan itu sangat membuatku surprise. "For you!" "Thank you." "Aku ..., nggak ingin malam ini jadi malam paling romantis buat kita." "Why...?" tanyaku singkat namun dengan tingkat suara paling lembut. "Karena ... aku harap malam berikutnya akan jadi malam yang lebih romantis lagi. Begitu pun seterusnya. Dan itu karena, aku sangat mencintai kamu, Osy. Cinderelia Yosy." "Aku tau, dan aku percaya. Aku sangat percaya kamu." Senyumnya seperti biasa, selalu memikat hatiku. Membuatku seperti es yang mencair. Pelayan datang membawa pesanan. Rezky melempar senyum padaku. Aku meletakkan bunga tadi tepat di tengah meja, di antara tatapan kami yang seakan tak ingin jauh. Pelayan pergi dengan sopan, dan kami mulai makan sambil tetap mengobrol. Rezky sempat bertanya apakah aku bisa membuat pempek selam atau sejenisnya. Dan aku menjawab, sudah sering belajar dari Mami, tapi belum terlalu bisa. Dan aku berjanji padanya, lain kali akan mencoba bikin sendiri. "Ini hampir sama dengan buatan Mami," kataku. "O ya? Berarti ... Mami kamu beneran orang Palembang dong! Dak pacak bikin cuko, dak pacak bikin pempek, bukan wong kito!" maksud Rezky, nggak bisa bikin cuka, nggak bisa bikin pempek, bukan orang kita. "Bisa aja kamu!" kami tertawa bersama. "Yaa..., katanya harus bisa bikin pempek dan cuka yang enak, baru boleh dibilang beneran orang Palembang. Dan kalau kalau kamu mau dibilang gadis Lampung beneran, harus bisa bikin sambal terasi yang enak," kata Rezky. Tetap dengan senyumnya. "Oh, kalau sambal terasi, aku jago banget bikinya. Beneran!" jawabku, mungkin sedikit berlebihan. Terlalu memberi penekanan atau... apalah. "Iya, aku percaya kok. Nanti kalau kamu udah siap akan aku ajak makan malam di rumah. Dan kamu harus bantu masakin makan malamnya. Ya terutama ngulek sambel terasinya itu!" Rezky menarik mangkuk es kacang merahnya tadi. Mendengar ucapannya barusan, aku jadi berpikir serius. "Kamu ... beneran mau kenalin aku sama keluarga?" tanyaku berhati-hati. "Ya. Tentu. Kenapa? Belom siap?" "Bukan masalah siap nggak siap, tapi aku, maksudku kita, baru seminggu jadian. Aku pikir untuk berniat mengajakku saja itu sudah terlalu cepat. Apalagi serius?" sindirku. Memicing. "Memang kita baru jadian, tapi aku serius dengan kamu. Niat aku justru timbul sebelum kita jadian. Kamu mau tau kenapa?" "Ke-na-pa?" aku terbata. "Itu ... karena hanya kamu yang bisa membuatku berpikir serius tentang cinta. Seandainya saat ini kita sudah berusia dua puluhan, aku akan lamar kamu. Karena ... entah mengapa, aku merasa takut kehilangan kamu? Bahkan terkadang rasa takut itu berlebihan." "Aku ..., berterimakasih untuk keseriusan kamu. Tapi ... aku dengar dari Risa dan Tia, bahwa kamu itu adalah anak tunggal. Dan kamu pewaris tunggal perkebunan kopi terbesar di Lampung. Itu sangat memberatkanku. Karena keluargamu akan sulit menerima aku yang hanya seorang yatim, dan anak dari seorang tukang jahit kecil," kataku, menjaga volume suara. "Aku tau. Aku sudah tau itu dari Risa. Jangan berpikir begitu. Aku memang anak tunggal. Tapi bukan berarti pewaris tunggal. Karena, yang punya perkebunan adalah kakekku. Dan cucunya bukan hanya aku." "Itu sama aja." Rezky menarik lagi tanganku. "Tetap aja status kita jauh berbeda." "Dengar dulu," pintanya lembut. "Keluarga aku nggak menilai orang dari status sosialnya. Selama mereka masih keluarga baik-baik. Lagian ... aku sudah tau yang kamu khawatirkan itu dari Risa. Aku minta mulai sekarang jangan bahas soal itu lagi. Oke." Rezky menggeser dessert sampai tepat di dekat tanganku. "Kalau itu membuat kamu keberatan, aku janji nggak akan membahasnya lagi," ucapku. Aku tersenyum lembut padanya lalu mengambil dessert untuk mulai menyantapnya. Setelah dinner kami segera beranjak, tapi tak langsung pulang. Rezky berhenti di taman kota di dekat rumah aku. Duduk di sebuah kursi taman tempat kami pertama duduk berdua tempo hari. Aku mendongak menatap langit. "Ternyata, pemandangan langit malam indah kalau banget kalau dilihat dari sini. Selama ini aku nggak memperhatiin," kataku dengan kepala yang masih mendongak. "Mungkin, karena ada aku di samping kamu?" godanya. "Apa?" aku refleks menurunkan pandangan. "Ih, gombal juga ya, kamu!" aku menabrakkan lenganku dengan lengannya. "Hahaha..., kadang-kadang suka timbul gombalnya!" kata Rezky sambil terkikik. Untuk sejenak malam yang indah ini dihiasi dengan tawa renyah kami. Tawaku lalu mereda, pandangan mataku tetap tertuju padanya. Pada pesona wajahnya. Entah kenapa, terlintas ketakutan di benakku ini? Takut tak bisa memandang pesona wajahnya lagi, takut tak bisa menatap mata elang itu lagi, takut tak bisa mendengar tawa renyah ini lagi. Dan ... begitu banyak ketakutan sampai aku tak sanggup memikirkannya. Aku pun tiba-tiba menatapnya dengan penuh ketakutan. Entah apa yang coba disampaikan oleh tubuhku ini? ... - - - - - - - - - - - - * * * - - - - - - - - - - - - "Please ..., jangan pergi! Jangan pernah berhenti untuk mencintai aku, jangan!" dadaku terasa sesak saat ini. Kemudian Rezky membalas tatapanku, hanya sesaat lalu berubah menjadi kekhawatiran yang mendalam. "Hei...? Lihat aku. Walau pun napasku berhenti ... cintaku nggak akan berhenti. Aku akan tetap cinta kamu. Dan aku ... nggak akan pergi." Rezky menyusuri pundakku. "Kamu harus selalu ingat. Saat aku nggak di samping kamu ... harus ingat rasa itu. Rasa hangat tanganku saat menggenggam tanganmu. Kamu, masih ingat kan caranya?" Aku mengangguk pelan, "Iya, aku ingat." "Kalau begitu ... jangan pernah takut lagi. Selama kamu masih bisa merasakannya. Oke sayang?" Jantungku hampir saja melompat keluar mendengarnya mengucap kata 'sayang'. Dia selalu bisa membuatku tenang. Ketakutankupun sirna. "Tapi, aku tetap merasa kamu akan pergi." "Aku memang akan pergi, ke rumahku, dan kamu ke rumahmu. Atau... kamu mau ikut pulang denganku?" "Mau, tapi suatu saat. Kalau sudah waktunya. Bolehkan?" "Boleh banget!" jawabnya. "Oke, kalau gitu sekarang kita pulang. Aku pulang ke rumahku dan kamu ke rumahmu!" aku terdiam lalu memicingkan mata karena menangkap wajah kosong di hadapanku. "Hei? Helow...!" aku melayangkan tangan di depan wajahnya. "Ehm, ya. Habisnya wajah kamu bisa mengalihkan semua pikiranku," ucapnya, dengan senyum yang memikat. Rezky mengambil kedua tanganku. "Kamu mendongak untuk bisa melihat cahaya bulan dan bintang, kalau aku cukup menghadap ke depan sudah bisa melihat semua itu," katanya sambil menatap sejurus. "Apa-an sih, kamu!" seruku, tapi tatapannya bergeming. Ia menggenggam lagi kedua tanganku setengah badan. Seperti yang selalu ia ingatkan agar aku mengangkat tanga setengah badan, memejam lalu mengingat rasa hangat tangannya jika dia tak di sampingku nanti. "Re- Rezky...," gumamku. Wajahnya semakin mendekat, menatap dalam padaku. "Yosy ... untuk saat ini kita memang nggak boleh terlalu serius, tapi niatku mencintaimu sangat serius." Tangannya tetap menggenggam erat tanganku. "Biar waktu yang akan menjadi saksi kedekatan kita hingga saatnya nanti ... kita akan bersama." Dalam sekejap aku sudah dibuatnya melayang lagi. Rezky melepaskan tanganku. "Terimakasih kamu mau menerima cintaku." Ucapnya lembut. "Ayo, aku antar pulang. Masih banyak waktu menunggu jam malam kamu." Aku tertawa kecil mendengarnya, "Bisa aja kamu! Jam malam ... kalau aku langgar, aku bisa dikurung nggak bisa keluar malam lagi." "Ya udah, ayo pulang!" "Hei?!" aku menegurnya karena kami baru saja melewati mobil Rezky yang terparkir di taman. Tapi yang ditegur malah justru santai saja dan memegang tanganku semakin erat. "Kan tadi aku bilang, masih banyak waktu? Makanya jalan kaki aja. Aku masih mau menggenggam tangan halus ini. Dan supaya kamu semakin kenal dengan sentuhan tanganku ini." "Betul juga kamu," balasku. Aku menyelipkan jemari di sela-sela jarinya. "Rasanya ... aku ingin sekali waktu berhenti sejenak malam ini. Aku ingin lebih lama lagi untuk bisa bersama seperti ini. Menikmati udara malam, sambil menggenggam tanganmu seperti ini," tuturnya. Tatapannya terjurus ke depan. "Aku juga." Aku tak bisa berkata banyak. Sejenak sudut mata ini meliriknya. Dia tampan sekali. Wajahnya putih bersih, dengan sepasang alis yang tebal dan mata indah itu ... seperti malaikat. Aku tidak tahu penggambaran malaikat itu seperti apa. Tapi saat ini, itulah yang diucapkan hatiku. Seperti sedang melihat malaikat. Putih. Bersinar. "Jika aku boleh memilih, aku ingin hidup melebihi orang normal." Maksudnya?" tanyaku yang tak mengerti. Dan ucapannya menyadarkan aku dari lamunan. Sekali lagi mata ini meliriknya yang ada di samping aku. Aku menemukan sesuatu yang tidak aku mengerti dari mata Rezky kali ini. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu dari semua kata-katanya tadi. Tapi ... apa sesuatu itu? "Yaa..., normalnya orang hidup sampai seratus tahun, bahkan kurang dari itu. Tapi, setelah kenal dengan Cinderelia Yosy, dan jatuh cinta setengah mati padanya ... aku jadi ingin hidup untuk seribu tahun. Kalau bisa bahkan untuk selamanya!" kata Rezky lalu berteriak sambil mengangkat kedua tangan ke langit. Lagi-lagi mulutku menjadi kelu kehilangan kata. Ucapan seperti itu, perempuan mana yang tak melayang mendegarnya? Merasa benar-benar berarti sebagai seseorang yang dicintai oleh orang yang dicintainya juga. Akhirnya kami berdua pun sampai di depan rumahku. Padahal kami berjalan dengan sangat santai. Tapi sepertinya baru saja kami melangkah tiba-tiba sudah sampai di depan rumah. Ini waktu tersingkat dalam hidup aku. Tapi sangat indah. Setelah pamit dengan sangat... bahkan sangat sopan pada Mami, Rezky kemudian pulang. Aku dan Mami menunggunya hingga tak terlihat lagi. "Dia anak yang sangat sopan," kata Mami memuji Rezky untuk yang pertama kalinya dan itu pun adalah kesan pertama Mami untuk Rezky juga, aku jadi senang mendengarnya. Aku menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman saja. Seandainya saja Mami tahu, jika dia berasal dari keluarga yang sangat terpandang, pasti Mami akan meminta aku untuk berpikir ulang jika aku ingin serius berpacaran dengan dia. - - - - - - - - - - * * * - - - - - - - - -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN