My Happy Nest

1171 Kata
Aku terbangun pagi ini seperti terbangun dari mimpi terindah. Sangat indah. Aku mengulet seperti layaknya orang yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Entah mengapa yang namanya mengulet itu ... nikmat? Aku pun melebarkan pandangan kedua mataku yang masih menyisakan rasa kantuk. Menurunkan kaki dari tempat tidur lalu segera membuka gorden yang menutupi jendela kaca besar yang ada di dalam kamar.Menempelkan sebelah pipiku di kaca jendela itu. Tersenyum tanpa alasan, untuk pertama kalinya bibir ini membentuk sebuah senyuman dengan mudah sendirinya tanpa ada alasan. Bunga-bunga anggrek di luar sana seakan menari untuk aku. Ini rasa terbahagiaku. Cinta pertamaku. Handphone bergetar di atas meja belajar, aku pun segera mengambilnya dari atas meja belajar yang tadi malam sebelum tidur sempat aku hinggapi dulu. Buru-buru aku menerima panggilan karena aku sudah menduga bahwa telepon ini dari dia. Aku menerima tanpa langsung bicara, hanya senyum yang tidak dapat aku singkirkan sejak tadi karena rasa bahagia yang tak bisa aku bendung. Aku tidak bisa menahan rasa yang luar biasa yang muncul dari sekujur tubuh aku. Rasa cinta, bahagia, gembira, semua menyatu. "Selamat terbangun dari mimpi terindah..., my princess Cinderelia...!" ucapnya dari seberang. Terdengar sejuk seperti embun di pagi hari. Aku berkelakar ringan, "Jangan sampai ketinggalan huruf I-nya, nanti jadinya bukan nama aku," kataku bercanda. "Yeah, oke. Cin-di-ri-li...." "Ahahaha...! Ada-ada aja kamu." Kami pun akhirnya tertawa bersama. "Mm, aku mau minta maaf. Karena aku nggak bisa jemput kamu," ucap Rezky dengan rasa sesal. "Aku nggak minta kamu jemput, kan." "Iya. Tapi sebagai pacar yang baik seharusnya aku bisa jemput kamu, kan?" selidiknya yang tetap merasa memiliki kesalahan. "Ngng...gak juga sih!" jawab aku seadaanya saja. "Aku ngerti kok, rumah kamu itu memang jauh dari kota. Apa lagi dari sekolah kamu, ke sekolah aku. Jauh!" kataku. "Iya, aku harus putar arah kalo sampai harus jemput kamu, terus nganter kamu ke sekolah. Terus... balik lagi ke sekolah aku. Seandainya kita satu sekolah..." "Nggak asik. Nggak seru. Mending beda sekolah kaya gini. Jadi ... kita bisa kangen terus deh!" kataku berusaha percaya diri penuh. "Meski ketemu terus ... tetap aja aku kangen terus kok, pasti!" katanya dengan percaya diri. "Hmm..., mulai gombal! Udah yuk, kita siap-siap mau pergi ke sekolah, mandi gih!" perintah Rezky. "Oke. Sampai ketemu nanti. Bye!" ucapku pada Rezky untuk mengakhiri obrolan kami. Pembicaraan pun berakhir. Tapi senyum di bibir ini masih saja terus mengembang sampai aku ke luar dari dalam kamar. Aku tersentak saat berbalik badan hampir saja menabrak Yansen yang sedang nyengir polos memamerkan sederet gigi susunya. Aku yakin pasti dia sudah siap untuk mengejek aku habis habisan karena mendengar pembicaraan aku tadi di telepon bersama dengan Rezky. "Ih Kakak, kayak orang gila senyum-senyum sendiri!" ujar Yansen meledek aku, tapi bisa jadi dia benar sih, aku gila, gila karena ... cinta. Tuh kan benar! "Emang!" kataku membungkukan badan mendekatkan wajah aku padanya, "Kakak emang lagi gila ... dan sekarang mau kejar kamu...!!!" aku berseru sambil mengejarnya. "MAMI....................!!!" Yansen berteriak sambil berlari mengejar dia seperti orang gila sungguhan. Aku sampai meledakkan tawa, meski aku dengar Mami ngedumal karena sudah bikin Yansen teriak heboh di hari yang sepagi ini. Aku pun langsung saja buru-buru untuk masuk ke dalam kamar mandi sambil bersenandung lagu indah tadi malam. Otomatis itu pun jadi lagu yang terindah buat aku dan juga dia pastinya. Dan mulai berpikir untuk mendownload lagu itu di handpone. Selamat pagi dunia... Selamat pagi cinta... Aku sedang jatuh cinta... Pertama kalinya... ... dan mungkin juga untuk yang terakhir kalinya, sebab aku tidak ingin kehilangan makhluk Tuhan yang seindah dia. __ Merasakan cinta untuk yang pertama kalinya, rasanya luar biasa indah. Dan entah mengapa aku pun sudah tidak ingin merasakan kehilangan juga. Bukankah katanya yang namanya cinta pertama itu hanya cinta monyet saja yang udah pasti nggak seriur? alias cinta anak remaja yang masih ingusan, masih bau kencur. Artinya ya, belum memikirkan sesuatu yang bersifat serius lebih lagi lada jenjang pernikahan. Ah, sudahlah, entah apa pun yang dikatakan oleh perasaan aku ini, pokoknya aku sedang jatuh cinta, jatuh di hati dia yang bernama Rezky! Risa menghubungi aku tepat saat aku hendak memasukkan benda ajaib ini ke dalam saku kemeja putih yang tentu ada logo sekolah aku. "Morning cousin...," sapaku dengan wajah semringah sambil menggantungkan tas sekolah di punggung. "Nggak usah sok inggris lo! apa kabar elo sama mantan gue, maksud gue ... mantan inceran gue, si Rezky?" todong Risa dengan tampang jutek yang sengaja dibuat. "Oh..., itu ... ehm, gimana ya?" aku berpura-pura nggak mengerti. Aku terlalu bahagia hingga tak sanggup berkata apa apa untuk menjawab pertanyaan dari Risa tadi. "Ditanya malah balik nanya, songong lo! gue tau elo itu emang lagi bahagia banget, lagi kasmaran, lagi..." "Iya iya, gue lagi bahagia banget. Nah itu elo tau, dan gue yakin elo juga tau alasannya tanpa perlu gue cerita apa alasannya," kataku sedikit memprotes pertanyaan Risa tadi. "Iya gue tau pasti karena Rezky, tapikan gue juga perlu tau kronologisnya itu seperti apa!" tuntut Risa. Aku berjalan sambil terus mendengar perkataan Risa. Ketika aku ingin menjawab ucapan Risa tadi, Mami yang sudah menyiapkan Yansen untuk pergi sekolah kini menatap aku seolah aku harus menyudahi pembicaraan karena Yansen harus segera berangkat ke sekolah. "Um..., nanti kita lanjut setelah pulang dari sekolah, sekarang gue harus nganter Yansen ke sekolah dulu, bye!" kataku menyudahi sebelum Mami mengomeli aku karena takut kami akan terlambat sampai ke sekolah. "Kakak ayo kita berangkat sekarang, nanti aku terlambat," celoteh Yansen yang sedikit ngambek. "Osy ayo anter adikmu, lagian juga siapa sih yang pagi-pagi udah nelepon?" semprot Mami sambil menuntun Yansen berjalan ke luar. "Ehm itu Mi tadi..." "Pacarnya kak Osy Mi yang nelpon tadi, kak Osy sekarang udah punya pacar," sergah Yansen yang otomatis membuat mataku membulat sempurna ke arahnya. "Benar itu Sy, kamu udah punya pacar?" tanya Mami dengan tatapan mata yang menuduh. Aku pun langsung membelalak ke arah Mami, "huh? um... itu Mami bukan pacar kok, itu teman aku. Memangnya ... kalau aku punya teman cowok itu berarti aku juga udah punya pacar." Aku berkilah, Mami memang nggak melarang aku untuk pacaran tapi aku takut kalau sekarang ini aku ketahuan sudah punya pacar akhirnya Mami jadi ngelarang aku. Jadi aku pikir lebih baik Mami jangan sampai tahu dulu. Aku berjalan dengan menuntun Yansen karena sekolahnya memang tidak begitu jauh dari rumah, dan sekaligus aku juga menuju jalan besar untuk menunggu mobil angkutan umum yang menuju ke sekolah aku. Ketika sedang asyik berjalan aku memprotes Yansen yang suka bawel ke Mami. "Kamu jangan suka bawel dong, ke Mami, nanti kak Osy diomelin sama Mami," kataku. "Aku itu nggak bawel kak, cuma ngasih tau ke Mami aja kalau kakak itu sekarang udah nggak jomblo lagi," jawabnya dengan polos. "Sama aja, adek...! lagian juga kok kamu itu bisa tau sih, kalau kakak ini udah punya pacar alias udah nggak jomblo lagi?" dumalku. "Aku kan selalu nguping kalo ada yang lagi telepon kakak," balas Yansen dengan polos tanpa merasa berdosa. "Iya juga sih, dasar kamu!" kataku berseru. Aku tersenyum senyum sendiri. Pacar? ya ampun beneran nggak nyangka, sekarang aku statusnya sudah jadi pacar orang. - - - * * * - - -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN