Di mana letak surga itu ...
Biar kutemukan untuk bersamamu ...
__
Aku tidak tahu apa arti dari mimpiku waktu itu, gerhana datang dan semua menjadi gelap.
Dan hari ini semua terjawab sudah. Terang kini menjadi gelap.
Takdir cintaku hanya sesaat dengannya yang kini sirna untuk selamanya. Bersama hanya satu minggu saja selanjutnya aku harus hidup tanpa dia.
Tanpa kekasihku...
...
Sekali lagi aku memanggil namanya dengan suara paling keras dan semua teman wanitaku memeluk aku.
REZKY ...
_ _
Aku tidak tega melihat kedua orang tua Rezky yang sangat terpukul oleh kematian Rezky yang adalah anak mereka satu-satunya.
Aku pun sangatlah terpukul. Semua temanku dan juga semua teman Rezky datang hingga ke pemakaman dengan pakaian hitam sebagai tanda duka yang mendalam mereka atas kepergian Rezky. Begitu pun aku yang sangat berduka atas kehilangan kekasih juga menggunakan pakaian warna hitam.
Tidak ada yang aku perhatikan kecuali kedua orang tua Rezky terutama ibunya tampak sangat sedih dan terpukul telah kehilangan putra kesayangan satu-satunya.
Ketika pemakaman usai, air mata yang terurai tak dapat aku hentikan. Bahkan kaki ini pun tak kuat tuk aku langkahkan meninggalkan tanah merah yang menggunduk karena menutupi tubuh kakunya di bawah sana.
Aku tak berdaya...
Aku tak mampu meninggalkan dia sendiri di dalam sana.
Aku merasakan sentuhan demi sentuhan di kedua pundak, punggung dan juga ujung kepalaku. Aku tahu ini adalah semua sahabatku yang ingin memberi kekuatan padaku.
"Yang sabar ya, Sy," suara Asep yang pertama kali terdengar.
"Ayo Sy, kita harus pulang," kali ini Tia menyusul.
"Sy, dia pasti nggak suka lihat kamu menangis di sini, ayo kita pergi," Tina pun ikut bicara.
Aku menggeleng, "nggak, aku nggak mau pergi dari sini. Aku nggak mau ninggalin dia, kasihan dia sendiri di sini, dia pasti kedinginan di dalam sana," kataku yang masih terus merengek meratapi Rezky yang sudah tidak akan pernah aku lihat lagi.
Senyummu itu...
Tatap matamu itu...
Suaramu itu...
... tidak akan pernah aku temukan lagi.
... apalah artinya hidup tanpa kekasihku... percumaku berada di sini...
"Rezky...! kenapa kamu pergi? kenapa kamu tinggalkan aku sendiri?"
Aku terus meratapi dia yang pergi, dan hujan mengiringi langkah kaki dan air mata pedihku ini...
... mengapa kau tinggalkan diriku?
apalah artinya hidup tanpa kekasihku...
percumaku berada di sini...
__
Setelah kehilangan dia aku hanya bisa mengurung diri saja di dalam kamar. Aku tidak nafsu makan dan tidak masuk sekolah.
Menatap diri di balik cermin, sungguh ini bukan seperti diriku lagi. Aku sangat pucat, kurus, dan lusuh. Aku biarkan seorang yang mengetuk pintu. Aku pun lalu kembali ke atas tempat tidur. Tidak ada yang lebih bisa aku lakukan lagi selain hanya merenung dan meratapi diri di atas tempat tidur ini.
"Kakak ayo makan, aku nggak mau kalau kakak sakit. Pokoknya kalau besok kakak masih nggak mau sekolah, aku juga nggak mau sekolah," kata Yansen mengancam.
Aku hanya melihatnya dengan tatapan kosong. Aku tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana dengan adik kecilku itu.
"..."
"Kakak ganteng itu janji mau main bola sama Yansen, tapi sekarang dia malah pergi untuk selamanya. Aku juga sedih Kak, tapi aku nggak nangis. Kakak sudah besar tapi malah nangis terus kayak anak kecil," celoteh Yansen yang tentu saja masih polos yang belum benar-benar bisa merasakan kesedihan seperti apa yang sedang aku rasa.
Aku melihat ke arah pintu dan terlihat di sana Mami datang membawa sepiring nasi yang sudah tentu dia ingin memaksaku untuk makan.
Mami duduk di pinggir tempat tidurku sedangkan Yansen sudah naik dan berbaring di samping aku.
"Nak, nggak baik meratapi orang yang sudah meninggal. Kamu sudah tiga hari seperti ini terus. Mengurung diri di dalam kamar, nggak nafsu makan, dan ... kamu juga sudah tiga hari nggak masuk sekolah. Apa itu baik menurut kamu?" tutur Mami menceramahi aku dengan nada bicara yang tetap lembut.
Lama aku menatap mata Mami dalam diam sebelum akhirnya bisa menjawab, "Mi, waktu itu Papi, sekarang ... Rezky. Kenapa Mi? kenapa orang yang aku sayang selalu pergi dan nggak bakal kembali lagi, kenapa? apakah takdir memang sekejam ini?" tuntut aku.
"Semua yang terjadi memang sudah takdir, nak."
"Aku harus menerima takdir menjadi seorang anak yatim di usia yang bahkan aku belum puas merasakan cinta kasih seorang ayah. Lalu sekarang ..., sekarang aku harus menerima takdir cinta aku yang hanya nggak lebih dari satu minggu saja, Mi! apakah ada takdir yang lebih kejam dari apa yang aku terima?" kataku lagi yang masih juga tak dapat menerima semua yang sudah aku alami. Pada siapa aku harus menuntut keadilan sedangkan Mami aku tidak tahu jawabnya, dan bahwa semua yang sudah terjadi memanglah takdir dari Ilahi yang tak bisa untuk aku hindari.
"Pelan-pelan semua ini bisa kamu pahami dan bisa kamu terima. Seperti ketika kita kehilangan Papi, pada akhirnya kita bisa mengikhlaskan dia pergi," Mami masih terus mencoba membuat aku memahami apa yang sudah terjadi.
"Itu sangat berbeda Mi! Papi dan Mami sudah sempat hidup bersama bahkan memiliki aku dan Yansen. Sedangkan aku, aku dan Rezky baru saja memulai, Mi. Kami baru saja memulai hubungan kami yang kelak kami pun pasti akan menikah dan punya anak. Tapi ternyata apa, ternyata takdir justru memisahkan kami secepat ini. Apakah aku berdosa Mi? apa aku berdosa jika menganggap bahwa takdir itu kejam?!"
"Osy, istighfar nak!" ucap Mami yang marah karena ucapanku yang murka tadi. "Takdir adalah apa yang memang akan terjadi tanpa bisa kita cegah lagi. Seperti gerhana yang ada di dalam mimpimu itu, jika memang Tuhan berkehendak, maka bukan hanya gerhana yang akan membuat sebagian bumi ini menjadi gelap, tetapi kiamat yang bahkan akan membuat seluruh bumi ini menjadi gelap dan hancur."
"Maaf Mi, aku khilaf. Aku nggak tahu lagi harus menumpahkan perasaan ini pada siapa," balasku.
"Sudahlah. Ayo makan, lihat wajah kamu itu, sudah seperti mayat hidup saja. Ayo Nak, makanlah walau pun hanya sedikit," bujuk Mami.
"Kakak ayo makan, kalau kak Osy masih nggak mau makan Yansen juga nggak mau makan, deh," kata adik kecilku itu berusaha ikut membujuk.
Aku mengangguk lesu dan mulai menerima suapan demi suapan dari tangan Mami.
Mami memang benar, semua sudah takdir dan tidak ada yang dapat mencegah datangnya takdir. Seperti gerhana ...
... gerhana itu datang dan semua pun lalu menjadi gelap gelita.
Akhirnya aku mengerti apa arti dari mimpi tentang gerhana matahari itu.
Semuanya menjadi terang dan kemudian berubah menjadi gelap seketika. Aku yang sangat bahagia bisa menjadi kekasih Rezky, akhirnya harus bersedih hati karena dia telah pergi dan tak kan pernah kembali lagi.
...
... apalah artinya hidup tanpa kekasihku percumaku berada di sini ...
* * *