Hari ini, adalah hari ke empat sudah aku membolos sekolah, alias tidak masuk ke sekolah.
Pada jam sekolah usai, semua sahabat aku yang pada hari itu ikut serta mengantarkan aku ke rumah sakit dan ke pemakaman Rezky, datang ke rumahku. Mereka semua sepertinya bukan hanya kehilangan aku di kelas atau di sekolah saja, tetapi juga ingin membujuk aku untuk segera masuk ke sekolah lagi pastinya.
Dan benar saja ketika pada akhirnya satu persatu mereka mencium dan juga memeluk aku, kecuali Asep dan Jannes yang hanya menanyaiku kabar saja tanpa peluk cium tentunya, bukan muhrim.
"Kita semua kehilangan banget sama bawelan kamu dan ketawanya kamu, Sy," kata Tina yang memulai suara.
"Iya Sy, kelas rasanya sepi nggak ada elo yang kadang suka nyanyi nggak jelas tapi enak didengar tapi mules di perut, dan yang ketawanya ngangenin kayak lo itu," imbuh Dewi.
Tina memegang tangan lalu duduk di samping aku dan terlihat dari raut wajahnya banyak sekali hal yang ingin ia sampaikan padaku. "Sy, anak-anak satu kelas dan bahkan anak-anak cheers, termasuk juga anak kelas Tia, mengancam bakal datang untuk demo ke rumah elo kalau sampai besok elo belum juga masuk ke sekolah," omel Tina lagi.
Asep pun lalu berjalan maju sepertinya ia juga ingin mengatakan sesuatu untuk membuat aku kembali semangat untuk ke sekolah lagi, "bukan cuma anak cheers doang, anak basket juga jadi kehilangan semangat karena kehilangan elo yang selalu ceria, Sy."
Aku menatap wajah mereka satu persatu dengan pandangan mata yang lesu.
"Terima kasih ya, karena kalian semua udah mau peduli banget sama gue. Entahlah, gimana caranya gue bisa kembali seperti dulu lagi, bahkan untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa aja, gue belum sanggup, nggak tau sampai kapan," balasku.
"Kamu harus bisa tetap semangat, Sy. Melanjutkan hidup dengan normal dan mancapai apa yang udah kamu cita-citakan itu adalah tugas kamu sendiri. Dan ingat, masih ada orang yang harus kamu bahagiakan selain diri kamu sendiri, yaitu mami dan adik kamu," ujar Tia. Apa yang Tia katakan tadi memang benar sekali. Tapi entahlah ... sampai kapan gue akan tetap seperti ini?
"Sy, cuma elo yang bisa kembali pada diri lo sendiri, kita sebagai teman cuma bisa membantu dengan memberi semangat," tutur Mila.
"Iya, betul itu Sy, jadi buat apa elo terus-terusan seperti ini?" imbuh Tia lagi.
Aku terdiam lagi, menatapi wajah mereka satu persatu, lagi. Aku tak mengerti dan tak ingin mengerti dengan apa yang telah terjadi. Rezky pergi tak kembali lagi, dan aku harap itu hanya sebuah mimpi. Mimpi yang 'kan sirna ketika pagi datang. Seperti ketika aku bermimpi tentang gerhana matahari yang datang sebelum aku mengenal Rezky.
"... guys, tolong bilang ke gue sekarang bahwa ini cuma mimpi. Seperti ketika gue cerita tentang gerhana matahari, tolong katakan bahwa apa yang telah terjadi pada Rezky hanya mimpi buruk, tolong katakan!" kataku yang mulai meratap lagi.
__
Ketika malam telah tiba, aku menatap diri di balik cermin. Tubuhku mulai mengurus, wajahku pucat, dan mata yang makin sayu.
Aku melihat gaun pemberian dari Rezky yang menggantung di lemari. Sepucuk mawar pemberiannya yang masih ada di atas meja belajarku.
Di mana si pemberinya?
Dia yang aku butuhkan, bukan segala pemberian sementara dia pergi meninggalkan aku sendirian.
Rezky, aku kesepian.
Aku kemudian kembali ke tempat tidur. Berbaring tak kuasa di sana.
Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah, namun aku sudah tak tahu lagi bagaimana cara membedakan kesalahan dan kebenaran.
Rezky telah tiada, apakah itu adalah sebuah kebenaran? aku sungguh berharap itu adalah suatu kesalahan, atau pun hanya sebuah mimpi buruk yang 'kan sirna ketika pagi tiba dan mentari membuka mata.
Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Hanya berdiam mengurung diri di dalam kamar tidak akan membuat aku bisa melupakan dia. Sungguh tidak akan bisa. Sedangkan jika aku kembali pada diri aku sendiri dengan melakukan semua kegiatan, rasanya aku tidak berselera sedikit pun jua. Aku tidak berdaya upaya untuk kembali pada kehidupan normal seperti ketika sebelumnya.
Kenapa?
Kenapa kamu datang hanya untuk meninggalkan aku sendirian selamanya seperti ini, kenapa Rezky?
Kenapa kamu pergi?
Kalau begitu kamu jangan datang padaku. Jangan membawa cintamu padaku. Jangan menyimpan hatimu di dalam hatiku lalu kemudian menguncinya dan pergi membawa kunci itu.
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membukanya untuk kemudian membiarkan siapa pun masuk ke dalamnya. Tidak bisa.
"Rezky, kenapa kamu tinggalkan rasa ini kalau hanya untuk pergi? tolong kembali dan biarkan aku merasakan genggam hangat tanganmu lagi."
Hujan turun, kilat menyambar bersahut sahutan. Aku berjalan menuju jendela, menatap hujan yang berjatuhan di sana. Rasanya ingin sekali membiarkan petir menyambar diri ini hingga mati jika memang kemudian aku akan bersama dengan dia lagi.
Rezky kamu di mana? ayo bawa aku ke mana pun kamu pergi. Kamu janji kita akan pergi bersama. Kenapa sekarang kamu tinggalkan aku sendiri.
Rasanya air mata ini tak sanggup lagi menetes, hingga yang tersisa hanya sesak yang menyayat di dalam dadaku ini. Hingga aku tak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan rasa ini. Rasa yang begitu menyiksa.
Malam semakin larut dan begitu pun juga hamparan langit yang semakin gelap senantiasa menemani rasa pedih dan sepiku sendiri di sini, di dalam kamar ini.
Larut malam perlahan menjelma menjadi pagi yang terang.
Semua kembali pada rutinitas mereka sehari-hari, kecuali aku yang belum juga memiliki kekuatan untuk kembali.
Mami memanggil sambil mengetuk pintu. Aku tak menjawab, toh Mami pasti akan tetap masuk, dan aku pun juga pasti akan mendengar kalimat yang sama lagi.
"Osy, kamu benar-benar tidak ingin kembali lagi ke sekolah atau bagaimana? ini sudah hari ke empat, nak. Lihat adikmu pagi ini, dia bahkan ikut-ikutan nggak mau makan. Dia juga pasti nggak mau masuk sekolah. Dia berusaha untuk membuat kamu kembali seperti biasa dengan cara mengikuti apa yang kamu lakukan sekarang ini. Apa kamu tega melihat adik kecilmu itu lapar dan sedih? Ayolah, kembali pada dirimu sendiri. Nggak baik terus menerus meratapi seseorang yang sudah pergi, nak. Yang harus kita lakukan adalah berdoa agar dia diberi tempat yang baik di sisi Allah."
Mami terus bertutur sementara aku masih bergeming.
"... Maafin aku Mi, tapi aku masih belum punya kekuatan untuk melanjutkan apa pun," kataku memelas.
Mami mengusap kepalaku sambil terus berkata lagi, "kamu harus tahu apa itu kehilangan untuk kedua kalinya setelah papi, dan kamu juga harus belajar bagaimana mengikhlaskan yang telah pergi, ya."
Aku mengangguk lagi, "iya Mi, pelan-pelan aku akan mengikhlaskan."
Entahlah apa itu sebuah jawaban yang benar, atau mungkin juga hanya sekadar untuk membuat Mami tenang saja. Tapi aku harap, itu akan benar terjadi.
... mengikhlaskan dia yang aku cinta telah pergi, ya mungkin ketika itu aku sudah mati.
* * *