BAB 11: MARAH

1367 Kata
SELAMAT MEMBACA  *** Matahari sudah tinggi tapi masih dengan setia Rara bergelut dengan selimut nya enggan untuk bangun dan selalu beginilah kebiasaannya saat hari libur. "Eghhhh, jam berapa sih kok udah terang banget." Rara bangun dari tidur nya menuju kamar mandi. Mungkin kalian akan berfikir dia akan mandi tentu saja tidak. Dia hanya menggosok gigi dan mencuci muka nya bahkan enggan mengganti piyama tidur nya yang bergambar Dora. Masih dengan rambut acak - acakan tanpa disisir nya, mata terpejam dan wajah bantal nya dia turun untuk sarapan pagi. Setelah itu dia ingin kembali tidur untuk mengistirahatkan tubuh nya. Rara menuruni tangga dengan mata masih terpejam dan terkadang menguap. "Pagi pa." "Pagi sayang " jawab papa yang masih setia dengan korannya. Kemudian Rara duduk di kursi samping papa nya untuk memulai ritual paginnya. "Kamu mau kemana sayang hari ini?" Tanya papa. "Mau tidur pa." Jawab Rara sekenanya karena dia lebih memilih untuk menikmati sarapan pagi nya dengan mata sedikit terpejam. Melihat hal itu papa hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalannya, bingung akan sikap putri kecilnya ini. Terkadang menjelma menjadi wanita dewasa namun di lain keadaan berubah menjadi bayi kecil nya. Mama masuk dengan membawa s**u hangat dan melihat penampilan Rara dimeja makan masih dengan roti digenggamannya. Tanpa Rara sadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya. "Sayang kamu kok belum mandi?" tanya mama Ana. "Rara mau tidur lagi ma, habis ini." "Sayang kamu nggak malu kalo sampai Rey liat kamu kaya gitu?" Tanya mama lagi Rey yang berada di samping Rara hanya tersenyum melihat interaksi keluarga ini. "Orang nya lagi nggak liat ini ma " masih dengan nada cuek nya. " Itu samping kamu siapa sayang" jawab papa, Rara menoleh ke samping kanan nya untuk memastikan siapa yang dimaksud papa. Rey pun hanya menatap Rara dengan senyum nya. " Selamat pagi sayang..." ucap Rey kemudian. " Kamu ngapain disini pagi - pagi?" Masih dengan wajah bloon ala ala bangun tidur Rara bertanya. " Ya kan ini hari libur jadi aku mau ngajak calon istri ku jalan dong." " Tapi kan nggak sepagi ini" jawab Rara dengan cuek nya, karena sebenar nya dia masih marah sama Rey karena keinginan nya untuk pesta pernikahan sederhana tidak terkabulkan. " Kalau nggak sepagi ini, aku nggak bisa lihat kamu yang versi ini dong sayang" ucap Rey. "Sayang sarapan kamu udah selesai kan, buruan mandi terus jalan." ucap papa "Rara mau tidur lagi papa ..." "Oiya pa, nanti opa sama oma kata nya mau kesini. Paling bentar lagi datang." Tiba - tiba terdengar suara mama keluar dari dapur … "Rara mandi dulu deh ma, tunggu ya Rey ..." Mendengar opa nya mau datang Rara buru - buru naik keatas untuk mandi dan bergegas pergi dengan Rey. Kalau sampai opa nya melihat keadaan Rara yang seperti ini. Pasti akan kena sembur oleh opa nya. Papa dan mama hanya menggeleng melihat kelakuan putri nya. Kalau sudah menyangkut masalah opa nya tak ada toleransi lagi bagi Rara. 15 menit ... "Ayo Rey kita berangkat." "Papa mama kami berangkat dulu " pamit Rey kepada kedua orang tua Rara. "Iya hati - hati nak Rey, papa titip putri papa itu" Jawab papa. Kemudian Rara menarik tangan Rey untuk segera pergi. Melihat sikap Rara, papa dan mama hanya tersenyum. "Sayang " panggil Rey. "Kamu masih marah sayang, soal tadi malam." Masih tetap tidak ada jawaban dari Rara . "Ya sudah kalau kamu masih marah, padahal aku punya sesuatu untuk kamu. Karena kamu masih marah, terusin aja marah nya ". Rara merasa bingung dengan sikap Rey, bukannya seharusnya dia yang marah. kenapa sekarang Rey yang marah. "Kok kamu jadi marah sih Rey, kan harus nya yang marah aku." masih tak ada jawaban dari Rey. "Rey." "Reyyyyy, sesuatu apa ?" Tanya Rara sambil menarik - narik lengan baju Rey. " Kan masih ngambek, diterusin aja dulu ngambek nya sampai puas. Di puas – puasin dulu nanti kalau sudah selesai baru kita bicara." jawab Rey dengan nada sedikit naik, sebenarnya tidak ada niatan Rey sedikitpun untuk membentak Rara. Entah terasa seperti apa, namun Rara sedih mendengar perkataan Rey. Hingga membuat air mata nya nya pun tak kuasa ia bendung lagi. Rey yang melihat tunangan nya itu menangis merasa bersalah lalu menepikan mobil nya di pinggir jalan. "Heii kamu kok nangis sayang." Tanya Rey sembari mengusap air mata yang ada di pipi Rara. "Nggak papa." jawab Rara singkat. Sejujur nya hati nya merasa sakit karena mendengar bentakan dari Rey. " Udah dong sayang, jangan nangis. Aku minta maaf ya, kalau tadi aku bentak kamu. Maafin aku ya." Bujuk Rey "Ya aku maafin kamu ." " Oiya ni aku punya hadiah buat kamu." Kemudian memberikan sebuah kotak kecil kepada Rara . "Ini apa Rey ?" Tanya Rara bingung . " Buka aja sayang ." Kemudian Rara membuka kotak tersebut , lalu menemukan sebuah kalung cantik dengan liontin berbentuk love berwarna biru safir  .Rey pun mengambil kalung itu , lalu memasang kan di leher cantik Rara . "Cantik sekali cocok dengan kamu " puji Rey. "Makasih ya Rey." jawab Rara dengan senyum nya yang manis. "Sama - sama sayang, jadi udah nggak ngambek lagi ni?" "Nggak, sekarang kita mau kemana sih Rey?" "Kamu mau nya kita kemana sayang?" "Aku sih mau ke taman bermain, ya Rey aku udah lama nggak kesana." "Oke, kita kesana." "Yeeyyy, makasih Rey kamu baik deh." Sekitar 1 jam mereka sudah berada di taman bermain.  Rara merasa sangat senang sebab sudah lama dia tidak mengunjungi taman bermain itu.  Mereka duduk di bangku taman sambil makan es krim. "Rey ..." panggil Rara, sambil menyandarkan kepala nya di bahu sebelah kanan Rey. "Hemm...." "Kamu bahagia nggak sama pernikahan kita nanti yang semakin dekat ini ." "Kenapa kamu tanya gitu sayang" "Mau tau aja, gimana perasaan kamu ke aku, karena aku nggak mau kalau pernikahan kita ada karena saling terpaksa dan akhirnya nanti kita nggak akan bahagia, harapanku aku mau menikah cuma sekali Rey." "Aku bahagia sangat bahagia, dan aku juga cuma mau menikah sekali dan itu sama kamu." "Rey aku mau kamu tau, sebenar nya masih ada seseorang di hati ku Rey. Seseorang yang sampai saat ini masih ku tunggu kedatangannya seseorang yang sangat spesial. Tapi jika takdir menakdirkan kita bersama, aku akan berusaha melupakannya. Meski sekarang aku belum bisa mencintai kamu, tapi aku janji akan berusaha menerima dan mencintai kamu Rey. Kamu mau kan menunggu sampai waktu itu tiba.”  Rara menjelaskan mengenai perasaannya kepada Rey. “Syukur lah kalau kamu masih menunggu ku sayang. Tapi kamu nggak boleh lupain aku Nemo” kata Rey dalam hati. "Tentu saja aku akan menunggu sayang " ucap Rey penuh pengertian. Mereka pun meghabiskan waktu libur bersama. Hingga sore hari, Rey baru memulangkan Rara kerumah nya. Rey pun mengantar Rara sampai Rumah. Di depan Rumah Rey melihat kedua orang tua Rara sedang duduk berdua menikmati suasana sore hari. "Sore pa ma " sapa Rey ramah. "Duduk dulu Rey, dan kamu juga sayang. Ada yang mau papa bicarakan sama kalian " kata papa. . "Ada apa pa, pernikahan Rara batal ya pa?" Tanya Rara penasaran. " Kamu ada - ada aja sayang " sahut mama dengan gemas atas ucapan sembarangan putri nya itu. " Sesuai kesepakatan papa sama mama dengan daddy dan mommy nya Rey kita akan mengadakan pesta pernikahan kalian di resort pribadi milik daddy nya Rey." Rara yang mendengar perkataan papa nya pun merasa kaget, kenapa tiba - tiba mau diadakan disana. Tetapi lain dengan Rey, dia sudah tau akan hal ini karena sebenarnya yang meminta hal ini adalah Rey. "Terus ya pa, kalau bisa nggak usah ngundang tamu banyak - banyak deh pa. Undang nya keluarga aja sama sahabat aja pa, ya pa." Kata Rara dengan harap - harap cemas, kalau - kalau papa menolak permintaan nya. "Memang kenapa sayang" tanya papa bingung. "Rara mau nya pernikahan Rara nanti cuma di hadiri oleh sahabat dan kerabat aja pa, biar acara nya lebih hikmat gitu lho pa. Lagian buat apa sih banyak- banyak Rara pasti juga nggak kenal. Iya kan Rey." tanya Rara meminta bantuan Rey. "Iya pa " jawab Rey "Ooo gitu, kalau itu mau nya kalian ya nggak papa. Papa sih setuju - setuju aja, yang mau nikah kan kalian. Yaudah nanti kami bicarakan sama orang tua Rey." Jawab papa dengan bijaksana.  . "Makasih pa, sayang deh sama papa." Kata Rara bahagia, jelas bahagia keinginan nya bisa tercapai.  Rey yang melihat prilaku absurd tunangannya pun hanya bisa tersenyum bahagia. "Yaudah kalau gitu Rey pulang dulu ya pa, ma." kata Rey kemudian mencium tangan kedua orang tua nya dan mencium kening Rara, Lalu pergi. " Hati - hati Rey " kata Rara. " Iya sayang." ******BERSAMBUNG ****** WNG, 15 JULI 2020  SALAM E_PRASETYO
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN