BAB 8 : MULAI DEKAT (REVISI)

1103 Kata
SELAMAT MEMBACA  **** Rara sedang bergelut dengan pekerjaannya yang menumpuk. Karena akhir - akhir ini dia sering tidak fokus mengerjakan sesuatu, jadi banyak pekerjaannya yang tertunda. Sejak malam pesta ini sampai sekarang Rara belum lagi bertemu dengan Rey, baik Rara maupun Rey belum ada yang memulai komunikasi. Kesibukan lah alasan keduannya, masih saling bungkam. Kringgg... from :08133333xxxx Hai sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Jangan lupa jam makan siang nanti aku tunggu di cafe Almon’s Setelah membaca pesan singkat yang entah dari siapa itu, dahi Rara berkerut. Entah memikirkan apa, namun yang pasti dia tidak tau siapa yang mengiriminya pesan. Kemudian dia kembali bekerja, namun tiba – tiba ... lagu Can't I love you menggema memecah kesunyian "Hallo..." "Haii Sayang,” jawab sebuah suara yang mulai terdengar familiar ditelinganya. "Ada apa?” "Kenapa pesanku tidak di balas?" "Aku sibuk Rey, Ada apa?" "Tidak ada, aku hanya ingin mengajak calon istriku makan siang, setelah itu kita akan kebutik sama Mommy buat fithing baju." Diam sejenak, tak ada suara ... "Baiklah.” Tut...tut… tutt… sambungn pun terputus. *** Cafe Almon’s  RARA POV Disinilah aku sekarang, Rey tadi dia menelpon dan mengajakku untuk makan siang bersama. Kurasa tak ada salahnya, menerima ajakannya. Kulihat dia melambaikan tangannya, aku pun berjalan mendekatinnya. “I'm sorry I'm late,” ucapku lalu dia mempersilahkan aku duduk di kursi depannya. “Bahkan menunggu lebih lama dari ini pun aku bersedia." Senyumnya benar - benar membuat jantungku berdetak dengan sangat cepat. Apa yang sebenarnya terjadi denganku. “Kamu mau pesan apa sayang?” “Sama kan kamu aja Rey” Kemudian Rey memesan makanan kami. "Habis ini kita langsung ke butik, Mommy sudah menunggu di sana." “Aku kan harus balik kekantor Rey,” jawabku membujuk Rey. “Kamu kan bisa izin Sayang atau mau aku yang izinkan?" Deg ... Bisa kacau semua kalau tau Rey adalah calon suamiku "Ngnggak usah, aku bisa izin sendiri,” jawabku setengah hati. “Hemmm bagus, aku suka gadis penurut." Dasar egois, Rey benar - benar menyebalkan. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara kami. Kami sibuk dengan urusan masing masing. 1 menit 10 menit 15 menit Kemudian makanan kami pun datang, kami makan dalam diam. Bahkan aku pun merasa canggung harus berhadapan dengannya. Bukannya apa, tapi mungkin karena aku belum mengenalnya. Semua butuh waktu kan. Yaa selamat datang dikehidupan yang baru, kehidupan yang selama ini bahkan tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. “Sayang kamu sama aku aja ke butiknya." "Aku kan bawa mobil sendiri Rey." “Aku ngnggak kasih izin kamu bawa mobil sendiri. Kamu perginya sama aku." “Kamu kok maksa sih,” jawabku dengan kesal. “Nggak usah manyun gitu, kamu minta di cium?” Kok tatapannya dingin menakutkan begitu, lebih baik cari aman “Kok diam, nanti mobil kamu biar di urus sopir.” “Yasudah." Kami pun pergi ke butik bersama. *** BUTIK “Hai Sayang. Bagaimana kabarmu?” tanya tante Tiara, saat melihat kami masuk. “Baik Tante, Tante sendiri gimana kabarnya?" "Jangan panggil Tante dong Sayang. Panggil Mommy ya kaya Rey kalau manggil. Kabar Mommy baik." "Iya Mom." Setelah berbasa - basi dengan mommy, kami pun menuju ruang ganti untuk mencoba gaun - gaun yang akan aku kenakan nanti. Sebelumnya mommy sudah memilihkan beberapa gaun, jadi sekarang aku tinggal mencobanya. Gaun pertama yang kupilih adalah gaun berwarna putih dengan belahan d**a sedikit panjang kebawah. Aku pun mencoba gaun itu dan menemui Rey dan Mommy untuk meminta pendapat mereka. “Wahhh kamu cantik Sayang,” puji mommy saat melihatku keluar dari ruang ganti. “Nggak, aku nggak mau kamu pakai baju itu.” Jangan tanya siapa manusia kuno yang tidak setuju dnegan gaun antik yang sekarang aku pakai. Siapa lagi itu kalau buka Rey. “Kenapa?” tanyaku dan mommy bersamaan. "Kamu nggak lihat itu bagian belakangnya terlalu terbuka, terus depannya sudah kaya mau tumpah begitu,” jawab Rey dengan tatapan mengintimidasinya. “Rey, semua gaun memang begini. Memang apanya sih yang tumpah?” Tanyaku heran pada Rey. Memangnya dia hidup di zaman apa, sampai -sampai tidak tau model gaun. “Aku bilang ganti!” ucapnya tidak mau di bantah. Aku pun masuk kekamar ganti, padahal aku sudah jatuh cinta dengan gaun itu. Dengan berat hati aku pun mengganti gaunnya dengan gaun lain. Setelah mengganti gaunku aku pun keluar. “Rey ..." Rey pun melihatku dengan tatapan yang sulitku artikan. Entah apa maksudnya itu. "Itu gaun apa sih, kok kaya kurang bahan begitu." "Kenapa lagi sih Rey, ini bagus. Atau kamu mau aku pakai jubah sama cadarnya saja, biar ketutupan semua,” jawabku sarkatis. Kenapa laki-laki itu buta sekali dengan mode pakaian. “Ganti Sayang!!!" Aku pun kembali mengganti gaunku, dan lagi lagi aku menggunakan gaun yang super terbuka. Memang modelnya rata-rata terbuka, aku yang sudah terlanjur kesal sekalian saja memancing kekesalannya.   "Rey …" "Itu juga nggak, gaun itu buat nutupin. Kalau itu nutupin apanya, ganti!!” Katanya tak terbantah kan. Hingga aku bolak balik mengganti gaunku hingga enam kali dan komentarnya tetap sama, kurang bahanlah, terlalu terbukalah dan masih banyak lagi. “Aku nggak mau ganti lagi, kalau mau ini kalau nggak aku nggak mau nikah sama kamu.” Kataku dengan jengkel. “Aku sudah pilih gaun yang cocok buat kamu .” Hahhh apa dia bilang kalau dia sudah milih kenapa aku harus repot – repot bolak balik ganti dasar calon suami s***p. “Kenapa nggak bilang dari tadi kalau udah milihin, tau gitu kan aku nggak usah repot – repot.” “Aku kira kamu akan memilih  gaun yang bagus, ternyata pilihanmu benar – benar buruk.” Dia mengatakan itu tanpa rasa dosa sedikit pun, benar – benar minta di gantung ini orang. “Kalau kamu bisanya cuma menghina kenapa nggak pergi sendiri aja tadi, kenapa harus mengajak orang yang pilihannya buruk ini.” “Mbak tolong di bawakan beberapa gaun yang tadi saya pilih, dan nanti tolong di antar ke alamat yang tadi ...” “Baik Tuan ..” Dasar sialan aku malah di cuekin, akhirnya aku kembali keruang ganti untuk melepas gaun yang sangat merepotkan ini . Mommy yang melihat adegan tadi hanya tersenyum melihat kami. Setelah dari butik Rey mengantar kan aku pulang. “Rey nggak mampir dulu?" “Nggak, aku langsung pulang aja Sayang." Tadi juteknya minta ampun sekarang manisnya bikin over dasar bunglon sifatnya sangat sulit di tebak. Tiba - tiba dia mendekat kan wajahnya dan ... Cuppp... Dia mencium keningku sekilas. Ya ampun apa yang barusan, dia menciumku lagi. Jantungku sudah berdetak tak beraturan. Aku pun segera keluar dari mobilnya untuk menyelamatkan jantungku agar tidak semakin menggila. ****BERSAMBUNG **** WNG, 15 JULI 2020  SALAM E_PRASETYO
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN