SELAMAT MEMBACA
****
AUTHOR POV
Seperti biasa sekarang Rara sedang bergelut dengan berbagai macam kertas - kertas yang menggunung. Entah sudah berapa lama dia duduk, untuk memeriksa satu persatu kertas yang diserahkan kepadanya. Sungguh ini melelahkan bagi Rara namun dia sangat menyukai dan menikmati pekerjaannya.
Saat tengah fokus memeriksa dokumen – dokumen perencanaan Tour wisatawan yang akan di adakan 2 minggu lagi tiba – tiba Rara menyadari sesuatu, bahwa data – data diri para wisatawan masih di bawa oleh pihak hotel Trancargo untuk keperluan registrasi dia lupa memintanya kemarin dan tidak ada salinan data terbarunya. Mau tidak mau dia harus meminta pada pihak mereka untuk mengirimkan salinan data-data yang di butuhkan. Kemudian dia menghubungi pihak Trancargo untuk mengirimkan data-datanya.
****
REY POV
Saat ini aku tengah berada di hotel untuk melakukan kunjungan rutinku, meski aku adalah seorang CEO tapi jabatanku sebagai Presdir hotel tidak lantas pulaku sia – sia kan begitu saja. Karena ini lah tanggung jawabku, beginilah sulitnya menjadi anak tunggal aku harus mengurus semua usaha yang kedua orang tuaku miliki tanpa bisa berbagi dengan siapa pun.
Tiba – tiba ada seseorang yang mengetok pintu ruanganku
Tok …Tok... Tok
“Masuk.”
Ternyata yang masuk adalah Ben asisten sekaligus sekertaris kepercayaanku.
“Maaf Presdir, baru saja Nona Sera perwakilan pihak AD Group menghubungi kami. Dia meminta data para wisatawan untuk dikirim kan segera, akan kita kirimkan sekarang atau nanti?”
Kemarin aku mengatakan kepada Ben tentang semua hal yang berkaitan dengan AD Group untuk melaporkan semuanya kepadaku tanpa terkecuali. Terlebih calon istriku yang mengurusnya aku harus mengetahui semuanya. Ben memang belum mengetahui masalah perjodohanku dengan Rara dan semua seisi kantor ini pun belum mengetahuinya. Tunggu dulu mungkin akan menyenangkakan jika aku mengganggunya sedikit saat ini.
“Baiklah, kamu print seluruh data yang diperlukan. Biar aku sendiri yang akan mengantar kannya ke sana.” Jawabku dengan santai.
***
Rara melihat semua pegawai sibuk mondar – mandir di depan ruangan tempatnya bekerja.
“Ada apa kenapa semua pegawai terlihat antusias sekali, memangnya presiden RI mau berkunjung ke perusahaan kita ya?” Tanya Rara kepada salah satu staf di tempat devisinya.
“Kalau tidak salah ku dengar tadi Presdir Hotel Trancargo ingin datang.”
Rara seperti bermimpi mendengar jawaban rekan kerjanya. Rara berencana segera pergi dari ruangannya, namun sial belum sempat dia berdiri dari kursi untuk melarikan diri tiba – tiba seseorang yang akhir – akhir ini merecoki hidupnya tengah berjalan dengan santai menuju mejanya dengan wajah tanpa dosa tersenyum seolah keberadaannya disana bukan sebuah kesalahan.
“Dokumen – dokumen yang anda butuhkan sudah ada di dalam sini semua Nona Sera.” Ucap Rey sembari memberikan sebuah kotak dengan ukuran sedikir besar bewarna biru muda.
Rara tidak bisa berkata apa – apa. Rara heran dengan jalan pikiran tunangannya itu. Apa yang membuatnya harus repot- repot datang membawakan file – file yang bisa di lakukan oleh orang lain, bukan seorang pimpinan tertinggi. Dan lagi bisa di kirimkan dalam bentuk Soft file melalui e-Mail, kenapa harus repot – repot datang kekantornya dan membuat menjadi pusat perhatian semua orang.
Tidak lama setelah memberikan kotak tersebut, Rey pun pergi. Sekarang hanya tersisa Rara dan para staf devisi nya diruangan itu. Mereka hanya menatap Rara dengan tatapan yang sulit diartikan. Rara pun bingung harus menanggapi seperti apa, hasilnya dia hanya diam seolah – olah tidak terjadi apapun. Saat kotaknya di buka ternyata didalamnya tidak hanya berisi data- data yang dia butuhkan, namun ada juga sebuah surat kecil bewarna merah muda. Rara pun membuka sacara perlahan dan membaca isinya.
“Haii Sayang, bagaimana kabarmu hari ini ? Jangan kaget ya atas kedatanganku tadi, aku hanya ingin melihat calon istri ku saat bekerja. Semangat sayang, jangan genit, ingat ada aku. Jangan lupa jam makan siang nanti ku tunggu di cafe EN&H, jangan sampai tidak datang. Karena aku tidak suka penolakan dan ingat jangan coba – coba tidak datang kalau kamu tidak mau aku datang lagi kekantor dan mengumumkan akan hubungan kita. Okee Sayang kutunggu makan siang nanti”
Love you
Tunanganmu tersayang
Astaga Rara benar- benar kesal dengan manusia yang berstatus sebagai tunangannya itu, kenapa sikapnya jadi protektif seperti ini. Dan apa ini makan siang, apa dia tau karena sikapnya tadi, sekarang Rara jadi buah bibir para karyawan disini. Rara benar – benar mengutuk sikap Rey yang menyebalkan.
“Wah wah ada yang lagi senang ni.” Kata Riri dengan nada sinisnya dan tangan di lipat di depan d**a.
Karena larut dalam lamunannya Rara tidak menyadari kehadiran Riri dan Rena yang sudah berdiri dengan tampang sinisnya di dekat mejanya.
“Kayanya ada yang baru dapat mangsa baru,” sahut Rena.
“Apa maksud kalian, lebih baik kalian pergi dari sini sekarang juga.” Ucap Rara setenang mungkin.
“Ada apa ini?” Tiba -tiba pak Jono masuk.
"Rena Rini ngapain kalian disini? Kembali kemeja kalian apa tugas kalian sudah selesai." Perintah pak Jono tanpa terbantahkan .
"Iya Pak," jawab Rena dan Riri bersamaan, kemudian mereka pergi meninggalkan meja Rara. .
"Nona Sera, setelah ini saya tunggu di ruangan saya." Kata pak Jono kemudian pergi dari meja Rara, Rara hanya berharap ini bukan masalah serius .
“Baik pak.”
***
Berkali-kali Rara menarik nafasnya dengan pelan, di depan ruangan kepala devisinya. Dia berharap apa yang akan di bicarakan bosnya tidak ada hubungannya dengan kedatangan Rey tadi.
Tok tok tok ..
"Masuk," Rara lalu membuka pintu dengan pelan saat mendengar sahutan dari dalam.
"Silahkan duduk."
Rara pun duduk di kursi yang ada didepan meja kerja kepala devisinya itu.
"Ada apa Bapak memanggil saya kemari?" tanya Rara dengan sopan.
"Saya hanya ingin bertanya Nona Sera, ada hubungan apa anda dengan presdir Trancargo Hotel?" Tanya pak Jono langsung dengan wajah yang ketara sekali penasarannya.
"Maksud Bapak apa ya, kenapa tiba -tiba bertanya seperti itu jujur saya kurang faham maksudnya." Tanya Rara gugup, karena dia bingung harus menjawab apa.
"Jangan salah faham dengan saya, saya hanya penasaran. Bagaimana bisa seorang Reynaldo Trancargo mau menginjakkan kakinya di kantor kita yang kecil ini hanya untuk mengantar kan sebuah dokumen yang bahkan itu bisa di antar kan oleh asistennya. Apa ada masalah?" Pak Jono mengeluarkan argumennya mengenai kecurigaannya. Rara pun bingung harus menjawab apa, mana mungkin dia bilang kalau Reynaldo Trancargo adalah tunangannya.
“Tidak ada masalah apapun Pak, semua baik-baik saja. Mungkin Pak Rey ingin melihat langsung bagaimana kinerja perusahan yang bekerja dengan perusahannya itu Pak jadi dia mau terjun langsung ke kantor kita ini." Jawab Rara setenang mungkin. Berusaha tidak menimbulkan kecurigaan bosnya.
"Emm jadi begitu ya, ya sudah kalau hanya itu alasannya semoga saja tidak akan ada masalah di kemudian hari. Kalau begitu kamu bisa kembali keruanganmu lagi Nona Sera.”
"Baiklah Pak kalau begitu Saya permisi," kata Rara dengan sopan. Kemudian Rara kembali keruangannya dengan perasaan lega dan melanjutkan pekerjaannya.
******BERSAMBUNG *****
WNG, 15 JULI 2020
SALAM
E_PRASETYO