Di Bawah Guyuran Hujan

1206 Kata
            Cewek bernama Gevilda Rain yang katanya penggila dengan namanya hujan itu kini tengah mengayunkan kakinya untuk mengusir rasa bosan yang melanda karena tengah menunggu sahabatnya yang sedang latihan futsal di lapangan sekolah.             Terakhir kali ia memainkan ponsel, ia melihat jam yang telah menunjukkan pukul empat sore. Dan mungkin sekarang sudah melewati.             Hal ini lah yang paling ia sesalkan ketika pulang bareng dengan Gabro di hari Selasa. Jadwal latihan futsal di SMA-nya memang dua kali dalam seminggu, yaitu hari Selasa dan Jumat. Diantara dua hari itu, Gevilda paling menyesalkan hari Selasa karena ia harus menunggu Gabro lebih lama di pinggir lapangan yang disebabkan oleh latihannya yang terlalu panjang. Bahkan pernah Gevilda baru sampai di rumah sehabis maghrib gara-gara latihan futsal sialan itu.             Sebenarnya sudah berulang kali ia mencoba pulang sekolah sendiri tanpa bergantung dengan Gabro. Namun, setiap ia mencoba hal itu, rencananya itu pasti gagal karena Gabro memiliki 1001 cara agar Gevilda pulang bersamanya. Ditambah lagi Hanna yang selalu bersekongkol dengan cowok itu agar dia terus berada di sisi Gabro.             Cowok itu memang aneh. Ngakunya sahabat tapi kok possessif?             “Yuk pulang!” Tanpa memberi salam ataupun sekedar say ‘hi’  terlebih dahulu padanya, Gabro langsung menarik tangan Gevilda agar bangkit dari duduknya. Cowok itu selalu bersikap berkuasa pada Gevilda. Dan Gevilda benci itu.             Gevilda menarik tangannya dengan paksa hingga cekalan Gabro lepas begitu saja. “Lo tuh bisa sopan dikit nggak, sih? Tanyain kek gimana keadaan gue setelah nunggu lo berjam-jam, bukannya narik-narik tangan orang sembarangan kayak gitu!” seru Gevilda hingga menarik perhatian teman-teman futsal Gabro dan menyaksikan pertengkaran mereka. “Lo tau nggak? p****t gue ini rasanya udah mau kebakar saking lamanya duduk nungguin lo gak jelas di sana! Dan lo masih aja bersikap sok berkuasa atas gue?”             Sepanjang omelan yang diberikan Gevilda, Gabro hanya diam mendengarkan karena ia sudah terbiasa merima hal itu dari mulut pedas Gevilda. Ia mengaku bahwa dirinya salah. Ia membuat Gevilda selalu menunggu lama karena latihan futsalnya ini. Namun, setiap kali Gevilda mencoba untuk pulang sendiri ke rumah tanpa ia yang mengantar, rasa ketakutan akan terjadi apa-apa pada cewek itu selalu muncul.             Ia terlalu khawatir akan keadaan Gevilda jika saja nantinya cewek itu akan bertemu dengan orang jahat dalam perjalanan pulangnya. Jika hal itu terjadi, Gabro benar-benar tak akan memaafkan dirinya karena Gabro merasa Gevilda adalah tanggung jawabnya. Sosok yang harus ia jaga dan ia lindungi.             “Maaf,” ucap Gabro tampak menyesal. “Maafin gue yang selalu bikin lo nunggu. Nanti kalau gue latihan futsal lagi, lo boleh pulang duluan.” Gabro menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Bahkan Gevilda tak menyangka jika omelan yang bersifat candaan semata itu, diterima Gabro hingga ia terlalu memasukkannya ke dalam hati.             Gevilda menatap Gabro yang tengah menundukkan kepalanya seperti sedang mengheningkan cipta. Kemudian ia menyemburkan tawa begitu kencang sampai membuat Gabro terkejut dan menatap Gevilda dengan penuh keheranan.             Ini cewek kerasukan apa gimana?  Gabro membatin dalam hati.             “Gokil banget! Nggak nyangka kalau omelan gue kali ini manjur bikin lo merasa bersalah,” ujar Gevilda diiringi dengan tawa kencangnya. Saking lucunya, cewek itu harus memegangi perutnya yang terasa sakit karena tawa pecah yang ia berikan.             Gabro mencebikkan bibirnya, lalu tangannya terangkat ke udara berniat untuk memukul Gevilda. Namun, gerakannya langsung dihentikan oleh tatapan tajam yang diberikan cewek itu. “Apa? Lo mau mukul gue?” Gevilda menatap Gabro dengan tatapan menantang sambil berkacak pinggang.             “Ng—Nggak. Gue mau narik tangan lo.” Untuk kesekian kalinya, Gabro menarik tangan Gevilda tanpa izin terlebih dahulu kepada cewek itu. Ia menarik tangan Gevilda tanpa mencengkeram kuat pergelangan tangan Gevilda sehingga cewek itu tak protes sama sekali. Malahan ia menerbitkan senyum secara diam-diam dari balik punggung Gabro yang terlihat kekar.             Sesampainya di area parkir dan keberadaan mereka sudah sangat dekat dengan motor ninja milik Gabro, cowok itu langsung meraih sebuah helm yang biasa dipakai Gevilda lalu memasangkannya ke kepala cewek tersebut. Saat Gabro memasangkan helm itu, acara saling tatap pun terjadi tanpa sengaja.             Mata hitam Gabro kini berkontak dengan mata teduh milik Gevilda yang sedikit kecoklatan hingga keduanya hanyut dalam tatapan masing-masing selama beberapa detik.             “Udah jangan natapin gue melulu, nanti jatuh cinta lagi.” Gabro menutup kaca helm Gevilda secara kasar hingga Gevilda dibuat terkejut karena cewek yang satu itu terlalu hanyut dalam tatapan yang diberikan Gabro. Tatapannya itu.. terlalu menenangkan, menurut Gevilda.             “Dih, ngarep banget lo ya buat gue cintai?” Gevilda berniat untuk memberikan candaan semata. Tetapi sahutan dari Gabro membuatnya terdiam seketika.             “Kalau bisa kenapa enggak?” sahut Gabro dari balik helm-nya sambil menyalakan mesin motornya. “Ayo naik. Keburu hujan, nih!” Gabro sedikit berteriak dari balik helm-nya karena takut ucapannya tak terdengar oleh Gevilda. Setelah beberapa detik menunggu dan tak kunjung merasakan pergerakan dari Gevilda, Gabro menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati si cewek yang sedang diam membeku.             Karena kesal dengan Gevilda yang tak kunjung juga memperlihatkan gestur tubuh ingin naik ke atas motornya, Gabro pun menangkup helm yang melindungi kepala Gevilda menggunakan kedua tangannya lalu menolehkannya ke kanan dan ke kiri berharap agar cewek tersebut segera tersadar dari lamunannya.             “Eh, Gabro apaan, sih?!” omel Gevilda seraya memasang wajah cemberutnya.             “Lagian disuruh naik ke motor malah bengong. Buruan, awannya mendung tuh.”             Secara otomatis kepala Gevilda medongak ke atas guna memastikan ucapan Gabro. Benar saja, sore hari ini dibubuhi dengan pemandangan awan hitam yang tampaknya telah siap menitikkan air hujan. Refleks, Gevilda menarik bibirnya untuk tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Gabro. “Bro, pelan-pelan aja ya bawa motornya? Gue mau ujan-ujanan,” pintanya pada Gabro yang tengah menghela nafasnya.             Gabro bahkan lupa jika sahabatnya itu sangat suka dengan turunnya hujan. Sedari kecil, setiap hujan turun dan membasahi permukaan bumi, Gevilda selalu memastikan dirinya ada di luar rumah dan bermain dengan rintikan air yang turun dengan deras. Rintikan air hujan itu seperti membawa ketenangan bagi Gevilda. Selama hujan tak jua reda, maka Gevilda akan selalu berada di luar rumah untuk bermain hujan. Bahkan Gabro saja pernah dibuatnya demam karena cewek itu meminta untuk menemaninya mandi hujan sepanjang hujan turun.             “Tapi jangan lama-lama, ya? Tubuh lo bisa demam kalau kebanyakan kena air hujan.” Gabro memperingatkan yang langsung diangguki Gevilda dengan penuh antusias. Cewek itu pun naik ke atas motor ninja Gabro. Setelah itu, Gabro menjalankan motornya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Baru saja keduanya menjauh dari area sekolah, tetes demi tetes air turun dari langit. Dan lama-kelamaan menjadi hujan yang amat deras hingga seragam yang mereka gunakan basah kuyup dalam sekejap.             Di belakang Gabro, saat ini Gevilda tengah riang gembira hingga ia menengadahkan tangannya ke udara lalu merentangkan kedua tangannya selebar mungkin. Kaca helm yang tadinya tertutup pun kini telah terbuka hingga memperlihatkan wajah Gevilda yang tampak sumringah. “GUE SUKA HUJAN!” teriaknya dengan begitu kencang sampai membuat Gabro yang berada di depannya menggelengkan kepala karena keheranan.             Sebahagia itu seorang Gevilda Rain dipertemukan dengan hujan.             Setelah asyik memainkan genangan air yang ada di kedua tangannya, Gevilda pun memeluk Gabro dengan erat. “Makasih, Bro. Lo selalu jadi yang ter-the best buat gue!” seru Gevilda kemudian kembali asyik dengan guyuran hujan yang turun.             Tanpa sadar, Gabro menerbitkan senyumnya dari kaca helm yang tertutup. Ia senang melihat Gevilda bahagia ketika bersamanya. Rasa lelah ataupun beban yang ia rasakan tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Sebegitu berpengaruhnya Gevilda terhadap dirinya.             Dengan tangan yang mulai mendingin, Gabro menggenggam tangan Gevilda yang melingkar dengan sempurna di perutnya. Dibawah guyuran hujan kala itu, dalam hati Gabro, ia mendeklarasikan bahwa Gevilda adalah pemegang hatinya.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN