Deru motor ninja ber-merk Kawasaki telah memasuki pekarangan rumah bertipe minimalis yang terdapat di sebuah perumahan elite. Gabro menurunkan dirinya dari atas motor lalu berjalan menuju pintu rumah yang terbuka karena ada seseorang yang sedang berdiri di sana. Seseorang tersebut tampaknya sedang menunggu kehadiran seseorang.
“Masya Allah, Gabro!” seru Ayla—Bunda Gabro—sembari menghampiri anaknya yang dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan. Wanita berhijab yang diperkirakan berumur 50 tahunan itu menarik masuk Gabro ke dalam rumah lalu mengunci pintu. “Kamu hujan-hujanan lagi?” tanya Ayla sambil menuntun Gabro ke lantai atas menuju kamarnya.
Gabro hanya menganggukkan kepalanya kecil. Seluruh tubuhnya menggigil karena menemani Gevilda bermain hujan tadi sore. Dia memang memiliki daya tahan tubuh yang agak lemah, berbeda dengan Gevilda yang entah mengapa jarang sekali terkena demam sehabis bermain hujan. Padahal jika dipikir-pikir, Gabro sangat jarang melihat Gevilda berolahraga. Biasanya ia jogging di taman seminggu sekali saja itu pun juga kalau lagi mood.
“Gabro, daya tahan kamu itu ‘kan lemah, Nak. Jangan paksain diri kamu terus buat nemenin Gevilda main hujan.” Ayla memberikan nasihat pada Gabro yang sibuk meletakkan barang-barang sekolahnya di lantai kamar. Entah untuk ke berapa kalinya Ayla memberikan nasihat ini pada Gabro. Namun, anaknya itu tetap kekeh dengan pendiriannya yaitu ingin membuat Gevilda bahagia.
“Bunda gak perlu khawatir. Gabro nggak papa kok. Gabro rela nemenin Gevilda main hujan sampai Gabro demam asalkan Gevilda seneng.” Gabro menepuk bahu sang Bunda lalu mengusapnya berusaha untuk menenangkan wanita tangguh yang selama ini selalu menemaninya.
Jangan tanyakan keberadaan sang Ayah pada Gabro karena lelaki yang dulu ia sebut superhero itu telah memutuskan untuk meninggalkan Gabro dan Ayla lalu memilih menikah lagi dengan selingkuhannya yang ternyata adalah mantan sekretarisnya di kantor.
Kejadiannya sudah cukup lama, sekitar 10 tahun yang lalu. Tapi menyembuhkan rasa sakit hati dan kecewanya yang terlalu sulit. Apalagi Ayla, sang Bunda yang diceraikan secara tiba-tiba. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba sang Ayah memberikan surat cerai pada Ayla. Itulah yang membuat Gabro sampai sekarang tak bisa memaafkan Ayah-nya. Padahal sudah berulang kali Ayla mengatakan bahwa ia sudah mengikhlaskan sang mantan suami untuk jatuh ke pelukan orang lain.
Selama melewati masa-masa sulit itu, Gevilda yang bersahabat dengannya dari umur 5 tahun itu selalu hadir untuk menghibur Gabro yang setiap harinya hanya mengurung diri di kamar sambil menangisi nasibnya yang tak sebaik anak-anak di luar sana yang bisa bermain dengan sang Ayah di masa pertumbuhannya.
Ayla dan Gevilda lah alasan mengapa ia bisa melupakan kejadian yang memilukan itu.
Ayla menghembuskan nafasnya kemudian mengusap rambut hitam Gabro yang basah dan lepek, “Kalau kamu udah bilang begitu, Bunda bisa apa?” Ayla paham betul dengan perasaan Gabro yang tak ingin membuat sahabat kecilnya itu sedih. Jika Gevilda lah selama ini sumber kebahagiaan Gabro, maka Ayla hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka. “Ya sudah, sekarang kamu mandi sana. Bunda mau nyiapin teh hangat buat kamu.” Ayla mengakhiri kalimatnya dengan senyuman lalu keluar dari kamar Gabro dan menutup pintu kamar sang anak dengan rapat. Sementara itu, Gabro langsung berlari kecil menuju kamar mandi karena sudah tak dapat lagi menahan hawa dingin yang sedari tadi menyergap tubuhnya.
Butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk Gabro mengakhiri sesi mandinya. Kemudian dilanjutkan dengan menunaikan sholat maghrib selama 3-4 menit. Setelah itu, ia mengistirahatkan badan dengan rebahan di kasur. Hawa dingin masih menyelimuti tubuhnya hingga ia memutuskan untuk menarik selimut tebal ke badannya hingga mencapai d**a.
Beberapa kali ia mengalami bersin-bersin sampai hidungnya memerah. Ketika Gabro berniat untuk turun ke lantai bawah untuk mengambil obat, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke aplikasi w******p miliknya.
Sebuah kontak yang diberi nama oleh Gabro ‘Cewek Penggila Hujan’ itu yang melakukan sebuah panggilan.
“Halo, Bro?” terdengar suara Gevilda dari seberang sana yang nampaknya dalam keadaan baik-baik saja.
“Iya, gue di sini. Kenapa?” Sebisa mungkin Gabro menahan bersin yang sangat mengganggu hidungnya. Jika saja bersinnya terdengar oleh Gevilda, bisa-bisa cewek itu langsung panik dan khawatir.
“Lo nggak papa? Badan lo anget nggak? Atau bersin-bersin? Jawab, Bro. Jangan diem aja!” Gevilda memberikan pertanyaan secara beruntun yang membuat Gabro menarik bibirnya dan mengukir senyum manis di sana. Ia sangat suka jika Gevilda khawatir seperti ini.
“Gue nggak papa, Gev. Badan gue nggak anget. Kalau bersin-bersin sih iya, hehe.” Gabro terkekeh kecil lalu ia mendengar decakan dari mulut Gevilda.
“Itu namanya lo lagi ada apa-apa, b**o! Udah, ah matiin aja telponnya. Gue kesana sekarang.” Panggilan dimatikan secara sepihak oleh Gevilda yang membuat Gabro menggelengkan kepalanya.
“Dia yang minta matiin telponnya, tapi dia juga yang matiin telpon secara sepihak,” gumam Gabro lalu menaruh ponselnya di nakas.
Selang satu detik, Ayla pun masuk ke dalam kamar Gabro dengan membawakan cowok itu segelas teh hangat beserta obat flu. Gabro yang merasa tak enak hati pada Bundanya, kini mengambil alih teh hangat dan obat flu tersebut.
“Makasih, Bun. Maaf ngerepotin.”
Ayla mengusap kepala Gabro dengan penuh kasih sayang. “Gak ngerepotin kok, Nak. Oh iya, tadi Bunda denger kamu telponan sama seseorang. Telpon dari Gevilda, ya?” tebak Ayla yang langsung dibenarkan oleh Gabro.
“Bunda tahu aja.”
“Ya, iyalah Bunda tahu. ‘Kan yang sering telponan sama kamu cuma dia doang.” Ayla dan Gabro terkekeh bersama karena memang benar apa yang diucapkan Ayla barusan. Gevilda dan Gabro tak pernah absen untuk bertelponan di malam hari. Padahal yang diomongin juga gak penting-penting banget. Kebanyakan sih cuma nge-ghibah doang.
“Gabro?” Ayla menatap sang anak dengan tatapan serius.
“Iya, Bun?”
“Bunda penasaran, apa sih yang selama ini kamu rasain ke Gevilda?”
Pertanyaan dari Ayla barusan membuat Gabro menghentikan aktivitasnya. Ia balik menatap sang Bunda lalu terkekeh. “Bunda apaan sih. Gabro sama Gevilda itu cuma sahabat doang. Nggak pakai rasa apa-apa,” sahut Gabro santai.
“Cuma sahabat kok saling perhatian dan khawatir?” tanya Ayla lagi yang membuat Gabro terhenyak. Ayla yang menyadari apa alasan diamnya Gabro kini menepuk-nepuk punggung cowok itu. “Perhatiannya kamu ke dia itu menurut Bunda berbeda dari perhatian yang biasa diberikan seorang sahabat. Bahkan pedulinya kamu pun terkadang bisa menjadi possessif.” Ayla menjeda ucapannya lalu menggenggam tangan sang anak. “Gabro, kalau kamu suka sama Gevilda ungkapin aja. Jangan malu atau kemakan gengsi. Nanti nyesal loh di kemudian hari.” Tangan Ayla terulur untuk mengucek rambut Gabro kemudian memilih untuk meninggalkan Gabro yang masih setia dengan diamnya.
Cowok itu jadi kepikiran dengan ucapan Ayla yang begitu menghenyak dirinya. Malu dan gengsi. Apakah Gabro terjebak dalam kedua hal itu?