Segelas s**u coklat hangat menemani malam Gevilda yang dingin karena hujan baru saja reda beberapa menit yang lalu. Cewek itu meneguk susunya dengan senyum yang terus terpatri di bibirnya. Kilasan tentang bermain hujan bersama Gabro tadi sore kembali terputar di otaknya. Entah mengapa, ketika ia bermain hujan bersama cowok itu, Gevilda merasakan sebuah ketenangan dan kegembiraan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sedari kecil, Gabro tak pernah absen untuk menemani Gevilda bermain dibawah rinai hujan. Ia meminta atau tidak, Gabro tetap menemaninya hingga Gevilda merasa puas dan senang. Cowok itu rela dilanda sakit akibat terlalu lama menemani Gevilda yang asyik dengan rintikan air hujan asalkan gadis itu tersenyum bahagia.
Hal itulah yang kadang membuat Gevilda tak enak hati.
Gabro sudah terlalu banyak mengorbankan dirinya demi kebahagiaan Gevilda. Gabro pernah mengatakan bahwa Gevilda tak boleh pergi dari hidupnya karena dialah alasan bangkitnya seorang Gabro Antariksa. Saat itu Gevilda hanya tersenyum. Ingin sekali mulutnya membalas ucapan Gabro dengan mengatakan bahwa ia juga tak ingin cowok itu pergi dari hidupnya karena Gabro adalah sumber kebahagian dan ketenangannya.
Gevilda terlalu gengsi untuk mengatakan hal itu hingga ia memilih untuk memendam ucapan tersebut.
Gevilda meneguk s**u coklatnya untuk yang terakhir. Kemudian ia menaruh gelas kosong bekas s**u coklat hangat tadi di nakas. Lalu ia mengambil ponselnya yang tergeletak tak jauh dari gelas tersebut.
Ia membuka layar lalu mulai berseluncur di dunia sosial medianya. Satu per satu akun media sosialnya ia cek, tetapi tak ada hal yang menarik perhatiannya. Pilihannya pun kini jatuh untuk membuka aplikasi w******p. Kemunculannya di aplikasi itu langsung disambut dengan nama Gabro yang sengaja ia sematkan karena dari sekian banyaknya kontak yang ia miliki, Gevilda paling sering menghubungi Gabro. Bahkan ia tak pernah absen untuk bertelpon ria dengan cowok itu di malam hari.
Melihat mereka seperti itu, banyak yang menduga kalau keduanya memiliki hubungan spesial. Padahal nyatanya hanyalah sebatas sahabat. Tolong digaris bawahi, hanya sebatas sahabat.
Gevilda membuka roomchat-nya dengan Gabro, lalu tanpa direncakan sebelumnya oleh Gevilda, tiba-tiba jarinya sudah mengetuk tanda telpon dan panggilan suara pun mulai dilakukan. “Ah, jari sialan!” rutuk Gevilda. Karena sudah terlanjur tersambung, Gevilda pun memilih untuk mendekatkan ponselnya ke telinga. Ia tak bisa mengelak kalau sekarang ia ingin sekali mengetahui keadaan Gabro.
Ketika waktu panggilan sudah mulai terlihat, Gevilda langsung menyapa Gabro yang ada di seberang sana. “Halo, Bro?”
“Iya, gue di sini. Kenapa?” suara Gabro yang terdengar sedikit serak membuat pikiran Gevilda sudah berkelebat ke mana-mana.
“Lo nggak papa? Badan lo anget nggak? Atau bersin-bersin? Jawab, Bro. Jangan diem aja!” seru Gevilda karena mulai khawatir jika cowok itu kenapa-napa.
“Gue nggak papa, Gev. Badan gue nggak anget. Kalau bersin-bersin sih iya, hehe.” Terdengar kekehan kecil di seberang sana yang membuat Gevilda berdecak.
“Itu namanya lo lagi ada apa-apa, b**o! Udah, ah matiin aja telponnya. Gue ke sana sekarang.” Karena kesal, Gevilda mematikan panggilan secara pihak. Ia langsung mengganti baju tidurnya dengan stel-an baju yang biasa ia pakai untuk jalan-jalan lalu menyampirkan sling bag-nya di bahu.
Sebelum pergi, ia memesan ojek online dari aplikasi yang terdapat di ponselnya lalu turun ke lantai bawah untuk meminta izin pada Hanna yang tengah asyik menonton drama korea yang ditampilkan oleh salah satu stasiun televisi.
“Ma, Vilda izin ke rumah Gabro, ya?” Gevilda mengulurkan tangannya berniat untuk mencium punggung tangan Hanna. Hanna yang saat itu masih fokus pada drama korea yang ia tonton memilih untuk menganggukkan kepala saja lalu mengulurkan tangannya pada Gevilda.
Setelah itu, Gevilda langsung berlari kecil ke arah pintu rumah. Membuka pintu tersebut lalu menutup pintu dengan rapat setelah berada di luar rumah. Ia kembali berlari ketika melihat ojek online yang ia pesan sudah datang. Tanpa berbasa-basi, Gevilda langsung memakai helm yang diberikan sang ojek online lalu naik ke atas motor milik abang ojol tersebut.
Butuh waktu sekitar 12 menit untuk sampai ke rumah Gabro dengan selamat. Sebelumnya, Gevilda sempat mampir ke toko buah di pinggir jalan untuk membelikan buah apel yang notabenenya adalah buah kesukaan Gabro.
Gevilda memberikan uang dua puluh ribuan pada abang ojol yang sudah mengantarnya. “Ambil aja kembaliannya, Bang.”
“Beneran Neng?”
Gevilda mengangguk antusias yang membuat sang ojek online mengucapkan terima kasih kemudian berlalu dari hadapan Gevilda. Helaan nafas keluar dari mulut Gevilda. Langkahnya kini menuju depan rumah Gabro yang di sana sudah terdapat Alya, Bunda Gabro.
“Assalamualaikum, Bun.” Gevilda mengecup punggung tangan Alya dengan lembut.
Wanita berhijab itu tersenyum lalu mengusap kepala Gevilda. “Waalaikumsalam, Gevilda.”
“Gabronya ada, Bun?”
“Gabro mah selalu ada buat kamu,” jawab Alya yang membuat Gevilda tertawa kecil. “Kita masuk, yuk?” ajak Alya yang diangguki Gevilda dengan segan. Keduanya pun berjalan berdampingan sebelum berpisah di bawah anak tangga karena Alya ingin mengupas apel yang diberikan oleh Gevilda terlebih dahulu untuk dimakan bersama.
Gevilda kini menapaki anak tangga menuju kamar Gabro. Sekitar satu menit, ia telah sampai di depan kamar Gabro yang pintunya terbuka lebar dan memperlihatkan Gabro yang tengah berbaring sambil memainkan ponsel.
Tanpa memberi salam atau sekedar menyapa, Gevilda langsung nyelonong masuk ke dalam kamar yang berwarna monokrom itu dengan cepat lalu mengambil ponsel yang ada di genggaman Gabro secara tiba-tiba.
“Katanya sakit tapi main handphone, gimana sih?!” Gevilda menaruh ponsel Gabro di nakas lalu duduk di pinggir kasur dengan menekuk wajahnya. Gabro yang masih tak menyangka dengan kedatangan Gevilda yang begitu mendadak kini mulai menyandarkan tubuhnya.
“Bosen, Gev,”
“Kalau bosen tidur!”
“Belum ngantuk gimana dong?” pertanyaan dari Gabro itu membuat Gevilda langsung kicep dan memilih untuk diam dengan wajah kesalnya. “Lagian gue juga nggak bilang kalau gue sakit. Gue cuma mengiyakan pertanyaan dari lo yang bilang kalau gue bersin-bersin apa enggak.”
“Iya Bapak Gabro yang terhormat.” Gevilda memutar bola matanya malas yang sontak membuat Gabro gemas sendiri dan mencubit kedua pipi Gevilda hingga cewek itu meringis kesakitan. “Gabro, lo tuh ya!”
“Habisnya ngegemesin. Bikin gue tambah sayang aja.”
Gevilda terdiam seketika. Gadis itu benar-benar tak menyangka jika Gabro menyebut kalimat itu dan sukses membuat jantung Gevilda berdetak kencang tak karuan. Disela kecanggungan yang tercipta, Gabro berdehem lalu megucapkan sesuatu yang membuat harapan Gevilda langsung jatuh ke dasar jurang.
“Sayang sebagai sahabat maksudnya,” ujar Gabro melanjutkan ucapannya sambil memandang ke arah luar jendela. Gevilda pun berusaha mengimbangi permainan ini dengan menerbitkan senyum sumringahnya.
“Ya, iyalah sayang sebagai sahabat. Mustahil di dalam persahabatan kita ada yang namanya cinta.” Gevilda tertawa sumbang di akhir kalimatnya. Ia kemudian melirik ke arah Gabro yang hanya menerbitkan senyum tipis yang tak Gevilda pahami apa arti senyuman itu.
Di tengah suasana yang canggung itu, tiba-tiba Gevilda dilanda kantuk yang tak bisa lagi ia tampik kehadirannya. Berkali-kali matanya sudah tertutup, tetapi Gevilda paksa untuk terbuka kembali. Gabro yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu mendekat ke arah Gevilda dan duduk tepat disampingnya.
Secara perlahan, Gabro menarik kepala Gevilda agar jatuh ke bahunya yang bidang lalu menepuk-nepuk kepala Gevilda agar terlelap dengan damai di bahunya. “Kalau sayang yang gue rasain ke lo lebih dari rasa sayang seorang sahabat, apa lo masih mau berada di hidup gue, Gev?” Gabro bertanya pada keheningan yang tercipta diantara mereka karena Gevilda benar-benar sudah terlelap dalam tidurnya.
Andai Gevilda mendengar apa yang dikatakan Gabro barusan, mungkin kisah persahabatan mereka sudah berbeda. Namun, semuanya hanya menjadi perandaian yang kemungkinan tak akan pernah terjadi di kenyataan.