Abian membiarkan Olive tetap tertidur, ia yang memanjakan istrinya itu. Sesekali Abian mengelus perut Olive untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Mereka kini sudah sama-sama tidak mengenakkan sehelai benang pun. Meskipun sudah berulang kali menikmati sentuhan tubuh masing-masing, Olive masih saja merasa malu dan seketika pipinya merona merah. Apalagi Abian selalu memimpin dengan ide-ide nakalnya yang tidak terfikirkan oleh Olive sebelumnya. Olive melepaskan dera nafas nya ketika Abian berhenti untuk menghisap lembut bibirnya. Abian menjadi begitu posesif untuk memiliki tubuh Olive. Sampai tanpa ia sadari ia sudah membuat bekas merah di bagian leher Olive, tepat di dekat tengkuk Olive. “Yah merah dong?” Abian menahan tawanya “Ih? Dimana? kamu sih kuat banget lo tadi ngisepnya!” Olive

