Aku Akan Menemukan Kakakku
"Naura, bilang kalau ini cuma bercanda."
Suara Rina bergetar saat membaca surat yang baru saja jatuh dari tangannya. Di atas meja makan, sebuah amplop putih terbuka lebar dengan logo Blackwood University tercetak jelas di bagian depannya. Wajahnya langsung memucat begitu membaca isi surat tersebut, seolah nama kampus itu membawa kembali mimpi buruk yang selama dua tahun berusaha ia lupakan.
"Itu bukan bercanda, Ma."
Naura berdiri di hadapan ibunya tanpa mengalihkan pandangan. Ia sudah memperkirakan reaksi ini sejak surat penerimaan itu tiba pagi tadi. Namun melihat ketakutan yang muncul di mata ibunya tetap membuat dadanya terasa sesak.
"Kamu mendaftar ke sana?" tanya Rina dengan suara yang mulai meninggi.
Naura mengangguk pelan.
"Diam-diam?"
Keheningan yang muncul menjadi jawaban paling jelas. Rina mundur selangkah sambil menatap surat itu lagi, seolah berharap tulisan di atasnya berubah menjadi nama kampus lain.
"Kamu sudah janji." Suaranya mulai bergetar karena emosi. "Kamu sudah janji tidak akan berhubungan lagi dengan tempat itu."
Naura mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Dua tahun telah berlalu sejak kakaknya menghilang, tetapi luka itu tidak pernah benar-benar sembuh. Rumah mereka masih menyimpan terlalu banyak kenangan tentang seseorang yang pergi tanpa meninggalkan jawaban.
"Ma, aku cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Nara."
BRAK!
Rina memukul meja hingga gelas di atasnya bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Apa yang terjadi?" ulangnya dengan suara pecah. "Kakakmu hilang, Naura."
Kalimat itu membuat suasana rumah langsung membeku.
Dua tahun lalu, Nara Alesha berangkat ke Blackwood University sebagai mahasiswa baru. Dia tinggal di Black Dorm, asrama yang terkenal karena berbagai rumor aneh dan cerita menyeramkan. Beberapa bulan kemudian, Nara menghilang tanpa jejak. Tidak ada surat. Tidak ada pesan. Tidak ada alasan. Sampai hari ini, tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayah dan Ibu sudah melakukan semuanya," lanjut Rina. "Kami melapor ke polisi. Kami mendatangi kampus itu berkali-kali. Kami menyewa orang untuk mencari kakakmu. Kami bahkan menghabiskan tabungan keluarga. Tapi hasilnya apa? Tidak ada."
Naura menundukkan kepala sesaat. Dia tahu semua itu benar. Dia melihat sendiri bagaimana ayahnya berubah sejak kehilangan Nara. Dia melihat sendiri bagaimana ibunya menangis diam-diam setiap malam. Namun justru karena itulah dia tidak bisa menyerah.
"Tapi aku tidak percaya Kak Nara pergi begitu saja."
Rina menggeleng kuat.
"Naura..."
"Aku serius, Ma." Naura mengangkat kepala dan menatap ibunya dengan mata memerah. "Kalau Kak Nara memang kabur, kenapa dia tidak pernah menghubungi kita? Kalau dia memang pergi, kenapa semua orang di kampus itu menolak bicara? Dan kalau ini hanya kasus orang hilang biasa, kenapa semua bukti tentang dia seperti sengaja dihapus?"
Untuk sesaat, Rina tidak mampu menjawab. Karena jauh di dalam hatinya, dia juga pernah mempertanyakan hal yang sama. Semua pertanyaan yang dilontarkan Naura adalah pertanyaan yang selama dua tahun terakhir terus menghantuinya. Namun semakin lama waktu berlalu, semakin besar pula ketakutan yang mengalahkan rasa penasarannya.
"Aku tidak mau kehilangan kamu juga."
Kalimat itu membuat d**a Naura terasa sesak. Dia tahu ibunya takut. Dia tahu keluarganya sudah lelah menghadapi kehilangan yang tidak pernah mendapatkan jawaban. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah selama dua tahun terakhir. Naura tidak percaya kakaknya menghilang begitu saja.
"Aku akan menemukannya."
Rina menatap putrinya lama sebelum akhirnya menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lelah, seolah beban yang dipikul selama dua tahun terakhir kembali menekan pundaknya. Meski tidak setuju, dia tahu tidak ada yang bisa menghentikan Naura jika gadis itu sudah mengambil keputusan.
"Kamu keras kepala seperti kakakmu."
Naura tersenyum tipis mendengar kalimat itu. Sudah lama sekali dia tidak mendengar seseorang membandingkannya dengan Nara tanpa diiringi kesedihan. Untuk sesaat, kenangan tentang kakaknya terasa begitu dekat.
"Itu pujian atau hinaan?"
"Tergantung situasinya."
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu dimulai, suasana sedikit melunak. Namun keduanya sama-sama tahu bahwa keputusan Naura tidak akan berubah. Cepat atau lambat, gadis itu tetap akan pergi ke Blackwood University.
Malam itu, setelah semua orang tidur, Naura masuk ke kamarnya dan membuka laci meja belajar. Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah ponsel lama yang sudah rusak. Ponsel itu adalah satu-satunya barang milik Nara yang berhasil ditemukan polisi setelah kasusnya ditutup.
Layarnya retak dan sebagian besar datanya sudah hilang. Namun ada satu pesan yang masih tersimpan di dalamnya. Pesan itu dikirim Nara seminggu sebelum dirinya menghilang tanpa jejak.
"Kalau suatu hari aku tidak bisa pulang, jangan percaya siapa pun di Black Dorm."
Naura membaca pesan itu berkali-kali. Sama seperti yang selalu dilakukannya selama dua tahun terakhir. Semakin sering dibaca, semakin kuat keyakinannya bahwa kakaknya tidak menghilang karena kecelakaan biasa. Seseorang sengaja membuat Nara menghilang.
Dan jawaban atas semuanya ada di Blackwood University.
Seminggu kemudian, Naura berdiri di depan gerbang Blackwood University sambil menggenggam erat surat penerimaannya. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Bukan karena gugup menjadi mahasiswa baru, melainkan karena tempat inilah yang merenggut kakaknya dua tahun lalu.
Mahasiswa lalu-lalang di sekitarnya dengan wajah ceria. Sebagian tertawa bersama teman-teman baru mereka, sementara yang lain sibuk menyeret koper menuju asrama masing-masing. Semua terlihat normal. Terlalu normal untuk tempat yang menyimpan begitu banyak pertanyaan.
Naura berjalan menuju bagian administrasi dan menyerahkan surat penerimaannya. Petugas kampus menerimanya dengan senyum ramah. Namun senyum itu langsung menghilang saat membaca lokasi asrama yang tertera di surat tersebut.
BLACK DORM.
Pria itu membeku selama beberapa detik. Ekspresinya berubah aneh, seolah nama asrama itu membawa kenangan yang tidak menyenangkan. Reaksi itu langsung membuat Naura semakin penasaran.
"Ada masalah, Pak?" tanya Naura.
Petugas itu buru-buru menggeleng. Dia tampak ragu sebelum akhirnya kembali melihat surat tersebut. Beberapa kali bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu mau tinggal di sana?"
Naura mengernyit bingung. Tidak ada yang aneh dengan pertanyaan itu, tetapi cara pria tersebut mengatakannya membuat suasana terasa tidak nyaman. Seolah Black Dorm adalah tempat yang seharusnya dihindari.
"Memangnya kenapa?"
Pria itu terdiam sesaat. Namun pada akhirnya dia hanya mengembalikan surat tersebut tanpa memberikan jawaban apa pun. Sebelum Naura pergi, pria itu hanya mengucapkan satu kalimat pendek.
"Hati-hati."
Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Dan justru karena itulah rasa penasaran Naura semakin besar.
Sore perlahan berubah menjadi malam ketika Naura akhirnya menemukan bangunan Black Dorm. Asrama itu berdiri terpisah dari bangunan lain, terlihat lebih tua dan suram dibandingkan asrama mahasiswa lainnya. Cat dindingnya mulai mengelupas dan beberapa jendelanya tampak gelap tanpa cahaya.
Naura berhenti sejenak di depan bangunan itu. Inilah tempat terakhir yang diketahui pernah dihuni Nara. Tempat yang mengubah hidup keluarganya. Dan mungkin satu-satunya tempat yang masih menyimpan jawaban tentang keberadaan kakaknya.
Saat hendak menaiki tangga depan, beberapa mahasiswa yang lewat mendadak mempercepat langkah mereka. Bahkan ada yang sengaja mengalihkan pandangan ketika melihat Black Dorm. Seolah mereka tidak ingin berurusan dengan bangunan tersebut.
"Aneh," gumam Naura pelan.
Baru saja dia melangkah ke anak tangga kedua ketika suara benda pecah terdengar dari dalam bangunan.
BRAK!
Disusul suara bentakan laki-laki. Kemudian suara tawa yang terdengar terlalu santai untuk situasi seperti itu. Suasana di dalam asrama itu sama sekali tidak terasa normal.
Naura menelan ludah. Instingnya menyuruh pergi sejauh mungkin. Namun dia tetap melangkah maju. Karena jika Nara pernah berada di tempat ini, maka dia juga harus berada di tempat ini.
Tepat ketika hendak membuka pintu utama, koper yang dibawanya tersangkut pada anak tangga. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke depan. Namun sebuah tangan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya tepat waktu.
Kuat. Cepat. Dan hangat.
Naura mendongak dan langsung bertemu dengan sepasang mata dingin. Seorang pria tinggi berdiri tepat di depannya dengan wajah yang nyaris terlalu sempurna untuk diabaikan. Tatapannya tajam dan sulit ditebak.
Pria itu tidak langsung melepaskan tangannya. Matanya justru memperhatikan wajah Naura beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah sedang mengenali seseorang.
"Lepaskan."
Suara Naura terdengar lebih pelan daripada yang dia inginkan.
Pria itu akhirnya melepaskan tangannya. Namun tatapannya masih tertahan pada wajah Naura.
"Siapa namamu?"
"Naura."
Untuk pertama kalinya ekspresinya berubah. Sangat tipis, tetapi cukup terlihat. Seolah nama itu memicu sesuatu dalam ingatannya.
"Naura Alesha?"
Jantung Naura langsung berdetak lebih cepat. Dia belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Namun cara pria tersebut menyebut nama belakangnya membuatnya merasa tidak nyaman.
"Bagaimana kamu tahu?"
Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru semakin gelap. Seolah nama itu membawa kenangan yang tidak ingin dia ingat.
"Kamu seharusnya tidak datang ke sini."
Naura mengernyit bingung.
"Maksudmu?"
Namun pria itu sudah berbalik pergi. Sebelum menghilang ke dalam lorong asrama, dia mengucapkan satu kalimat yang membuat bulu kuduk Naura meremang.
"Kesalahan yang sama tidak boleh terjadi dua kali."
Naura belum sempat memahami maksud ucapan itu ketika suara tepukan tangan terdengar dari ujung ruangan.
Pelan. Santai. Mengejek.
Naura menoleh dan melihat seorang pria lain sedang duduk di atas meja biliar tua. Ada luka kecil di sudut bibirnya, tetapi senyum di wajahnya terlihat jauh lebih berbahaya daripada luka tersebut.
Pria itu menatap Naura dari atas sampai bawah sebelum tersenyum semakin lebar.
"Menarik."
Naura langsung tidak menyukai cara dia memandangnya.
"Jadi mereka akhirnya mengirim adiknya."
Tubuh Naura membeku. Karena itu berarti satu hal. Orang-orang di Black Dorm mengenal kakaknya.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Blackwood University, Naura merasa dirinya mungkin benar-benar berada selangkah lebih dekat pada kebenaran yang selama dua tahun dicarinya.