PROLOG
Deru hujan malam itu, mengiringi langkah gontai Naomi. Gadis berusia 20 tahun itu harus kehilangan Kakak perempuannya. Satu-satunya kerabat yang ia miliki.
Tepat pukul 7 malam, 2 jam setelah upacara penguburan sang Kakak. Naomi baru meninggalkan area pemakaman. Area yang dulu begitu mengerikan untuk ia lewati, seolah kengerian itu menghilang sirna begitu saja setelah ia mengantarkan orang terkasihnya ke sana.
“Itu Naomi, Vi!” Levin menggoyangkan tangan Viola yang duduk di kursi mobil tepat di sampingnya.
Viola yang saat itu tengah bersandar pada sandaran kursi sembari memejamkan matanya. Kini, ia membuka matanya dengan sempurna sembari menatap ke arah Naomi yang berjalan menuju mobilnya. Dengan keadaan tubuh Naomi yang sudah basah kuyup.
Viola bergegas membuka dashboard mobilnya. Mengambil payung lipat serta sebuah selimut di sana. Ia memberikan benda itu kepada Levin.
Levin yang paham, ia bergegas keluar dari mobil dengan menggunakan payung dan membawa selimut pemberian Viola tadi. Ia jelas menghampiri Naomi untuk memayungi sahabatnya itu.
“Kalian belum pulang juga?” tanya Naomi dengan suaranya yang sudah bergetar akibat kedinginan.
“Jangan ngomong dulu,” ucap Levin. “Kita ke mobil, ya,” ajaknya sembari merangkul bahu Naomi yang sudah ia selimuti.
Naomi duduk di kursi belakang. Sedangkan Levin dan Viola tetap duduk di kursi depan.
“Pulang ya, Mi,” ucap Viola.
“Terima kasih, ya. Kalian sudah mau nungguin gue selama ini,” ucap Naomi.
“Kita itu sahabat, Mi. Dalam persahabatan, nggak ada kata terima kasih,” sahut Levin.
Levin melajukan mobil menuju rumah Naomi. Yang mana, di rumah itu kini hanya tinggal Naomi saja sendirian.
Orangtua Naomi sejak lama sudah berpisah. Meninggalkan Naomi yang saat itu masih berusia 13 tahun dan mendiang Ninra yang masih berusia 18 tahun kala itu. Mereka ditinggalkan tanpa adanya pengasuhan baik dari pihak Mama maupun Papa mereka. Hanya tinggal mereka berdua saja yang berjuang untuk menyambung kehidupan. Terutama Ninra yang merasa bertanggung jawab atas kehidupan Naomi.
“Malam ini, kita temani lo, ya?” ucap Viola ketika mereka sudah tiba di rumah sederhana milik Naomi.
“Nggak perlu, Vi. Gue mau sendiri dulu,” sahut Naomi.
Levin menahan tangan Viola ... memberikan isyarat agar gadis itu berhenti untuk berbicara. Sebab, ia tahu pasti Naomi butuh ruang untuk sendiri.
“Kita antar ke dalam. Setelah itu, kita pergi, ya,” ucap Levin. Kemudian, ia keluar dari mobil dan membukakan pintu bagian belakang untuk Naomi.
Sebab hujan yang masih turun begitu deras, Naomi, Viola, dan Levin sedikit berlari memasuki rumah.
“Sudah, ‘kan? Gue akan baik-baik saja, kok. Kalian pasti juga capek seharian bantuin gue urus pemakaman Kak Ninra. Pulang, ya? Besok kita jumpa,” ucap Naomi.
“Jumpa? Besok lo kuliah?” tanya Levin yang nampak terkejut mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Naomi.
“Sudah hampir seminggu gue libur, Vin. Gue nggak mau usaha Kak Ninra untuk kasih gue gelar itu sia-sia,” sahut Naomi.
Naomi memeluk Levin dan Viola secara bersamaan sembari tersenyum. Setelah itu, ia membuka pintu rumah dan masuk ke dalamnya.
Setelah memastikan bahwa Naomi benar-benar masuk ke dalam sana, Levin dan Viola pun kembali ke mobil. Mereka berdua duduk seperti semula.
Viola yang sejak turun tadi ia hanya diam, kini barulah terdengar sedikit suara dari mulutnya. Bahkan, itu pun terjadi setelah Levin melajukan mobilnya lagi.
“Kenapa, Vi?” tanya Levin.
“Gue temenan sama dia lama banget, Vin. Gue tahu, dia nggak sekuat itu. Terutama Kak Ninra yang berjuang sampai dia punya butik se-ternama itu,” Viola berucap diiringi dengan air matanya yang mengalir di pipinya.
“Lo jangan nangis dong, Vi. Nanti gua jadi ikutan nangis juga,” ucap Levin sembari mengusap bahu Viola dengan lembut.
***
Sementara itu. Di dalam rumah, Naomi berdiri di depan sebuah bingkai foto berukuran besar. Yang mana, ada dirinya dan sang Kakak di sana.
“Naomi akan cari tahu penyebab semuanya, Kak. Naomi nggak akan biarkan orang yang sudah bikin Kakak begini, hidup dengan baik. Sekalipun susah, Naomi akan perjuangin buat Kakak. Terima kasih, ya. Sudah menjadi sayap pelindung Naomi selama ini. Sekarang, izinkan Naomi yang melanjutkan semua usaha Kakak sembari Naomi cari keadilan buat Kakak. Naomi sayang Kak Ninra tanpa batasan,” ucap Naomi panjang lebar.
Meskipun kesedihan masih menyelimutinya. Ambisi Naomi begitu tinggi. Ia akan melanjutkan kehidupannya meskipun sendirian.
***
“Berita tentang kematian owner butik shizu itu benar-benar bikin gempar. Bagaimana kalau ada orang yang mengetahui penyebabnya?”
“Tidak akan mungkin. Saya sudah bakar semua bukti-buktinya.”
“Lalu, bagaimana dengan kerjasama Tuan dengan butik itu?”
“Lihat saja kelanjutannya nanti. Kalau kamu, apa sudah mendapatkan informasi lanjutan?”
“Identitas keluarga owner shizu begitu tertutup. Bahkan, tidak ada yang tahu dia putri dari keluarga siapa dan apakah dia punya saudara atau tidak.”
“Mengurus hal begitu saja, kalian tidak becus?!”
“Mohon maaf sekali, Tuan. Saya dan tim sudah melakukan sebisa kami. Tapi sepertinya, ini diluar batas kemampuan kami.”
“Apa ada yang ikut upacara pemakamannya tadi?”
“Jack, Tuan. Dia yang diutus untuk mengawasi proses upacara pemakaman.”
“Di sana, apa tidak ada yang melihat keluarga dia datang?”
“Jack bilang, dia hanya melihat seorang perempuan. Kabarnya, dia itu cuman kerabat dekat.”
“Apa kalian ada mengambil gambar?”
“Gambarnya kurang jelas, Tuan. Sepanjang upacara, perempuan ini selalu menggunakan maskernya.”
“Yang penting, segala bukti sudah mati. Hukum sudah saya beli. Tidak ada yang bisa menjatuhkan saya di negeri ini.”
Ia menyeringai puas. Seolah ini adalah titik kemenangannya. Namun, kepuasan itu hanya berlangsung sesaat. Setelah Jack memasuki ruangan itu.
“Kenapa terlihat buru-buru begitu?!”
“Ini kabar yang paling penting, Tuan.”
“Cepat katakan!”
“Butik Shizu sudah diambil alih kerabat mendiang Ninra. Dari data yang saya temukan, dia hanya seorang kerabat jauh.”
“Masalahnya di mana?”
“Orang itu, begitu mirip dengan mendiang Ninra.”
“Namanya kerabat jauh. Pasti ada kemiripan.”
Jack meletakkan sebuah dokumen yang baru saja selesai dicetaknya.
“Cari orang catatan sipil. Minta data lengkap orang ini.”
“Baik, Tuan!”