"Masih jauhkah, desa Wentar?" Pertanyaan ini sudah puluhan kali keluar dari mulutku. Jawaban Erlangga pun masih saja sama. "Sebentar lagi," ujarnya singkat. "Kakiku sudah tak kuat lagi. Elang. Tidak bisakah kau gunakan kekuatanmu untuk melompat-lompat melewati pepohonan seperti biasanya?" Keluhku saat kami berhenti untuk beristirahat. "Lalu akan banyak orang melihat kita dan berteriak-teriak ketakutan?" timpalnya tanpa dosa. "Aku hanya bisa melakukan itu di malam hari, Putri. Saat susah gelap dan orang-orang biasa sudah terlelap." "Iya, iya," ujarku pasrah. Kuseka keringat yang membasahi kening. Perjalanan dari desa Poncokusumo ke Desa Wentar yang kukira hanya satu dua jam, ternyata membutuhkan waktu hampir seharian. Bahkan, saat Surya mulai condong ke ufuk barat, kami belum juga

