Cakram Elemental

1740 Kata

Erlangga dan Anindita berdiri tertegun di depan petirtaan yang telah hancur itu. "Kenapa jadi begini?" tanya Anindita heran. Tebing air terjun yang tadinya sangat indah, menjadi agak landai dan berantakan. Erlangga hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia lupa telah menghancurkan petirtaan itu saat melawan Rynis kemarin. Bahkan tubuh Rynis ditimbunnya dengan reruntuhan dari tebing air terjun. "Emm, anu, mungkin kita sebaiknya mencari petirtaan lain. Di sini kurang bagus," kata Erlangga. Anindita yang merasa ada kejanggalan dalam kalimat Erlangga yang terbata-bata akhirnya memalingkan tubuhnya menghadap pria itu. "Jelaskan padaku, apa yang terjadi Lang!" Pinta Anindita sembari bersedekap. Erlangga tampak kebingungan untuk menjelaskan, "Em. Kemarin itu, saat kita berpenc

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN