Twinflame

1608 Kata

Keluar dari bilik, Erlangga melangkahkan kaki keluar gubug. Rasanya dunia begitu sempit baginya untuk lari. Kakinya melangkah tak tentu arah, menyusuri jalan desa. Barulah setelah sampai di pohon besar tempat dia terikat tadi sore, Erlangga tersadar. Cukup jauh juga dia pergi menghindari Anindita. "Sial! Ada apa denganku? Astaga!" rutuknya pada diri sendiri, menyesali erbuatannya yang cukup ceroboh tadi. Angin malam pun berhembus, membawa udara dingin yang semakin menusuk tulang. Namun, Erlangga tidak merasakan semua itu. Tubuhnya terlalu panas untuk merasa kedinginan. Erlangga membuka ke dua telapak tangannya, dan mengarahkannya ke atas. Pusaran energi yang tadinya begitu cepat, berangsur-angsur stabil. Kedua alisnya bertaut, memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi. Saat di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN