bc

Because Of You

book_age12+
1
IKUTI
1K
BACA
killer
student
mafia
drama
straight
ambitious
female lead
realistic earth
school
like
intro-logo
Uraian

Seorang gadis yang hidup setelah kekacauan besar terjadi, mafia yang namanya mulai tenggelam kini muncul kembali. Kekacauan yang membuat mafia menduduki puncak kehidupan, membuat dunia layaknya mainan.

Milan Liander, seorang gadis yang disuruh meninggalkan rumahnya sejak usia 5 tahun bersama pelayannya, tiba tiba disuruh kembali untuk melakukan perjodohan diusianya yang ke 17.

Mendengar hal itu membuatnya bertanya tanya, “Kenapa aku harus menurutinya?”

chap-preview
Pratinjau gratis
CHAPTER 1
“Mafia? Ditahun 2100 ini? Yang benar saja, kau pikir ini masih di tahun 1900-an, dasar orang gila!” Itulah yang semua orang katakan ketika mendengar bahwa mafia akan menguasai dunia dari seseorang yang mengaku bahwa dirinya seorang peramal. Hingga beberapa minggu kemudian, dunia benar benar hancur, api dimana mana, banyak korban berjatuhan dan yang menyebabkan semua hal itu terjadi adalah… Mafia! Tetapi mafia itu tidak asal membunuh, mereka akan menatap dengan seksama mata targetnya hingga akhirnya memutuskan layak atau tidak layaknya orang itu untuk dibunuh. Karena kehancuran itulah membuat perkataan dari sang peramal menjadi kenyataan, mafia benar benar menguasai dunia dan orang yang memimpin para mafia itu alias si pembuat kehancuran adalah peramal itu sendiri. “Itulah awal mula mafia mulai muncul kembali dinegara ini 100 tahun yang lalu, nona.” Kata seorang pelayan laki laki dengan pakaian serba hitam di kamar yang gelap, hanya ada sebuah lampu tidur disana. Pelayan itu duduk diatas tempat tidur dengan meluruskan kakinya yang panjang sambil mengelus elus kepala seorang anak kecil yang tertidur diatas pangkuannya. Melihat anak berusia 7 tahun itu tertidur lelap sehabis mendengarkan cerita, membuatnya menatap anak perempuan itu dengan rasa kasihan. Dalam hatinya dia berkata, entah segelap apapun hidupnya, anak kecil tetaplah anak kecil yang menginginkan sebuah pelangi dalam kehidupannya. Jika tidak ada yang memberikan pelangi itu padanya maka dia akan mencarinya sendiri. Saya pernah berada dalam masa masa itu, saya paham betul bagaimana rasa sakit itu. Oleh karena itu, saya sudah memutuskan bahwa saya akan menyerahkan seluruh kehidupan saya pada anda. Saya akan selalu menemani anda hingga akhir hayat saya, saya berjanji. Ucapnya sambil terus mengelus kepala anak kecil itu, setetes air mata keluar dari mata anak itu padahal ia sedang tertidur pulas, seolah dia bisa mengerti apa yang ada dipikiran pelayannya. Tahun 2210, anak kecil itu kini sudah tumbuh besar menjadi gadis yang cantik. “Nona Milan, ini sudah pagi, waktunya bangun, cepatlah bersiap siap atau anda akan terlambat pergi ke sekolah.” Ujar sang pelayan yang sudah bertambah umur 10 tahun dan kini umurnya sudah 35 tahun. Dia membuka tirai jendelanya sehingga membuat cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa. Cahayanya yang terang itu mendarat tepat diwajah Milan yang masih tertidur dengan pulas. Milan mengernyitkan wajahnya dan menarik selimut untuk menghalau cahaya yang mengganggu tidurnya. “Emmh… 5 menit lagi, aku akan bangun 5 menit lagi, lagipula bukankah ini masih terlalu awal?” Milan masih tetap tidak mau berpisah dengan tempat tidurnya. “Anda bilang pada saya kemarin untuk dibangunkan lebih awal karena guru itu yang mengajar hari ini, nona Monica juga sudah menunggu dibawah.” Pelayan itu menggenggam pergelangan tangan dan tengkuk Milan, perlahan lahan membuat Milan yang tadinya masih meringkuk tidur untuk duduk. “Ahh iya iya, baiklah aku akan bangun sekarang, Walren memang sangat tegas.” Milan akhirnya beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kekamar mandi. Walren segera merapikan tempat tidur Milan dan menyiapkan seragam sekolahnya. Dia menggantungnya di pintu kamar mandi agar Milan bisa mengambilnya dengan mudah dan langsung memakainya sehabis mandi. Dia juga menempatkan sepatu dan kaos kaki Milan disamping tempat tidur, merapikan bukunya dan memasukannya ke tas. Setelah semua kegiatan itu, Walren turun kebawah untuk mengambil bekal Milan dan segera naik kembali keatas. “Walren, boleh aku tambah rotinya ya?” Tanya Monica yang baru saja selesai makan beberapa roti tadi dan hendak mengambil satu lagi. “Nafsu makan anda masih sama seperti sebelumnya ya, meskipun begitu saya sedikit heran kenapa anda masih sekurus nona Milan.” Jawab Walren dengan santai sambil melihat Monica yang baru saja mengambil sepotong roti. “Kau juga masih sama, suka mengolok olok diriku.” Ujar Monica sambil memakan rotinya. “Saya tidak mengerti maksud anda.” “Berhenti berlagak bodoh seperti itu dan juga aku tidak sebodoh itu sampai tidak mengerti maksud dari perkataanmu, Walren.” Monica bersandar pada kursinya dan memakan roti yang dia ambil tadi sambil menatap kearah Walren. Tiba tiba, ditengah pembicaraan mereka, telpon rumah berdering. Walren pergi kearah telpon itu dan mengangkatnya. “Halo, Walren, bawa Milan pulang sekarang juga.” Ini adalah suara nyonya! Kenapa beliau tiba tiba menelpon!? Dan yang lebih anehnya, kenapa dia meminta nona Milan untuk segera kembali? Tahun baru juga baru saja berlalu beberapa minggu yang lalu, hari ini juga bukan ulang tahun nona Milan. “Maaf, kalau saya boleh tau, kenapa anda meminta nona Milan untuk segera pulang?” Pertanyaan Walren membuat Monica terkejut dan langsung menatapnya. Walren saat itu juga sedang melirik kearah Monica dan memberinya isyarat untuk tetap tenang dan seketika itu tangannya berubah menunjuk kearah tangga. Monica langsung melihat kearah tangga dengan cepat dan mendengar suara langkah kaki turun kebawah, itu adalah Milan. “Aku akan memberitaumu ketika kau sudah sampai disini bersama dengan Milan.” Tutt…tutt…tutt… Telpon langsung dimatikan begitu saja tanpa mendengar jawaban apapun dari Walren. Tepat pada saat itu, Milan sudah sampai dilantai bawah dan melihat bahwa semuanya normal seperti biasa. Milan melihat bahwa Monica hampir memakan seluruh roti yang ada dimeja dengan bahagia. “Woiii, curut!! Berani beraninya lu makan semua tuh roti, mana tampangnya kek gak punya dosa lagi! Lu pikir gue gak butuh sarapan!” Milan segera melangkah kearah Monica dan mengambil 2 roti yang tersisa dipiring dan menggigit keduanya. “Lu pikir kalo lu gigit tuh roti gue ga bisa makan tuh roti.” Monica mulai beranjak dari duduknya dan berusaha merebut roti yang dipegang Milan. Milan berusaha menyelamatkan roti yang tersisa dari mulut rakusnya Monica. Pertengkaran ini terlihat seperti perebutan makanan antara dua makhluk hutan yang mulai kehabisan makanan. “Minggir sana nyet, dah makan banyak juga, gua sleding juga lu.” Melihat pertengkaran Milan dan Monica sebenarnya Walren ingin tertawa dan terus melihatnya tapi ini bukan saatnya untuk melakukan itu. Walren harus membawa Milan untuk pulang menemui ibunya. Sejujurnya Walren sedikit khawatir karena ini baru pertama kalinya ibunya Milan memintanya pulang selain ditahun baru dan ulang tahunnya Milan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook