Dalam perjalanan, Milan memikirkan ulang tentang perkataan Walren tadi. Walren bilang bahwa orang tua di era ini akan melakukan apapun untuk anak mereka meskipun hal itu akan menyakiti mereka sendiri ataupun anak mereka.
Dalam kata lain, mereka akan melakukan apapun agar anak mereka tetap hidup didunia ini. Jika dipikir pikir kembali, bukankah itu terkesan agak kejam? Meskipun anak mereka bisa hidup didunia ini tapi bukan berarti mereka akan memiliki hidup yang layak.
Meninggalkan seorang anak didunia yang seperti ini, sama saja dengan membiarkan dia berada di neraka. Banyak anak yang sendirian, kelaparan, kesepian dan pada akhirnya mereka melakukan kejahatan, hati mereka membeku seperti es yang tidak bisa cair walau disentuh matahari.
Pertanyaanku sekarang ini, apakah orang tuaku memang sama seperti yang Walren ucapkan?
Milan berjalan sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri, tiba tiba Milan tersadar dan mulai menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Untuk apa diriku mengatakan hal yang menyedihkan seperti itu, aku punya Walren yang selalu berada disisiku dan tidak akan pernah meninggalkanku. Dunia seperti apapun itu selalu terlihat indah selama Walren disisiku.
Entah ada atau tidaknya kedua orang tuaku aku tidak peduli, lagipula dari awal mereka memang tidak pernah ada disisiku, untuk apa aku mempertanyakan hal itu.
Ditengah tengah kesibukan otaknya untuk berpikir, Milan tidak memperhatikan jalan sama sekali sehingga tanpa sadar dia menabrak seseorang. Mereka bertabrakan lumayan keras apalagi saat itu Milan sama sekali tak memperhatikan langkahnya sehingga membuatnya terkejut sehingga dia terlambat untuk fokus dalam keseimbangannya.
Membayangkan dirinya akan jatuh ke lantai yang sangat keras itu, dia hanya bisa menutup mata. Jatuh sih ga masalah yah tapi malunya tu loh, tapi yah saat ini dia tidak bisa apa apa selain pasrah karena yah sepatu yang dia kenakan juga tinggi mana bisa dia langsung menyeimbangkan tubuhnya
Dalam hatinya dia hanya bisa berkata, udahlah pokoknya jatuh ya jatuhlah.
Tapi pemikirannya itu langsung dipatahkan saat ada lengan yang melingkari punggungnya, secara refleks tangannya langsung menggenggam erat lengan orang yang telah menangkapnya itu.
Milan membuka matanya perlahan dan melihat wajah orang yang telah menangkapnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah seorang pria yang menangkapnya.
Wajahnya begitu tampan dan menawan, matanya yang merah seperti ruby dengan kombinasi rambut hitam legam yang lembut dan berkilauan karena cahaya terang dari matahari yang menerobos masuk lewat jendela.
Milan menatap pria itu sejenak dan tiba tiba dia tersadar dan langsung mendorong pria itu menjauh. Milan berbalik membelakangi pria itu dan menyembunyikan wajahnya, karena saat ini wajahnya benar benar merah karena malu.
Pasalnya pria yang menangkapnya tadi adalah senior disekolahnya, namanya Alden Wesley, dan kebetulan dia juga sudah menyukai Alden mulai dari kelas 2 di sekolah menengah pertama, Milan bahkan sampai bersikeras untuk masuk ke SMA yang sama dengan seniornya.
“Maaf nona, apakah kau baik baik saja?" Tanya Alden.
“Y-ya-yah, saya baik baik saja, te-terima kasih, kalau begitu saya permisi.” Jawab Milan dan langsung berjalan pergi.
Tanpa disadari dia malah pergi ke arah yang berlwanan dengan tujuannya. Milan sama sekali tak ingin melihat wajah Alden saat ini karena bisa bisa dia langsung pingsan disini karena tatapan mata dengan Alden.
Saat beberapa langkah ke depan dia tersadar kalau bukan kesana arah yang mau dia tuju, tiba tiba dia berhenti dan membalikkan badannya dengan cepat lalu berjalan kearah yang sebaliknya.
Alden yang melihatnya terlihat bingung dengan tingkah laku Milan.
“Apa kau sungguh baik baik saja? Apa ada hal lain yang ingin kau katakan?” Tanya Alden lagi karena melihat Milan membalikkan badannya dan berjalan kembali kearahnya.
“Salah arah, permisi.” Jawab Milan secara spontan dan berjalan sangat cepat melewati Alden.
Setelah cukup jauh dari tempat Alden berdiri, akal Milan yang hilang sejenak tadi mendadak kembali, Milan mendadak membatu ditempat, dia baru ingat kalau dia baru saja mendorong orang yang disukainya.
Aghhhhh padahal tadi adalah kejadian langka, berada di pelukan kak Alden itu seperti sebuah mimpi yang tidak akan pernah terwujud tapi saat sudah terwujud aku malah mendorongnya, dasar bodoh!
Tapi yah mau bagaimana lagi, detak jantungku sangat cepat sekali seperti sedang balapan, aku juga sangat malu, ini pertama kalinya bagiku bertatapan langsung dengannya. Tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh, tapi apa ya.
Tiba tiba Milan menghentikan langkahnya, dia tersadar dengan keanehan yang dia rasakan. Milan kemudian melihat kebelakang, kearah dimana dia meninggalkan Alden
“Kalau tidak salah ini sudah jam 8 lewat kan, seharusnya sekolah sudah dimulai, kenapa kak Alden ada disini?”
Apakah kak Alden sedang bolos sekolah!? Tidak, tidak mungkin, dia pasti sedang ada kepentingan, lagipula aku juga ada disini karena sedang ada kepentingan, mungkin dia sama seperti- Tidak! Jika dia sama sepertiku, apakah mungkin dia disini juga karena dijodohkan!?
Saat Milan sedang melihat kearah dia datang tadi sambil berpikir segala kemungkinan Alden bisa ada disini, tiba tiba dia dikejutkan dengan pintu yang terbuka didepannya, mendengar ada suara pintu terbuka, Milan langsung menoleh kearah sumber suara itu.
Ditengah pintu yang terbuka itu dia melihat ada seorang laki laki yang berdiri tegak didepannya, Milan tidak bisa melihat wajah laki laki itu karena dirinya terlalu pendek, karena hal itu membuat dirinya harus mendongak keatas untuk melihat wajah laki laki didepannya.
Mata merekapun bertemu, membuat Milan terkejut karena penampilan laki laki itu terbilang sangat langka. Rambutnya berwarna putih alami, persis seperti rambut karakter yang ada di komik, dan warna matanya adalah biru cerah, terlihat sangat indah dan murni seperti sebuah permata.
Orang ini benar benar terlihat seperti karakter yang keluar dari komik dan menjadi kenyataan. Fix, kalau wibu ngeliat ni orang pasti dikiranya Gojo Satoru.
“Milan, ternyata kau sudah sampai, masuklah jangan berdiri dipintu seperti itu.” Ujar orang dari dalam ruangan itu.
Milan tersentak karena terlalu fokus pada wajah laki laki itu sehingga mengabaikan segalanya, namun suara orang dari dalam membuatnya tersadar dan yang lebih mengejutkannya lagi itu tadi adalah suara mamanya.
Milan mengintip dengan memiringkan tubuhnya untuk melihat kedalam, ternyata disana ada mama, papa, dan Reyhan yang duduk saling bersebelahan. Jika mereka ada disini, berarti ini…
Milan langsung melompat ke belakang pintu dan melihat nomornya, ternyata benar nomornya adalah 2250. Gilaa, aku berarti berdiri dipintu yang sedang kutuju tanpa kurencanakan sendiri, inikah yang dinamakan keajaiban?
Saking terkejutnya, mata Milan sampai melebar dan dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, anak ini sudah terlihat seperti orang bodoh disana.
“Heh! Berhenti bertingkah seperti orang bodoh! Cepat masuk!” Gertak mama Milan dari dalam.
“Hm.” Jawab Milan dengan lesu lalu masuk kedalam.
Padahal tadi kayaknya dia lembut deh ngomongnya, kok sekarang jadi ngegas yak, ternyata walau didepan orang lain sifat buruknya itu tetap sama saja, tidak pernah hilang, sangat pantas dengan julukan mak lampir.