Bukan Rayuan Gombal

1459 Kata
Gerrald membawa Kara menuju sebuah hotel mewah di kawasan Bandung pusat. Kara udah ngerti kok kenapa suaminya ngajakin dia ke sana. Sambil terus menggamit lengan Gerrald, ia melangkah dengan teratur. Kamar yang Gerrald pesan berada di lantai paling atas dan yang pastinya paling mahal dan berkelas. Waktu mereka masuk, aroma mawar menyeruak indera penciuman. Kara kembali dimanja dengan penampakan ranjang king size yang pastinya asyik diajak goyang ngebor bareng suaminya. Ada taburan kelopak bunga mawar merah di atas sprei putihnya. Nampaknya, Gerrald sudah mempersiapkan ini sejak sore melalui para pelayan hotel. "Kamu nyiapin ini?" Kara tersenyum kecil lalu duduk di tepi ranjang king size itu. Gerrald sendiri saat ini sudah ke kamar mandi. Setelah itu giliran Kara yang masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dia hanya memakai handuk saat keluar lalu mengurai rambutnya yang sempat ia cepol sebelum membasuh badan. "Ke sini dong." Gerrald merentangkan tangan, bersiap menyambut istrinya yang harum mewangi itu. Kara mendekati, lalu masuk ke dalam pelukan suaminya. Mereka kembali berpelukan. Lalu Gerrald membaringkan Kara dengan mesra. "Ssshhh ..." Desahan pertama keluar dari bibir manis Kara kala Gerrald menarik handuk putih itu dan membukanya. Gunung kembar putih itu sudah mengencang. Gerrald semakin berani menjelajahi Kara. "Mas." Kara menghentikan gerakan Gerrald. "Apa?" "Kok kamu udah lihai begitu?" tanya Kara curiga. "Aku pernah lihat di film Titanic." Kara mengangguk, jadi kalau kalian pengen bayangin sekarang mereka lagi kayak gimana, coba ingat adegan di film Titanic yang Rose sama Jack di dalam kereta di bawah kapal itu loh. Itu awalnya, karena makin lama bapaknya sapi jadi semakin berani jadi bukan seperti film Titanic lagi tapi sudah kayak film blue karena Kara sekarang udah aktif ya bund. "Ah Kara ..." desis Gerrald keenakan sewaktu Kara memberinya servis permulaan. Desis dan erangan mulai beradu, seluruh penjuru ruangan hanya ada suara mereka berdua. Gerrald memandangi tubuh sempurna istrinya. Berlekuk, menonjol, bikin yang di bawah meronta-ronta. "Kamu udah basah," bisik Gerrald di telinga Kara. Ia membaringkan Kara telentang lagi dan mulai mengarahkan ular kobra yang udah menganga hebat siap menyemburkan lahar panas. "Pelan-pelan." "Tahan ya." Kara mengangguk, lalu Kara membiarkan ular kobra berukuran jumbo itu mulai masuk ke sarangnya yang masih sempit dan berselaput. "Kenapa gak muat?!" Kara udah frustasi antara takut dan gak sabar lagi. "Kalem dong Sayang bentar lagi masuk ..." "Aarrrghhh ... Sakit!" Kara menjerit tertahan saat benda tumpul berukuran big itu masuk dengan susah payah setelah berhasil menerobos masuk ke dalam surganya. "Abis ini enak kok." Gerrald mencium bibir Kara yang sedikit asin terkena airmata. Tapi beneran abis itu setelah beberapa gerakan maju mundur kepentok-pentok, rasanya memang ah ... mantap. Kara jadi merem melek, membiarkan Gerrald terus memacu mereka berdua. Hawanya semakin panas kala Gerrald mulai memberi remahan-remahan nakal dan beberapa cap tanda kepemilikan di sekujur tubuhnya. Leher, d**a, punggung, semua kebagian jatah kena stempel. Mereka berdua semakin liar. Gak cuma di ranjang, mereka juga berdiri dengan Kara udah nempel kayak cicak di dinding. Belum lagi masuk kamar mandi, sambil maen air Gerrald juga mempermainkan tubuh istrinya yang sudah tidak tahu lagi sedang berpijak apa enggak pokoknya dorong cabut dorong cabut maju mundur goyang ngebor goyang dombret. Setelah beberapa waktu, keduanya mendapat klimaks. Gerrald menyemburkan lahar panasnya ke dalam se dalam-dalamnya. "Makasih ya, malam ini enak dan indah." Gerrald mencium Kara yang sudah mabok bisa ular. Dia gak sanggup jawab cuma bisa mengangguk. Suaminya baru pertama nyoblos udah begitu perkasa, dia gak bisa bayangin malam-malam selanjutnya mungkin dia bakalan mabok terus. Mereka tidur sambil pelukan, dan paginya di dalam kamar mandi mereka lanjut lagi. Gak ada kata lelah. Sampai akhirnya Kara dan Gerrald berbaring di lantai kamar mandi yang basah. Mereka kecapean tapi puas banget. Akhirnya ular kobra panjangnya bukan kepalang masuk juga ke sarang sempit berdenyut-denyut manja. Sukses bikin adonan buat jadi penerus daddy kelak. *** Satu minggu setelah malam ngadon, hubungan Kara dan Gerrald jadi makin mesra. Mereka sering banget kedapatan jalan bareng di sekitaran kampung. Juna yang awalnya gak tahu kalau mereka itu sepasang suami isteri, akhirnya sekarang jadi tahu. Ya walaupun sempat sedih tapi mau gimane lagi? Masa dia mesti lanjutin perasaannya yang baru mekar buat Kara, gak boleh ya, harem! Siang ini sambil bawa Minnie jalan-jalan, Kara dan Gerrald menuju peternakan sapi. Sapi-sapi lain pada ngiri tuh lihat Minnie yang baunya bau bayi, punya kandang cantik kayak rumah boneka barbie, terus dikasih nama Minnie Butterfly juga yang bikin sapi lain geleng-geleng p****t dengarnya. Masa iya mereka yang udah terlahir gede itu disamain sama kupu-kupu? "Sapi-sapi ini, yang terbaik di sini. Orang-orang dari luar kota sering pesan sapi ke sini. Apalagi kalau mau lebaran potong sapi, nah rame banget tempat ini nantinya. Tapi hari biasa juga rame, tuh kamu lihat, itu pedagang-pedagang besar yang selalu pesan sapi ke sini." Gitu Gerrald jelasin sama Kara. Kara manggut-manggut aja, dia gak ngerti lah marketing penjualan sapi disini gimana, lakunya kapan aja, yang dia tahu kalau kanjeng mami udah bikin rendang krenyes-krenyes, dia bisa kalap makan nasi. "Mas Gerrald suka jadi juragan sapi?" Ceileh udah panggil mas aja. Gerrald jadi terbuai tiap kali dipanggil begitu sama yayang santan. Pengennya bawa ke kasur terus ajak tarung adu kekuatan. "Suka, dari kecil aku sering lihat Papi ngurusin sapi-sapinya. Jadi pemandangan kayak gini udah biasa buat aku dan bikin aku senang juga." Kara mengangguk lagi. Pas lagi sibuk ngomongin sapi, Juna lewat sambil membawa buku catatan bareng papi bule yang sedang menerangkan sesuatu tentang sapi-sapinya. Gerrald refleks langsung menggandeng jemari Kara lembut dan itu berhasil membuat Juna langsung melengos. Kara cuma memberi Juna senyum, dia sebenarnya gak enak juga sebab secara gak langsung dia kemarin udah manfaatin Juna. Kara niat pengen minta maaf sama Juna nantinya. Gak enak dia karena ternyata Juna udah keduluan baper sebelum tahu bahwa Kara dan Gerrald ternyata suami istri. Beneran, waktu Gerrald pergi mandi, Kara jadi nemuin Juna diam-diam. Takut ntar jadi perang ke sembilan belas kalau Gerrald lihat Istrinya kembali dekat dengan mahasiswa tingkat akhir itu. Lagian kan niat Kara bukan buat macem-macem, semacem doang. "Jun." Juna menoleh, melihat Kara yang nampak cantik dengan baju abu-abunya yang mirip warna eek sapi, Juna senyum. "Kenapa Kar?" tanya Juna ramah. "Ehmmmmm, aku minta maaf ya kalau selama ini aku gak bilang kalau aku udah punya suami." Juna ketawa lagi, ketawa sampe mau nangis. "Gak papa. Asal kamu bahagia, aku juga." Tambah tuh Kara gak enak hati. "Makasih ya, Jun. Aku harap kamu bisa dapat perempuan yang lebih baik dari aku." Juna mengangguk, kalimat yang udah umum dan basi itu sering banget dia dengar, dia baca dan dia lihat di kehidupan percintaan manusia sehari-hari. Meski gak enak, tetap harus dilalui. Ya mau gimana lagi, gak mungkin kan Kara bersuami dua? Satu Gerrald aja dia keblingeran tiap malem apalagi dua. Kara habis itu masuk ke rumah, di sana dia langsung dihadang mami paripurna. "Kara, kamu enggak ada ngidam apa gitu?" Kara tertawa, dia sama Gerrald memang sudah begituan tapi kan gak langsung jadi. Kayaknya, mami paripurna ini beneran udah kebelet pengen gendong cucu. Sabar atuh mami, bikin cucu mah tergantung kebijakan yang di atas. Kara sama Gerrald cuma bisa goyang aja, perkara jadi apa enggak itu tergantung Tuhan dong. "Belum dong Mami, sabar ya. Nanti Kara bakal kasih banyak cucu." Kanjeng mami paripurna langsung memeluk Kara. Dia bahagia banget dan sudah membayangkan akan punya banyak cucu yang pasti akan meramaikan rumahnya yang megah bak istana itu. Kara lanjut ke kamar, dia lihat suaminya udah ganteng dan wangi. Terus Gerrald memeluknya dari belakang. "Dari mana aja?" tanya Gerrald tepat di belakang telinga Kara. Merinding dan berdenyut disko si Dolly jadinya. Semenjak mereka udah baikan dan mesra, gak ada hari dilewati tanpa bermesraan. Dolly juga jadi sering kembang kempis pengen dijenguk rambo. Gimana gak kembang kempis, ular kobra atau rambonya mas Gerrald gede banget kayak pentungan bisbol. Pokoknya Kara jadi puas lahir batin. Njir dah lagi puasa ngomongin beginian, maafkan otor tiba-tiba traveling ya para pemirsah. "Tadi ketemu Mami, Mas. Mami nanyain kapan kita kasih dia cucu." "Jangan diambil hati ya. Mami emang gitu, sekalinya suka sesuatu dia pasti antusias banget. Mami suka kamu jadi menantunya." Kara jadi senyum lagi, manis banget sih suaminya sekarang. Jadi pengen pelintir yang lagi tegak di belakang p****t sintalnya. "Ih, kamu jadi pinter ngegombal ya sekarang." Kara mengusap lengan Gerrald yang sedang melingkar di sepanjang perut rampingnya. "Bukan rayuan gombal, Sayang. Udah, mandi sana, kita jalan-jalan ya. Aku mau ajak kamu ke luar Lembang." Kara segera mengangguk. Dari jaman Gatotkaca, kayaknya yang namanya perempuan itu paling demen kalo diajak jalan walaupun cuma keliling dan muter gak jelas. Gimana gak seneng, kan jalannya bareng orang yang kita sayang, ibarat kata biar cuma jalan kaki, terasa lagi naek odong-odong. Ketawa dan bahagia aja gitu. Sangking bahagianya Kara jadi gak nyadar dia salah nyemprotin odol ke rambut. Sejak kapan Pepsodent bisa buat rambut? Wangi enggak pedes iya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN