Hari-hari selanjutnya, Kara dan Gerrald makin sering kelihatan bareng. Kemana-mana barengan, ke warung, ke salon mbak Mumu, ke peternakan sapi papi bule cuma kalo ke toilet aja mereka misah. Masa iya Kara mau boker, Gerrald mau ikutan juga.
Jadi, sekarang Kara udah jarang banget sama Juna. Soalnya, bapaknya sapi ada aja akalnya buat menahan kepergian Kara bersama Juna. Kayak hari ini, waktu Kara lagi sibuk telponan sama Juna, Gerrald langsung berdeham. Padahal Gerrald tahu tuh, Kara mau nemenin Juna telponan karena semalam Gerrald ketahuan telponan juga sama Stevi.
"Kara, aku pengen nasi goreng."
Kara mendelik, dia tahu aja dia lagi asyik bareng Juna. Juna yang dengar suara Gerrald langsung kepo.
"Ada siapa?"
"Oh, itu, tukang benerin keran bocor."
Gantian Gerrald yang mendelik kesal. Sampai hari ini Juna enggak tahu Kara dan Gerrald adalah suami istri. Dia memang jarang berbicara dengan orang desa selain Kara, makanya pengetahuan dia tentang Gerrald minim banget. Yang dia tahu Gerrald itu anaknya papi bule.
"Aku mau ajakin kamu ke bukit."
"Apa?? Ke bukit??" Kara sengaja gedein volume suaranya biar Gerrald tambah panas.
"Aku gak ijinin!" Gerrald menarik ponsel Kara lalu tanpa basa basi dia mematikan sambungan telepon sekalian menghapus nomor ponsel Juna.
"Aku gak minta izin sama kamu!"
Berantem lagi! Rus yang lagi masak telor di dapur jadi kesal setengah mampus sama majikannya. Mereka kayak kucing betina sama kucing jantan yang gak akur-akur.
"Aku bakal bilang sama Juna kalau kita adalah suami istri!"
"Boleh aja, asal kamu bilang juga sama Stevi kalo kamu juga udah menikah!" tantang Kara.
Gerrald meraih ponselnya lalu menunjukkannya pada Kara. Ia mulai melakukan panggilan telepon.
"Sayang, aku nungguin kamu ..."
"Stevi mulai hari ini, kita gak ada hubungan apapun. Aku gak cinta sama kamu, jadi aku harap kamu ngerti."
"Gerrald apa-apaan sih? Aku gak terima ya kamu putusin gini. Kamu bercanda kan?"
"Aku serius! Aku sudah menikah, Stevi. Jujur, aku gak punya perasaan apapun sama kamu. Aku hanya ngerasa hutang budi karena kamu udah bantuin aku kemarin."
"Gak bisa gini ..."
Klik.
Gerrald mematikan sambungan telepon. Kara sendiri masih tercengang tapi ia masih tidak yakin.
"Lihat, aku udah hapus semuanya. Nomor dia, foto-foto kami berdua juga semua hal tentang Stevi."
Kara terdiam. Dia jadi bingung mesti ngapain. Tapi jujur aja dia senang banget, rasanya pengen gendong Minnie sangking senangnya. Bayangin tuh, badan Kara yang gak seberapa gede itu ngangkat badannya Minnie Butterfly yang segede gaban. Gue jadi pengen berak bayanginnya.
"Kamu serius?"
"Kara, kamu mau aku ngapain lagi? Terjun dari lantai dua villa kamu ini? Ayo!" Gerrald segera berjalan menuju balkon, Kara segera menahan langkah nekat Gerrald. Padahal Gerrald cuma ngetes dia aja. Ya gak mungkin dong dia mau loncat! Mana bisa yiha-yiha kau patah pinggang nanti. Susah payah dia ngelakuin semua ini buat Kara eh nanti malah patah tulang gara-gara jatuh dari ketinggian. Ini yang dinamakan oon sampe ke tulang-tulang.
"Oke, aku percaya." Kara berdiri di depan Gerrald. Hembusan angin sore membuat keduanya menikmati kebersamaan ini. Mereka saling menatap. Lembut tatapan Gerrald sore ini membuat Kara jadi luluh. Dan, lelaki itu tersenyum, sesuatu yang tidak pernah diberikannya pada Kara atau perempuan lain sebelum ini.
"Aku mau mulai ini dari awal sama kamu. Kamu mau kan?"
Meski kedengaran lucu, tapi Kara bisa melihat ketulusan dari Gerrald. Lelaki itu jadi begitu manis. Dia jadi bisa melihat Gerrald yang sesungguhnya.
Saling mendekat terus Gerrald meraih Kara ke dalam pelukannya, lalu dilepaskannya perlahan. Kara menunduk, dia jadi malu. Masih memegang pinggang ramping Kara, Gerrald meraih dagu istrinya itu lembut, lalu perlahan didekatkannya bibirnya. Kara memejamkan mata, sore itu di atas balkon dengan ditemani angin sepoi-sepoi juga dua burung yang kebetulan habis boker di atas balkon, mereka berciuman mesra.
Kara bahkan sudah mengalungkan lengannya di leher Gerrald agar pria itu bisa memperdalam ciuman mereka. Gerrald kemudian mengangkat tubuh Kara, ia menggendong istrinya lalu meletakkannya di atas ranjang. Masih saling berpagutan mesra, Kara kemudian mendorong pelan suaminya itu. Nafas keduanya sudah memburu, bisa Kara rasakan ular kobra sudah menegang siap mematuk dengan ganasnya.
"Jangan sekarang," desis Kara dengan nafas sudah putus-putus.
"Kenapa? Kamu masih gak percaya sama aku?" Gerrald tampak tak sabaran.
"Bukan tapi ..."
"Apa kamu jangan-jangan enggak perawan lagi ya?" tuduh Gerrald. Kara jadi kesal. Dia mendorong keras Gerrald yang jadi kejengkang ke belakang. Dituduh begitu tentu aja dia marah.
"Aku masih perawan! Aku pengen kita malem pertama bukan sore pertama. Ngerti gak sih?!" Kara jadi ngambek.
Gerrald jadi bengong. Ya elah, lu sih Udin, udah bagus-bagus Maemunah mesra tadinya, segala gak perawan dibawa-bawa. Ngambek lagi dah tuh sarang kobra. Sampe banjir airmata kan jadinya. Ya nasib bakal gagal malam pertama tar malem. Padahal, itu ular kobra udah siap matuk dengan berbagai gaya.
Gerrald jadi mengacak-acak rambutnya. Bininya jadi ngambek beneran. Itu Santan juga sensian amat, apa bedanya coba sore apa malem yang penting kan nyoblos. Pengen tak jadiin rendang nanti itu santan sama bapaknya sapi biar pada akur lagi.
"Non, mau kemana?!" Rus udah teriak lagi lihat Kara keluar dari rumah pake acara bawa handuk segala. Kayaknya majikannya pengen bunuh diri di kolong gak jauh dari vila itu. Bunuh diri apaan, orang Kara cuma pengen berendem doang kok.
Rus geleng-geleng kepala, ada kolam renang di vila, majikannya malah maen air di kolong sana. Segitu depresinya ngadepin bapaknya sapi. Kasihan, Rus jadi pengen berendem juga jadinya. Nyusul dan Rus ke kolong sungai. Udah kayak bidadarinya jaka tarub mereka mandi air kali. Anggurin aja gue! Air kolam renang udah bergelombang karena gak laku.
***
Kara dan Rus balik ke rumah sebelum Maghrib. Suasana pedesaan membuat Kara yang baru pertama nyebur ke kali bikin dia norak banget di mata ikan-ikan yang lagi berenang tadi. Kara baru pertama kali berenang di kali, bersama para gadis desa yang lagi nyuci baju di atas batu dia nampak paling menonjol. Menonjol semua atas bawah depan belakang mana kulitnya putih banget kayak tembok cina. Pokoknya dia bersinar banget. Gak salah deh kalau tadi banyak pemuda yang pada ngintipin dia mandi di kali.
"Tumben Juragan Nyonya mandi di kali?" Gadis manis bergingsul bertanya sama Kara yang lagi sibuk menyiram tubuhnya.
"Iya, nyobain gitu, mandi di kali gimana rasanya," jawab Kara kalem.
"Saya malah pengen nyobain mandi di kolam renang."
"Iya, udah dari orok dimandiin di kali." Yang lain menimpali.
Rus nampak sedikit berbangga, soalnya dia bisa jadi asisten Kara yang berarti dia bisa menikmati semua fasilitas di dalam vila. Kara juga bukan tipikal majikan yang pelit, malah dia udah anggap Rus seperti saudaranya sendiri.
"Pantesan ya, Rus sekarang lebih bersih dan putihan."
Kara tertawa kecil. Dia memang sering ajak Rus ke salon buat perawatan. Pokoknya, Rus itu beruntung banget bisa kerja sama majikan sebaik Kara.
Balik ke rumah mereka sambil ketawa ketiwi. Kara jadi deg-degan mau ketemu Gerrald. Tapi dia gak lihat suaminya itu. Dicari kemana-mana gak ada. Kara jadi panik dong, dia udah gak ngambek suaminya malah pergi.
Baru aja mau mewek kayak pemain sinetron yang lagi kena azab, ponselnya berdering.
"Hallo Sayang." Suara ceria itu bikin Kara jadi senyum. Gak jadi mewek dan gak jadi kena azab. Tapi tunggu dulu, sayang? Gerrald memanggilnya Sayang?
"Ehmmmmm iya." Cuma itu yang bisa Kara jawab.
"Kamu siap-siap ya, nanti jam tujuh aku jemput."
"Mau kemana kita?" tanya Kara dengan jantung bertalu-talu.
"Dinner. Dandan yang cantik ya. Aku juga udah ganteng kok."
Demi Minnie Butterfly yang udah wangi bau bayi, Kara bahagia banget. Rasanya dia pengen jingkrak-jingkak sangking senangnya.
"Iya, aku ganti baju dulu ya, ehmmmmm kamu pake baju warna apa?"
Apaan sih emak tiri?! Pengen couplean nih kayaknya.
"Aku pake kemeja merah hati."
"Oh ... Aku juga, aku punya gaun warna itu juga."
Mendengar Kara yang gugup tapi terdengar bahagia itu, Gerrald ikut tersenyum. Jantungnya juga saat ini sedang bertalu-talu. Ia juga memandang sebuah kalung yang sudah dipersiapkannya sejak lama untuk calon istrinya, dulu ia sempat ingin memberikannya pada Irene.
Tapi sebelum itu terjadi, ia bersyukur karena bisa memergoki Irene yang sedang selingkuh dengan temannya sendiri. Jadi, benda itu tidak jatuh ke tangan kotor wanita itu.
"Ger, Mami mau minta ..." Mami menghentikan kalimatnya, dia menilik penampilan anak gantengnya yang semakin ganteng saja malam ini. "Mau kemana udah ganteng?" Mami menatap anaknya dengan pandangan berbunga-bunga. Jadi inget papi bule kala muda, mulai lagi mami paripurna nostalgila.
"Mau dinner dong, Mi."
Mami paripurna membulatkan matanya. "Sama Kara kan?" tanyanya cepat.
"Sama siapa lagi?" Gerrald ketawa terus mencium pipi maminya. "Aku jalan ya, Mi."
"Nah ... Gitu dong anak Mami. Oalah seneng banget Mami."
Gerrald kemudian berpamitan sama papi bule yang lagi asyik joget bareng Minnie di depan rumah mereka. Gerrald tampak bahagia, aura suami-suami sayang istri mulai nampak.
Setiba di depan villa, entah mengapa Gerrald jadi deg-degan. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama dia gak pernah deg-degan lagi kalau mau jalan sama perempuan.
"Tuan tunggu sebentar ya. Non Kara lagi dandan." Gerrald mengangguk dan menunggu di mobil. Waktu dia dengar langkah sepatu tinggi, dia berbalik dan surprise,
Gerrald lihat Kara cantik banget dengan gaun semata kaki dengan bahu terbuka berwarna merah hati. Kulitnya yang putih bersih kontras dengan gaunnya. Make up tipis dan natural membuat ia semakin menawan, rambut pirang kayak bule kesasar udah dibuat jadi semakin bergelombang indah. Gerrald pengen batalin dinner dan langsung ajak Kara gelud ranjang aja. Udah gak tahan rupanya ular kobra.
"Hai, kamu cantik banget," pujinya sama Kara yang segera menunduk. Gerrald menyambut kedatangan Kara dengan mengulurkan jemarinya, Kara menyambut dan Gerrald kemudian mencium jemarinya lembut. Mau terbang bareng Minnie Butterfly Kara jadinya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Gerrald tak henti menatap Kara yang begitu cantik malam ini. Tepuk tangan udah nyamuk-nyamuk malam ini karena miss Kara telah berhasil membuat juragan sapi jatuh cinta.
Mereka sampai di sebuah tempat agak jauh dari lembang sudah menuju pusat Bandung. Gerrald dan Kara melangkah bergandengan tangan menuju sebuah tempat di atas air yang mengapung dan sudah dipenuhi lilin berbentuk hati.
"Waw," gumam Kara. Dia merasa istimewa, karena dulu sama Rama, dia gak pernah diajak beginian.
"Kamu suka?"
"Iya, makasih ya, Mas."
Dag dig dug ser, hati dan jantung Gerrald serasa mau copot dari tempatnya gelantungan karena dipanggil 'Mas' oleh Kara. Baru dipanggil gitu aja udah gelisah ular kobra apalagi kalau Kara sudah mendesah, bisa maju mundur gak berhenti lagi nantinya.
"Ini juga buat kamu." Gerrald mengeluarkan perhiasan mahal yang berkilauan. Perempuan gitu loh, kalau dikasih emas berlian bermata-mata, berkarat-karat, gimana gak kegirangan.
"Ini buat aku?" tanya Kara gak percaya.
Gerrald mengangguk cepat. "Special buat kamu."
Udah terbang sampai ke langit ke delapan sangking bahagianya. Terlebih saat Gerrald memasang kalung itu di leher jenjang Kara. Lalu ia mengecup kening Kara dengan lembut.
"Makasih ya, Mas Gerrald." Mata Kara nampak berkaca-kaca pengen keluar air, ular kobra Gerrald juga jadi pengen nyemburin air secepatnya.
Mereka menikmati hidangan malam itu dengan penuh suka cita. Pulangnya mereka gak langsung ke vila, tapi Gerrald sudah memesan sebuah hotel untuk melaksanakan malam pertama mereka yang sempat tertunda sekian lama.
Malam ini kita traveling ...