Aku Gak Akan Pergi

1380 Kata
Kara baru saja habis mandi waktu Gerrald datang ke villanya. Tanpa basa basi, ngelewatin Rus yang lagi ngerujak gitu aja, dia menerobos menuju kamar Kara yang ada di lantai atas. "Stop! Juragan, saya diperintahkan sama Non Kara untuk menghalangi juragan ke sini sebelum juragan bertobat!" Rus segera menyusul dengan mangga muda penuh di mulutnya. Dia merentangkan tangan di depan Gerrald di atas tangga. "Siapa, Rus?" Kara berteriak dari atas. Gak tau kenapa gak Rus, gak Kara, hobby banget teriak-teriak dari atas ke bawah dari bawah ke atas. "Ini Non, Juragan Gerrald." Hening sesaat. Gerrald menatap Rus keki, dia nekat mau menerobos ke kamar, tapi sebelum dia melangkah lagi suara Kara kedengaran lagi. "Biarin aja, Rus." Gerrald tertawa penuh kemenangan menatap pelayan setia Kara yang sekarang gantian Keki. Dia segera melanjutkan naik lalu membuka kamar Kara. Kenapa sih Kara jadi gak komitmen begitu?! Ngedumel si Rus dalam hati. Terkejut lagi bapaknya Minnie, lihat emak tiri lagi duduk dengan bikini hitam pekat dan rambut setengah basah yang belum dikeringkan. Gerrald tampak menelan salivanya dengan susah payah. "Kamu balik ke rumah Mami," titahnya gak pake basa basi. Kara melengos lalu dengan gerakan santai ia mulai menghidupkan hairdryer dan mengeringkan rambutnya. "Aku gak akan kemana-mana. Aku lebih nyaman disini. Kamu aja yang balik. Lagipula apa bedanya ada gak ada aku," sahut Kara santai. Gerrald mendekat lalu menatap Kara lekat. Kara balas menatapnya sambil meletakkan hairdryer. "Apa kata mami aku kalau kita tinggal terpisah kayak gini?!" "Mami kamu gak masalah kok aku tinggal disini. Lagian dia kan tahu kamu sering pergi ke Jakarta. Aku aja masih baik hati gak bilang mereka kamu nemuin siapa ke sana." Gerrald kehabisan kata-kata. Dia duduk di tepi ranjang Kara yang tidak sebesar ranjang kamarnya. Tempat minimalis yang nyaman. "Aku juga bakal pindah kesini," putusnya. Kara menyeringai kecil. "Kenapa? Bukannya kamu bilang, kita bebas lakuin apapun yang kita mau? Kamu dengan keasyikan kamu bareng pacar kamu itu dan aku dengan keasyikan aku." "Bareng anak kuliahan itu?!" sergah Gerrald cepat dan sialnya Kara mengangguk cepat, seolah memang itulah jawabannya. Gerrald mengepalkan tangannya. Didekatinya Kara lagi lalu ditarik paksa tubuh Kara dan dijatuhkannya ke atas ranjang. Kara jadi telentang, tubuh indahnya terpampang menggoda iman, membuat celananya jadi sesak lagi. "Kamu gak akan dapat apapun selama kamu masih berhubungan dengan selingkuhan kamu itu. Lagipula, aku jijik sama laki-laki yang udah ngapa-ngapain sama perempuan lain." Kara beranjak, membiarkan Gerrald kebingungan sendiri lalu membuka lemari dan memakai bajunya. Celana jeans ketat dan kaus merah muda yang ketat pula. Ada yang menonjol tapi bukan bakat. Ada yang bulat tapi bukan bola. Kara sukses bikin Gerrald blingsatan lihat dia yang begitu seksi. "Mau kemana kamu?!" tanya Gerrald cepat. "Aku ada janji sama Juna, mau temenin dia beli perlengkapan selama disini." Mata Gerrald membulat sempurna. Dia gak salah dengar kan? Istrinya mau temenin lelaki lain ke supermarket buat belanja! "Aku gak izinin!" "Aku gak butuh izin kamu. Sama kayak kamu yang pacaran sama perempuan lain tanpa izin dari aku. Lagipula, aku heran, katanya kamu pernah trauma sama perempuan, tapi bisa-bisanya kamu pacaran lagi bahkan setelah kita menikah, kamu gak menghargai pernikahan ini dengan masih berhubungan dengan wanita lain," ujar Kara dengan suara tenang, tapi di dalam hatinya dia sudah bergetar hebat. Mampus! Gerrald gak bisa ngomong atau membantah apapun lagi setelah itu. Kara memang benar, gak bisa dipungkiri. "Kara ..." Gerrald segera menyusul Kara yang sudah keluar dari kamar dan sedang menuruni tangga. Kara pura-pura gak dengar. Dia terus turun dan sebelum tiga tangga terakhir, kata-kata Gerrald menghentikan langkahnya. "Aku belum ngapa-ngapain kok sama Stevi." Setelah lama diam Kara kembali melangkah seakan gak peduli tapi di dalam hati dia udah menari-nari kegirangan. Entah mengapa ia yakin Gerrald gak bohong soal itu. Tapi dia mesti harus tetap dengan rencana semula, Gerrald harus benar-benar jatuh cinta padanya. Sementara Gerrald meremas rambutnya sendiri melihat Kara gak mengurungkan niatnya keluar dan pergi bersama Juna yang sudah menunggunya dengan sepeda motor. "Apa enaknya sih naik motor?!" Gerrald mengepalkan tangan sambil menatap keluar lewat jendela kamar Kara. Dia kok jadi cemburu berat ya. Sampe segala motor disalahin. Yang salah kan elu. "Rasain! Makanya jangan kejam sama istri!" Rus jadi ngedumel juga sambil mukulin p****t panci. Suaranya berisik bikin Gerrald tambah Keki. Dia gak pulang, tetap di kamar Kara dan akan disana selama Kara masih disitu juga. Udah pulang sono, gedein aja itu gengsi biar nanti eeknya berubah jadi piala citra. *** Kara balik udah gelap karena dia sama Juna sempat mampir dulu ke sebuah kafe di daerah yang agak jauh dari Lembang. Mereka sudah akrab sekali. Juna sering banget ditemenin Kara sama Minnie waktu lagi meneliti sapi-sapi milik papi bule. Malam ini waktu Kara pulang dan Gerrald dengar suara motor, dia segera menuju tirai. Dia lihat Kara turun dari motor sambil ketawa-ketawa. Ngintip-ngintip Gerrald lihat istri cantiknya yang kelihatannya bahagia banget bareng Juna walaupun dia cuma digoncengin pake motor. Dia buru-buru ke balik ke ranjang dan pura-pura tidur waktu lihat Kara udah masuk ke dalam rumah. Kara sendiri merasa surprise waktu lihat Gerrald udah bobo ganteng di atas ranjangnya. "Jam berapa ini, Kara?" Udah kayak bapak-bapak lagi interogasi anaknya yang ketahuan pulang malem, Gerrald bangkit dari tidurnya. "Kamu kenapa gak pulang?" Kara malah balik tanya, seakan gak peduli sama pertanyaan Gerrald barusan. "Aku tidur disini!" "Terserah kamu," Jawab Kara tanpa menoleh dan dengan santainya dia membuka baju. Gerrald jadi pusing lihat Kara yang udah setengah polos berjalan menuju kamar mandi. Setelah itu dia keluar dengan tubuh sudah wangi banget. Gerrald bisa ngerasain ular kobra dia yang standar ukuran luar negeri itu meronta-ronta pengen lihat sarangnya. Gerrald menoleh ke arah lain saat Kara membuka kimono handuknya dan dengan polos mulai mencari lingerie. Gerrald gak bisa bohong, dia menginginkan itu. Lalu tanpa diduga ia mengangkat tubuh Kara yang sudah memakai lingerie putih. "Kamu ngapain?! Lepasin aku!" Kara berontak, memukul-mukul punggung kekar Gerrald yang lalu menghempaskannya ke ranjang. Dengan gerakan cepat Gerrald membuka bajunya sendiri lalu mulai menahan kedua tangan Kara yang berusaha melepaskan diri. Ia mulai menciumi tubuh indah istrinya yang masih berbalut lingerie. "Gerrald, lepasin aku!" Kara meraung, Gerrald naik, menatap Kara dengan nafas sudah memburu lalu mulai memagut bibirnya mesra. Kara berusaha menolak namun yang keluar hanyalah desahan-desahan erotis tanpa bisa dicegah. Gerrald semakin berani ia mulai meraup dua benda padat itu bergantian. Kara mulai meremas rambut suaminya itu dengan nafas mulai terengah-engah tapi kemudian dia tersadar dan segera mendorong Gerrald yang hanya bisa terdiam. "Aku suami kamu!" Gerrald menegaskan tapi Kara memalingkan wajah dengan kesal. "Putusin pacar kamu itu, kamu bisa dapat semuanya!" Kara berkata sambil membenahi lingerie yang sudah berantakan. Lalu ia meraih selimut dan menutupnya sampai ke kepala. Gerrald meremas rambutnya, dia bingung banget. Kayak sapi gak dikasih rumput dia cuma bisa duduk di tepi ranjang. Ular kobra bule masih berdiri tegak tapi sarangnya masih ketutup, dia enggak bisa masuk. Gerrald turun ke dapur dia minum dengan cepat. Bayangannya b******u dengan Kara tadi benar-benar mengoyak pendiriannya. Dia menginginkan Kara tapi dia masih juga egois. Kara sendiri lagi susah payah menahan gejolak. Dia menginginkannya pula tapi mau gimana lagi. Dia juga gak mau cuma dijadikan pemuas nafsu tapi gak ada cinta di dalamnya. "Selama kamu masih juga sama perempuan itu, aku gak akan pernah kasih apapun!" desis Kara dalam hatinya sendiri. Abis itu dia malah ketiduran, gak peduli sama Gerrald yang masuk ke kamar dengan ular kobra siap mematuk dengan ganasnya. Mana itu Kara pake selimut dipeluk erat biar gak ada adegan pemaksaan kayak tadi lagi. Gerrald akhirnya berbaring di samping Kara tanpa bisa ngapa-ngapain. Wangi tubuh istrinya itu menyeruak, menggugah sisi kelelakiannya yang sudah naik ampere paling tinggi. "Aku bakal putusin Stevi!" ujar Gerrald akhirnya. Kara pura-pura gak dengar, seolah dia udah tidur cantik. "Tapi, kamu juga harus ngejauh dari Juna!" sambung Gerrald. "Dan aku gak akan menceraikan kamu," timpalnya sekali lagi. Kara membuka mata, perlahan ia senyum. Tapi dia sengaja gak respon apapun sebelum Gerrald membuktikannya. Biarin dah, mau dikatain bini kejam udah kayak mak tiri, dia gak peduli. Dia gak mau lembek ketindas suami seenaknya. Ngomong-ngomong lembek, itu ular kobra kok masih on aja ya. Jadi gak bisa bobo kan bapaknya sapi malam ini. Mupeng aja mandangin sesuatu yang menonjol di balik selimut itu. Gerrald lihat kamar mandi, masa iya dia mesti bereksperimen sama sabun cair? Gerrald mengerang, mirip sapi jantan kehilangan betinanya. Enak gak tuh? kering-kering dah lu!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN