Kara baru saja membuka mata saat pagi itu, Rus menggedor-gedor pintunya keras. Kayak orang lagi nagih hutang aja! Kara yang kesal langsung beranjak dari ranjang dan karena belum sepenuhnya sadar, dia jadi salah buka pintu. Niatnya mau buka pintu kamar dia malah buka lemari pakaian terus malah lanjut memejamkan mata dengan meringkuk manja di dalamnya.
"Non Kara ... Please open the door!" Masih aja teriak-teriak gak jelas, Rus kali ini bikin Kara beneran sadar. Dia segera keluar dari lemari sembari mengutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia bobo cantik lagi di dalam lemari!
"Apa sih, Rus?!" Hati-hati emak tiri Minnie emang lagi sensi. Bawaannya galak mulu kayak sapi jomblo gak pake kawin.
"Itu, Non. Mandi, cepetan!"
"Iya, kenapa sih?!"
"Non harus lihat. Pemandangan indah nan rupawan. Ada pangeran, ganteng banget mirip Nick Bateman! Semua gadis disini pada keluar rumah! Dia ke sini untuk penelitian sapinya juragan bule!"
Kara mendengus kesal, menatap Rus yang tiba-tiba jadi kecentilan pagi ini.
"Terus?"
"Non harus lihat! Orangnya ganteng banget Non! Ya Allah apa dia jodoh Rus yang sudah lama hilang?"
Tambah pusing kepalanya Kara lihat Rus kok pagi ini jadi lebay banget. Apa karena pengaruh rendang sapi krenyes-krenyes yang udah mau seminggu masuk ke dalam perutnya, sehingga Rus jadi begini.
"Gak ada hubungannya sama aku. Masak nasi goreng sana, aku laper, mau makan nasi sebakul!"
"Non Kara bakalan nyesel." Rus mengibaskan rambut lepeknya terus turun ke bawah dengan seluncur di tiang tangga. Terus dia mengaduh kesakitan karena gak bisa rem lagi sampe tubuhnya kepental dan membentur lantai.
"Rasain tuh, kualat sih kamu!"
Kara ketawa dari balik pintu kamarnya terus masuk kamar mandi. Kara mandi, gosok gigi terus gak sengaja lihat dirinya di cermin.
Dia melihat tubuhnya yang indah, hasil kerja kerasnya di Gym dan Muaithai selama ini. Lalu meneruskan kembali kegiatan mandinya yang belum selesai.
Setelah selesai dia ganti baju, rambutnya dikuncir kuda, dia pake dress cantik selutut bermotif kembang-kembang. Nampak cantik sekali bini orang.
"Mana nasi gorengnya, Rus?"
"Belum jadi, Non. Rus beliin aja ya, ini cabe habis, lupa beli."
"Aduh, aku udah laper. Gak papa deh, kamu belanja sana ke pasar, aku cari makan ke warung aja."
Rus menghela nafas lega sampe sendawa. Dia buru-buru ke pasar takut istri juragan sapi sensi lagi nantinya. Kara sendiri sudah berjalan, menghirup udara segar. Sekarang dia sudah gak pernah lagi pake sendal tinggi, lebih enak pake teplek motif Hello Kitty dan lebih suka jalan kaki.
"Pagi, Juragan Nyonya," sapa para pekerja perkebunan dan beberapa pegawai papi bule.
"Pagi, panggil Kara aja gitu."
Gak enak hati Kara dipanggil begitu. Waktu sampe di warung, semua yang lagi makan pada heboh. Mereka saling senggol lihat makhluk jelita yang lagi pesan nasi uduk.
"Pagi, Non Kara."
"Iya, pagi juga." Kara membalas ramah, bikin para pemuda disana pada bengek karena terpesona.
Apalagi abis itu Kara membuka kuncir rambutnya dan mengibas-ngibaskannya kayak adegan slow motion. Wangi shampo mahal dan tubuhnya menyeruak. Buat para lelaki jadi lupa diri dan lupa bini.
"Aku makan ya." Kara mengangkat sendoknya, membiarkan pandangannya semakin semarak karena warung itu sekarang sudah penuh dengan pengunjung.
Kara segera menyudahi acara makan. Dia jadi jengah dipandangi sedemikian lekat oleh para pria di dalam sana. Dengan langkah riang dia menuju rumah kanjeng mami paripurna. Dia udah kangen sama Minnie.
"Mooooo." Minnie menyambutnya riang. Kara segera mengeluarkannya dari kandang. Bareng Minnie dia mengitari halaman luas menuju peternakan sapi terbesar di sana.
"Aduuh!" Suara berat seseorang terdengar, juga suara Minnie.
"Hati-hati dong, sapi cantik ini jadi takut tau!" Kara segera mengusap p****t Minnie karena habis ditabrak pangeran tampan. Pangeran?
Sejenak Kara dan lelaki ganteng saling berpandangan. Tiba-tiba cinta datang kepadaku! Udah nyanyi lagi dalem hati.
"Maaf, aku gak sengaja, Juna." Dia mengulurkan jemari. Kara segera mengembalikan diri agar gak ketahuan sedang mengagumi ketampanan makhluk di depannya itu.
"Eh, Kara."
"Nama yang cantik, secantik orangnya."
"Eh, kamu orang baru?"
"Bisa dibilang begitu, aku lagi penelitian untuk tugas akhir. Dan kebetulan aku dapat di sini, udah ketemu mister Arnold."
"Oh ... Ya udah semoga kamu betah ya disini. Aku ke sana ya."
"Kamu mungkin bisa temenin aku? Aku belum terlalu mengerti jalan-jalan disini."
Kara tersenyum, bersama Minnie Kara dan Juna berjalan mengitari lapangan luas dengan berhektar-hektar kandang sapi itu. Ia mulai akrab dengan Juna. Juna pribadi yang sangat menyenangkan. Dia paling suka lihat Kara ketawa dan senyum, mahasiswa tingkat akhir itu kayaknya ingin selalu bisa lihat Kara setiap hari. Dan di hari ke tujuh dia di Lembang, Kara dan Juna jadi makin akrab.
Mereka kerap makan bareng di warung terus bercanda juga. Sejenak Kara jadi bisa melupakan kesedihannya akan Gerrald yang belum juga balik kandang.
"Kara, kamu cantik, beruntung banget laki-laki yang bisa memiliki kamu," puji Juna tulus. Wajah gantengnya membius. Kara tapi tetap berpikiran lurus.
Eh, pas lagi asyik jalan bareng Minnie dan Juna, mobil Gerrald memasuki lapangan upacara, eh lapangan rumahnya yang megah. Dia melihat Kara dan Juna yang begitu akrab dan nampak serasi, hatinya serasa terbakar. Dia segera menepikan mobil.
"Mi." Gerrald segera mencari mami.
"Apa sih anak ganteng pulang-pulang udah teriak-teriak?"
Siapa laki-laki yang lagi sama Kara?"
"Oh, itu Arjuna, mahasiswa tingkat akhir yang lagi penelitian ke sini. Anak orang kaya juga loh, Ger. Ganteng ya, kalo ada anak perempuan, udah Mami jodohkan biar jadi mantu." Mami berkata sambil mengipas-ngipaskan kipas andalannya.
Gerrald meninggalkan mami yang masih nyerocos aja tentang Juna, niat dia pengen nyamperin Kara dan kebetulan dia lihat Kara baru selesai masukin Minnie ke dalam kandang pinknya.
"Siapa laki-laki itu?"
Kara menoleh lalu menatap malas pada Gerrald yang sudah berdiri tak jauh darinya. "Arjuna," jawab Kara singkat.
"Maksud aku kenapa kalian bisa seakrab itu?"
"Karena dia asyik dan menyenangkan."
"Dia tahu kamu udah punya suami?"
"Enggak." Kara tertawa kecil.
"Kenapa kamu gak bilang?!" cecar Gerrald lagi.
Kara menoleh lagi. "Emang kamu bilang sama pacar kamu kalo kamu udah punya istri?" tanya Kara dengan senyumnya.
"Kara!"
Gerrald segera menarik tangannya dia membawa Kara ke kamar, disudutkannya Kara ke tembok. Jarak mereka sedemikian dekat, Kara bahkan bisa mencium wangi tubuh suaminya itu.
"Lepasin! Aku mau pulang." Kara memalingkan wajahnya.
"Kamu gak akan kemana-mana. Kamar ini kamar kamu juga!"
"Mami gak bilang aku udah balik ke vila? Aku lebih nyaman tinggal di sana. Minggir!" Kara yang tiba-tiba ingat foto Gerrald dan Stevi langsung mendorong Gerrald cepat lalu keluar dari kamar.
Keluar dari rumah besar itu, Juna ternyata masih di luar.
"Aku anterin kamu ke Villa ya. Udah sore, aku gak bisa biarin kamu jalan sendirian."
Kara mengangguk, lalu menoleh sesaat kepada Gerrald yang sudah mengepalkan tangannya di jendela kamar menatap Juna yang berjalan berdampingan dengan Kara menuju Vila. Ini gak bisa dibiarin. Gerrald jadi blingsatan sendiri. Dia segera mandi dan akan menyusul Kara ke Villa. Sangking gak karuannya Gerrald jadi buru-buru dan terpeleset di kamar mandi. Pinggangnya terasa mau patah. Azab suami suka seenaknya memang pedih!
Rasain tuh! Minnie jadi makan rumput dengan kesal melihat Gerrald yang kayak orang linglung dan serba salah di kamarnya. Lebih baik aku punya bapak baru! Maki Minnie sambil menatap foto Gerrald yang berhadapan langsung dengan kandang cantiknya.