"Selamat pagi pengantin baru." Mami paripurna mendekati Kara dan Gerrald yang baru aja datang menuju meja makan. Keduanya lagi bergandengan tangan, sesekali saling lihat-lihatan cengar cengir khas penganten baru yang udah kena jebol gawang! Ini cuma sandiwara! Gak ada gawang yang jebol dan gak ada ular kobra yang ketemu sarangnya semalem! Karena Gerrald gak mau nanti maminya kepikiran mereka yang masih suka berantem. Apalagi mami punya riwayat migrain dan vertigo berat.
"Pagi juga, Mi," sahut keduanya kompak. Gerrald bahkan menarik kursi untuk Kara dengan mesra tapi kayaknya itu kejauhan nariknya jadi pas Kara mau duduk, Kara malah jatuh! Pantatnya sakit! Dia segera meringis melotot menatap Gerrald yang beneran enggak sengaja tapi Gerrald malah mengulum senyum, dia mau ketawa tapi takut maminya nanti marah.
"Ya ampun, Ger! Pelan-pelan dong! Gimana kalo menantu Mami ini lecet?" Mami membantu Kara berdiri lalu mendorong lagi kursi agar Kara bisa duduk dengan benar.
"Makasih ya, Mi. Mas Gerrald suka gitu deh, sangking mesranya bisa ngebahayain aku," sindir Kara dengan senyum kesalnya. Tapi Gerrald jadi tersentak waktu Kara menyebutnya dengan "Mas".
Sementara mami paripurna udah yang paling bahagia dengar menantunya memanggil putera gantengnya begitu. Terasa banget mesranya.
"Aduh ... Mesranya. Mami jadi inget sama Papi." Mami mesem-mesem gak jelas terkenang nostalgila bareng papi bule jaman dulu. Dia gak tahu Gerrald sedang menahan kesal dan sakit karena Kara sekarang sedang menginjak kakinya dengan kuat di bawah meja.
"Ehmmmmm, Sayang, mau makan apa?" Demi menghentikan Kara Gerrald segera merapatkan kursinya lalu menyusupkan tangannya ke pinggang ramping istrinya itu sambil meremasnya. Kara jadi panas dingin dan sontak langsung terkejut lalu melepaskan injakan pada kaki suaminya.
"Aku mau itu, itu." Kara melotot menatap Gerrald yang sudah tersenyum penuh kemenangan dengan tangan masih aktif meremas pinggang Kara membuat bulu kuduknya merinding! "Lepasin!" desis Kara pelan.
Gerrald tertawa kecil lalu melepaskan pinggang istrinya secara perlahan. Lalu Gerrald mengambil sayur capcai udang dengan perkedel untuk istrinya.
"Papi, sini cepatan kita makan bareng." Mami manggil-manggil papi bule yang udah rapi.
"Selamat pagi semuanya. Pagi ini kita makan apa?" sapa papi bule sembari melihat lauk-pauk yang tersaji dan menggugah selera. "Tidak ada rendang, Mami?" tanya papi bule.
"Udah mau seminggu loh, Papi, kita makan rendang."
"Baiklah, padahal itu rendang krenyes-krenyes Mami paling enak. Di Amerika tidak ada yang jual. Memang rendang Mami juara." Papi bule mencium kening mami paripurna dengan mesra. Kara jadi mupeng, pengen diciom juga! Tapi Gerrald gitu sih! Dasar jahat!
"Jadi gimana? Kapan kira-kira cucu mami launching?"
Bengek Kara dengarnya! Lagian itu kanjeng mami kok ngomong gak pake saring dulu. Walaupun anak dan menantunya udah mantap-mantap, tapi gak mungkin Kara langsung hamil juga. Apalagi kenyataannya mereka gak ngapa-ngapain semalam? Mau kasih cucu apa? Anak angin?
"Mami, baru juga semalem masa udah jadi aja." Gerrald segera menjawab, dia gak mau maminya curiga dan kecewa.
"Mami terlalu bersemangat. Dulu kita dapat Gerrald juga sudah satu tahun menikah baru jadi." Papi bule ketawa, mami paripurna jadi malu.
Kara tersenyum, kedua mertuanya ini orang baik. Dia semakin nyaman menjadi menantu. Apalagi, kedua orangtuanya juga suka banget sama Gerrald. Mikirin itu dia jadi murung. Mama dan papanya sudah kembali ke Jakarta karena papa harus segera kembali ke perusahaan.
"Kara, nanti harus sayang sama suami, harus nurut, gak boleh bantah." Wejangan mamanya Kara kenang selalu. Tapi gimana ya. Bapaknya sapi selalu aja bikin dia kesal dan marah.
"Mi, hari ini aku ke Jakarta ya. Ada urusan."
"Kara diajak dong, masa ditinggalin sih."
"Eh, enggak deh Mi. Aku gak lama, gak mau juga nanti Kara bosan."
Kara jadi gak nafsu makan. Tapi, demi menghormati mertuanya dia tetap memaksa beberapa suapan lagi ke mulutnya.
"Gak papa kok, Mi. Kara juga mau ke salon mbak Mumu."
Mami akhirnya mengangguk, Kara mencoba tersenyum walaupun dalam hati dia udah nyut-nyutan banget. Ya mau gimana lagi, suaminya mungkin akan tetap begitu.
Daripada bete di rumah, mendingan dia ke salon mbak Mumu pulangnya dia bakal ngajak Minnie jalan-jalan. Minnie juga sekarang udah males lihat Gerrald tiap lihat mukanya Gerrald dia jadi pengen berak mulu.
"Aku pulang satu minggu lagi. Kamu mau kemana terserah." Gitu kata Gerrald sama Kara waktu mereka lagi di kamar setelah selesai makan pagi.
"Ya udah. Selamat bersenang-senang." Kara keluar kamar terus ke kandangnya Minnie. Dia segera memberi makan sapi cantik itu lalu mengelus kepalanya lembut.
"Bapak kamu jahat banget," adunya sama Minnie yang lagi asyik makan rumput.
"Mooooo," sahut Minnie seolah membenarkan.
Gerrald tersenyum kecil lalu masuk ke dalam mobil dengan Kara yang mencoba gak mau peduli sama dia. Sampai mobilnya menjauh dari gerbang tinggi rumah mewah itu, Kara baru melangkah lagi. Dia mau pulang aja ke villa, siapa tahu di tengah jalan ketemu pangeran berkuda putih bukan pangeran dengan sapi putih lagi.
Sementara Gerrald jadi ngerasa sedikit bersalah karena udah ninggalin Kara demi Stevi, pacarnya di Jakarta. Udah terus aja, awas aja nyesel kalo nanti Kara ketemu cowok baru, yang lebih segalanya dari kamu! Iya, kamu, yang udah tega menyingkirkan berlian demi batu kerikil. Uh! Dasar buaya karat!
***
Gerrald memandang Stevi, gadis yang memang belum lama menjadi kekasihnya itu. Sebenarnya, Gerrald dan Stevi bertemu secara gak sengaja sewaktu dulu Gerrald masih punya restoran mewah di Jakarta, Stevi ini teman akrabnya Irene. Jadi waktu Gerrald ngegerebek Irene bareng sahabatnya, Jaya, ini juga berkat informasi dari Stevi.
Selama hampir tiga tahun Gerrald trauma banget sama perempuan, terus dia balik kandang alias balik kampung. Eh pas kemarin ke Jakarta lagi sebelum dia kepergok warga sama Kara, dia ketemu lagi sama Stevi, Entah gimana keduanya jadi akrab dan mereka resmi pacaran sampai sekarang.
Saat ini mereka lagi di sebuah restoran mewah. Stevi gadis baik, ya baik sih sampai sejauh ini. Gerrald juga nyaman. Gak ngerti ini cinta apa bukan tapi ya berjalan gitu aja.
"Kamu kapan, Ger, ajak aku ketemu Mami kamu?" tanya Stevi ngarep. Gak tahu aja dia, itu bapaknya sapi udah nikah! Laki orang itu woi!
"Eh, nanti aja. Aku lagi nyaman gini dulu sama kamu."
"Jawaban kamu selalu sama."
"Sorry, Stev. Tapi, aku benar-benar lagi cari waktu yang pas."
Stevi akhirnya mengangguk. "Irene udah tahu loh kita pacaran."
Gerrald hampir tersedak minumannya. "Buat apa kamu bilang ke dia?"
"Gak papa, aku gak masalah kok dia benci sama aku, yang penting kamu udah tahu siapa dia. Kamu laki-laki baik, Ger. Aku yang pantas buat kamu."
Pede banget itu betina ngomong begitu. Itu laki orang! Harem!
Eh pas lagi ngomong serius, Gerrald malah kepikiran seseorang. Kok dia ngerasa bersalah ya. Apalagi saat melihat postingan Gerrald yang ditandai oleh salah satu akun yang gak lain adalah akunnya Stevi dan diberikan like oleh Kara.
"Ger?" Stevi mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Gerrald.
"Eh, iya Kara."
"Kara?" Stevi mengerutkan keningnya. "Kara siapa, Ger?" tanya emaknya umang-umang lagi, pengen tahu aja! Itu istrinya, istrinya bapak sapi. Emak tirinya Minie!
"Eh, enggak, bukan siapa-siapa."
"Kamu gak nyembunyiin apapun kan dari aku?"
Gerrald diam tapi kemudian dia menggeleng. Stevi tersenyum lalu kembali meneruskan makannya sambil terus menatap Gerrald dengan pandangan memuja.
"Kamu bisa nginep di apartemen aku, Ger."
"Aku punya tempat sendiri selama di Jakarta."
Stevi ngangguk-ngangguk kayak belalang sembah. Sementara Gerrald saat ini pikirannya lagi mengembara dan sampai ke Lembang, memikirkan Kara yang tiba-tiba aja jadi buah pikirannya hampir seharian.
Sampai di sebuah apartemennya sendiri, Gerrald masih terbayang Kara. Ngebayangin Kara dia malah sadar ular kobranya mulai bangun lagi.
Iseng dia buka ponsel dan melihat Kara lagi online di sosial medianya. Istrinya itu memposting fotonya bareng Minnie yang lagi cantik. Cantik? Gerrald langsung sesak nafas lihat wajah sapi cantiknya yang sudah didandani dengan berbagai make up. Bibirnya jadi merah, Minnie jadi mirip Mumu kalo lagi pake gincu. Mbak Mumu sekarang sampai keselek sate kambing yang lagi dia makan karena lagi kena fitnah sama Gerrald.
"Kenapa Minnie didandanin kayak gitu?!" Gerrald langsung semprot Kara yang baru aja mau memejamkan mata pas teleponnya berdering.
"Cantikkan?"
"Cantik apaan sih?! Pokoknya aku pulang itu Minnie make upnya udah gak ada lagi. Kamu kira dia ondel-ondel?"
"Segitunya! Gara-gara Minnie aku dandanin gitu kamu marah, dan kamu pergi bareng selingkuhan kamu aku biasa aja!"
Tut... tut... tut...
Panggilan itu berakhir karena Kara matiin telepon dengan kesal. Gerrald jadi terdiam terus dia kembali melihat postingan Kara yang lain, dan masih ada foto Rama terselip di sana. Hatinya tiba-tiba panas. Dia telepon lagi itu Kara.
"Apa lagi?!" Giliran dia kena semprot.
"Kenapa ada foto laki-laki di akun kamu?!"
Kara yang diam terus dia matiin ponselnya. Kara sepertinya lupa menghapus satu foto Rama dan dia kemarin. Itu beneran ketinggalan. Tapi Kara ngebiarin aja foto itu masih disana, biar Gerrald tahu rasa.
"Aku sebenarnya pengen hapus, tapi kalo kamu bisa seenaknya sama perempuan lain dan gak bisa menghargai pernikahan ini, aku akan bikin kamu ngerasa hal yang sama. Walaupun aku gak mau kenal lagi laki-laki lain selain suami aku," gumam Kara sambil menatap langit-langit kamarnya sendiri.
Dia udah balik ke Villa sore tadi. Walaupun kanjeng mami paripurna sedih banget tapi Kara tetap nekat balik ke Villa.
"Nanti Kara sering-sering main kesini ya, Mi."
"Ini karena Gerrald ya? Awas aja nanti dia pulang Mami sentil ginjalnya!" kata kanjeng mami dengan gemas waktu itu.
Gimana Kara bisa melepaskan pernikahannya sama Gerrald kalau mertuanya sudah demikian sayang dan baik sama dia?
"Aku yakin suatu saat kamu akan jatuh cinta sama aku," desis Kara dalam hatinya.
Aku kan bertahan meski takkan mungkin, menggenggam cintanya walau perih. Udah nyanyi lagi Kara dalem hati. Turun dia ke dapur niatnya pengen minum, tapi dia terkejut setengah mampus sampe kejengkang ke belakang waktu lihat Rus keluar dari kamar dengan masker putih yang kelihatan cuma mukanya doang.
"Rus!"
Kara menekan d**a, dia paling takut sama hantu!
"Maaf, Non. Ini masker beras, Non mau cobain?"
"Gak! Kamu jangan ngagetin gitu dong!" Kara mendecak kesal lalu balik ke kamar lagi, gak jadi dia minum. Mendadak hilang hausnya gara-gara lihat mbak kunti versi Rusmini.
"Oalah, orang baru nikah memang sensian apalagi lagi ditinggalin ke luar kota sama yayang. Gak ada yang ngelus-ngelus." Rus ngedumel sendiri.
"Rus! Kamu ngomongin aku?!" Kara teriak dari atas. Rus buru-buru masuk ke kamar. Istri juragan sapi lagi sensi kayak anak gadis lagi dateng bulan mending cari aman daripada gaji dipotong satu persen bulan ini. Rus bener loh, Kara lagi menahan sesuatu yang berdenyut karena kepikiran Gerrald. Itu lobang buaya sama ular kobra sebenarnya udah gak tahan pengen gituan, tapi ya mau gimana lagi, yang punya lobang sama ular lagi pada gengsi! Mupeng-mupeng dah lu berdua! Kesel jadinya, jadi pengen makan rendang sewajan!