"Jangan masuk!" Kara menahan pintu kamar Gerrald. Jadi malam ini mereka diharuskan untuk tidur di rumah papi bule. Tapi hari belum malem kok, tenang aja sosis ular kobra belum bakal matuk. Hari masih sore, suara musik berdentum masih kedengaran di lapangan besar rumah papi bule yang udah disulap jadi tempat pesta pernikahan dan sekarang sedang berlanjut jadi pesta rakyat.
Makanan enak tersedia, rendang sapi krenyes-krenyes jadi idola. Mami paripurna lagi joget bareng besannya. Mereka pada kompak, apalagi papi bule lagi joget jaipong bikin semua tepuk tangan.
Pelaminan mewah nan indah bak negeri dongeng itu sudah ditinggalkan Kara yang udah gerah dengan baju pengantinnya. Dia sekarang udah selesai buka baju pengantin dibantu perias yang telah keluar dari kamar dan baru aja mau bersihin riasan make up pake cairan khusus, pintu kamarnya tiba-tiba mau dibuka dari luar. Makin blingsatan Kara segera menahan pintu ketika pintu itu beneran udah mau kebuka. Soalnya dia belum sempat ganti baju, masih pake bra merah berenda.
"Ini kamar aku! Buka!" Gerrald memaksa mendorong pintu itu. Sempat terjadi adegan tarik menarik gagang pintu yang berakhir dengan kemenangan Gerrald karena dia berhasil mendorong pintu itu.
Tapi habis itu dia jadi melongo. Ya gimana gak melongo, itu pemandangan gunung kembar lengkap dengan bra merah tersaji begitu saja di depan mata. Udah sah dikenyot kan?
Gerrald jadi linglung. Dia masuk terus ngambil handuk dan dilempar ke Kara yang masih mengelus pantatnya yang kesakitan karena membentur lantai.
"Aku bilang tunggu! Aku ganti baju dulu!" Kara kesal bukan main, dia segera melilitkan handuk itu di tubuhnya sendiri.
"Berisik!" balas Gerrald tak kalah kesalnya. Dia menatap Kara terus melengos.
"Kamu sengaja kan gak pake baju? Kamu pikir aku mau apa?!"
Sok jual mahal! Kara mendengus dalam hati.
"Ya gak masalah dong aku gak pake baju, kan kamu gak nafsu juga!" balas Kara sarkas.
Kara duduk dengan santai, mengaduk minuman dingin yang tadi dihidangkan pelayan dengan handuk melilit di tubuhnya.
"Kamu jangan harap ya aku bakal jatuh cinta sama kamu. Aku udah punya pacar baru. Makanya kemarin aku ke Jakarta, karena aku nyamperin pacar aku."
Kara menghentikan keasyikannya meminum minuman dingin itu. Ia menoleh sebentar, harusnya dia gak sakit hati dengar pengakuan Gerrald tapi kenapa hatinya malah nyut-nyutan.
Mencoba tenang dia terus nanya sama Gerrald. "Oh, gak papa! Aku juga gak bakalan jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu juga gak boleh larang aku kalo mau pacaran sama orang lain!"
Gerrald berangkat dari posisinya lalu menatap Kara tajam.
"Kita berdua gak menginginkan pernikahan ini. Kamu bisa mencari laki-laki yang kamu suka begitu juga denganku. Dan setahun setelah pernikahan ini, aku akan menceraikan kamu."
Kara diam tapi kemudian dia tertawa dan tersenyum. Hatinya sebenarnya perih, ini sama saja dia sedang mengulang acara pernikahan yang gagal untuk kedua kali tapi bedanya mereka disaksikan sah sudah menikah hanya saja hati mereka yang masih enggak klop. Masih egois, masih berpikir mereka gak bakalan saling sayang.
"Kamu boleh menceraikan aku dengan satu syarat."
"Bilang aja."
"Pastikan kamu gak bakalan jatuh cinta sama aku. Itu artinya, jangan ada yang saling menyentuh! Aku gak mau memberikan apa yang aku punya selama kamu punya pacar di luar sana."
"Aku gak bakalan jatuh cinta sama kamu! Jadi aku setuju!"
"Dan sekali kamu menyentuh aku, kamu gak akan bisa menceraikan aku. Kamu sanggup?"
"Kenapa kamu pede banget aku bakal nyentuh kamu?" Gerrald ketawa ngakak, sampe Minnie yang lagi tidur langsung kaget.
"Karena pistol kamu sekarang udah hidup! Baru juga lihat aku begini udah tegang gimana kalo aku kasih polos, bisa-bisa kamu lupa kalo kamu masih lelaki perjaka!"
Mendengar itu Gerrald langsung menutupnya dengan bantal. Dia melengos. Benar juga yang Kara bilang, mana tahan dia lihat Kara begitu.
Sementara Kara yang sudah kepalang tanggung diperistri gak akan pernah mau melepaskan apa yang sudah dia dapatkan tapi dia akan jual mahal, dia bakal membuat Gerrald yang merengek merindukan dirinya.
"Aku Kara loh, sempat jadi rebutan. Terus kamu mau cerein aku seenak jidat? Enak aja."
Tapi habis ngomong begitu dalam hati, Kara jadi sedih sendiri, dia gak suka perceraian jadi dia kecewa berat waktu Gerrald bilang bahwa dia sudah punya pacar. Padahal Kara udah bersedia memberikan semua yang dia punya karena itu memang tugasnya sebagai seorang istri. Tapi dia jadi mengubah rencana, dia bertekad akan membuat Gerrald yang memutuskan pacarnya dan tergila-gila dengannya.
Antara dua kalo gak Gerrald, Kara yang gila! Rumah tangga macam apa ini! Kesal Minnie Butterfly jadinya. Padahal dia udah ikhlas punya emak tiri, giliran bapaknya yang bertingkah! Dasar bapak sapi, gak punya perasaan! Mencret lagi jadinya Minnie mikiran mereka berdua.
***
Malam hari tiba. Kalau pasangan suami istri baru pasti udah ada pergulatan dahsyat dengan berbagai erangan terdengar. Belum lagi racauan yang bikin pasangan saling menggila, saling cium, saling gigit dan saling eheeem.
Beda halnya sama Kara dan Gerrald. Keduanya sama sekali tidak melakukan apa-apa, jangankan mau gituan, mereka berdua ngomong juga enggak. Minnie dari dalam kandang dari tadi gak bisa bobo cantik, kupingnya dibuka lebar biar bisa dengar suara orang lagi gituan.
Tapi yang dia dengar cuma suara ketawanya Gerrald yang lagi chatting mesra sama pacarnya yang lagi di Jakarta. Sementara, Kara masih di kamar mandi, perutnya sakit dengar Gerrald lagi asik banget sama selingkuhannya. Boleh gak sih dia bilang gitu? Beneran kan namanya Gerrald selingkuh? Selingkuh terang-terangan di depan dia yang udah sah jadi istri! Dasar jahat!
"Aku tidur dimana?" tanya Kara dengan lingerie merah jambu yang seketika bikin bola matanya Gerrald mau copot dari kelopaknya. Gimana dia gak pusing, Kara cuma pake lingerie tipis tanpa bra. Dia tahu karena putingnya yang terlihat tegak menantang dari balik lingerie tipis itu. "Hallo?" Kara mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Gerrald yang masih bengong kayak sapi dungu.
"Gerrald? Itu siapa?" Suara perempuan kedengaran.
"Sepupu aku. Aku matiin dulu ya teleponnya."
Gerrald menarik nafas panjang juga mengambil bantal dengan gerakan sesantai mungkin biar gak ketahuan dia lagi nutupi sesuatu yang udah tegak dan jelas itu bukan keadilan.
"Ehmmmmm, kamu tidur disini aja. Aku bisa di sana."
Gerrald nunjuk sofa panjang di depan televisi bersebrangan dengan ranjang king sizenya.
"Ya udah, minggir!" Kara segera menjatuhkan diri, berbaring menyamping membelakangi Gerrald yang kembali menghirup udara banyak-banyak karena sekarang dia udah sesak nafas lihat p****t montok bikin ular kobra pengen melesak keluar dari celananya yang sudah sesak. Itu ular kobra gak sejalan sama kesepakatan antara dia dan Kara. Pasti itu ular kobra gak sabar pengen matuk-matuk terus nyemburin bisanya.
"Kenapa masih disini?!" Kara tiba-tiba balik badan setelah dia merasa Gerrald gak juga beranjak dan malah ketahuan sedang menatap ke bagian belakangnya yang padat itu.
"Kamu bisa gak sih pake baju biasa aja kalo mau tidur?!"
"Kenapa? Terserah aku dong. Aku emang gini kok. Kan katanya kamu enggak nafsu sama aku. Ya udah tahan aja tuh pistol kamu yang udah berdiri tegak mau muntah!" sahut Kara keki sambil melempar muka Gerrald pake bantal guling.
"Dasar nakal!"
Gerrald mengeluarkan kata-kata andalannya. Kara cuma ketawa sinis dia lanjutin memejamkan mata.
Gerrald sendiri setelah itu membuka bajunya sendiri lalu tidur tanpa mengenakan baju. Hanya dengan boxer pendek ia lalu pergi ke sofa. Tadinya dia pengen lanjutin chatting sama pacar barunya yang ada di Jakarta. Tapi setelah melihat Kara dia jadi males. Malah dia sekarang sedang memandangi Kara yang sedang tertidur dengan cantik dengan seksi dan dengan menggoda! Sialan ini menguji iman!
Hampir dua jam gak bisa tidur dengan ular kobra yang terus mendesak pengen masuk sarangnya, akhirnya Gerrald bisa memejamkan mata juga tapi dia jadi terbangun waktu lihat Kara sudah di depannya dan sedang menyelimutinya.
"Maaf, aku cuma mau selimutin kamu. Ruangan ini dingin dan kamu gak pake baju."
Gerrald gak bisa bales apapun, dia cuma diam dan memandangi Kara yang kembali naik ke ranjang lalu melanjutkan tidur. Gerrald jadi kembali terpancing hasrat lagi juga hatinya bergetar hebat waktu Kara nyelimutin tubuhnya. Itu perempuan kenapa jadi manis begitu? Apa aslinya dia memang begitu?
Gerrald segera menepis kekagumannya akan Kara yang tiba-tiba muncul gitu aja kayak hantu malem ini. Dia jadi gak bisa tidur lagi. Alhasil dia jadi memandangi Kara sepanjang malam.
Gak tahu mesti ngapain. Pengennya gituan tapi ya gimana emak tirinya Minnie gak mau disentuh karena dia belum mutusin pacarnya.
"Kamu kenapa gak tidur? Mau lihatin aku sepanjang malam?"
Gerrald tersentak lalu segera membalikkan badan, dia tetap gak bisa tidur karena masih terbayang tubuh indah istrinya yang dianggurin gitu aja. Apalagi ular kobra udah semakin membesar dan butuh asupan segera. Asupan apaan! Noh bapaknya kobra lagi sok jual mahal! Jangan harap bisa dapat asupan bergizi, maen aja sono sama sabun!