Pernikahan mendadak antara miss santan dan bapaknya sapi sudah ditetapkan dan disahkan akan jatuh enam hari dari sekarang, tepatnya setelah acara lamaran mereka.
Setelah hari lamaran, mama dan papa ikut Kara ke Lembang karena acara pernikahan mereka akan diadakan disana, sesuai ketentuan adat yang sudah berlaku karena mereka digrebek di desa itu jadi menikahnya juga harus disana, kalau kawinnya mah bebas, mau di Lembang kek, Jakarta kek, kandang sapi kek yang penting enak.
Enak pala lu, itu si Kara udah keki banget sama Gerrald. Mana itu laki-laki suka banget ngajak dia debat. Perihal dekorasi juga mereka enggak akur. Padahal harusnya mereka gak perlu debat, kan gak saling suka. Tinggal duduk anteng aja harusnya di pelaminan.
Ini malah berantem, Kara maunya dekorasi semuanya serba putih, Gerrald maunya serba item. Kalau disimpulkan dari kacamata kebengekan, seandainya digabungkan konsep pernikahan mereka akan berakhir dengan tema pocong bangkit dari kematian. Lah iya, benerkan? Item melambangkan kematian, terus bangkit dah pocong yang pake putih-putih. Nah pas itu. Jadilah acara pernikahan terbengek sepanjang sejarah.
"Dasar orang gila! Masa nikahan temannya item-item?! Kamu kira aku ini anak rock and roll?!" dengus Kara di sebuah wedding organizer saat itu. Dia dan Gerrald kebetulan ikut dan mereka akan mencoba baju pengantin.
"Putih-putih kamu kira ini negeri mimpi? Sok-sokan mau jadi putri kali ya! Aku memang lagi berkabung, karena harus kawin sama kamu!" balas Gerrald gak mau kalah. Dia tetap mempertahankan teori dan konsep berkabung di acara pernikahan mereka nanti.
"Jadi Mbak dan Masnya mau tema apa?" Petugas wedding organizer udah pusing dari tadi cuma noleh kanan noleh kiri lihat kedua makhluk yang mau dipersatukan dengan ikatan pernikahan itu pada berantem gak jelas.
"Putih!"
"Item!"
"Putih!"
Ibu paripurna dan mamanya Kara jadi menengahi mereka dengan cepat. Mereka baru aja memilih baju untuk dipakai kompakan nanti di acara pesta. Para papi juga udah kompak memakai jas keren nanti. Ini dua orang yang bakal jadi raja dan ratu sehari malah masih pada debat karena tema dekorasi yang pada nyeleneh.
"Udah, kalian diem! Nanti biar kami para orangtua yang atur semuanya. Kalian tinggal pake baju pengantin, tinggal duduk di pelaminan," putus mamanya Kara.
Kara melipat kedua tangannya di depan d**a. Dia dan Gerrald saling tatapan dengan kesal.
"Awas kamu ya!" Gerrald melotot menatap Kara yang segera membalasnya cepat.
Akhirnya dekorasi pernikahan mereka sudah ditentukan, bertema putih keemasan yang pasti akan meriah karena akan sekalian menjadi pesta rakyat.
Pulang dari wedding organizer yang letaknya di Bandung pusat itu mereka balik lagi ke Lembang.
"Non Kara, aura-aura mau menikah itu memang beda ya." Rus yang lagi membereskan koper berisi baju kedua orangtua Kara berkata sambil godain Kara yang cuma bisa melengos.
"Ya jelas, Rus. Aura orang mau menikah itu berseri-seri, bersinar-sinar." Mama yang baru masuk ke kamar tersenyum menatap anaknya yang cuma bisa manyun.
"Aura apaan sih, Ma? Aura horor yang ada!"
"Eeeh anak gadis gak boleh ngomong gitu. Mau nikah gak boleh judes-judes, pamali."
Kara berdiri terus meninggalkan Rus sama mamanya yang masih aja suka godain dia.
Pas mau buka pintu depan dia terkejut bukan main ketika lihat Gerrald udah berdiri di depan pintu.
"Ngapain sih disini?! Bisa gak sehari aja kamu tuh gak usah nongolin muka kamu yang sengak ini ke aku?" Kara ngomel sambil menunjuk muka Gerrald.
"Eh, kalo bukan mami yang minta aku anterin ini buat mama kamu, aku gak bakalan kesini! Nih, ambil, makan sampe kenyang. Badan kamu terlalu kurus!" Gerrald menyodorkan rantang berisi rendang krenyes-krenyes ala mami paripurna yang rasanya belum ada yang bisa ngalahin itu.
"Apa?! Kurus?! Kamu gak lihat aku seksi begini, nih!" Kara berpose seksi di depan Gerrald yang langsung panas dingin. Ular kobra udah mulai tegak, celananya jadi sesak. "Nih, lihat! Lihat!" Kara maju-maju ke depan sampai dadanya menempel lagi. Gerrald gak tahan dia segera mendorong Kara dan meletakkan rantang itu di lantai terus pergi dan meninggalkan Kara yang udah keki setengah mati.
"Dasar nakal!" dengus Gerrald sambil membelokkan setir mobil.
Kara masuk lagi, terus dia panggil itu mama dan papa sekalian sama Rus juga buat makan bareng. Kebetulan dia laper berat abis debat.
Tapi kalo dipikir-pikir, misalkan tiap hari makan berat begini, dia beneran bakal jadi gendut dong. Kara bergidik sendiri membayangkan tubuhnya penuh lemak-lemak membandel yang belum tentu bisa bersih dengan mama lemon.
Ya jelas bakal gendut dong, lah tar tiap malem bakal kena sembur bisa ular kobra.
***
Hari yang dinanti pun tiba. Kara sudah didandani sedemikian cantik dengan gaun pengantin yang membuatnya manglingi. Kara yang memang gak pernah dandan kecuali dengan lipstik dan bedak di kesehariannya, nampak berbeda hari ini.
Ia juga melihat dirinya memang menjadi lebih bersinar dibanding saat ia menjadi pengantin dengan mempelai pria yang sudah kabur. Ya jelas beda, sekarang kan mempelai lelakinya ada tuh, biarpun kepaksa tapi ada.
Gerrald juga sudah menunggu dengan gagah dan tenang di meja akad bersama penghulu yang akan menikahkan mereka berdua.
Lelaki itu terkesima saat melihat bidadari jatuh dari surga berkebaya putih dengan payet mutiara berkilauan berjalan anggun didampingi kedua orangtuanya.
"Cantiknya menantuku, Sum!" Mami paripurna menangkupkan telapak tangannya di depan d**a melihat Kara yang sudah mendekat.
Gerrald jadi deg-degan. Walaupun dia terpaksa tapi kenapa lihat Kara hari ini penyesalannya untuk menikah dengan gadis itu jadi sedikit menghilang begitu saja.
Semua tamu yang datang jadi pangling, para pemuda yang sempat mencoba pedekate sama Kara dulu pada gigit jari, karena pada akhirnya mereka tentu aja kalah jauh dibanding sang juragan sapi yang keturunan bule itu.
Begitu pula para gadis yang cuma bisa menyimpan angan mereka untuk bisa menikah dengan Gerrald. Mereka gak akan bisa menyaingi Kara yang jelas jauh di atas mereka. Cantik, seksi dan kaya. Pasangan klop. Klop di matamu, bukan di mata Minnie Butterfly yang udah didandan pula dengan pita pink di lehernya. Sambil ngunyah rumput dia lihat acara pesta meriah itu. Dia gak peduli, walaupun udah mencret sebaskom bapaknya tetap aja kawin sama calon emak tiri. Jadi mendingan dia ngemil rumput siapa tahu nanti eeknya bisa berubah jadi butterfly beneran.
Acara akad akan segera dimulai. Papa Kara dan Gerrald sudah saling berjabat tangan.
"Ananda Gerrald Fernando bin Arnold Anderson, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Karania Abraham binti Romi Abraham dengan mas kawin cincin berlian sepuluh karat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Karania Abraham binti Romi Abraham dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Saksi?"
"SAH!"
Semua menghembuskan nafas lega dibarengi mbak Mumu yang ngeluarin nafas dari lubang yang bawah sekalian. Untung enggak bau karena semalem dia gak makan telor rebus kayak biasa, kalau enggak udah dipastikan seisi acara bakalan kacau karena bau kentut mbak Mumu yang mirip comberan kesangkut eeknya Minnie.
"Kira-kira dong, Mbak, kalo mau kentut!" Rus yang udah cantik dengan kebaya kembaran sama mbak Mumu menyenggol.
"Maaf, Rus. Gak tahan, keluar gitu aja." Mbak Mumu menunduk malu-malu embek.
Terus kedua pengantin itu duduk di pelaminan. Mereka tampak serasi. Fotografer mulai mengambil foto dari berbagai sudut dan angle yang bagus.
"Nah ini tangan Mbak Kara pegang bahunya Mas Gerrald, terus saling hadap-hadapan ya." Begitu sang fotografer mengarahkan mereka.
Meski keduanya enggan tapi demi menghormati sang fotografer yang udah naik turun memotret mereka dengan bermacam gaya dan gerakan, akhirnya mereka menurut.
"Ehmmmmm." Kara mencubit pinggang Gerrald waktu lelaki itu meletakkan tangannya di pinggang ramping Kara. Sedang Gerrald cuma bisa melotot menatapnya tapi tetap dengan senyum dipaksakan.
"Oke, begitu, begini, miring kanan miring kiri, iyak, pelukan, senyum oke selesai."
Kara dan Gerrald saling melepaskan diri. Gerrald udah pusing ketempelan Kara dari tadi bikin dia jadi berfantasi yang enggak-enggak.
"Dasar nakal!" kata Gerrald lagi setiap kali dia mulai merasakan sesuatu yang tegak di bawah sana ketika mereka bersentuhan.
"Kamu yang sengaja nempel-nempel aku yang dituduh nakal!" Kara gak terima dong.
"Kamu sengaja godain aku kan? Pasti sama laki-laki lain kamu begini juga! Ganjen!"
Kara menginjak kaki Gerrald gemas membuat lelaki itu refleks mencengkram pinggang Kara kuat. Keduanya sama-sama mengaduh. Para camer enggak peduli anaknya pada berantem yang penting kawin!
"Siap-siap tar malem ya!" Gerrald menyeringai.
"Jangan macem-macem. Aku sunat kamu dua kali!" ancam Kara.
"Sebelum kamu sunat, aku duluan yang suntik kamu!"
"Dasar m***m!" Kara jadi mukulin bunga di tangannya ke tubuh lelaki itu. Gerrald membalas dengan mencubit perut Kara membuatnya tergelak kencang.
Bagi Kara, dia dan Gerrald lagi berantem tapi bagi yang lihat mereka kok so sis banget, so sweet maksudnya. So sisnya dikeluarin tar malem aja, buka bungkus dan bersegel