Ketua RT, ketua RW, kepala desa, kepala-kepalaan yang lain juga udah hadir di balai desa itu. Gerrald sama Kara saling berpandangan, saling melotot, saling menyalahkan.
"Gara-gara kamu!" tuding Kara.
"Enak aja nyalahin aku, kamu yang salah! Coba kemarin gak usah hujan-hujanan!" balas Gerrald tak terima.
"Dasar sapi!" dengus Kara lagi.
Kedua orangtua Gerrald yang merupakan orang terkaya di tempat itu sedang dalam perjalanan ke balai desa. Rus yang dikabari juga sedang buru-buru menuju balai desa.
"Rus, aku ikut!" Baru aja mau jalan dengan motor matic, mbak Mumu yang entah muncul dari mana langsung nemplok gitu aja di motornya Rus.
"Mau ikut kemana sih, Mbak? Ini situasi genting. Non Kara lagi diarak keliling kampung dan sekarang udah di balai desa!"
Dasar Rus mah ngelebih-lebihin. Mana ada diarak keliling kampung, mereka cuma sedang disaksikan banyak warga di balai desa.
"Makanya Rus, aku pengen lihat juga. Mereka pasti bakal dikawinin," sahut mbak Mumu semangat. Gerrald sama Kara yang mau dikawinin, malah dia yang antusias.
"Ya udah yok, pegangan yang kuat, Mbak. Kita udah mau terbang."
"Oke, Rus! Pelan-pelan nanti aku keguguran."
"Halusinasi Mbak, mana bisa makhluk astral punya kantung rahim!" sahut Rus kesal, ya gimana mau keguguran emang ada bayi di ginjalnya mbak Mumu?
"Sialan kamu Rus!"
Rus dan mbak Mumu sudah melaju menuju balai desa. Di simpang jalan mereka bertemu dengan rombongan keluarganya Gerrald yang lagi dalem mobil.
Maminya Gerrald buka jendela kaca mobil terus dadah-dadah. Dia kelihatan happy banget anaknya bakal dikawinin. Gak ada tuh dia malu. Kalo gini kan dia jadi gak susah-susah buat jodohin Kara sama Gerrald yang suka berantem itu.
"Pokoknya, mereka akan segera dinikahkan! Sum, jangan lupa kamu cari wedding organizer ternama dari luar kota, kita akan membuat pesta pernikahan besar-besaran buat anak saya dan Kara," kata ibu paripurna kepada asisten setianya dengan begitu semangat dan dengan kipas yang gak ketinggalan di tangannya.
Ini betul-betul hari yang membahagiakan untuk ibu paripurna. Dia bersyukur anaknya digrebek warga karena lagi berduaan bareng sama Kara. Memang kalau jodoh gak bakal kemana, meskipun riwayat perjodohan mereka enggak banget, karena digrebek warga.
"Papi bakal potong banyak sapi untuk acara pesta nanti," timpal papi bule tak kalah sumringah pula.
Kedua orangtua itu saling berpelukan. Mereka bahagia sekali anaknya akan segera memiliki istri. Mereka juga bahagia sebab itu berarti Gerrald pasti bisa lupa dengan Irene yang sudah mengkhianati putera tampan mereka itu.
Sampai di balai desa, mereka melihat Kara dan Gerrald yang bajunya sudah setengah kering sedang duduk di kursi pesakitan. Para warga sudah siap mengompori agar mereka bisa melihat adegan kedua orangtua itu memarahi anak mereka yang dinilai sudah membuat malu.
Tapi mereka malah bengong waktu lihat ibu paripurna yang terhormat malah memeluk Kara dan Gerrald bergantian.
"Kita akan bikin acara pesta yang meriah. Kara, hari ini kita ke Jakarta dan kami akan melamar kamu."
"Tapi, Bu ... "
"Enggak ada tapi-tapian. Kamu mau dinikahkan paksa disini? Lebih baik, Ibuk meminta kamu selayaknya orang akan dilamar dengan baik. Kamu setuju kan?"
Belum sempat Kara menjawab dan memberi penolakan lagi, Rus datang menerobos kerumunan warga.
"Non Kara!" Rus menyeruak lalu memeluk Kara. "Selamat ya Non. Akhirnya Non kawin sama Bapaknya sapi! Mas Gerrald, sumpahnya jadi kenyataan." Rus melonjak-lonjak kegirangan.
Gerrald dan Kara gak bisa berkata-kata. Mana bisa mereka menikah tanpa ada ikatan cinta seperti ini? Setiap hari mereka cuma berantem, apalagi nanti kalau sudah berumah tangga, pasti mereka akan seperti kucing sama tikus.
"Mi, ini gak seperti yang orang-orang pikir!" Gerrald masih mencoba membatalkan pernikahan itu tapi maminya sudah memintanya diam dan mengisyaratkan sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Baiklah semuanya, warga desa semua, ketua RT ketua RW dan Kepala desa, kami setuju akan menikahkan kedua anak ini satu minggu lagi."
Semua orang mengangguk setuju dan setelah itu gak akan ada lagi yang ngomongin Kara dan Gerrald. Pesta pernikahan sekaligus pesta rakyat itu akan digelar secepatnya.
Kara udah mau pingsan, dia menatap Gerrald dengan kesal. Tatapannya penuh permusuhan dan siap mengajak lelaki bule itu untuk perang.
"Gara-gara kamu!" Dia mencubit kesal perut kotak-kotak Gerrald. Belum selesai rasa kekinya barusan. Pokoknya Gerrald yang salah.
"Kamu! Coba kemarin gak nyusahin aku! Lagian sok-sokan ujan-ujanan!"
"Aku gak minta kamu tolongin!"
"Udah-udah! Kalian mau menikah masih aja berantem. Nanti aja berantemnya waktu malem pertama!" Papi kesal lihat kedua orang itu yang lagi senggol-senggolan saling menyalahkan.
"Jangan mimpi kamu bisa dapet perawan aku!" ketus Kara sama Gerrald.
"Kamu pikir aku mau lepasin perjaka aku sama perempuan gila kayak kamu?"
"Eeeh ya ampun! Masih aja berantem!" Mami menengahi keduanya pakai kipas dia. "Stop!" Mami udah pusing lihat anak dan calon mantu kerjaannya berantem terus. Belum aja terkena virus bucin!
Mereka akhirnya dibawa pulang. Kara bahkan dibawa ke rumah yang sama yaitu rumahnya Gerrald karena hari ini juga mereka akan berangkat ke Jakarta untuk lamaran.
Kara udah pasrah, Gerrald gak mau pusing mikirin apa-apa lagi. Kalo udah gini dia gak akan bisa menghindar lagi dari pernikahan dengan Kara.
Mobil memasuki pekarangan, Tono lagi sibuk ngelus perutnya si Minnie. Gerrald langsung menghampiri
"Minnie mencret-mencret, Tuan."
"Rumputnya ada uletnya kali, Ton."
"Enggak ada loh,Tuan."
Gerrald memandangi Minnie sambil terus mengusap kepala sapi cantik itu. Jangankan dia, Minnie juga gelisah ditandai dengan mencret-mencret yang tak berkesudahan. Ini biasa Minnie alami kalau lagi setress. Ceileh, sapi ... bisa setress juga rupanya.
Minnie lesu banget, kayaknya dia tahu bapaknya bakal kawin. Sampe mencret begitu. Firasatnya sebagai hewan kesayangan Gerrald lagi gak baik. Ati-ati lo Minnie, dapet emak tiri lo kupu-kupu jadian bentar lagi.
***
Perjalanan dari Lembang ke Jakarta ditempuh kurang lebih tiga jam perjalanan. Kara duduk dengan tenang bersama Gerrald di belakang. Mami dan papi duduk di tengah, di depan mereka duduk Rus dan Tono yang nyupirin itu mobil. Rombongan mobil belakang adalah iringan mobil keluarga besar mami yang lain termasuk di dalamnya ada Mumu ikutan nemplok.
Kara sudah didandan cantik sekali oleh Mumu selepas mereka dari balai desa. Ia memakai kebaya modern berwarna cokelat keemasan dengan rambut dibentuk sanggul cantik. Gerrald sudah rapi dengan kemeja panjang berwarna hitam ketat yang membungkus tubuh atletisnya. Mentang-mentang lagi sedih dipaksa kawin, bapaknya sapi pake item-item kayak orang lagi berkabung. Ealaah siapa yang mati, Bang?
"Sial banget sih aku gagal nikah di Jakarta malah dipaksa kawin di Lembang!" gumam Kara pelan tapi tak urung tetap kedengaran di telinganya Gerrald yang duduk di samping dia.
Gerrald mengangkat satu alisnya. Ia tidak salah dengar kan kalau calon istri dadakannya itu pernah gagal manten?
"Kayak yang sial kamu aja! Emangnya aku enggak?" tanya Gerrald sewot.
"Diem!" Kara mencubit lagi pinggang Gerrald gemas.
"Lagian kenapa sih suka banget cubit-cubit!" Gerrald yang gak terima jadi membalas mencubit gadis itu.
Kara dan Gerrald jadi terlibat saling serang dengan berusaha mencubit lawan. Mami dan papi bule geleng-geleng. Itu anak dua kapan akurnya?
Mereka akhirnya sampai di depan rumah Kara yang bergerbang tinggi. Sama-sama keluarga ningrat, mereka dipastikan cocok untuk bersanding.
Satpam membuka gerbang itu, dia gak heran lagi dengan rombongan yang datang ini karena sudah mendapat kabar bahwa Kara akan datang bersama orang yang akan melamarnya. Kedua orangtua Kara sempat shock waktu ditelepon papi bule pagi tadi, tapi mereka abis itu ikutan bahagia. Anak mereka gak bakalan gagal manten lagi.
Jadi pagi itu juga mama dan papanya Kara jadi super sibuk pesan makanan siap santap ke beberapa catering. Ruangan keluarga yang besar itu sudah di dekorasi dadakan untuk menyambut acara lamaran dari Lembang.
"Pap, itu calon mantu kita. Ya Allah tampan sekali!" Mama udah jingkrak-jingkak bahagia.
"Kita bakal besanan sama bule, Mam." timpal papa gak kalah senangnya lihat papi bule yang tinggi banget, gagah didampingi wanita cantik nan ayu itulah ibu paripurna calon besan.
Wajah kedua camer itu dari masing-masing pihak itu gak ada yang sedih. Mereka bahagia banget. Cuma Kara dan Gerrald yang wajahnya mendung.
"Selamat datang, Ibu Rahayu. Alhamdulillah, kita ditakdirkan besanan ya." Mama menyambut calon besan dengan hati lapang selapang-lapangnya, saking lapangnya Gerrald sama Kara bisa main bola disana. Gak! cocoknya Kara sama Gerrald main perang-perangan pake batu kali karena mereka akan tetap bermusuhan!
"Iya, Bu. Anak-anak kita memang sudah digariskan oleh yang maha kuasa untuk bersatu."
"Jadi bisa kita mulai acara lamarannya ya." Papi bule sudah berangkulan dengan papanya Kara.
Kenapa lu pada kompak banget?! Tadinya Kara pikir dia masih ada harapan untuk menolak lamaran ini melalui mama dan papanya. Tapi kenyataannya berbeda. Mama dan papa juga menginginkan pernikahan ini! Kara udah pengen nyungsep aja ke lubang cacing demi menghindari acara lamaran mendadak ini.
"Lihat, Rus! Cocok banget nek mereka itu. Satu ganteng satu lagi cantik, anaknya nanti pasti kayak bule juga."
"Iya, Mbak Mumu. Rus juga bahagia Non Kara bisa menikah sama Mas Gerrald. Rus bisa makan rendang enak sering-sering kalo gini."
"Ya ampun Rus, rendang aja beli aja di warung padang. Sampe muntah kamu makannya."
"Eh, ini mah beda, Mbak Mumu. Rendang punya nyonya paripurna ada krenyes-krenyesnya."
"Macem-macem aja kamu, Rus!"
Bisik-bisik antara mbak Mumu dan Rus akhirnya terhenti dengan penyematan cincin di jari manisnya Kara oleh Gerrald. Keduanya sempat saling menatap. Mereka saling menunduk abis itu.
Udahlah, terima aja kenyataan kalau kalian memang sudah ditakdirkan untuk menjadi sepasang suami istri. Namanya jodoh bakal ketemu dengan cara yang unik, iya itu buat oranglain, tapi buat Kara dan Gerrald yang riwayat ketemunya aja udah diawali dengan perang mulut, gimana bisa dikatakan unik?
Ini jodoh salah alamat namanya. Kara dan Gerrald masih aja suka ngedumel dalam hati. Masa iya mereka bisa saling mempertahankan rumah tangga tanpa ada ikatan cinta seperti ini. Please deh ini bukan kayak sinetron yang lagi booming itu, yang pasangannya pada bucin mampus sampai bikin emak-emak yang nonton jadi pada baper.
"Kali ini, Kara gak akan gagal manten," bisik mama sama papa yang udah bahagia dan berkaca-kaca lihat anak gadisnya akan segera menikah lagi.
Semuanya bertepuk tangan. Kara dan Gerrald kemudian duduk berdampingan. Keduanya tampak serasi.
"Ati-ati kamu aku siksa nanti!" bisik Gerrald sengaja menakut-nakuti Kara.
"Aku gak takut, aku bakal pelintir kamu sampe putus!"
"Apanya yang putus?!"
Kara segera mengatupkan bibirnya hampir saja dia pengen bilang sesuatu yang sempat ia lihat dulu.
"Gede ya?" goda Gerrald lagi sambil berbisik.
"Apa?! m***m!" balas Kara kesal tapi pipinya bersemu merah.
"Aku tarik kata-kata aku, seorang istri harus nurut apa kata suaminya termasuk soal itu," kata Gerrald sambil menyeringai. Ini saatnya membuat Kara takut beneran sama dia.
"Apaan sih?! Jangan macem-macem ya kamu!"
"Lihat aja nanti!" ancam Gerrald lagi dengan seringainya.
Kara bergidik ngeri membayangkan benda panjang besar itu akan masuk ke lubang sempitnya yang pasti sakit. Dia jadi ngilu sendiri.
Nikah aja belum udah mikirin ular kobra masuk sarang! Gayanya aja gak mau, gak mau, sekalinya udah masuk malah ketagihan. Ati-ati lu Maemunnah. Itu ular bukan ular biasa, bisa nya bikin elu merem melek gak ingat dunia. Maklum ular kobra peliharaan bule gedenya bikin teriak-teriak keenakan waktu lagi matuk-matuk pake gaya maju mundur ganteng tebar pesona.
Belum ngerasain aja tuh Kara gimana indahnya surga dunia. Awalnya sakit sih, tapi sakitnya minta bikin nambah. Apaan tuh yang nambah? Otakmu traveling.