Hujan-hujanan dan Di Grebek!

1014 Kata
"Halo, Ma." Kara sedang berada di taman belakang villanya ketika mama menelepon. Hari ini sudah genap satu bulan Kara berada di Lembang. Ia dan Gerrald juga sudah jarang bertemu. Gerrald katanya sudah hampir dua minggu berada di Jakarta. Entah ada urusan apa Kara juga gak tahu dan gak mau tahu. Tapi, maminya Gerrald suka banget ngunjungin Kara ke Villa. Seperti siang ini ketika lagi asyik ngobrol sama mamanya, bel villanya berbunyi. Ibu paripurna udah di depan bareng pelayan setia dan Tono yang nungguin di dalam mobil. Kayaknya, maminya Gerrald benar-benar sudah mengecap Kara sebagai calon mantunya. Kara gak pernah mikir macem-macem, karena dia juga senang dikunjungi ibu paripurna yang serasa menggantikan kehadiran mamanya yang ada di Jakarta. "Hallo Sayang." Cipika cipiki Kara sama maminya Gerrald. Mereka masuk ke dalam rumah, hari ini maminya Gerrald bawa rantang lagi berisi sup sayur daging. "Nyonya, jauh-jauh kesini, padahal biarin Rus aja yang ngambil." Rus menuangkan sup itu ke dalam mangkuk khusus sup. "Gak papa, Rus. Lagian Ibu juga gak ada kerjaan di rumah." "Kara tadi habis belajar bikin brownies loh sama Rus. Ibu cobain ya." Kara semangat ngambil brownies ke minibarnya lalu memberikannya pada mami Gerrald. "Enak, wah udah cocok jadi calon mantu," goda mami Gerrald lagi kegirangan. Terus mereka makan bareng di dapur minimalis itu. Kara dan maminya Gerrald terlihat sudah akrab sekali. Mami Gerrald beneran sudah mencap Kara sebagai calon menantunya. Dia gak peduli Kara sama Gerrald yang kayak kucing sama anjing kalo ketemu, berantem mulu, saling nyumpahin saling ledek juga. Hampir satu jam berada di rumah calon mantu yang masih samar-samar hilalnya, kanjeng mami pamit mau pulang. "Ibu pulang ya, nanti main dong ke rumah. Mentang-mentang Gerrald lagi gak ada, kamu jadi males main ke rumah Ibu." Nah kan salah paham lagi nih kanjeng mami. "Eeh enggak gitu loh, Bu. Nanti Kara main deh ke sana." kata Kara akhirnya. Gak baik orangtua diajak debat nanti kualat jadi mendingan diiyain aja. Cipika cipiki lagi Kara melepas kepergian maminya Gerrald pulang. Terus dia jadi pengen jalan-jalan lagi mengitari kampung perdesaan yang asri dan hijau itu. Pergi beneran Kara mengitari desa dengan rambut yang sudah melayang-layang tertiup angin. Terus berjalan menyapa dan membalas sapaan siapa saja yang kebetulan udah selesai kerja dan mau pulang dari perkebunan. Cuaca udah gelap, Kara jalan sendirian menyusuri jalanan, pake rok pendek baju kaus ketat, rambutnya masih melayang-layang terkena angin. Para pekerja perkebunan juga masih banyak dan masih menyapa dirinya hangat. Kara jadi mirip bintang FTV yang lagi shooting di daerah perdesaan. Atau mirip sekilas sama kajol lagi nungguin Sharukh Khan sambil nyanyi lagu India. Kara betulan sudah jadi idola baru di kampung itu. Bikin para gadis lain ngiri karena gak bisa kayak Kara. Untungnya Kara ramah dan tidak sombong, jadi walaupun banyak yang iri, yang sayang lebih banyak lagi. Eaaaaaa. By the way, Kara jalan sendirian, Rus kebetulan gak bisa ikut Kara jalan-jalan, karena lagi beresin gudang belakang. Jadilah Kara seorang diri, mana hari udah mendung tapi Kara masih betah melangkah kesana kemari. "Nah ini kupu-kupu beneran." Kara memekik girang mengejar kupu-kupu cantik itu sampai dia gak sadar hari udah udah semakin gelap. Rintik hujan mulai turun, Kara jadi gak tahu mau berteduh dimana. Jalanan sekitar perkebunan yang sepi itu sudah mulai basah dan becek. Kara jadi panik apalagi waktu dengar guntur menggelegar keras disertai kilat yang saling menyambar-nyambar. Tubuhnya sudah basah semua buat Kara jadi kedinginan, sampai kemudian ia tak lagi merasakan air hujan di atas kepalanya. Seseorang sudah menahan air dengan sebuah jaket tebal di atas kepalanya. "Nyusahin aja sih!" gerutu lelaki itu. Kara mendongak, ia menemukan Gerrald yang juga sudah kebasahan. Itu cowok bule jadi seksi badai dengan tampilan basah bikin Kara jadi berdenyut manja. "Malah bengong! Ayo jalan, di sana ada pondok." Kara mengangguk terus ikut langkah kaki Gerrald menuju pondok di balik pohon besar. Mereka benar-benar sudah menggigil hebat. Gerrald tadinya baru aja tiba di Lembang saat hujan turun dengan deras sekali. Mobilnya gak bisa jalan karena terjebak ke dalam lubang besar dekat jalan dan terpaksa dia tinggalkan begitu saja saat ini. Ketika mau jalan cari bantuan dia malah lihat Kara sendirian di tengah perkebunan. Hari sudah sore sebentar lagi akan gelap ditambah hujan turun dengan deras dengan guntur kilat menggelegar. Mereka sampai di pondok. Kara duduk dengan gemetaran memeluk lututnya. Gerrald segera menutup tubuh itu dengan jaket tebalnya. Mereka duduk bersisian, diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Terus pelan-pelan saling lirik. "Kenapa sih lihat aku begitu?!" Mode galak Kara balik lagi. "Yeee udah ditolongin bukannya makasih." "Eh kamu tuh aaaaaahhhhhh!" Kara tiba-tiba teriak waktu suara guntur sangat keras terdengar dan terasa mengguncang pondok. Gerrald cuma terdiam dengan Kara yang sudah memeluknya erat karena ketakutan. Dia jadi kepanasan setelah dapat pelukan tiba-tiba itu. Padahal cuaca lagi dingin banget. Kara segera melepaskan pelukannya yang refleks barusan. Hujan memang belum akan berhenti, hari sudah gelap. Rus di Villa gak bisa kemana-mana, dia udah cari Kara kesana kemari tapi gak ketemu. Di pondok sendiri Kara yang mengantuk malah jadi bersandar di bahu Gerrald. "Tidur aja, nanti kalo udah berhenti aku bangunin," kata Gerrald akhirnya. "Eeh, iya. Kamu jangan macem-macem ya." Kara kemudian berbaring, rok pendeknya memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih. Eh gak lama kemudian malah mereka jadi ketiduran beneran. Gerrald bahkan sudah memeluk Kara dari belakang sampai ketika hujan berhenti mereka gak tahu ada banyak warga yang lewat subuhnya. "Pasangan m***m!" teriak ibu-ibu memancing semua orang. Yang baru pulang dari surau karena habis solat subuh segera mendekat karena mendengar teriakan itu. Ada juga aki-aki yang sampe jatuh terguling-guling karena keselibet sarungnya sendiri sangking semangatnya mau gerebek pasangan m***m itu. Kara dan Gerrald terbangun lalu terkejut melihat mereka yang memang saling peluk. Gawat! Gerrald tahu apa hukuman orang yang kepergok m***m seperti saat ini. Walau mereka mengelak dan memang gak ngapa-ngapain, tetap aja pandangan orang udah beda. Mereka pasti akan segera dinikahkan! "Enggak Ibu-Ibu, Bapak-bapak. Kita gak ngapa-ngapain." Kara dan Gerrald berusaha menjelaskan tapi percuma aja para warga udah rame dan membawa mereka ke balai desa untuk diminta pertanggungjawaban. Tanggung jawab apaan? Ular kobra gak ngapa-ngapain juga! Gerrald udah keki banget pengen nemplokin tai Minnie ke muka warga satu-satu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN