Lirikan Matamu Menarik Hati

1010 Kata
Malam hari ini meja makan mewah dengan banyak hidangan lezat itu semakin istimewa dengan kehadiran Kara yang nampak cantik dengan kebaya merah mudanya. Di seberang Kara, duduk dengan santai Gerrald yang sedang menyantap makanannya. Sesekali Kara dan Gerrald nampak saling melirik. Waktu Kara nunduk dan sibuk dengan makanannya, Gerald yang lirik begitupun sebaliknya. Begitu terus sampai akhirnya tatapan mereka benar-benar bertemu. Kara melotot ke arah Gerrald yang dibalas cepat oleh pria tampan itu dengan hal yang sama. Rupanya, kelakuan absurd mereka itu ketahuan ibu paripurna yang segera berdeham. "Malah saling lihat-lihatan." Keduanya refleks menoleh. Rus gak peduli, dia lebih suka ngabisin rendang yang beneran krenyes-krenyes itu dengan nikmat. Ini beneran rendang yang nendang. Kayaknya dia mesti sering-sering ngomporin Kara biar jadi sering main ke sini biar bisa makan rendang enak buatan ibu paripurna lagi. Kalau kata orang minang 'tambuah ciek'. Gak cukup satu potong daging rendang. Mudah-mudahan ntar pulang mereka dibungkusin rendang krenyes-krenyes. Ngarep banget, Rus! "Siapa yang lihat-lihatan sih, Mi?" elak Gerrald sambil terus menyantap rendang enak buatan mami. "Gitu ya, Mi, kalo baru pacaran malu-malu kucing, ntar aja kalo udah lama pasti malu-maluin," timpal papi bule. Kara jadi keselek rendang mendengar apa yang barusan papi bule bilang. Dia sama Gerrald beneran dikira lagi pacaran. "Air ... air." Kara manggil-manggil kayak mbak kunti lagi kekeringan. Semua jadi panik, Gerrald buru-buru nuangin air minum. Terus dia kasih ke Kara yang udah bengek sesak nafas. Setelah air masuk ke dalam tenggorokannya hampir satu gelas, barulah Kara bisa bernafas lega. "Pelan-pelan dong, calon mantu." Kali ini bukan cuma Kara yang sesak nafas, Gerrald juga ikutan bengek mendengar papi dan maminya nyebut Kara calon mantu! Kara gak mau keselek lagi, dia berhenti makan beneran. Terus waktu mau pulang mereka beneran dirantangin rendang krenyes-krenyes. Rus bahagia, Kara yang menderita. "Ger," panggil mami waktu lihat Gerrald malah mau masuk ke kamar lagi. "Kenapa, Mi?" tanya Gerrald malas. "Anterin dong Kara sama Rus pulang." "Gak papa kok, Bu. Kara sama Rus jalan aja gak begitu jauh juga." "Eh, mana boleh. Lihat, di luar udah gelap. Beda sama kota jam segini masih rame kalo di kampung begini, udah sepi. Bahaya." "Minta Tono aja yang anterin, Mi. Tuh kunci mobilnya." "Ger, Mami minta kamu loh yang anter." Gerrald memandang jengah Kara yang juga menatapnya dengan sama jengahnya. Jadilah kemudian mereka pulang dianterin Gerrald. Dia duduk di belakang bareng Rus. Sepanjang perjalanan pulang mereka diam. Beneran sepi banget udah jalan apalagi ke arah vila Kara yang letaknya gak jauh dari bukit. "Kalo udah malem gak usah keluar-keluar. Bahaya, disini pernah ada kejadian orang dirampok." Suara berat Gerrald memecah keheningan. Kara gak jawab tapi dia dengar dengan seksama. Dari kaca, Gerrald kembali memperhatikan Kara secara seksama. Kara beneran cantik banget, tapi Gerrard buru-buru menepis anggapan itu. Perempuan itu ular! Begitu kata Gerrald dalam hati. Lu yang ular! Nah Kara sarangnya, baru betul! "Udah sampe." "Iya makasih," kata Kara singkat terus dia turun bareng Rus yang matanya udah merah karena mabok rendang. "Makasih ya, Mas Gerrald, makasih juga rendangnya." Gerrald gak jawab dia cuma ngangguk terus pergi lagi. Kara buru-buru ke dalam rumah. Dia segera ganti baju, gosok gigi terus cuci muka. "Rus, aku bobo duluan ya." Gak ada jawaban, Kara ke depan lagi terus lihat Rus udah duluan terpejam di kursi ruang tamu. Kara cuma geleng-geleng kepala. Dia ambil selimut terus menyelimuti pelayannya yang lebih muda empat tahun darinya itu. "Mabok rendang kamu, Rus." Kara ketawa terus naik lagi ke atas dan masuk ke kamar. Sebelum tidur dia jadi memandangi langit-langit kamar, wajah Gerrald yang menyebalkan jadi terbayang. Kara jadi kesal sendiri sampai kebawa mimpi. Kenapa sih ada lelaki galak kayak Gerrald? Tanya Kara sama cicak di dinding. Kebuka lagi matanya, gak bisa tidur karena wajah Gerrald yang tampan khas bule tapi nyebelin itu kembali berlarian dalam ingatan. Di kamarnya sendiri, Gerrald juga belum bisa tidur. Ia masih betah memainkan ponsel, berselancar di dunia maya dan gak sengaja teringat wajah Kara yang cantik jelita tapi suka banget bikin dia naik darah. "Sebenarnya cantik, tapi kenapa ya bawaannya kalo lihat dia pengen berantem aja?" tanya Gerrald sama diri sendiri. Gini nih kalo udah pernah disakitin sama perempuan, semua perempuan dianggap sama, semua perempuan dianggap doyan selingkuh. Gerrald jadi menggaruk kepalanya yang gak gatal. Gerrald gak jadi tidur. Dia pergi ke luar, nampak suasana sekitar rumahnya udah sepi. Para pelayan udah pada tidur. Gerrald memilih duduk di tepi kolam renang, niatnya pengen nyebur tapi pas dipegang air kolam dingin banget kayak abis keluar dari lemari es, bikin dia gak jadi nyebur ke air. "Kok belum tidur?" Gerrald menoleh, menemukan papi bule yang sedang memegang segelas air putih mendekat ke arahnya. "Papi sendiri, kenapa belum tidur?" tanya Gerrald. "Haus." Papi duduk di samping Gerrald. Keduanya jadi memandang air kolam yang tenang. "Mami udah tidur, Pi?" "Sudah, sudah mengigau sambil nyanyi juga tadi." jawab papi bule sambil ketawa. "Pacar kamu yang baru ini cantik, pintar kamu cari perempuan." Mendengar itu, Gerrald jadi hampir nyebur beneran ke dalam air kolam renang. Apaan sih papi bule? Dia sama Kara gak ada hubungan apapun selain permusuhan. Gimana mau pacaran tiap kali ketemu bawaannya pengen perang aja. Gerrald yang diingatkan lagi tentang Kara jadi kesal lagi. "Jangan lama-lama, mami dan Papi udah gak sabar pengen punya menantu." Dahlah, pusing kepala Gerrald dengar papi bule ngomongin Kara mulu dari tadi. Entah atas dasar apa kedua orangtuanya itu bisa berpikiran dia sama Kara pacaran. "Udah ah, Pi. Gerrald mau ke kamar, papi juga mendingan tidur." Gerrald segera menjauh dari papi bule yang kelihatannya masih pengen tanya ini itu tentang Kara. Daripada entar Gerrald ngomong yang enggak-enggak dan semakin membuat papi bule jadi berpikiran lain. Papi bule cuma bisa geleng-geleng melihat anaknya itu. "Awalnya aja malu-malu, nanti pasti malu-maluin," gumam papi bule lagi dengan kata-kata andalannya. Ucapan tuh jadi doa loh Pi, ati-ati tar jadi malu-maluin beneran anaknya. Papi melangkah riang menuju kamar, memikirkan masalah anak muda memang gak ada habisnya, jadi yang tua ngalah aja daripada ikutan setress kayak Gerrald yang udah mau gila karena jadi sering mikirin Kara. Ini yang dinamakan jangan terlalu benci nanti malah jadi bucin mampus!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN