Kebaya Cantik Merah Muda

1308 Kata
Dengan dibantu Rus dan beberapa pelayan ibu nyonya paripurna, Kara dibersihkan dari kotoran si cantik kupu-kupu jadi-jadian yang sedang bereinkarnasi menjadi sapi putih. Masih dengan menutup hidungnya, ia jadi bergidik sendiri melihat kakinya yang indah yang jarang sekali menyentuh tanah itu sekarang malah ditempeli eek sapi yang masih anget-angetnya. "Cepetan dong, aku geli," pekik Kara kesal. "Sabar ya, Non, bentar lagi selesai kok," sahut para pelayan. "Lagian, Non, kayak gak ada mainan laen, segala tai sapi dimaenin." Wah cari masalah itu Rus. Kara jadi pengen kasih eek sapi sama Rus yang udah ngomong begitu barusan. Dia kira Kara kurang kerjaan maen sama eek sapi. Sama eek cicak aja dia geli la ini eek sapi begitu dimainin. "Manja banget, baru nginjek tai sapi aja udah begitu." Gerrald yang udah rapi dengan menggenggam kunci mobil, berkata dengan sewot lihat Kara yang sedang dibersihkan oleh para pelayan di rumahnya di samping rumah megah itu. "Eh, kalo bukan karena kamu, aku gak bakalan nginjek tai kupu-kupu jadian kamu itu!" sahut Kara sama sewotnya sambil menunjuk-nunjuk Minnie yang lagi nongolin kepalanya dari balik pintu kandang, mungkin maksudnya mau kepo. "Yeeeee, kamu yang nginjek tai kok aku sama Minnie yang disalahin. Dasar perempuan stres." Gerrald kemudian berlalu dan melewati mereka menuju kandang Minnie Butterfly. Dia tersenyum pada sapi betina yang segera menunduk seakan tahu, tuannya yang ganteng mau mengelus kepalanya. "Eh, Minnie, lain kali jangan cuma kamu kasih eek, kasih kentut maut kamu juga sekalian." Gerrald berkata dengan suara sengaja digede-gedein biar Kara dengar. "Dasar Bapaknya sapi! Tunggu aja kamu aku bales, aku bales pokoknya!" Kara udah teriak-teriak lagi. Gerrald menunjukkan gerakan ngasih bogem mentah di udara yang membuat Kara makin kesal sama pemuda tampan itu. "Ton!" panggil Gerrald sama yang suka ngasih makan sapi betinanya itu. "Iya, Tuan." Tono yang baru aja dateng langsung menghampiri Gerrald. "Mandiin Minnie, shampo barunya ada di dalam kandang. Jangan lupa sebelum di jemur dikeringkan dulu pake handuk." "Baik Tuan." "Alah, sapi doang pake acara dimandiin segala!" celetuk Kara masih sewot aja kayak anak gadis lagi cemburu sama pacarnya yang suka ngasih perhatian ke cewek lain. "Mending mandiin sapi, daripada bersihin kaki kamu!" sarkas Gerrald kemudian masuk ke dalam mobil dan keluar dari gerbang besar rumahnya itu. "Mau kemana anak Mami?!" Nyonya Rahayu keluar dari rumah setengah berteriak dan berlari saat mendengar deru mobil yang dikendarai Gerrald keluar dari gerbang. Setengah berlari pula menghampiri Kara yang masih dibersihin kakinya sama para pelayan. Kara jadi ngeri nanti ibu paripurna bakal keselibet rok kebaya panjangnya yang sempit itu. "Ibu, pelan-pelan nanti jatuh loh," kata Kara sambil tertawa kecil. "Si Gerrald itu suka begitu. Kalo sore begini pasti keluar mulu. Eh anak cantik, abis ini mandi ya, Ibu udah siapin baju kok. Nanti makan disini aja. Ibu udah masak rendang enak." "Eh, gak usah, Bu. Kara pulang aja deh." "Eh jangan! Pamali atuh nolak tawaran orang tua." "Tapi ..." "Udah, gak ada tapi-tapian, pokoknya kamu sama Rus makan disini." Akhirnya Kara mengangguk juga. Ya gimana, Mau nolak enggak enak udah dibilang begitu tadi. "Nah udah bersih, Non. Sekarang Non mandi aja di dalem." Lagi-lagi Kara nurut. Apaan sih?! Kok jadi kayak sapi dicucuk hidung begini nurut aja. Lama-lama disini dia beneran kena virus sapi nurut! Kara sekarang sudah berada di dalam kamar tamu, tepatnya di dalam kamar mandinya. Sambil membersihkan diri dia jadi ingat sama Gerrald. Di bawah pancaran air dia jadi sadar sesuatu, Gerrald lebih banyak menghuni isi otaknya daripada Rama sekarang. Bisa dibilang, bapaknya sapi itu bantuin Kara lupain semua hal buruk di Jakarta kemarin secara gak sengaja. Kara jadi tersenyum kecil. Lalu dia meneruskan acara mandinya. Tubuhnya udah bersih udah wangi kayak anak gadis mau jalan bareng pacar baru. Hahay! "Rus," panggil Kara, dia masih pake handuk. Dia gak lihat pelayannya itu malah ibu paripurna yang muncul dari balik pintu. "Anak cantik, ini bajunya ya." "Bu, kita mau kondangan?" tanya Kara ketika melihat baju kebaya simpel khas gadis muda berwarna merah jambu kalem itu. "Enggak, ini baju kamu. Ayo pake." Nurut lagi dah si Kara. Emang udah kena virus sapi nih kayaknya calon mantu Mami. Kara memandang dirinya di cermin, dia tampak seperti orang yang berbeda, cantiknya jadi berkali-kali lipat setelah kebaya cantik merah muda itu melekat di tubuhnya yang berlekuk bak jam pasir. Tapi kemudian dia jadi sesak nafas waktu lihat Rus masuk dengan kebaya warna merah dengan rambut disanggul pula. Rus kesusahan berjalan karena badannya yang lumayan berisi itu diapit rok sempit. "Non Kara, cantiknya Non," puji Rus lalu ia mendekati Kara dan mulai membantunya mengeringkan rambut panjang bergelombang Kara dengan hairdryer. "Aku gak mau disanggul, biarin digerai gini." Rus nurut aja lalu mulai menyisir rambut pirang panjang lagi bergelombang itu dengan lembut. Terus mereka keluar dan nyonya Rahayu langsung memekik senang melihat Kara yang sudah begitu cantik dengan kebaya merah mudanya. "Oalah, cantiknya ..." puji wanita paruh baya itu. "Sekarang kamu santai aja di ruang tengah, nonton atau lakukan apa yang kamu suka. Ibu mau ke dapur mau lihat rendangnya udah mateng apa belum. Soalnya kalau rendang mesti Ibu yang masak langsung. Rasanya beda, ada krenyes-krenyesnya." Kara cuma ketawa kecil, itu rendang apa keripik kentang? Rus memutuskan membantu maminya Gerrald. Kara keluar, ia menuju kandang sapi cantik yang baru aja selesai mandi. Udah wangi banget itu sapi ngalahin dia. "Eh Minnie, kok bisa sih kamu punya tuan begitu anehnya?" tanya Kara sama sapi cantik itu. Si sapi gak bisa jawab dong tapi dia malah mendekat ke Kara terus menunduk. Kara ingat tuh, kayaknya dia minta dielus. Awalnya Kara ragu, tapi kemudian dielus juga itu sapi cantik. "Uluh-uluh, manjanya." Lha, jadi akrab mereka? Terus Kara ngajakin Minnie ngomong aja, sambil bertopang dagu di pinggir kandang sapi cantik itu. Dia sampai gak sadar ada lelaki bule memanggilnya. "Hallo, siapa kamu?" Kara jadi terlonjak, dia melihat pria seusia ayahnya berdiri gak jauh dari kandang Minnie. Bedanya, lelaki itu bule. "Ehmmmmm, saya Kara, Oom. Saya ..." "Oh ... jadi kamu pacar baru anak saya?" pria itu tertawa renyah. "Tadi baru aja istrinya saya telepon, pacar anak kami akan makan malam disini. Kamu sangat cantik. Cocok sekali untuk anak saya. Ya sudah lanjutkan ya, saya ke dalam dulu mau mandi." Kara megap-megap kayak ikan lele gak dikasih air. Tapi Oom bule udah menghilang masuk ke dalam dengan semangat. "Tuh kan, aku jadi dikira pacaran sama bapak kamu." Kara ngomel sama Minnie. "Mooooo." Sementara Gerrald baru aja tiba, dia sengaja parkir mobil rada jauh karena dia penasaran sama gadis berkebaya merah jambu yang lagi ngobrol sama sapinya. Biasanya sapinya itu paling gak suka sama orang lain selain Gerrald. Lah sama tuh perempuan kok mereka kayak udah kenal lama. Makin dekat dia makin bisa mencium harum wangi sapi sama perempuan yang sedang membelakanginya itu. Semburat senja yang masuk melalui celah ranting pohon tak jauh dari kandang membuat gadis berkebaya itu nampak begitu memukau. Kara menoleh, saat itulah tatapan keduanya bertemu. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Gerrald seperti sedang melihat bidadari berkebaya pink turun dari surga. Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku, eeeeaaaaaaa. Udah nyanyi aja Gerrald dalam hatinya. Gak jelas dia udah pernah lihat bidadari apa belum. "Ngapain lihat-lihat?!" ujar Kara galak. Gerrald jadi tersadar terus masuk ke dalam rumah terus menuju kamar, dia pengen mandi. Dia gak sadar pas dia buka baju, jendela kamarnya masih terbuka dan Kara menutup mulut dan matanya bersamaan ketika melihat benda panjang dan tegak terpampang begitu saja menodai matanya yang masih perawan ting-ting. "Aurat!" teriak Kara yang akhirnya menyadarkan ular cobra sama Gerrald bersamaan. Gerrald langsung meraih handuk terus menutup jendela kamar yang berhadapan langsung dengan kandang sapi cantik itu. "Sial banget sih aku hari ini!" teriak Kara sambil mencak-mencak. "Yang lebih sial aku!" balas Gerrald sambil teriak pula dari dalam. Kara pengen cepat-cepat pulang, dia takut sialan beneran setelah lihat sesuatu yang besar panjang itu secara langsung barusan. Mana dia sempat ngintip pas menutup mata dengan jarinya. Beneran gede! Kara jadi berdenyut-denyut disko sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN