Minnie Butterfly

1850 Kata
Bagi Gerrald, hanya ada dua perempuan yang dia percaya di dunia ini. Yang pertama, maminya, nyonya Rahayu dan yang kedua sapi cantiknya. Pertemuannya dengan Kara semakin memperkuat kekesalannya terhadap makhluk bernama perempuan selain dua makhluk cantik beda spesies tadi ya. Gerrald baru aja habis mandi waktu maminya yang suka banget pake kebaya keluar dengan kipas di tangan. Langkahnya ayu tenan. Papi lagi gak kelihatan, kayaknya lagi ngasih wejangan-wejangan buat para karyawan yang jumlahnya bejibun. "Darling, Mami mau bicara sama kamu." Mami berkata sambil mengipas-ngipas wajahnya yang cantik dengan make up tipis. "Apa, Mi? Setiap hari juga kita ngobrol." Iya ngobrol. Curhat. Yang patah hati Gerrald, yang nyerocos maminya mulu. Kalo udah gitu, gak jadi deh Gerrald mencurahkan isi hati, malah jadi dia yang dengerin maminya curhat tentang papi. Tinggallah Gerrald kebingungan mau cerita sama siapa, akhirnya dia cerita sama sapi cantik bau bayi. Gak peduli sapinya ngerti apa kagak. Yang jelas kalau Gerrald abis cerita pasti sapinya nyahut 'Mooooo'. Gitu aja terus, sampe eek sapi berubah jadi petak-petak. "Darling, Mami dengar ada warga baru di kampung ini. Katanya, dia cantik sekali. Mami dengar banyak pemuda yang mulai deketin dia." Gerrald mengangkat satu alisnya. "Terus?" "Sayang, kamu harus bisa menaklukan hati dia. Supaya kamu bisa lupa sama mantan kamu yang ..." "Mi, ngapain sih bahas-bahas beginian. Aku udah gak mau kenal perempuan mana pun lagi. Semua perempuan itu sama." "Jangan gitu dong, kamu hanya terlalu fokus ngurusin sapi, makanya kamu gak bisa move on. Mami juga udah pengen loh nimang cucu. Udah seharusnya kamu bangkit, lupakan semua yang bikin kamu sakit hati kemarin. Cari yang baru lagi dan ..." "Mami, stop! Pokoknya aku udah males berurusan sama perempuan." Gerrald pergi ke sisi kanan rumah, menuju sebuah kandang sapi yang terpisah dari sapi lainnya. Sebuah kandang sapi berukuran sedang, warnanya pink. "Ton!" panggil Gerrald pada lelaki yang lagi nyiapin rumput-rumput untuk dibawa ke kandang sapi lain yang cukup jauh dari rumah megah itu. "Iya juragan." Tergopoh-gopoh itu si Tono nyamperin Gerrald menuju kandang sapi istimewa. "Jangan lupa Minie dikasih makan. Rumputnya pastiin gak ada ulet nanti dia sakit perut," tunjuk Gerrald sama sapi putih yang dipanggil Minie itu. "Baik Tuan, sudah saya siapkan." Gerrald mengangguk lalu membiarkan Tono memberi makan sapi kesayangannya. Dia lagi suntuk. Daripada mumet di rumah, Gerrald keluar mau cari udara segar. Dia tampak tampan dengan kaus hitam ketat dan celana jeans. Ada sebuah perbukitan yang gak terlalu tinggi dan Gerrald sering menghabiskan waktu di sana. Sampai di sana dia termenung, tak jauh darinya ada sebuah villa. Duduk di atas bukit memandang pemandangan asri Lembang yang begitu menyejukkan. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang kembali membuat dia panas dingin. Sebuah kamar yang berdinding kaca menampil sosok yang baru aja selesai mandi, cuma pakai bikini dan Gerrald seperti mengenal siapa sosok dengan tubuh menggoda itu. Pas pula si pemilik tubuh tiba-tiba menoleh terus melihat Gerrald. Refleks dia segera menutup tirai, Gerrald sendiri seakan masih terpanah dan menyimpan tubuh hampir polos itu dalam memorinya. Dia gak bergerak dari tempat itu sampai sebuah pukulan di punggungnya mendarat dari jari-jari lentik milik perempuan. "Dasar Keong Racun! Ngapain kamu di sini?! Kamu mau ngintip aku?!" Kara mencubit perut dan pinggang Gerrald bergantian. "Eh, stop! Stop! Perempuan stress! Kamu kan yang sengaja godain saya?! Dasar kamu, perempuan nakal!" "Eeh, kamu yang ngintip! Ini villa aku! Ngapain kamu di belakang sini! Kamu memang Keong Racun!" "Heh! Seenaknya nuduh saya! Saya lihat kamu telanjang juga gak nafsu!" "Alah ngeles aja kamu ya!" Kara kembali membuat perhitungan dengan memukul-mukul d**a Gerrald sampai lelaki itu terpaksa harus menangkap kedua tangannya. Jarak mereka sedemikian dekat. Keduanya terdiam, jantungnya berdegup kencang. "Non Kara! Mas Gerrald?" Rusmini udah berdiri gak jauh dari mereka. "Ngapain main pok ame-ame disini?" "Pok ame-ame apaan?! Nih jagain majikan kamu biar gak kesurupan ngamuk gak jelas!" "Apa?! Kamu tuh yang gak jelas. Keong Racun ngintipin aku lagi ganti baju! Dasar m***m. Buaya karat!" "Diem! Dasar santan! Lihat aja ntar, kamu saya masak bareng sapi biar jadi rendang!" ancam Gerrald terus melepas tangan Kara lalu pergi dari tempat itu secepatnya. Tinggallah Kara yang sudah kesal setengah mati sambil melempar sendalnya ke arah Gerrald lagi. Tapi meleset, sendal itu malah melesat jauh ke bawah mengenai kepala pemuda yang lagi gitaran di bawah sana. "Woi! Sendal siapa nih?! Kena pala saya! Mana bekas eek guguk!" Kara buru-buru masuk ke dalam villa bersama Rus yang udah duluan ngacir ke dalam. Gerrald sendiri sedang gak tenang, sebab setelah menatap mata Kara yang kesekian dari jarak dekat, hatinya masih deg-degan aja, mending cuma hati yang deg-degan. Lah ini ular cobra juga ikut berdenyut-denyut pengen masuk sarang. *** Masih dengan kekekian juga tingkat kekesalan yang sudah sampai ke ubun-ubun, Kara menghempaskan tubuhnya ke kursi dapur. Rus sudah bersiap memasak. Kara bertopang dagu, memandang Rus yang begitu terampil ketika berada di dapur. "Rus, kamu dengar gak tadi aku disamain sama santan?" tanya Kara, dia masih gak terima aja diledek begitu sama Gerrald. "Sama ini ya, Non?" Rus mengangkat sebuah santan kemasan berwarna hijau sambil senyum-senyum. "Dasar bapak sapi!" dengus Kara masih kesal. Kara pengen menenangkan diri ke Lembang karena ulah pria yang meninggalkannya di hari pernikahan, ini malah sekalinya datang bukan malah tenang, dia jadi kesal sama Gerrald yang ditemuinya di tempat itu tanpa sengaja. "Mas Gerrald memang gitu, Non. Tapi, aslinya dia baik. Dia begitu karena dulu pernah dijahatin sama perempuan dan temannya. "Oh ya?" Kara mulai tertarik dengan cerita tentang bapaknya sapi itu. Ia menarik kursi biar lebih dekat dengan Rus. "Iya, setau Rus ya, Non. Mas Gerrald itu sebelum balik ke sini, dia di Jakarta kok. Di sana dia punya restoran mewah. Terus, dia punya pacar namanya mbak Irene. Mas Gerrald punya teman namanya mas Jaya. Nah katanya mbak Irene sana mas Jaya itu selingkuh. Mereka kedapatan lagi ngamar di hotel sama mas Gerrald. Makanya, habis itu mas Gerrald balik ke sini. Dia lebih milih nekunin jadi juragan sapi dan gak pernah mau tersenyum lagi. Makanya dia jadi galak. Padahal gadis-gadis disini senang banget pas dengar dia balik ke sini. Tapi, Mas Gerrald udah jadi orang yang berbeda, dia gak percaya lagi sama yang namanya perempuan," cerita Rus panjang lebar. Kara jadi merenung, kisah cinta dia dan Gerrald sebenarnya gak jauh beda. Sama-sama dikhianati orang yang mereka cintai. Tapi Kara udah keduluan keki sama Gerrald. Dia jadi gak kasihan tuh. Kalo mau kasihan lebih ngenes kisah dia yang ditinggalin pas lagi acara nikahan. "Aku mau keluar, Rus. Pinjem sendal teplek kamu ya." Rus mengangguk, Kara mengambil hoodie berwarna biru muda lalu memutuskan berjalan-jalan, menghirup udara yang sangat segar. "Pagi, Non Kara." Para pekerja perkebunan dan peternakan menyapanya hangat. Kara membalas mereka dengan ramah pula. Waktu lagi jalan-jalan, dia gak sengaja menabrak seseorang. "Oalah, Cah Ayu, gak papa?" Perempuan cantik paruh baya dengan baju kebaya berwarna cokelat muda itu membantunya berdiri. "Enggak, Ibu. Ibu sakit?" Kara balik tanya. Perempuan itu menggeleng. "Anak cantik ini siapa namanya? Saya baru lihat." "Saya Kara, Bu. Warga baru disini." Kara memperkenalkan dirinya. "Oalah, kamu toh yang lagi ramai dibicarakan orang-orang disini. Cantik beneran. Cocoklah buat anak saya." Tunggu-tunggu. Kok ini ibu-ibu pede banget dia bakal jadi jodoh anaknya. Tapi lihat dari penampilannya terlebih dengan seorang perempuan lain di belakangnya yang nampak seperti pelayan, wanita paruh baya itu tentu bukan dari kalangan biasa. "Kara gak mau kenal laki-laki lagi, Bu." "Nah ... sama kan, Mbok?" Ibu paripurna malah tertawa bareng pelayannya. "Anak saya juga gitu. Bilangnya gak mau kenal perempuan lagi. Cocok sekali. Ayo, Ibu kenalkan sama anak ganteng Ibu." Dengan bahagia, ibu paripurna berkebaya menggandeng lengan Kara. Kara udah megap-megap mau nolak tapi gak bisa setiap kali melihat ibu paripurna menenangkannya dengan senyum dan tatapan teduhnya. "Tapi saya mesti balik, Bu, rendang saya angus!" "Oh, kamu suka makan rendang. Tenang, di rumah Ibu ada. Makan yang banyak nanti ya." "Enggak, tapi saya mesti balik. Rendang saya nanti angus beneran." "Gak papa, nanti Ibu bungkusin rendang baru." "Tapi ..." Kata-kata Kara terhenti saat mereka mulai memasuki sebuah rumah megah dan hanya satu-satunya di tempat luas itu. Jauh dari sana tapi masih terjangkau pandangan mata, ada berhektar kandang sapi terawat dengan para pekerja. Yang menarik perhatiannya adalah sebuah kandang sapi lain terpisah jauh tepatnya di samping sebuah jendela kamar. Kandang itu berwarna pink, bau parfum bayi menyeruak dari sana ketika mereka sudah dekat. "Itu ..." "Iya, itu Minnie, peliharaannya anak ganteng saya bentar ya saya panggilkan anak gantengnya." Waktu itu ibu paripurna udah ke dalam, Kara iseng nyamperin kandang sapi dan dia surprise lihat sapi cantik bau bayi yang lagi rebahan dengan nyaman beralaskan permadani putih. "Eh Sapi! Enak banget sih kamu, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, kandangnya cantik begini." Kara ngomel sama sapi yang melengos. "Sok cantik lagi!" sambungnya melihat sapi yang tampak sombong itu. Lalu dia menoleh dan melihat isi dari kamar yang jendelanya terbuka di sampingnya berdiri. Sebuah ruangan luas dengan satu foto tergantung. Kara menutup mulutnya, dia kenal banget siapa yang berada di dalam bingkai foto dan sedang tersenyum ganteng itu. "Hei! Ngintip kamu ya?!" Suara menyebalkan itu kembali terdengar. Kara melihat Gerrald yang sudah menatapnya gak suka dari kejauhan. "Oalah, udah sama-sama kenal toh. Ini loh Gerrald, anak Mami, jodoh kamu itu." "Enggak!" Kara dan Gerrald sama-sama jawab. Mereka jadi berpandangan dengan tatapan siap perang. "Udah, Mbok kita tinggalin mereka mau pacaran." Ibu paripurna menarik tangan pelayannya agar menjauh. Gerrald memandang malas Kara yang juga menatapnya dengan tatapan yang sama. "Anak Mami," ledek Kara sambil meleletkan lidahnya ke arah Gerrald yang langsung mendekat. "Apa kamu bilang?" "Anak Mami! Dasar anak mami, Bapaknya sapi!" "Sini kamu!" Keduanya jadi kejar-kejaran, saling ledek. Gerrald terus gak sengaja dorong Kara ke tanah yang ada eek si cantik, sapinya yang boker di luar kandang. "Aaaaaaahhh bauuu!" Kara meraung, menatap dirinya jijik karena kakinya menginjak eek sapi cantik bau bayi yang belum dibersihin sama Tono. Gerrald sudah tertawa terpingkal-pingkal, melihat Kara yang udah mau muntah dengan mata memerah. "Sialan! Bersihin! Aku jijik!" Kara meraung kesal menuju Gerrald yang segera berlari menjauh. Kara menatap kesal sapi cantik yang lagi lihat dia dengan seringainya. Kena tai gue lu, enak gak? Kata si sapi ngejek Kara. "Mooooooo Moooooo." Girang banget itu sapi kayaknya. "Diem! Gak usah ngeledek! Dasar sapi sama bapak sama-sama setres!" erang Kara sambil memukul-mukul kandang si Minnie. Terus Kara lihat tulisan di rumahnya sapi cantik. Udahlah dia syok berat karena nginjek tai si Minnie, sekarang dia malah mau bengek lihat papan nama di atas kandang. 'Minnie Butterfly'. Sejak kapan sapi segede gaban berubah jadi kupu-kupu? Udahlah Minnie yang artinya kecil terus ditambah butterfly pula. Sapi segede gitu disamain sama kupu-kupu kecil cantik dan bisa terbang?! Itu sapi apa kuda poni?! Kara jadi ngebayangin itu sapi montok beneran jadi punya sayap kayak malaikat. Mau pingsan Kara lihat betapa bengeknya Gerrald, si juragan sapi. Makin bengek waktu lihat Rus tergopoh-gopoh mendekat ke arahnya dengan sendal tinggi yang bikin dia mau keselibet. Kara dihampiri para pelayan ibu paripurna untuk bersihin kakinya dari kotoran si Minnie Butterfly. "Ya ampun, Non Kara. Kok main eek sapi begini?" tanya Rus yang abis itu dia malah jatuh nabrak pohon mangga karena keseleo sendal tinggi. "Moooooooooooo." Pasti lagi ngakak itu Kupu-kupu jadi-jadian lihat kesialan Kara dan pelayan setianya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN