Mobil Kara berhenti tepat di depan sebuah vila indah dan unik. Tempat dengan pagar kayu itu memanjakan mata Kara sebab atapnya yang unik.
Bangunan khas lama ini beratap Bougenville berwarna warni. Entah bagaimana orang yang merawat vila ini tapi tempat ini betul-betul terawat.
"Siang, Non Kara."
Kara refleks menoleh. Di belakangnya berdiri seorang pria tua, nampaknya dia yang sudah merawat vila ini sehingga tampak cantik setiap saat.
"Bapak siapa ya?"
"Saya Ujang, Non. Tukang kebun di sini. Tuan Romi menugaskan saya untuk merawat vila ini, nanti akan ada anak gadis saya juga namanya Rusmini, dia yang akan membantu Non Kara di dalam."
Kara menganggukkan kepala. Ternyata papanya benar-benar sudah mempersiapkan ini dengan baik. Kara juga tidak pernah ke dapur, tidak pernah ngerjain tugas rumah. Kukunya rapi bercat merah, jadi dia gak mungkin mau cuci piring atau pekerjaan sejenisnya.
"Ya udah, aku masuk ya, Mang. Oh iya, anak Mamang umurnya berapa ya?"
"Rus umurnya sudah dua puluh tahun, Non. Nah, itu anaknya datang."
Mang Ujang menunjuk gadis berpakaian sederhana yang sudah tersenyum sama Kara tepat setelah ia masuk ke pekarangan.
"Rus, bawa kopernya Non Kara."
"Iya, Pak." Rusmini segera mengangkat koper. Kara jadi ketawa.
"Gak usah diangkat gitu, seret aja, ada rodanya loh itu."
Rus menunduk dan tersenyum malu karena udah malu-maluin.
"Saya kira kayak di pelem-pelem, Non. Diangkat begitu kopernya."
Kara kemudian mengajak Rus masuk. Ruangan minimalis bercat putih itu sudah bersih.
"Rus, kamu nginep kan?"
"Non Kara maunya saya nginep apa pulang hari?"
"Kamu nginep aja, biar aku ada temennya."
"Boleh, Non. Nanti aku kasih tahu Bapak."
Diam lagi. Rus membuka pintu kamar, harum jeruk seketika menyerbu membuat Kara terbatuk-batuk. Tapi dia suka lihat tempat itu.
"Aku susun ya, Non, baju-bajunya."
Kara cuma mengangguk. Terus dia jadi ingat cowok galak sama sapi sok cantik bau bayi.
"Ehmmmmm, Rus," panggil Kara.
"Iya Non, udah laper ya?"
"Enggak, eh, kamu tahu gak cowok yang sering sama sapi putih di sekitar sini?" tanya Kara ingin tahu.
Rus menghentikan kegiatannya sebentar sebelum menjawab.
"Namanya mas Gerrald, Non. Kenapa? ganteng ya?"
"Ganteng apaan?! Galak banget kayak sapi ngamuk!"
Rusmini jadi ketawa ngakak. Kara jadi terkejut dengar ketawa Rus yang lebih mirip kunti kejepit pohon bambu itu.
"Mentang-mentang mas Gerrald itu juragan sapi, Non Kara samain dia sama sapi ngamuk."
"Juragan sapi?"
"Iya, Non. Kandang sapi terbesar di lembang yang udah tersohor kemana-mana itu punya mas Gerrald. Punya papinya sih, orang bule loh, Non. Tuan Arnold, tapi sekarang semenjak mas Gerrald pulang ke Lembang, mas Gerrald yang kelola."
"Pantes deh jadi juragan sapi, galaknya sama kayak sapi ngamuk. Ehmmmmm, terus sapi putih yang sama dia siang tadi ... "
"Nah, itu peliharaan Mas Gerrald dari dulu. Sapi cantik bau bayi itu paling disayang sama mas Gerrald. Kandangnya aja beda, Non."
"Bapaknya sapi dong dia," ledek Kara sambil ketawa.
"Tapi, keluarga mas Gerrald itu paling dermawan loh, Non. Tiap tahun tiap bulan mereka gak pernah absen sedekah."
Kara cuma mengangkat bahu, bagi dia lelaki tadi udah minus. Udah galaknya minta ampun, sukanya ngomong sama sapi. Kenapa gak sekalian aja kawin sama sapi?! Jangan ngomongin kawin dong, baru gagal manten loh ini!
Kara menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan telentang.
"Rus, ada salon kan di sini?"
"Oh, ada, Non. Salon terbaik di sini punya mbak Mumu."
"Terserahlah, Rus. Aku pengen meni pedi nanti, kamu anterin ya."
Rusmini mengangguk, biar dia gak ngerti apaan meni pedi pokoknya iyain aja. Tugas dia cuma nganterin majikannya itu nanti. Rus melihat tampilan Kara yang begitu modern, udahlah cantik, badannya seksi rambutnya pirang kayak bule kesasar, sayang aja kisah cintanya ngenes : Gagal Manten.
***
"Kita naik mobil aja, Rus."
"Eh enggak usah, Non. Jalan aja, gak jauh kok."
"Beneran gak jauh?"
"Iya, deket. Cuma ada beberapa belokan sedikit tanjakan, sedikit turun tebing naik tanjakan lagi baru deh kita sampe," jawab Rusmini sambil mengenang jalan menuju salon tersohor di desa itu. Terdengar enteng.
"Banyak banget rintangannya, Rus. Kita mau nyalon apa mau perang?" tanya Kara gak habis pikir. Dia jadi sangsi itu benar-benar salon paling tersohor di sana.
"Udah, Non Kara ikut aja yuk."
Akhirnya dengan mengenakan sandal tingginya yang lain, Kara ngikut aja kemana Rus melangkah. Dia udah capek di pertengahan jalan. Beneran ternyata jauh, buat Rus yang udah biasa kemana-mana jalan kaki ya emang dekat. Lah dia? Ke warung aja gak pernah sekarang malah di bayat sama pelayannya jalan kaki begini.
"Rus, aduh ... aku capek." Kara duduk di tengah jalan dengan nafas udah ngos-ngosan kayak abis lari maraton. "Es ... Es ..." Kara manggil-manggil mamang yang jualan es lilin yang lagi lewat.
Jadilah dia sama Rus sekarang duduk di pinggir jalan, makan es lilin yang rasanya nikmat banget walaupun harganya cuma seribuan. Dia sampe beli banyak. Mereka berdua kayaknya bakalan teler abis makan es lilin sebegitu banyak.
"Kamu bilang deket loh, Rus?!"
"Emang deket, Non. Bentar lagi kita sampe."
"Mana sih tempatnya?"
Rus mini menunjuk sebuah rumah yang sudah tak jauh lagi tapi mereka tetap harus turun tebing lalu naik tanjakan sekali lagi, baru deh mereka sampe.
"Rus, tadi mendingan bawa mobil. Kaki aku bisa lecet," keluh Kara.
"Maaf ya, Non Kara. Nanti kita pake motor aku aja."
"Dari tadi kek," sewot Kara.
"Buka aja deh, Non, sendalnya, pake sendal aku aja ya biar kakinya gak sakit."
Lagian tadi udah dibilangin sama Rusmini, tempatnya bakal banyak naik turun tebing, masih aja mau pake sendal tinggi. Sekalian aja pake enggrang biar lebih terasa perjuangan menuju salon mbak Mumu-nya.
Sampai juga mereka di salon. Tempat itu gak seperti yang dibayangkan Kara sebelumnya. Dia kira seperti salon langganan dia di Jakarta yang biaya perawatannya sebulan aja buat nyalon habis puluhan juta.
Tapi tempat yang sekarang di depannya sangat bersih dan wangi, tidak terlalu besar tapi tetap nyaman. Ada sekitar tiga pegawai dan seorang lelaki bertulang lunak.
"Mbak Mumu," panggil Rus kayak tukang kredit mau nagih duit panci.
"Iya, sebentar, Eke habis mandi nih."
Lho, kok suaranya kayak cowok tapi sengaja di lembek-lembek-in. Setelah itu keluarlah sosok memakai kaus ketat dan celana jeans, rambutnya masih bergelung handuk.
"Loh, kamu ternyata, Rus."
Dia tersenyum, ternyata mbak Mumu adalah mbak-mbak jadian. Mbak Mumu yang sebenarnya bernama Munawar itu langsung menghampiri mereka, setelah melihat Kara yang begitu cantik kayak artis ibukota.
"Siapa nih?" tanya mbak Mumu ramah.
"Aku Kara, Bang."
"Eehhh kok Bang sih? Mbak dong!" protes mbak Mumu cepat.
"Iya, Mbak Mumu."
"Nah, kan cakep begitu. Kamu orang baru ya? Artis ya?"
"Enggak kok, Mbak. Aku kebetulan lagi liburan. Ehmmmmm, di sini bisa meni pedi, kan?"
"Bisa dong mau apa aja bisa. Mau ambil paket juga bisa. Head to toe. Dari kepala sampe kaki."
"Nah, itu aku mau. Sekarang ya, Mbak."
"Oke! Cin ..." panggil mbak Mumu sama pegawai ceweknya untuk segera melayani Kara.
Kara menikmati setiap perawatan yang dia dapat hari ini. Biar kata di desa, tapi mbak Mumu beneran udah terampil dan bersertifikat resmi.
Pelayanannya enak, Rus juga kebagian perawatan.
"Enak kamu, Rus, dapat majikan sebaik Kara," puji mbak Mumu.
"Alhamdulillah, Mbak, rejeki anak soleha," sahut Rus kalem. Padahal tadi dia udah nolak, tapi Kara maksa dia juga mesti perawatan.
Mereka menghabiskan waktu di salon itu dengan akrab sampai sebuah suara yang pernah Kara dengar, terdengar lagi di telinganya.
"Mu."
"Iya, Mas Ger."
Mbak Mumu segera keluar dari kamar perawatan sambil membawa banyak botol shampo dalam sebungkus plastik.
"Ini, Mas Ger. Harganya delapan ratus dua puluh lima ribu saya korting tadinya delapan ratus lima puluh ribu."
"Udahlah ambil aja nih satu juta."
"Aduh gak enak tapi jadi enak ini, Mas Ger." Mbak Mumu segera mengantongi sejumlah uang itu dengan cepat.
"Eh kamu!" Kara keluar dengan hanya memakai kain melilit di tubuhnya karena dia baru aja selesai luluran sama pegawainya Mbak Mumu.
"Apa?!" sahut Gerrald galak. Tapi dia jadi membuang muka melihat belahan d**a Kara terpampang begitu nyata.
"Tanggungjawab! Mana sepatu aku yang kamu buang?!" Kara segera mendekati Gerrald yang mundur tiba-tiba.
"Apaan sih?! Salah sendiri kenapa ngelemparin p****t saya pake itu, untung gak sekalian kamu yang saya lempar."
"Nih lempar, lempar!" Kara menyenggol lengan Gerrald yang tiba-tiba panas dingin kena sesuatu yang kenyal dan bulat itu. Rusmini dan mbak Mumu sama penghuni salon jadi bingung ada masalah apa rupanya kedua makhluk indah itu. Kok pada berantem.
"Dasar perempuan stress!"
"Kamu yang gila! Dasar Bapak sapi!"
"Saya sumpahin kamu kawin sama Bapak sapi!"
"Nih rasain kamu ya!" Kara mengambil hairdryer terus mengarahkannya ke wajah Gerrald yang udah kesal setengah mati. Bibir Gerrald rasanya jadi keriting kayak Komeng di iklan motor Yamaha selalu di depan.
Mbak Mumu dan Rus segera menahan Kara yang mulai kesetanan. Mereka juga meminta Gerrald pergi, bukannya apa, itu kain udah mau melorot! Kara udah gak sadar Gerrald sudah menahan sesuatu yang sudah lama gak mau tegak cuma karena kesenggol benda bulat tak bertulang barusan.
Dengan membawa shampo buat sapi kesayangannya, dia jalan cepat menuju rumah.
"Perempuan gila!" dengusnya sambil menahan ular kobra yang udah tegak siap mematuk.
Mau matuk apaan? Goa karet?