Dihadang Sapi

1011 Kata
Memakai baju rajut dan celana jeans panjang yang pas di tubuh, Kara keluar dari rumah megah kedua orangtuanya. Kara akan sendirian ke Lembang. Dia gak mau ada yang nganterin. Sopirnya juga dilarang ikut. Setelah mendapat alamat tempat ia tinggal nanti, Kara langsung tancap gas. Mama papa kasih wejangan yang dia dengar dengan baik. Dia gak boleh gini, gak boleh gitu, terus yang paling dia ingat pesan mamanya dia harus bisa move on. Bisa dibilang, wejangan terakhir dari mama adalah yang paling penting. Move on, cari laki-laki baru. Begitu mungkin maksud mama. Kara iyain aja, perkara nyari pengganti laki-laki lain gak semudah yang orang lain pikir. Lukanya aja belum sembuh, Kara belum siap mau menerima atau mengenal lelaki baru, ya seenggaknya sampai luka hati dia sembuh. Ini luka hati loh, bukan luka di kaki yang bisa sembuh dengan mudah karena udah dioles pake betadine. Kara sekarang udah di dalam mobil. Dia menyetir dengan hati-hati, gak bakalan ngantuk di perjalanan sebab Kara, udah tidur cukup semalem walaupun ada adegan dia mewek aja sebelum memejamkan mata. Biasa ya, perempuan memang begitu. "Telepon Mama ya kalo udah sampe, jangan lupa istirahat, jangan lupa makan, jangan lupa bahagia." Mama cuma bisa bilang seperti itu waktu Kara udah mau berangkat. Kara juga gak mau kelihatan sedih banget biar keduanya bisa ikhlas melepas kepergiannya. Berasa udah mau mati aja si Kara. Sampai di Lembang, aroma sejuk mulai terasa. Para pekerja perkebunan di sana menyapanya hangat. Kara disuguhkan pemandangan indah dari bukit dan pegunungan berkabut. Polusi masih jauh untuk menjamah tempat ini. Indah banget sampai akhirnya ketika akan tiba di belokan terakhir menuju sebuah vila yang akan menjadi tempatnya, di tengah jalan yang gak seberapa besar, Kara jadi ngerem mendadak. Dia hampir nabrak sesuatu. Kara membuka mata, di depan mobilnya, berdiri dengan anggun seekor sapi putih. Kara menekan klakson, mencari siapa pemilik sapi sok cantik itu. Dengan hati-hati dia keluar dari mobil, takutnya itu sapi bakalan ngamuk. Tapi enggak, sapinya anteng banget berdiri di sana dengan badannya yang super montok. "Woi sapi! ngapain di tengah-tengah gini?!" tanya Kara sama sapi putih yang cuma menatapnya sambil mengunyah rumput. "Aduh, kamu berat tahu, ayo minggir!" Kara berusaha menepikan sapi putih itu ke sisi jalan. Dia jadi tertegun, ini sapi kok harum banget. Udah kayak anak gadis mau diapel, wangi shampo khas bayi pula. Ini siapa yang udah reinkarnasi jadi sapi begini? Untuk makhluk sejenis, sapi ini terlalu cantik dan terlalu wangi, sungguh sudah menyalahi kodrat. "Ayo, gerak dong, mobil aku gak bisa lewat loh!" Kara masih ngomel sama sapi yang masih mengunyah sisa rumput di mulutnya. Sapi sok cantik gak peduli tuh sama Kara yang udah mencak-mencak menyuruhnya minggir. Ini area gue! suka-suka gue dong, Maemunah! Gitu kira-kira kata si sapi. "Hei!" Suara seseorang membuat Kara menoleh. Di belakang mereka tak jauh dari Kara dan sapi cantik bau bayi, berdiri seorang lelaki, memakai kaus oblong berwarna hitam, celana jeans selutut. Sejenak, Kara terpanah. Lihat cowok ganteng, tinggi, kekar dan punya tatapan maut seperti itu. Dia seketika lupa kalo abis gagal manten kemarin. Ayo manten abang! Dalam hati Kara udah teriak aja ngajak abang kawin. "Ngapain pegang-pegang sapi saya?" tanya lelaki itu ketus. Baru aja mau ngajak manten, Kara jadi langsung cabut kekagumannya pada lelaki itu. Kara yang dituduh begitu langsung emosi. Dia deketin itu lelaki terus menunjuk sapi putih yang masih betah aja di tengah jalan. "Sapi kamu tuh halangin jalan aku! Aku cuma mau pindahin kok. Bukan mau ngapa-ngapain." bela Kara buat dirinya sendiri. "Bukan begitu caranya!" sahut laki-laki itu judes. Kara melihat lelaki itu yang segera mendekati sapi betinanya terus dia jadi mengerutkan dahi lihat mas ganteng malah bisik-bisik tetangga sama sapi. Sejak kapan manusia ngerti bahasa sapi??? Kara menggelengkan kepala lihat tingkah lelaki itu yang masih aja asyik ngobrol sama sapi. "Wah gak beres nih laki-laki." kata Kara pelan. Eh, ajaib, sapinya minggir setelah dibisikin sesuatu sama lelaki tadi. Tanpa banyak bicara lagi, Lelaki itu membawa sapinya yang cantik menjauh dari Kara. Sapi cantik jalan lenggak lenggok terus menoleh bentar ke arah Kara lalu melengos. Kara jadi Keki, enggak majikan enggak sapinya, dua-duanya bikin Kara kesal mampus. "Woi! Gak sopan! Dasar sama-sama sapi!" "Mooo." Sapinya malah nyahut. Kara jadi makin kesal sendiri, selain karena mas ganteng gak gubris dia, itu sapi kayaknya juga ngeledek Kara. Kara yang kesal melepas sendal tinggi yang lagi bertengger di kaki jenjangnya terus melemparnya dan pas mengenai p****t lelaki itu yang segera mengaduh kesakitan. Kara puas melihat lelaki ganteng tapi galak itu lagi mengusap pantatnya yang kesakitan. "Rasain! Kamu emang mesti diajarin sopan santun!" Kara menunggu lelaki itu kembali mendekatinya. Tapi dia tercengang setelah melihat apa yang akan dilakukan pria tadi. Tanpa panjang lebar, lelaki itu melempar sendal tinggi Kara jauh entah kemana. Kara langsung histeris, itu sendal kesayangan dia. Dia belinya di Paris! Harganya jangan ditanyain, bisa buat beli cilok sama gerobak-gerobaknya sekalian sama bonus mamang-mamangnya. "Berani kamu begini lagi, sama kamu saya lempar sekalian!" Lelaki itu kemudian benar-benar pergi meninggalkan Kara yang udah kesal setengah mati. "Mooo." Noleh lagi itu sapi bau bayi seolah ngeledek kesialan yang Kara alami hari ini. Bapak gue elo lawan? Seperti itu kira-kira arti tatapan sapi cantik sama Kara. "Awas ya kalian! Bapak sama anak sama aja! Dasar sapi!" Kara menendang ban mobilnya sendiri terus malah mengaduh kesakitan karena sekarang kakinya malah sakit banget. Dengan cuma memakai satu alas kaki, akhirnya dia masuk lagi ke dalam mobil meneruskan perjalanan yang tak lagi jauh menuju vila. "Awas ya, aku bales nanti!" Kara memukul setir keras seolah lagi mukulin p****t sapi cantik bau bayi. Baru aja mau menenangkan diri, Kara justru mengalami hal yang bikin dia badmood seketika setibanya di Lembang hari ini. Tak disangka ia malah bertemu dengan lelaki aneh dan menyebalkan yang sudah bikin pelariannya ke Lembang jadi sedikit tak menyenangkan hari ini. Kara janji akan bikin perhitungan sama lelaki tadi. Tapi, lihat cara dia melempar sepatu tinggi, bikin Kara jadi bergidik ngeri, itu cowok kayaknya mengerikan banget, dia jadi gak bisa ngebayangin kalau badannya yang seksi dilempar sama itu laki ke bawah sana, amit-amit, Kara menggeleng keras lalu segera tancap gas. c. c c. x
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN