Theodoric berdiri menjulang tinggi di depan gerbang istana kepresidenan. Pemuda Itu memandangi kekacauan di depannya yang sepertinya tidak akan berujung baik. Apalagi banyak manusia yang kini berserakan di tanah menjadi korban. Setelah memutuskan dan memikirkannya dengan matang-matang, akhirnya Theodoric memutuskan untuk kembali menginjakan kakinya di tempat orang-orang yang menyebutnya sebagai monster. Tidak peduli fakta tentang Theodoric yang telah berkorban untuk membantu mereka. Ekor matanya menangkap sebuah gerakan cepat di depan sana, alisnya bertautan melihat sosok familiar Karina yang kini berhadapan dengan salah satu dari zomster itu— zombie dan monster. Suara tembakan tidak kunjung mereda, bahkan makin terdengar memekikan telinga. Ia tersentak kecil saat merasakan a

