bc

Be My Valentine (Terbangun di Ranjang CEO)

book_age18+
160
IKUTI
2.2K
BACA
HE
friends to lovers
arrogant
boss
sweet
bxg
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Selama dua tahun, Aruna selalu membenci bulan Februari. Karena di bulan itu diputuskan oleh pacarnya yang saat itu begitu dia cintai. Tahun ini, Aruna berencana mencari lelaki lain. Baru merencanakan itu semalam, esok harinya dia terbangun di ranjang Vedri bosnya yang tampan tapi kaku. Ini bukan harapan Aruna karena lelaki tidak ada dalam list target gebetannya.

Tidak disangka, Ved tahu rencana Aruna. Ego lelaki itu terluka dan membuatnya memanfaatkan Aruna.

"Apa nggak ada cara lain, Pak?" Akhirnya Aruna kembali menemukan otaknya bermaksud menghindar dari ajakan pacaran Ved.

"Jadi istri saya, mau?" tanya Ved ringan, seperti secuil kapas. Sedetik kemudian dia melihat wajah Aruna berubah kaget. Lelaki itu tersenyum miring lalu menepuk kepala di depannya. "Nggak akan nyesel jadi pacar saya."

"Pak maafkan saya!" ucap Aruna memohon dengan kedua tangan menyatu di atas kening. "Apa tidak ada cara lain?"

"Mau langsung nikah?"

chap-preview
Pratinjau gratis
1-Terbangun di Ranjang Pak Ved
Suara gemercik air dari shower membuat seorang wanita yang meringkuk di ranjang itu perlahan membuka mata. Dia memicing, merasakan kepalanya berdenyut keras. Refleks kedua tangannya terangkat, memijit kepala sambil sedikit menekan. "Kenapa, sih?" Aruna menggerutu sambil memaksakan matanya tetap terbuka. Dia lalu menoleh ke sekeliling dan mendapati dinding berwarna abu-abu. Seingatnya kamarnya berwarna kuning kunyit. "Apa mendadak gue buta warna?" Dia hendak memejamkan mata, tapi sedikit kesadaran menghentaknya. Aruna melotot, mendadak seperti tatapan orang kesurupan. "Kayaknya gue salah kamar!" teriaknya sambil berdiri dan tubuhnya langsung terhuyung hingga terduduk di ranjang yang super empuk. Bulu kuduknya meremang, pasalnya ranjang di indekosnya tidak seempuk ranjang bulu milik konglomerat. Perlahan, Aruna menoleh ke kanan mendapati televisi LED super besar, padahal di kamarnya hanya 32 inch itupun ujungnya hampir pecah karena tanpa sengaja ketendang. Kemudian dia menoleh ke kiri, mendapati sebuah lukisan lelaki berjas hitam dengan sorot mata tajam. Bulu kuduk Aruna kian berdiri dan memberikan sensasi bergetar pada tubuhnya. "PAK VED!" teriak Aruna histeris. Dia mengerjab sambil menatap lukisan itu sekali lagi. Lukisan lelaki dengan sorot mata dalam serta bibir tanpa senyum itu sudah pasti Ved. Aruna Tidak pernah melihat lukisan lelaki tampan setampan Ved hingga tampak begitu nyata. Hidung mancung dan panjang selalu membuatnya penasaran ingin memegang, juga tampak timbul. Belum lagi aura dingin yang entah kenapa terasa terpancar dari sekitar lukisan. Dia harus mengapresiasi si pelukis karena bisa membuat lukisan tampak hidup dan nyata, seolah ada Ved kedua. "Ada apa?" Suara maskulin itu tiba-tiba terdengar, hawa dingin di dalam kamar berubah semakin mencekam. Setidaknya itu yang dirasakan Aruna. Berbalik, Aruna tersentak melihat lelaki yang ada di lukisan berdiri dengan handuk melingkar di pinggul. Dia menatap d**a bidang dengan pundak lebar dan tegap membuatnya penasaran bagaimana jika bergelayutan di sana. Belum lagi otot perut yang terbentuk sempurna dan tampak mengkilat karena tetesan air. Kemudian mata nakalnya bergerak turun ke handuk yang menutupi bagian bawah Ved. Aruna tanpa sadar menelan ludah, tapi sedetik kemudian dia merasa seperempat nyawanya meninggalkan tubuhnya. Sontak Aruna menutup mata dan berbalik. "Pakai baju dulu!" "Bukannya pengen nyentuh badan saya?" Tubuh Aruna seketika menegang. Dia menoleh sambil membuka mata dan tersentak menyadari Pak Ved berdiri tiga langkah darinya. Refleks dia mundur. "Si.. si.. siapa?" Aruna tidak tahu harus menjawab apa. Dia masih syok setelah melihat lukisan yang terpampang. Ditambah tiba-tiba Pak Ved muncul dengan handuk yang hanya melilit di pinggul. Aruna bahkan bisa melihat detail perut kotak-kotak yang timbul seperti roti sobek kesukaannya. "Kamu." Aruna menggeleng tegas. Seingatnya semalam dia pergi bersama Lesy, membicarakan rencananya untuk mencari gebetan. Kemudian dia berdiri berniat memesan minuman. Detik itulah sekelebat ingatan muncul. Tentang pertemuannya dengan seorang lelaki dan mereka sempat mengobrol. "Sudah ingat?" Ved diam memperhatikan. Dia menahan senyuman melihat karyawan bawahannya yang sekarang diam tak berkutik. Dia tahu siapa Aruna, wanita dari divisi pemasaran yang sering nongkrong di kafe dekat kantor. Mereka bahkan sering berpapasan dengan di lobi. Seperti wanita lain, Aruna memperhatikannya dengan mata bundar penuh kekaguman. "Saya mohon, Pak. Jangan pecat saya!" kata Aruna sambil menyatukan kedua tangan di depan d**a, sadar kesalahannya semalam. Meski dia tidak begitu ingat apa saja yang telah diucapkan. Tindakan Aruna membuat Ved terkekeh geli. Wanita itu terlihat begitu menyesal. Ved ingat betul bagaimana keinginan aneh Aruna. Ingin memegang otot lengan dan perutnya, sungguh gila. Tak hanya itu, dia juga ingat saat Aruna tiba-tiba tidur dalam dekapannya. Hingga dia terpaksa membawa ke apartemen karena tidak tahu harus membawa ke mana. Tidak ada kartu identitas hanya ID Card. "Sepertinya kamu akan dapat SP satu," ucap Ved sambil melipat kedua tangan. Aruna kian menunjukkan raut memohon. "Tolong, Pak. Maafkan saya." Dia memejamkan mata sejenak lalu memperhatikan Ved yang tidak bereaksi itu. Ditatap seperti itu membuat Aruna belingsatan sendiri. Dia merasa sedang dimarahi, tapi juga dibujuk untuk melakukan hal yang iya-iya. Aduh, pikiran bodoh! "Kenapa natap saya kayak gitu?" tanya Ved kala raut memohon Aruna perlahan lenyap. "Bapak sexy." "Begitu?" "Eh, tidak. Mohon maaf, Pak. Semalam saya mabuk," elak Aruna sambil berusaha kembali fokus. Demi apa! Gue malu-maluin! Aruna menunduk daripada gagal fokus. Sepertinya Ved tahu apa yang dipikirkan Aruna. Lelaki berusia tiga puluh tahun itu mendekat, hingga ujung jempol kakinya bersentuhan dengan jempol Aruna yang terasa dingin. Ved tersenyum penuh arti. Dia memiringkan kepala lalu berbisik. "Jadi pacar saya, baru saya maafkan." Sontak Aruna mengangkat wajah, matanya melotot dan bibirnya sedikit terbuka. Dia mengerjab, merasa salah dengar. Sudah pasti bisikan gila itu dari otaknya yang gagal fokus karena otot perut Ved. Dia menggeleng, lalu menatap Ved yang tersenyum. Wait? Ini beneran?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook