9-Pacaran Orang Dewasa?

1115 Kata
Sebuah ponsel yang tergeletak tepat di samping komputer tiba-tiba menyala, memperlihatkan pesan dari nomor asing. Si pemilik ponsel tiba-tiba menghentikan kegiatan memeriksa jadwal, barganti membaca pesan. Bibirnya seketika terbuka membaca rentetan permintaan yang diyakini dari Ved. 082111xxxx: Jam istirahat nanti belikan saya kopi espresso dan salad. Jangan lupa belikan buah apel yang berwarna merah dan pastikan itu manis. Pukul 12.30 harus ada di meja. Aruna mendengus, bagaimana bisa membuktikan apel itu manis atau tidak jika tidak dimakan? Dia meletakkan ponsel kembali lalu bertopang dagu. "Jadi bos nyuruh seenaknya. Nggak logis juga," omelnya. "Gimana gue bisa mastiiin apel manis atau enggak? Satu pohon aja nggak menjamin buahnya manis semua. Emang dasar bos suka seenaknya sendiri. Mikirnya nggak logis." "Aruna!" Suara ketus dan agak dalam itu menggema di ruangan dengan luas tak seberapa. Aruna seketika sadar telah berceloteh di jam kerja. Dia menoleh dan mendapati Bu Gena menatap tajam. Aruna menunduk sebagai permintaan maaf, lalu kembali menghadap komputer. "Titisan Pak Ved," gumamnya. Tidak ingin kena marah lagi, Aruna melanjutkan pekerjaannya. Namun, tiba-tiba dia ingat dengan permintaan Ved. Haruskah dia membelikan apa yang lelaki itu minta? Tepat saat itu, ponsel Aruna kembali menyala. Dia melirik dan melihat pesan dari salah satu bank. Segera dia menyambar ponsel dan membaca pemberitahuan transfer masuk ke rekeningnya. Aruna mengerjab, melihat angka lima puluh kemudian dilanjutkan dengan angka nol berjumlah enam itu. "Nggak salah, nih?" gumamnya sambil mengucek mata. Saat Aruna masih dibingungkan dengan nominal yang tertera, sebuah pesan kembali masuk. 082111xxxx: Sudah masuk uang yang saya transfer? "Gila!" Tanpa sadar Aruna berteriak, membuat karyawan lain menoleh. Bahkan Bu Gena kepala divisi pemasaran. "Aruna!" panggil Bu Gena dengan suara dalam, tapi nadanya cukup tinggi. Seketika Aruna membungkuk. "Maaf, Bu ada panggilan mendadak. Saya izin sebentar." Setelah mengucapkan itu dia keluar ruangan. Dia sempat melihat Lesy yang menatap penasaran. Aruna sama sekali tidak memberi tanggapan, bergegas ke toilet, tempat tujuan karyawan untuk mengkorupsi waktu. Tanpa menunggu waktu lama, Aruna melakukan sambungan dengan Ved. Dia tidak tahu maksudnya tiba-tiba mentransfer uang yang tidak sedikit. Memang, hidup Aruna pas-pasan, tapi dia tetap tidak suka mendapat uang tanpa ada usaha sama sekali. "Belum masuk?" Begitu kalimat pertama yang keluar dari mulut Ved. Aruna membuang napas panjang, lalu berjalan mondar-mandir. "Maksudnya apa transfer kayak gitu?" "Nggak mungkin saya nyuruh tanpa ngasih duit." Seketika Aruna menghentikan langkah. "Ya tapi kenapa sebanyak itu?" "Kamu keberatan?" "Iyalah. Kalau aku khilaf pakai duitmu gimana?" "Nggak masalah. Saya nggak akan langsung miskin." Bola mata Aruna berputar, Ved memang congkak. "Apa katamulah." "Ingat, belikan apa yang saya perintahkan." "Iya-iya." Setelah itu Aruna mematikan sambungan. Baru memasuki dua hari pacaran, Ved sudah membuat harinya berantakan. "Kenapa, sih, hidup gue sial terus?" Aruna menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya menyorot tajam, meski tidak setajam mata Ved. Namun, ini ekspresi berbeda dari sebelumnya. Biasanya matanya selalu berbinar. "Jangan-jangan gue ketularan jahatnya dia." *** Sepasang kaki dengan heels tujuh centi berlari di lorong lantai delapan menuju ruangan kerja yang paling besar di antara ruangan lainnya. Aruna lalu berdiri di depan meja sekretaris Ved dengan napas terengah. "Pak Ved ada?" Antony—sekretaris Pak Ved—hanya mengangguk sambil menggerakkan tangan ke pintu cokelat yang tertutup rapat. "Saya sarankan sebelum masuk, pastikan nggak ngos-ngosan kayak gitu. Kecuali kalau mau bikin Pak Ved marah." Mata Aruna terpejam. Ini cobaan apa lagi? Dia membuang napas panjang, dan memaksakan senyuman. Setelah itu menuju pintu ruangan Ved. "Masuk!" Setelah mendapat persetujuan, Aruna membuka pintu. Dia mengintip dan melihat Ved duduk di sofa sambil bersedekap. "Telat lima menit." Ved menunjuk jam dinding di tembok belakang Aruna. Refleks, Aruna menoleh dan melihat jarum panjang berada di angka lima. Wanita itu tersenyum kecut, telat lima menit saja Ved mempermasalahkan. "Maaf, Pak." Dia meletakkan makanan pesanan Ved setelah itu berdiri tegak. "Kamu bisa pastikan ini manis?" tanya Ved sambil mengambil sebuah apel. "Kata penjualnya gitu." Tanggapan Ved hanya menarik bibir ke samping. Setelah itu dia mulai memakan apel dan merasakan manis yang tidak berlebihan. "Lumayan." Diam-diam Aruna membuang napas lega. "Kamu sudah makan?" Aruna menggeleng. Bagaimana bisa dia makan sedangkan bos sekaligus pacarnya ini menyuruhkan membeli makanan, dengan tenggat waktu pula. "Belum." "Ini buat kamu," ucap Ved sambil mengulurkan salad. "Kamu makan apa?" Ved meletakkan apel ke atas meja dan kembali bersedekap. "Saya sudah makan." Tanpa sadar kedua tangan Aruna terkepal. Jika sudah makan kenapa tidak memberi tahu? Jika tahu seperti itu dia tidak akan susah-susah mencari makanan untuk Ved. Bahkan sampai lari-larian dan membuat tumitnya berdenyut nyeri. "Ayo, makan!" perintah Ved kala Aruna hanya diam. Aruna mengambil salad lalu duduk di sofa single. Dia membuka penutupnya dan melihat sayuran hijau yang tersaji. Dia meringis siksaan apa lagi ini? "Salad baik buat kesehatan," ungkap Ved. "Tapi, saya nggak suka sayur." "Harus dipaksa." Ved memperhatikan Aruna yang tampak ogah-ogahan. "Kamu kurang sayur. Lihat kulitmu kering gitu." "Udah pakai lotion." "Oh, ya?" tanya Ved tak percaya. "Coba kamu ngaca, wajahmu kusam." Tangan kiri Aruna menyentuh pipi, merasakan tekstur foundation yang masih menempel. "Jangan mengada-ada." Ved memajukan tubuh, lalu menyentuh pipi Aruna. "Kasar!" Hati Aruna tertohok. Sungguh, apa lelaki itu tidak pernah diajari basa-basi? Frontal sekali. "Pengen cantik nggak selalu pakai makeup. Bisa dengan cara makan makanan sehat." "Iya, Pak Ved yang terhormat." Aruna memakan salad itu dan menatap Ved tak suka. "Bagus. Jadi pacar saya harus selalu cantik." Sok, banget! Kalau bisa milih mending gue putus sekarang juga, batin Aruna menjawab. "Nanti jangan pulang dulu." "Kenapa?" Ved beranjak menuju meja kerjanya. Dia menyatukan kedua tangan ke atas meja, dan kembali memperhatikan Aruna. "Menurutmu apa yang dilakukan pasangan yang telah berpacaran?" Aruna menggeleng. Menurutnya gaya pacaran Ved dengan lelaki lain pasti beda. Namun, tiba-tiba perkataan Lesy terlintas. Kalian pacaran dan sama-sama dewasa, pasti pikirannya udah ke arah sana. Mata Aruna seketika tertuju ke Ved sambil menggeleng tegas. Sedangan Ved menatap Aruna dengan senyum mengejek. Nggak mungkin kan itu? "Nggak mau!" Aruna seketika berdiri sambil menyilangkan tangan di depan d**a. "Pacaran khas orang dewasa, Aruna. Jelas kamu paham." Ved memandang Aruna yang mulai panik dengan mata berkedip beberapa kali. "Nanti akan menjadi malam yang panjang." Pacaran khas orang dewasa? Nanti malam akan menjadi malam yang panjang? Perut Aruna mendadak mulas. Dia tidak salah berpikir, kan? Apa akan berkaitan dengan ranjang? Bersama Pak Ved? "Kenapa malah bengong?" Ved memandang ekspresi Aruna yang tampak aneh. Wajahnya memerah padam. Senyumnya tampak aneh, tampak malu-malu, tapi aneh. Belum lagi sorot mata yang tampak tidak fokus. "Kamu bayangin apa?" Bukannya menjawab Aruna justru memandang Ved dengan lapar. Dia ingin waktu bergulir cepat hingga ke waktu yang dijanjikan Ved. Berpacaran khas orang dewasa. Malam yang panjang. Ranjang. Tubuh Ved yang aduhai. Malam yang panas dam sebuah ruangan yang bisa membangkitkan hasrat. "Saya harus pakai lingerie warna apa, Pak Ved?" Dan Aruna menyuarakan pikiran liarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN