bc

KEMBALI BIBI SUN UNTUK DENDAM, BUKAN ISTRI LEMAH YANG KAU KENAL

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
family
HE
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
neighbor
billionairess
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
cheating
rebirth/reborn
poor to rich
like
intro-logo
Uraian

Malam ini adalah hari ulang tahun pernikahanku yang kelima. Aku sudah berdandan cantik, mengenakan gaun malam berwarna merah menyala. Rambutku kusanggul ke atas, model cece-cece Cina. Aku juga memoles wajahku dengan warna-warna terang kesukaan suamiku.

Semuanya ini kulakukan agar Hartoyo merasa senang di hari ulang tahun pernikahan ini. akupun berdandan yang tidak seperti biasanya, hanya demi membuat Hartoyo bahagia. Dia adalah pria yang membuatku jatuh cinta selama lima tahun ini.

Aku selalu berusaha menyenangkan Hartoyo, aku sudah mengesampingkan diriku sendiri. Walau penolakan demi penolakan selalu dilakukan suamiku ini. Bahkan dia suka sekali menghinaku dengan kata-kata kasar yang seharusnya tidak dia ucapkan padaku, setelah aku melayaninya dengan baik di tempat tidur. Wajahnya selalu menunjukan kepuasaan, setelah hasratnya terpenuhi dan aku ikut bahagia karenanya. Bagiku asal Hartoyo senang akupun ikut senang.

Hingga malam itu, dia lupa mengenakan pengaman, akupun hamil. Anak yang tidak di inginkannya. Saat aku penuh suka cita memberitahu kabar baik itu, Hartoyo justru marah besar. Dia mencekik leherku, menyuruhku menggugurkan kandungan hanya agar dia bisa menikahi Liliana, adik tiriku.

Aku pun mati, tanpa bisa menjelaskan siapa diriku sebenarnya. Apakah ini takdirku, mati di tangan suami yang berkhianat, berselingkuh dengan adik tiriku. Demi Tuhan, aku tidak rela. Apakah alam semesta menolongku?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Malam ini adalah hari ulang tahun pernikahanku yang kelima. Aku sudah berdandan cantik, mengenakan gaun malam berwarna merah menyala. Rambutku kusanggul ke atas, model cece-cece Cina. Aku juga memoles wajahku dengan warna-warna terang kesukaan suamiku. Semuanya ini kulakukan agar Hartoyo merasa senang di hari ulang tahun pernikahan ini. akupun berdandan yang tidak seperti biasanya, hanya demi membuat Hartoyo bahagia. Dia adalah pria yang membuatku jatuh cinta selama lima tahun ini. Aku selalu berusaha menyenangkan Hartoyo, aku sudah mengesampingkan diriku sendiri. Walau penolakan demi penolakan selalu dilakukan suamiku ini. Bahkan dia suka sekali menghinaku dengan kata-kata kasar yang seharusnya tidak dia ucapkan padaku, setelah aku melayaninya dengan baik di tempat tidur. Wajahnya selalu menunjukan kepuasaan, setelah hasratnya terpenuhi dan aku ikut bahagia karenanya. Bagiku asal Hartoyo senang akupun ikut senang. Hingga malam itu, dia lupa mengenakan pengaman, akupun hamil. Anak yang tidak di inginkannya. Saat aku penuh suka cita memberitahu kabar baik itu, Hartoyo justru marah besar. Dia mencekik leherku, menyuruhku menggugurkan kandungan hanya agar dia bisa menikahi Liliana, adik tiriku. Aku menolak, bersikukuh mempertahankan anak itu. “Baiklah, kalau itu keinginanmu,” katanya dengan wajah dingin. “Kamu boleh melahirkannya. Tapi ingat, aku hanya akan memberikan nama keluarga Hartoyo pada anak yang dikandung Liliana.” “Apa, Liliana hamil!” wajahku langsung pucat, tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Aku terduduk, bersimpuh sambil menutup muka. Bibirku bergetar saat akan mengucapkan kata-kata,”bagaimana bisa? Kalian kan sudah tidak berhubungan lagi selama empat tahun ini?” Di balik punggung Hartoyo, suara tepukan tangan terdengar,”sudah aku bilang kan, Ko. Kalau kakakku ini tidak mudah percaya dengan ucapan orang lain.” Aku terkejut, di sana berdiri Liliana, mengenakan dress longgar warna merah. Dan aku…aku sangat terkesiap saat melihat ke bagian perutnya yang besar. Bagian itu seolah siap meledak kapan saja. Akupun meraung…sangat marah. Aku berlari menerjang Liliana. Aku ingin merobek-robek perutnya yang besar itu, yang seolah mengejeku. Sudah menjadi suami istri selama lima tahun, tapi baru bisa hamil di tahun ini. Bukankah benar yang dituduhkan orang-orang selama ini, kalau aku mandul. Tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga besar Hartoyo, keluarga suamiku. Yang selalu mendambakan kehadiran penerus laki-lakinya. Rasa kuatir di benakku pun mulai muncul,”bagaimana kalau anak yang dikandung Liliana laki-laki? Bukankah usahaku untuk mengandung anak Hartoyo akan sia-sia? Mengingat diriku yang sulit punya anak karena kondisi kesehatanku.” Dengan amarah yang luar biasa kudorong tubuh Liliana, jatuh ke lantai. Saking kerasnya, aku mendorong tubuh adik tiriku itu, membuatnya terjerembab dengan keras. Dia menangis sambil memegangi perutnya. “Sayang tolong aku! Lihat apa yang diperbuat wanita gila itu!” teriaknya sambil menunjuk darah yang mengalir di kakinya. Hartoyo marah, dia membalas mendorong tubuhku ke belakang. Tangan kanannya mencekik leherku,”kalau sampai terjadi apa-apa pada kandungan Liliana, kamu pun harus lenyap dari muka bumi ini!” “Bruk!” tubuhku terlempar ke lantai setelah menabrak keras tiang penyangga kasur. Aku merasa pusing, mataku kupejamkan, agar bisa mengumpulkan serpihan-serpihan kesadaranku. Saat peningku telah hilang, kamar ini telah sepi. Tak ada Hartoyo maupun Liliana. Yang kulihat hanya bercak darah yang menggenang di lantai. “Jadi, ini semua bukan mimpi,” gumamku perlahan. Aku berpegangan pada sisi kasur, untuk berdiri tegak. “Ternyata semuanya sia-sia. Aku membantumu ke puncak, meraih kesuksesan di bisnismu. Tapi apa yang kudapatkan…tidak ada.” Aku tertawa dan menangis bersamaan. Di luar langit menjadi gelap…sangat pekat. Hujan deras membasahi bumi. Di iringi dengan kilat dan Guntur yang menggelegar. “Hahaha. Bahkan alam pun ikut mentertawakan ku.” Dengan keputus asaan, aku berlari bak orang gila, menuju balkon. Saat melewati genangan darah, kakiku terpeleset. Tubuhku pun meluncur ke bawah, tak terkendali. Aku pun mati, saat kepalaku menabrak lantai yang terbuat dari batu itu. “Nyonyaaa!!!” hanya suara itu yang terdengar terakhir kali, sebelum ajal menjemputku. ---***--- Di mansion keluarga SU. “Sundari, apa kamu mengerti semuanya!” Hardik pria paruh baya, yang dikenal sebagai pemimpin keluarga SU itu. “Ap…apa?” mata Sundari mengerjap. Dia kebingungan, melihat ke sekelilingnya. “Bukankah aku sudah mati,” benaknya bertanya-tanya. “Bagaimana bisa aku berada di rumah keluargaku. “Lihatlah, perut Liliana juga tidak menunjukan tanda-tanda kehamilan.” “Cetar!” suara lecutan terdengar di lantai, ujung cambuk itu mengenai lengan Sundari, membuatnya sadar sepenuhnya. “Jadi, aku terlahir kembali. Ke lima tahun yang lalu. Saat aku dijemput pengawal papa, dari desa tempat aku dibuang selama ini.” Senyum Sundari pun mengembang. Dia tidak perduli dengan cacian dari papa kandungnya itu. Di tambah pula dengan tatapan sinis dari Lea, mama tirinya, yang membuat d**a Sundari semakin sesak. “Apa maumu, Pa?” tanyanya dengan mata memerah. “Kau harus menikah dengan Hartoyo,” ucapnya tak terbantahkan. “Kenapa bukan Liliana saja yang menikah dengannya.” “Dasar anak kurang ajar!” Suwandono berdiri, sekali lagi, dia melecutkan ujung cambuknya, tepat mengenai punggung Sundari. “Papa memilihmu, agar kau bisa memperbaiki hidupmu yang miskin itu. Hartoyo keluarga terpandang. Dan mereka sangat kaya raya.” “Cih, siapa bilang Hartoyo kaya raya. Papa pikir, dia bisa membantu bisnis Papa yang mau bangkrut itu. Apa Papa tidak tahu kalau hobi Hartoyo yang suka berjudi dan bermain perempuan itu, telah menghabiskan setengah asset bisnis keluarganya,” umpat Sundari…tapi tentu saja, kata-kata itu hanya diucapkannya di benak. Pikiran Sundari telah menyusun strategi. Dia mendongakan kepala,”bukankah Papa telah menerima dua pinangan. Aku mau menikah asal tidak dengan Hartoyo,” tatapnya penuh kesungguhan. Suwandono terkejut dengan tawaran yang tiba-tiba itu. “Apakah anak ini menjadi bodoh setelah menerima cambukanku?” pikirnya. “Daniel bukan orang kaya. Dia hanyalah petani biasa dari desa Ngenting. Dengar-dengar, sawah miliknya hanya berukuran 100 meter persegi. Apa cukup buat menghidupi anak istrinya nanti. Aku menyuruh Liliana menikahinya, hanya agar dia bisa mewarisi tanah itu. Dan menjualnya nanti setelah mengajukan gugatan cerai. Tujuan utamaku, membuat Daniel menjadi gelandangan.” Dia mengusap-usap dagunya,”siapa suruh ingin menikahi keluarga SU dengan dalih perjodohan yang dilakukan ibuku.” Kembali pikiran Suwandono berputar-putar. “Papa, kalau kak Sundari tidak mau menikah dengan Hartoyo, aku bersedia melakukannya,” kata Liliana, memegang lengan ayahnya dengan manja. “Haish, jangan bodoh kamu,” diusapnya lengan Liliana dengan sayang. “Kau seharusnya ingat dengan perkataan Papa tadi malam.” “Ingat Pa…aku ingat. Tapi dia memaksa. Lebih baik, aku langsung masuk ke keluarga Hartoyo saja, agar bisnis Papa terselamatkan,” bisiknya. “Untuk apa enggan melepas tanah yang cuma sedikit itu. Biar kak Sundari saja yang menikmatinya. Tidak ada ruginya, kan. Hitung-hitung, Papa membantu hidup kakakku yang miskin itu,” kedipnya pada Suwandono. “Apa yang mereka rencanakan,” pikir Sundari sambil memasang telinganya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.7K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
9.1K
bc

Unchosen Wife

read
5.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook