Bab. 5

974 Kata
Sundari semakin kesal, amarahnya membuncah. Bagaimana dia bisa punya adik tiri yang menjengkelkan seperti itu. Perlahan dia mendekati Liliana, tangannya langsung terayun,”PLAK!” “Kau berani memukulku?” “Ya, aku memukulmu. Apa yang akan kau lakukan. Melaporkannya pada Tuan Suwandono, kebanggaanmu itu.” “Sundari, DASAR PEREMPUAN TIDAK TAHU MALU!” “Kau yang tidak tahu malu.” Dia melihat kesemua orang yang ada di sana. “Apa kalian tahu. Wanita yang mengaku sebagai adikku ini, yang menuduhku wanita desa, miskin dan tidak berpendidikan ini. Dia sebenarnya adalah anak pelakor. Perebut suami orang. Kalian lihat juga penampilannya. Pakaiannya, semua perhiasan yang menempel di tubuhnya, itu semua juga hasil dari merebut kedudukanku…posisiku sebagai pewaris tunggal dari keluarga ‘SU’.” “Oh, jadi pelakor teriak pelakor,” sindiran dari para pelanggan butik mulai terdengar. Tatapan sinis yang semula ditujukan pada Sundari kini beralih ke Liliana. “Cih, dasar tidak tahu malu!” “Aku juga tidak yakin, apa uang Hartoyo itu cukup untuk membeli pakaian di butik ini,” ejek Sundari. “Kau merendahkanku. DASAR PEREMPUAN KAMPUNG!” teriak Hartoyo, hendak melayangkan pukulan. Tapi gerakan tangan besar itu terhenti di udara, ada yang menahan ayunan tangannya. “Siapa yang berani memukul calon istriku?” dalam sekejap tangan Hartoyo langsung terhempas, dia hampir saja terjengkang kalau tidak ditahan Liliana. “Dasar lembek. Apa ini calon suami kebanggaanmu itu?” tanyanya pada Liliana. “Siapa kau, berani mencampuri urusan kami.” Liliana unjuk gigi. “Siapa aku, itu tidak penting, yang jelas aku bisa membuat kalian menderita.” Sundari terkejut dengan kedatangan Daniel yang tiba-tiba. Bukannya dia sedang rapat dengan bos-nya. Berani sekali dia meninggalkan si bos besar hanya demi membela calon istrinya ini. rasa hangat menjalar di sekujur tubuh Sundari. “Oh. Begini ya rasanya dilindungi.” Kalau dulu, Sundari selalu diremehkan oleh Hartoyo. Dia diabaikan. Bahkan pelayan di mansion keluarga Hartoyo, tidak ada yang menghormatinya. Mereka sangat kurang ajar sekali padanya. Meremehkan dirinya setiap hari, bahkan berani menjelek-jelekan di belakangnya dengan suara-suara yang keras. Seolah kehadirannya di mansion itu, sebagai istri syah dari Hartoyo, tidak berarti di mata para pelayan. Pernah suatu hari, dia hendak sarapan pagi, sendirian di ruang makan, belum sempat dia menikmati sarapannya, para pelayan itu dengan serentak langsung membereskan semua isi meja, dengan mengatakan sarapan pagi telah lewat, hanya gara-gara Hartoyo si pemilik rumah telah berangkat ke kantor. Jadilah satu hari penuh, Sundari menahan lapar yang menyiksa, hingga makan malam tiba. Mana Hartoyo tidak pulang-pulang, karena masih harus memimpin rapat internal perusahaannya. Mengingat hal itu, amarahnya semakin memuncak. Dia menghela napas besar, lalu memegang lengan Daniel dengan manja. “Dia menghinaku. Mengatakan kalau kita orang miskin dari desa,” bisiknya di telinga Daniel. “Begitukah.” “Iya, mereka-mereka saksinya,” tunjuknya pada pelayan toko, selain Susi. “Tu…Tuan Daniel.” “Waduh.” Daniel sudah memberi kode dengan mengedip-ngedipkan mata, tapi sinyal itu ditangkap lain oleh para pelayan butik yang mengenalnya. “Fadel!” teriaknya. “Iya, bos besar,” jawabnya dengan terburu-buru. Daniel langsung menepuk punggungnya. “Bos besar, kamu tidak salah lihat kan, Fadel.” Buru-buru, Fadel menelan ludahnya. “Oh, maaf. Asisten Daniel. Aku kira, kamu datang bersama si bos besar.” Tawa Liliana pun meledak,”hah, hanya seorang asisten ternyata. Aku kira si pemilik hypermall ini,” ditepuknya lengan Sundari,”kakakku sayang, kalian memang cocok. Asisten miskin dengan wanita desa. Sungguh pasangan yang serasi, bukan.” Sementara Susi mulai gemetaran. Dia pikir asisten kepercayaan si pemilik hypermall ini datang, pastilah si bos besar juga datang ke tempat ini. Dia celingukan, mencari sosok yang ditakutinya itu. Bukannya apa, dia tidak mau dipecat gara-gara meremehkan calon istri asisten kepercayaan si bos besar. “Lihatlah, bahkan si Fadel pun tunduk pada orang yang dipanggil Daniel itu. Alamak, mampuslah aku,” pikirnya. “Kau tidak usah takut, pelayan bodoh. Kalau kamu dipecat, kau bisa bekerja sebagai pelayan di keluarga SU,” bisik Liliana meyakinkan. “Sungguh, Nona.” “Tentu saja. Asalkan kamu mau membantuku, menyingkirkan mereka.” Susi langsung maju, menggunakan kedua tangannya untuk menghalangi Daniel dan Sundari yang hendak memilih-milih gaun. “Maaf, kalian tidak akan bisa membeli barang-barang di toko ini, pergilah ke toko sebelah,” ejeknya. Daniel melotot,”sejak kapan Jaya butik punya pekerja yang tidak tahu sopan santun macam kamu.” “Anda tidak perlu ngotot. Toko kami memang menjual barang-barang eklusif dan branded yang harganya jutaan. Saya yakin gaji anda sebagai asisten tidak akan cukup untuk membelinya…anda tidak mau ya, kalau saya dapat bonus besar dari toko.” “Minggir.” Daniel menyingkirkan tangan Susi. Tidak bergeming, Susi malah ngotot memanggil petugas keamanan hypermall. “Tangkap mereka, biar tidak mengganggu kelancaran bisnis butik Jaya.” Fadel langsung berdiri di hadapan petugas keamanan itu. “Lakukan saja perintahnya, kalau kalian ingin dipecat.” Keduanya langsung ragu-ragu. “Tangkap saja mereka. Aku yang akan menjamin pekerjaan kalian kalau nanti dipecat!” teriak Liliana. Sekuriti itu merangsek maju, melayangkan serangan pada Daniel. Pukulan demi pukulan mereka layangkan, tapi tak satupun yang mengenai tubuh Daniel. Pria itu malah menggendong Sundari, lalu mengarahkan kaki jenjang Sundari, menendang tubuh kedua sekuriti itu. “DEBUUUMMM!” Tubuh keduanya jatuh tersungkur ke lantai. “Singkirkan mereka!” perintah Fadel pada anak buahnya. “Silahkan asisten Daniel…Nona Su.” Fadel mengantarkan keduanya ke kantor pemilik Jaya butik. “Jangan masuk ke sana. Kalian tidak berhak,” sergah Liliana. “Orang miskin seperti kalian, tidak akan ditemui pemilik Butik ini. Kalian hanya akan mempermalukan diri sendiri.” “Apa pedulimu.” Sundari memutar bola matanya. “Kamu masih menjadi bagian keluarga SU. Sebagai anak dari keluarga SU, aku tidak mau ikut menanggung malu karena kelakuanmu…oh-oh, kakakku sayang, jangan merendahkan dirimu sendiri. Orang miskin sepertimu…dan juga calon suamimu ini, mana pantas bertemu dengan desainer kondang, pemilik Jaya butik.” “Haish.” Daniel menggelengkan kepalanya. Lalu menjentikan jemarinya, memerintah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN