bc

Buaian Hangat Mantan

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
HE
opposites attract
playboy
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
office/work place
enimies to lovers
office lady
like
intro-logo
Uraian

"Pelan-pelan masuknya, aku tidak ....""Tenang saja, aku akan pelan-pelan. Tapi, jangan bilang kau belum pernah melakukannya dengan ....""Tidak ada mantan yang sehangat kau, sih. Jadi lakukan saja atau aku ....""Ya, ya. Iya, aku lakukan. Janji, pelan-pelan. Kalo gak suka bilang ya aku akan ...."***Zenata tidak pernah berharap akan terjebak dengan mantan. Tapi siapa sangka, kisah masa lalunya dengan Rheef Waverly ternyata belum usai. Niat hati berlibur di negara orang tapi dia justru sial dengen bertemu mantan yang kemudian berakhir dengan Rheef, bahkan hingga kembali ke rumah, Rheef masih merecokinya. Namun hadirnya pria itu ternyata cukup membantu Zenata untuk menggagalkan rencana perjodohannya, sayangnya Zenata harus mengurus kekacauan yang dibuat oleh adik tirinya yang tertarik pada Rheef. Hingga dia menyadari siapa yang sebenarnya dia butuhkan dan inginkan ketika adik tirinya melakukan trik kotor yang dia benci.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Sandiwara Hidupku
"Sempurna!" Satu kata untuk penampilanku malam ini. Pantulan diriku di cermin itu tampak begitu cantik. Gaun midi berwarna navy blue ini memadukan keanggunan klasik dengan sentuhan retro yang elegan. Bagian atasnya dirancang dengan renda bunga yang halus, menampilkan kerah melengkung yang cantik serta lengan transparan sepanjang tiga perempat yang memberikan kesan feminim. Di bagian pinggang, terdapat aksen sabuk kain dengan pita kecil yang mempertegas siluet tubuhku, menyambung ke bagian rok model A-line yang mengembang. Rok tersebut terbuat dari bahan satin berkualitas dengan kilau lembut yang memberikan struktur mewah dan jatuh dengan indah di bawah lutut, menciptakan tampilan yang begitu sopan tapi tetap memikat untuk acara formal maupun pesta malam. "Kau memang selalu menarik dengan gaun apapun, Zenata." Kutarik seulas senyum bahagia atas pujian diriku sendiri. Ini sungguh sempurna, tapi di balik sempurna itu ada cacat yang hanya aku tahu. Aku memperhatikan gaya rambut side-swept yang dijepit bagian samping. Rambutku hitam sebahu. Aku selalu mencintainya sebatas itu. Satu hal lagi, perhiasan yang menjadi pelengkap untuk membuat diriku bersinar di pesta ini. Walau hidupku bak Cinderella deangn ibu tiri bermuka dua, aku tetap harus tampil sempurna di samping sang raja. Walau statusku single, tak jarang aku mengenakan cincin pertunangan, berharap suatu hari nanti ada yang mengklaim cincin pasangannya yang aku simpan. Itu menyebalkan saat orang-orang bertanya kenapa belum menikah? Gadis sesempurna aku yang memiliki karir cemerlang di mata orang lain tapi jomblo kemana-mana. Tapi peduli sekali dengan orang lain. Aku kembali menatap pantulan diriku di cermin. Keseluruhan tampilan ini akan memancarkan kesan anggun, sophisticated, dan timeless. "Sial!" Aku mendesis dalam hati, sekaligus berhitung sebelum suara soft spoken musiman mengalun di kamar yang luas ini dengan gaya minimalis berpaduan warna netral. Kudengar suara pintu terbuka di belakang lalu sebuah suara mengalun indah yang memuakkan. "Zenata sayang, sudah waktunya kita pergi." Tepat sekali pada hitungan lima suara itu membelai telingaku, geli tapi jujur saja aku ingin muntah. Tapi, oke, akan aku lakoni sebuah sandiwara. Maka, aku pun berbalik, kutarik paksa kedua sudut bibir. "Iya, Ma, sudah siap, kok." Sempurna bukan, dengan suara lembutku selaras dengan gaun indah malam ini. Wanita yang merupakan istri kedua ayahku itu hanya memutar matanya, jengah. Aku tersenyum puas. Wanita itu hanya berdiri di ambang pintu. Aku bermain aturan dengannya sekaligus dengan putri tercintanya yang selalu tak mau kalah denganku. Gadis sombong yang sok cantik, sok kaya padahal kerjaannya hanya ongkang kaki. Sial, itu posisiku tapi aku bangga dengan diriku sendiri. Dengan sepatu pointed toe pump silver 7 cm yang mempercantik kaki putih mulusku. Aku yakin, malam ini, di pesta pernikahan kolega ayahku, sekaligus mantan temanku aku akan menjadi pusat perhatian. Akan aku pastikan itu. Lihat saja. Sial. Tatapan dingin itu selalu tajam, menjadi titik lemahku. Tidak, titik lemah di mana aku tahu bahwa kendali hidupku tak sepenuhnya ada di tanganku, tapi di tangan sang raja yang tak terbantahkan. "Ayo pergi." Hanya dengan berkata seperti itu saja, aku hanya bisa menghela napas berat. Kehadirannya selalu mencekik, membuat aku kesulitan bergerak. Sialan, kenapa ayahku layaknya ayah tiri? "Uh, aku jadi kau, sudah malu kali." Sekali lagi sial. Suara itu merendahkan, membuat telingaku gatal. Aku melirik sosok itu, gadis bergaun glamor dengan segala make-up tebal yang membuat aku muak. Tatapan mata yang menghina serta seulas senyum meremehkan yang sangat ingin aku tampar itu. Tapi tidak, tanganku harus tetap bersih. Demi perlindungan, demi menjaga moodku tetap tenang, aku berjalan di samping ayah. Duduk di samping sopir. Di mana pun aku mau, yang penting tidak bersinggungan dengan rubah menyebalkan, taruhannya moodmu hancur jika bersamanya. Oh, Tuhan, tolong jangan membuat aku berdosa dengan penuh umpatan saat aku mendengar ocehannya yang penuh dusta. Tapi hal yang membuatku iri adalah ayah mendengarkan sepenuh hati, bahkan merespon manis dan hangat. Ah, itu membuat hatiku tersayat. Sial. Mobil tiba di gedung pernikahan. Mobil-mobil mewah berjajar menunggu giliran. Para tamu undangan berdatangan dengan gaun andalan mereka. Aku cukup percaya diri dengan tampilanku ini. Aku juga cukup mandiri untuk turun dari mobil tanpa bantuan siapapun. Posisiku putri, tapi aku adalah putri yang tersisih. Menyebalkan sekali. Aku muak dengan segala citra keluarga, tapi sekali lagi aku harus melakoninya. Tersenyum palsu demi sebuah pengabdian kamera. "Zenata." Tak sekali dua kali namaku lolos dari mulut para undangan. Aku hanya membalas dengan senyuman. Perhatianku terpusat pada pelaminan, di mana sepasang suami istri baru tengah berbahagia. Aku hanya tersenyum tipis, senyum kecut kala ingat dengan apa yang terjadi sebelum ini. "Kau terlalu jual mahal, kekasihmu diembat." Tawa itu mengalun penuh ejekan. Aku tidak menanggapi, hanya berjalan menuju pelaminan yang lenggang itu. Melangkah pelan di lorong yang berhiaskan bunga-bunga pucat. Musik mengalun rapi, senyum-senyum terpasang sempurna, semua terlihat seperti pesta yang membahagiakan, tapi di tidak bagiku. Pelaminan itu lenggang, yang terasa justru berat di d**a, seperti tahun-tahun yang tersemai indah, tapi hancur dalam sekejap, terpaksa harus ku lewati begitu saja. Pada akhirnya, walau banyak luka yang aku terima, aku tetap berdiri di hadapannya, di hadapan sosok yang sempat menjadi yang terbaik untukku tapi nyatanya hanya tembok munafik yang dia miliki. "Selamat atas pernikahannya." Ucapan yang penuh luka, penuh sandiwara baik-baik saja. Suaraku tenang, tetap sopan. Tapi luka sering kali pandai menyamar. Nyatanya, setelah sekian tahun menjalin hubungan, yang namanya pelakor selalu menang banyak. Pengantin perempuan itu tersenyum. Senyum indah yang busuk bagiku. "Terima kasih Zenata. Kau cepatlah menyusul supaya tak sengsara sendirian." Aku hanya menampilkan senyum tipis menahan jijik mendengar kata-kata yang meluncur tanpa dosa itu. "Aku tidak takut sendirian," kataku pelan, tapi jelas. "Yang aku hindari hanya posisi pengganti." Kupatri senyum lebar penuh ejekan untuknya. Senyumnya tampak goyah. Aku bisa melihatnya, retakan kecil di balik keyakinan yang baru dipamerkan. Setalah diam beberapa saat dan perang tatapan, aku mengangguk singkat, bukan sebagai hormat, melainkan penutup. Penutup dari pertemuan, kenangan, dan perpisahan yang menyakitkan itu. Lalu aku berbalik, meninggalkan pelaminan itu. Ada perih yang aku tinggalkan. Tapi juga hadir sesuatu yang lain, lebih ringan. Seolah aku akhirnya bisa memilih keluar dari sandiwara yang terlalu lama aku pentaskan. Langkahku terus menjauh dari pelaminan itu, tak mempedulikan tatapan orang-orang di sekeliling. Barangkali dalam benak mereka terselip iba untuk kisah yang terdengar manis saat di ceritakan ulang: tunangan yang akhirnya menikahi teman si wanita. Ironisnya, tidak ada yang benar-benar ingin tahu berapa lama aku belajar baik-baik saja. "Sayang, sini," panggilan lembut suara penuh dusta itu membuat atensiku teralihkan pada sosok glamor di samping ayahku. Senyumnya tak pernah lepas dari bibir yang terpoles lipstik merah menyala. Dengan enggan aku menghampiri, tak aku tampilkan senyuman. Terlebih ketika tahu maksud panggilan wanita itu adalah untuk memperkenalkan aku pada seorang kolega bisnis atau apalah yang tidak jauh dari ayah dan bisnisnya. "Zenata, ini Tante Mita Diran, sapa dong," kata istri ayahku itu. "Halo Tante, Zenata." Aku mengulang hal yang sama, memperkenalkan diri pada entah siapa itu. Tapi, percakapan setelahnya tiba-tiba saja mengabur ketika netraku menangkap sesosok yang begitu familiar di memori otakku. Dia berdiri gagah dengan tatapan yang ... Mengunci tatapku. Tak mungkin ... Dia, kembali?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.9K
bc

Too Late for Regret

read
352.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
149.6K
bc

The Lost Pack

read
464.1K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook